NovelToon NovelToon
ONCE AGAIN

ONCE AGAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Ketos
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Irdyna Aira

Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.

Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 10: Si Pink dan Si Kapten Basket

(POV Arga)

Arga masih berdiri santai di samping motor Ninja hitamnya. Sesekali matanya melirik ke arah arloji di pergelangan tangannya yang menunjukkan angka 06.16 WIB.

"Katanya cuma sebentar..." gumam Arga pelan, bibirnya mengulas senyum gelak yang tertahan.

Tak sampai satu menit kemudian, pintu kayu rumah keluarga Adhitama akhirnya berderit terbuka.

Ceklek.

Arga spontan menegakkan kepalanya. Binar geli langsung terpancar di matanya begitu sosok yang ditunggu-tunggu menampakkan diri.

"Nah... itu dia sang Puteri Kerajaan," batin Arga.

Nadira melangkah keluar dengan anggun sekaligus riweuh. Jas almamater OSIS berwarna abu-abu tua membungkus rapi seragam putih-abu-abunya yang licin tanpa satu pun lipatan. Kerudung segi empat putihnya terpasang simetris, name tag Alya Nadhifa Adhitama - Ketua OSIS tergantung gagah di lehernya, dan jam tangan kulit hitam melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Namun, fokus Arga seketika teralih pada barisan barang bawaan yang dibawa gadis itu.

Di bahu kiri Nadira, tersampir ransel berwarna pink pastel. Tas itu dipenuhi berbagai gantungan mungil yang menggemaskan—mulai dari gantungan kelinci berbulu halus, pita renda, stroberi akrilik, hingga gantungan nama bertuliskan Alya Nadira

Tangan kanannya menggenggam tumbler tahan panas berwarna pink, sementara tangan kirinya mendekap tas bekal pink serta map dokumen OSIS yang tampak sarat akan lembaran berkas.

Melihat pemandangan serba merah muda itu, tawa pelan Arga akhirnya lolos juga. "Merah muda lagi... nggak pernah absen."

Memang begitulah Nadira. Sejak masa-masa seragam biru putih SMP hingga putih-abu-abu SMA sekarang, jika disodorkan opsi warna apa pun di muka bumi ini, jawaban Nadira hanya ada satu, Pink.

Entah itu tas sekolah, dompet, tempat pensil, binder catatan, botol minum, payung, casing ponsel, sampai lembaran sticky notes yang memenuhi meja belajarnya—semuanya didominasi warna merah muda.

Bahkan anak-anak pengurus OSIS sering meledeknya.

'Nanti kalau Bu Ketua nikah, kayaknya dekorasinya pink, undagannya pink, souvenir-nya pink, sampai gaun pengantinnya pasti merah muda.' Dan tiap kali godaan itu melayang, Nadira hanya akan tersenyum malu-malu seraya menepis halus, 'Apaan sih kalian, nggak jelas deh!''

Akan tetapi, ada satu paradoks dari seorang Alya Nadhifa yang selalu berhasil membuat teman-temannya garuk-garuk kepala. Meski seluruh perlengkapan hidupnya serba pink, minuman favorit gadis itu bukanlah susu stroberi atau taro... melainkan matcha. Serba hijau pahit-manis.

Anak-anak OSIS sering dibuat heran, 'Barang-barangnya serba pink gemas, tapi minumannya tetep ijo pahit.' Dan Nadira cuma bakal membalas santai sambil terkekeh, 'Suka-suka aku dong, emang nggak boleh?'

Memikirkan kembali potongan memori itu membuat Arga menggeleng-gelengkan kepala. "Dasar."

Nadira berjalan menghampiri pagar dengan langkah cepat. "Pagi, Ga."

"Pagi, Dira."

"Udah lama nungguin ya?" tanya Nadira agak cemas.

"Nggak kok. Baru aja semenit beridiri di sini," bohong Arga lancar. Padahal, ia sudah hampir sepuluh menit memanaskan mesin motor di sana. Tapi bagi Arga, menghitung menit saat menunggu Nadira bukanlah hal yang penting.

Pak Hadi yang mengamati dari atas teras rumah ikut terkekeh. "Wah... lengkap banget itu persenjataanmu, Nak."

Nadira menoleh ke arah sang ayah sambil menyengir lebar. "Hehe... iya, Pa. Soalnya hari ini jadwalnya padat. Ada piket gerbang, rapat OSIS habis pulang sekolah, terus ngurus administrasi Kesiswaan."

Pak Hadi menggeleng-gelengkan kepala. "Pantesan bawaannya banyak banget, udah kayak orang mau pindahan kos-kosan."

"Papaaa...!" rangut Nadira manja.

Pak Hadi tertawa renyah. "Yaudah, hati-hati di jalan ya kalian."

"Iya, Pa."

Tak lama, Bu Maya ikut menyusul keluar dari dapur membawa kotak makan plastik tambahan. "Nih, Dira, ada potongan buah apel buat dicemil nanti siang."

Nadira melotot pelan. "Maaa... tas Dira udah penuh banget ini, nggak muat lagi."

"Gak apa-apa, selipin di tas bekal aja," potong Bu Maya tak mau dibantah.

Nadira hanya bisa pasrah menerima kotak buah itu. "Iya deh... Makasih banyak ya, Mama." Ia kemudian meraih jemari kedua orang tuanya dan menciumnya bergantian. "Dira berangkat ya. Assalamu'alaikum!"

"Wa'alaikumussalam. Hati-hati, Nak!"

Begitu Nadira melangkah keluar pagar mendekati motor, Arga tanpa ragu mengulurkan tangannya, mengambil alih tas bekal dan map tebal dari dekapan Nadira.

"Eh, nggak usah, Ga! Berat!" cegah Nadira.

"Nggak papa, siniin."

"Beneran, biar aku bawa sendiri aja—"

"Dira..." Arga menatapnya datar namun jenaka. "Map tebal, tumbler, ransel, bekal dua kotak. Kamu masih mau bilang nggak berat? Tangan kamu cuma dua."

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Arga langsung mencangklongkan tas bekal itu ke gantungan depan motor Ninjanya dan menyelipkan map OSIS ke dalam tas ranselnya sendiri yang masih menyisa ruang.

Nadira menggigit b1b1r bawahnya, lalu mengulas senyum tipis yang sangat manis. "Makasih ya, Arga."

"Sama-sama," jawab Arga singkat seraya membetulkan posisi helmnya.

Bagi Arga, mengambil alih barang bawaan Nadira adalah refleks alami yang terbentuk secara otomatis. Begitu pula sebaliknya. Jika Arga lupa membawa botol air minum saat latihan basket, Nadira yang akan sibuk memarahi sekaligus menyodorkan minumannya.

Kalau Arga lupa mengerjakan tugas sekolah, Nadira adalah orang pertama yang akan mengomeli dan menceramahinya panjang lebar.

Mereka saling melengkapi dengan ritme yang sangat sederhana.

Di SMA Garuda, kepopuleran hubungan mereka bahkan sudah mencapai taraf legenda. Semua siswa seangkatan sudah hafal di luar kepala kalau mencari Arga sang Kapten Basket, kemungkinan besar Nadira ada di dekatnya. Kalau mencari Nadira sang Ketua OSIS, Arga pasti bertengger tak jauh dari lokasi gadis itu berada.

Bukan karena mereka berpacaran, melainkan karena sejak kelas sepuluh, takdir seolah sengaja mengunci mereka di kelas yang sama. Bahkan... selalu duduk di bangku yang sama.

Awalnya hanya karena ketidaksengajaan abjad nama saat pembagian tempat duduk oleh wali kelas X IPA 1. Naik ke kelas sebelas, guru menetapkan mereka tetap sebangku karena dinilai sebagai kombinasi belajar yang paling ideal. Dan ketika menginjak kelas dua belas, sang wali kelas hanya berkata singkat, 'Kalian berdua udah paham cara belajar satu sama lain, tetap sebangku aja ya.''

Sejak saat itu, Arga dan Nadira resmi menyandang gelar 'paket komplit' yang tak terpisahkan.

Di kantin, Arga dan Nadira duduk berhadapan. Di perpustakaan, mereka belajar di meja yang sama. Berangkat dan pulang sekolah, motor Ninja hitam Arga adalah kendaraannya. Bahkan saat rapat gabungan antara pengurus OSIS dan tim basket, keduanya sering terlihat berdiskusi sengit namun kompak di pojokan aula.

Candaan dan godaan dari teman-teman seangkatan sudah menjadi makanan sehari-hari.

'Kalau nyari Bu Ketua OSIS nggak ada di ruang OSIS, cari aja Kapten Basket. Pasti lagi mengekor di belakangnya,' celetuk anak-anak. 'Sebaliknya, kalau Kapten Basket hilang dari lapangan, cek ruang OSIS. Pasti lagi nungguin Kanjeng Ratu rapat,' sahut yang lain.

Namun, di balik semua seloroh itu, teman-teman mereka tahu batas. Kedekatan Arga dan Nadira bukan sesuatu yang dibuat-buat atau pamer kemesraan. Mereka bersahabat sejak masih merangkak. Orang tua mereka bertetangga dekat, dan album foto masa kecil mereka yang saling berpelukan saat balita pernah

menjadi konsumsi umum di acara syukuran kompleks.

Sebab itulah, lama-kelamaan teman-teman berhenti menjodoh-jodohkan mereka secara serius. Bagi anak-anak kelas dua belas, Arga dan Nadira lebih dipandang sebagai 'paket persahabatan seumur hidup' ketimbang sepasang kekasih. 'Bener-bener kayak kakak adik yang saling jaga,' begitu simpulan mayoritas teman-teman.

Meski begitu... di antara sekian banyak pasang mata yang memperhatikan gerak-gerik mereka saban hari, tak sedikit pula yang diam-diam menaruh tanya di dalam hati.

Apakah mungkin... suatu hari nanti... persahabatan selat tulus dan sepanjang itu akan berlanjut menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar sahabat?

Sebuah pertanyaan besar... yang bahkan saat itu belum pernah sekali pun terlintas di benak Arga maupun Nadira.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!