Dia terlahir dari setitik cahaya yang membentuk sebuah kehidupan.
Tidak tahu darimana dia berasal atau kemana tujuannya.
Tapi segala yang dia lihat saat ini membuatnya merasa asing.
Entah dibalik asal usul kehidupan yang dia jalani sekarang akan seperti apa takdir membawa semua ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shina Yuzuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tidak punya uang
Ya keesokan harinya Davendra meminta izin kepada Sintia dan Salman untuk bebas tugas...
Alasannya sederhana, dia ingin mencari ahli pengobatan demi melihat kondisi aneh yang terjadi di dalam tubuh.
Memang dipastikan oleh Asmi, jika Davendra tidak memiliki kekuatan energi, tapi saat pertarungan dengan Suryo, dia pun melihat sendiri, ada sekelebat tekanan kuat energi yang muncul dalam waktu sangat singkat.
Itu jelas membuat Asmi penasaran, sekaligus merasa aneh atas kondisi yang di miliki oleh Davendra, karena tidak pernah dia melihat ada kekuatan besar tersembunyi di dalam tubuh kosong seperti miliknya.
Berjalan seorang diri di tengah-tengah banyaknya kerumunan manusia membuat Davendra tidak nyaman.
Tapi kali ini Davendra tidak perlu khawatir akan tersesat, karena dia pergi bersama Asmi, ya Salman mengijinkan Asmi pergi menemaninya.
Wilayah kota Batavia memang terbilang sangat luas, meliputi wilayah empat klan, dan satu tempat raja kota di bagian pusat pemerintahan.
Karena hal itu, Davendra sering kali tersesat jika harus pergi sendirian, dimana jalanan antara Kediaman klan harimau api dan pusat pemerintahan kota, sangatlah membingungkan.
"Kenapa aku harus menemanimu." Sedikit jelas jika Asmi merasa enggan pergi bersama Davendra.
"Sudahlah nona Asmi, anggap saja kita sedang berlibur." Ucapnya untuk sedikit menghibur.
"Jika menang harus berlibur, aku lebih memilih tidur, daripada harus bepergian karena ini bukan urusan ku." Secara tegas menolak.
Tapi mau bagaimana lagi, Asmi diperintahkan oleh tuan Salman untuk menemani Davendra, karena memang sudah menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tugas dari Salman, Asmi pun hanya bisa pasrah.
"Hmmm apa nona tidak takut menjadi gendut karena banyak tidur." Santai saja Davendra bicara.
"Jangan katakan aku gendut." Dijawabnya dengan nada tinggi dan sedikit raut wajah emosi.
"Siapa juga yang mengatakan gendut nona, aku hanya berpendapat, itu sebuah pendapat, dan memang pendapat dariku, jika kebanyakan tidur itu akan membuatmu menjadi gendut nona." Davendra merasa waspada untuk ucapan yang bisa menyinggung perasaan Asmi.
"Itu sama saja." Tidak perduli apa, Asmi menganggap Davendra salah.
"Paling tidak, beranggaplah aku sedikit perhatian kepada nona."
Davendra tidak tahu benar atau salah dengan membawa Asmi bersamanya, tapi jika pergi sendiri tentu akan semakin sulit mencari jalan pulang.
Hingga dia sampai ke sebuah rumah yang menjadi tempat pengobatan, dimana Davendra ingin mengecek keadaan tubuhnya itu.
Saat pertama kali Davendra masuk, seorang perawat wanita sudah menghampiri, dia tersenyum manis, karena memang sudah menjadi tugasnya menyambut para tamu.
"Nona aku ingin memeriksa lelaki tidak berguna ini." Ucap Asmi yang menunjuk kepada Davendra seakan tidak ikhlas.
Davendra benar-benar takjub menyaksikan bagiamana sikap wanita itu kepada Davendra, tentu dia yang banyak melalui hal tidak menyenangkan termasuk perlakuan-perlakuan kasar dari mereka.
Tapi melihat bagaimana cara perawat itu tersenyum, jelas membuat suasana hati Davendra merasa nyaman.
"Kalau begitu siapa nama tuan." Bertanya dia dengan senyum cerah.
"Aku Davendra, kalau nama Nona ?." Balik pula untuk mengajak berkenalan.
"Aku Zilla." Jawabnya merdu di telinga
"Sungguh bukan main indahnya nama nona." Puji Davendra.
"Terimakasih tuan." Masih tetap di balasnya dengan senyuman indah itu.
Hanya saja berbeda dengan wanita yang berdiri di sebelah Davendra, ada aura negatif keluar dan menjurus kepadanya.
"Oi disini bukan tempat untuk berkenalan." Asmi merasa kesal karena sikap Davendra.
"Tunggu sebentar nona Asmi."
"Hmmmm." Jelas terlihat Asmi menahan emosi.
Jika bukan karena ini tempat pengobatan dan tidak boleh berisik, dia sudah mengeluarkan pedangnya untuk menodong ke leher Askar.
"Jadi apa setelah ini nona punya waktu luang." Davendra kembali bicara untuk suatu hal yang tidak berkaitan dengan pengobatan
"Untuk apa kau bertanya waktu luang." Yang menjawab adalah Asmi.
"Jika bisa aku ingin mengajak nona Zilla jalan-jalan." Davendra membalas perkataan Asmi.
"Kau saja masih bingung jalan untuk pulang, dan mau mengajak jalan-jalan orang, jangan bercanda." Cukup terlihat puas Asmi menertawakannya.
Nona Zilla merasa tidak nyaman karena Asmi sedikit berisik dan akan menganggu orang lain yang sedang sakit.
Terlebih lagi setiap orang sudah melihat ke arah mereka berdua, dimana masih berbicara tentang hal-hal tidak penting.
"Baik, silakan tuan Davendra menunggu." Balasnya dengan sikap ramah.
Davendra belum mendapat jawaban dari Zilla... "Tapi nona, bagaimana jika..."
"Biar nanti aku bicarakan dengan suamiku dulu." Sebuah jawaban yang mengecewakan.
"Ah begitu kah." Lemas Davendra tahu jika Zilla sudah memiliki suami.
Dan terlihat Asmi tersenyum lebar, bahkan menutupi tawanya melihat ekspresi murung di wajah Davendra.
"Bertanya ke suaminya dulu, katanya...." Ulangi Asmi mengejek Davendra.
"Berisik." Tentu Davendra merasa malu dan ingin pergi saja kalau bisa.
Siapa sangka banyak orang yang berdatangan di tempat pengobatan ini, untuk alasan mencari kesembuhan atas penyakit mereka.
Dari mulai penyakit borok, hingga panuan, atau penyakit berat yang menggerogoti tubuh mereka sampai kurus kering.
"Tuan Davendra..." Terucap nama itu.
Menunggu waktu cukup lama setelah para pasien lain menyelesaikan urusan mereka, kini giliran nama Davendra dipanggil oleh Zilla.
Cepat Davendra bergerak menghadap kepada Zilla... "Apa nona memanggilku."
"Ya memang aku memanggil tuan Davendra."
"Oh, apa karena anda merindukanku, sehingga anda memanggil-manggil namaku." Entah dari mana isi pikiran lelaki ini.
Sudah jelas-jelas dia memiliki suami, tapi Davendra masih saja bertindak nekad ingin merayu istri orang.
"Tidak juga, tapi sudah giliran anda untuk masuk tuan Davendra."
"Ah begitukah." Davendra lemas berjalan masuk.
Seorang kakek tua, berjanggut putih panjang hingga melebihi pangkal leher, menatap sipit kepada Davendra.
Terlihat dari penampilan bahwa Kakek ini memiliki banyak pengalaman dalam dunia pengobatan, karena baru dirinya masuk, dia pun berkata... "Kau merasa aneh di tubuhmu bukan."
"Dari mana kakek tahu, aku belum mengatakan apa pun."
"Ya jika tidak ada yang aneh, kenapa orang-orang akan berobat di sini." Memang realistis apa yang dikatakan olehnya.
"Luar biasa." Tapi itu membuat Davendra terkagum.
"Silakan duduk, biar aku mengecek denyut nadi mu." Ucapnya dengan perlahan.
Davendra pun mengulurkan tangan seperti yang di inginkan oleh kakek ini, disentuh pergelangan tangan, memejamkan mata dan terlihat rumit raut wajah itu.
"Ada apa kek." Merasa khawatir.
"Kau harus banyak-banyak berolahraga, tidak perlu pakai kendaraan, jalan kaki juga baik, makan makanan sederhana saja, tidak perlu berlebihan, dan sesekali berpuasa, kemudian...." Cukup banyak yang kakek itu bicarakan.
"Memang apa yang terjadi dengan tubuhku." Davendra penasaran.
"Kau sedang tidak punya uang."
"........ Bukan begitu."
"Loh salah ?."
"Ya itu tidak salah, memang aku tidak punya uang."
"Sudah terlihat dari raut wajahmu." Terlihat sombong wajah kakek tua itu berhasil menebak masalah keuangannya.
"Tapi ini tentang kekuatan energi yang ada di dalam tubuhku." Davendra pun menjelaskan apa yang menjadi masalah.
judul lainya apa thor? yg kamu tulis biar tak baca semua