Lily terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Dante tidak pernah mencintainya. Dante menikahi Lily hanya untuk membayar hutang Budi orang tuanya kepada orang tua Lily.
Namun sebuah kecelakaan membuat keadaan berubah. Dante didiagnosa menderita cedera otak parah yang membuatnya kehilangan ingatan jangka pendek.
Dante hanya mengingat apa yang terjadi hari ini, lalu setelah dia tertidur dia akan melupakan semua. Begitu setiap harinya.
Inilah kesempatan bagi Lily untuk membuat suaminya bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati.
Inilah kesempatan bagi Dante untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah dia perbuat.
Namun, kehidupan tidak semudah itu untuk memberi mereka kebahagiaan.
berhasilkah mereka membangun Rumah tangga bahagia atau bahkan perceraian adalah jalan terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tata Tetott, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Dante : Sorry
"Sepertinya baru saja terjadi kekacauan di sini." Mama masuk begitu saja ke kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Sangat kacau," jawabku dengan Malas.
"Apa yang terjadi?" tanya mama.
"Tubuhku rasanya sakit sekali dan sangat sulit di gerakan, seolah aku baru saja mengalami kecelakaan. Lalu seorang perempuan yang tidak ku kenal menerobos masuk kamarku dengan seenaknya, Bi Aluh memaksaku untuk minum bnyak sekali obat yang aku tidak mengerti sama sekali jenis obat itu, dan yang paling parah perempuan Asing yang sebelumnya menerobos masuk ke kamarku kembali datang dan mengaku-ngaku sebagai istriku," ucapku kesal.
"Dasar perempuan gila." aku mendesis pelan.
Mama menghembuskan nafas secara kasar dan menggeleng. Beliau berjalan menuju kearahku, beliau duduk di tempat tidurku, tepat di samping tempat aku berbaring.
"Pertama-tama minum dulu obatmu," kata beliau sambil membuka beberapa kemasan obat yang sebelumnya di letakan Bi Aluh di atas nakas.
"Tidak. Aku tidak mau meminumnya," kataku.
"Kenapa? Kau tidak percaya dengan ibumu sendiri?" tanya Mama.
Aku hanya diam. Sebenarnya aku ragu antara percaya dan tidak percaya, apa mama bersekongkol dengan Bi Aluh dan perempuan gila itu untuk berbuat jahat padaku? Tapi rasanya sangat tidak mungkin, kenapa mama ingin berbuat jahat padaku? Aku kan anaknya? Dan mama juga sangat menyayangiku.
"Jika kau menaruh curiga pada Mama, kau Dalah besar Dante. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang jahat padamu," ucap Mama seolah beliau mendengar ap yang sedang aku pikirkan.
"Tapi kenapa, Ma? Kenapa aku harus meminum semua obat itu?" tanyaku lagi.
"Akan Mama jelaskan setelah kau meminum obat-obatan itu."
Aku mendengus kesal, kemudia. Terdiam. Pikirku, Mama sama saja dengan perempuan asing yang tadi juga memaksaku untuk meminum obat.
"Mama akan sangat terluka jika kau berprasangka buruk terhadap Mama," ucap mama membuyarkan ke bisuanku.
"Oke baik, baik. Akan ku minum obatnya," putusku pada akhirnya.
Mama menyodorkan obat-obatan itu satu persatu di selingi dengan air putih yang baru beliau bawa ketika masuk tadi. Ya, gelas air putih yang sebelumnya sudah hancur berkeping-keping.
"Sudah. Selesai kan? Semua? Tidak ada lagi kan yang harus kuminum?" ucapku dengan penuh penekanan agar Mama tahu bahwa aku kesal karena harus meminum semua obat itu.
Tidak ada efek signifikan yang kurasakan setelah meminum semua obat-obatan tadi, sama saja seperti sebelumnya, badanku juga masih terasa sakit-sakit.
"Sekarang jelaskan apa yang terjadi," pintaku pada Mama.
Mama menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, kemudian mama mengulangnya beberapakali sebelum mulai bercerita.
Cukup panjang kisah yang mama ceritakan, dan semua yang di ceritakan mama sukses membuatku terkejut, terheran, terpaku. Jujur saja aku ingin tidak percaya tentang apa yang di katakan mama. Tapi, mama menunjukan banyak bukti bahwa semua yang beliau ceritakan dalah kebenaran.
Hasil rotgen, ct scan, MRI, surat rekam medik kesehatanku, bukti-bukti bahwa aku menjalani oprasi, perawatan intensif di ICCU, bahkan Mama juga menujukan koran yang memuat berita tentang kecelakaan mobil yang ku alami hingga membuat kondisiku begini.
"Jadi benar aku mengalami hilang ingatan?" tanyaku.
"Hilang ingatan jangka pendek lebih tepatnya," jawab Mama.
"Apa aku akan sembuh?" tanyaku seolah frustrasi dengan diriku sendiri.
"Ya, kau akan sembuh, maka dari itu jangan pernah menolak jika Mama atu Bi Auh atau Lily memintamu untuk meminum obat."
"Siapa Lily?" tanyaku cepat.
"Istrimu."
"Hah?"
"Lily. Nama iatrimu Lily."
"Mama bercanda? Sejak kapn aku menikah? Dan siapa itu Lily? Aku bahkan tidak mengenalnya."
Mama mengambil sesuatu dari dalam Tasnya. Ponsel. Lalu Mama memperlihatkan sesuatu yang ada di ponsel tersebut.
"Apa?" Aku terkejut setengah mati setelah melihat sebuah foto di ponsel Mama. Di situ tergambar diriku mengenakan pakaian pengantin bersanding dengan seorang wanita yang juga mengenakan pakaian pengantin. Lebih terkejut lagi saat aku menyadari bahwa mempelai wanita itu adalah wanita asing yang tadi menerobos masuk kamarku.
"Katakan ini hanya lelucon," kataku masih tak percaya.
"Ini bukan lelucon." Mama menegaskan.
Aku menarik napas dalam dn menghembuskannya dengan kasar. Memijit kepalaku yang tiba-tiba merasa sakit ketika aku berusaha mencari sosok Lily dalam ingatanku.
Tidak ada.
Tidak ada sedikit pun ingatanku tentang perempuan itu. Bagaimana mungkin aku melupakan istriku sendiri? Separah itukah kondisiku saat ini.
"Aku berlaku kasar padanya tadi," ucapku agak diselimuti sesal.
"Berarti kau harus minta maaf padanya." Mama memberiku saran.
"Apa dia akan memaafkanku?" tanyaku tidak yakin.
"Lily adalah perempuan paling penyabar dan paling pemaaf yang pernah mama kenal. Tentu saja dia akan memaafkanmu." Mama meyakinkanku.
"Tapi tadi aku melempar gelas ke arahnya," ucapku benar-benar menyesal.
"Itu kasar sekali."
"Ya, aku tahu."
"Cobalah untuk meminta maaf dengan tulus. Mama yakin dia akan memaafkanmu. Dia ... sangat mencintaimu."
Mendengar ucapan mama yang menyatakan bahwa Lily sangat mencintaiku membuat perasaan bersalah yang kurasakan semakin besar.
"Apakah perlu Mama panggilkan Lily sekarang?" tanya Mama.
"Tidak. Tidak perlu," jawabku dengan cepat.
Sekali pun ada perasaan bersalah terhadapnya, namun tetap saja aku tidak ingin melihatnya, setidaknya untuk saat ini.
Iya, aku akan minta maaf. Tapi tidak sekarang. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri, untuk merenungi dan mencoba menerima kenyataan pahit tentang hidupku saat ini.
"Ma, bisa tolong tinggalkan aku sendiri. Aku ingin beristirahat," pintaku pada mama.
"Sungguh? Kau ingin sendiri lagi? Kupikir kau ingin bertemu Lily untuk minta maaf."
"Aku akan minta maaf padanya nanti, Ma. Aku ingin istirahat dulu sekarang."
"Nanti? Kapan? Mama khawatir kau bahkan akan melupakan kesalahanmu hari ini dan maaf itu tidak akan terucapkan."
"Ma, tolong, aku butuh waktu untuk sendiri dulu." Aku memohon pada beliau.
"Baiklah jika itu maumu. Mama keluar dulu," ucap mama seraya berdiri.
"Terima kasih. Ma, tolong tutup pintunya."
Mama hanya mengangguk dan berlalu lalu menghilang di balik pintu yang beliau tutup.
***
Kurasa cukup lama aku menyendiri di kamar, Bi Aluh masuk saat menganggarkan makan siang untukku, beliau tidak mengucap sepatah kata pun. Mungkin beliau takut jika aku engamuk seperti sebelumnya. Aeusai makan siang pun aku masih mengurung diri di kamar. Rasa ingin meminta maaf pada Lily itu ada, namun entah kenapa rasa males untuk bertemu dengannya lebih besar.
Akhirnya, setelah seharian mengurung diri di kamar ku putuskan untuk keluar saat makan malam.
Sayangnya, kakiku begitu sakit untuk di paksa berjalan. Aku melihat di pojok kamar ada kursj roda yang terlipat. Pasti itu milikku, baiklah akan ku gunakan kursi itu. Kurasa aku sanggup berjalan perlahan sampai ke pojok kamar, itu tidak terlalu jauh.
Aku berhasil berjalan tertatih mencapai kursi roda itu, dengan susah payah aku membuka lipatan rangkaian kursi roda. Ini mudah saja jika dilakukan orang dengan kondisi normal, sayangnya saat ini aku bukan orang dengan kondisi normal.
Aku menjalankan kursi roda ku dengan susah payah hingga mencapai dapur. lily di situ, sedang makan. Bi Aluh berdiri membawa nampan makanan yang kutebak itu akan di antar ke kamarku.
"Pak Dante," ucap Bi Aluh agak terkejut.
Lily yang sebelumnya duduk membelakangiku berbalik begitu mendengar ucapan Bi Aluh. Wajah gadis itu juga menyiratkan keterkejutan.
"Mas Dante," ucap Lily pelan.
Aku tidak mengatakan apa-apa dan kembali menjalankan kursi rodaku. Tapi, tiba-tiba Lily berdiri, dia berjalan kearahku lalu berdiri di belakang dan mendorong kursi rodaku ke meja makan. Dia ingin membatu saat aku berdiri untuk berpindah dari kursi roda ke kursi makan.
"Tidak, tidak perlu, aku bisa sendiri," ucapku menolak bantuannya. Jujur saja aku masih merasa sedikit risih dengannya.
Lily diam saja, tidak berbicara apapu Dan berkata apapun lagi. Bi Aluh menyajikan makanan yang sebelumnya ingin beliau antar ke kamarku. Kami makan malam dalam diam. Sesekali aku menduri sedikit pandang pada Lily. Dia tetap fokus menyantap makanmalamnya dalam diam.
"Lily, Aku ingin minta Maaf tentang kejadian tadi pagi," ucapku akhirnya memecah kebisuan.
~Bersambung~