Gwen Prameswari dan Daniel Artajaya telah menikah lebih dari 3 tahun. Namun hingga saat ini mereka belum juga di karuniai seorang anak.
Ibu mertua Gwen yang terus menuntut untuk agar segera memiliki cucu semakin membuat Gwen frustasi dan di ambang perceraian.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BPH 22
Owen memikirkan motornya di halaman rumahnya sambil melihat ke rumah Gwen yang terlihat gelap gulita. Owen mengerutkan dahinya dengan bingung. Sudah hampir jam 9 tapi kenapa rumah Gwen terlihat sangat gelap. Bahkan tidak ada satupun lampu yang menyala.
Perumahan tempat tinggal Gwen dan Owen itu tembok pembatas nya tidak tinggi, paling hanya sebatas telinga Owen, makanya ia bisa melihat keadaan rumah Gwen.
"Samperin gak yah? Ya kali lembur dari malem sampe ketemu malem lagi. Hemm mbak mbak ckck," Owen berdecak kesal memikirkan bahwa Gwen dan Suaminya sibuk lembur seharian sampai tidak sempat menyalakan lampu rumah.
Setelah mandi, Owen pun kembali mencoba menghubungi Gwen. Entah mengapa hatinya merasa tak tenang saat melihat dari balkon kamar nya, melihat keadaan rumah Gwen yang benar benar gelap gulita.
"Gue samperin nanti ada suaminya. Gak gue samperin, kok perasaan gue gak enak yah?" gumam Owen mengusap wajahnya frustasi sambil mondar mandir di balkon kamar nya.
Dengan menguatkan tekat, Owen pun mengambil beberapa kue yang ada di lemari dapurnya. Ia putuskan untuk mengunjungi rumah Gwen, entah mengapa ia merasa sangat khawatir dengan keadaan Gwen yang menghilang tanpa kabar seharian ini.
Owen akan mengatasnamakan sebagai perkenalan tetangga baru sebagai perkenalan dengan membawa kue ke rumah Gwen.
Ting tong .... Ting Tong ... Ting Tong ...
Berulang kali Owen memencet tombol bel namun tak ada yang menjawab atau membuka pintu. Berulang kali juga Owen kembali menghubungi nomor Gwen namun tidak aktif.
Owen semakin frustasi, perasaan nya semakin tidak tenang. Hingga tiba tiba ia di kejutkan oleh kedatangan sebuah motor memasuki pekarangan rumah Gwen.
"Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya Nina, pembantu di rumah Gwen.
"Maaf mbak nya siapa?" tanya Owen mengerutkan dahinya.
"Saya Nina Mas, saya kerja disini, ada yang bisa saya bantu?" tanya Nina curiga dengan Owen dan mengira bahwa Owen maling.
"Saya Owen, tetangga sebelah. Hemm begini saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini dan memberikan kue ini," ujar Owen sedikit kikuk.
"Oh, mbak Gwen nya lagi sakit," kata Nina.
Deg!
Owen langsung menatap ke arah Nina dengan perasaan campur aduk. Benarkah Gwen sakit? sakit apa? kenapa? sejak kapan? tanya Owen beruntun, namun hanya bisa terucap di dalam hati.
"Oh begitu, sakit apa yah? apakah di rumah sakit? soalnya saya lihat ini lampunya padam semua," ujar Owen.
"Tadi siang sih di rumah mas, saya juga baru pulang karena hari ini saya libur. Makanya saya pergi dari siang dan baru pulang sekarang," jelas Nina.
"Oh, mungkin di bawa ke rumah sakit kali makanya lampunya gelap semua, kalau begitu saya titip ini saja ya," ucap Owen memberikan bingkisan kue kepada Nina.
"Sebentar Mas, saya masuk dulu. Tapi mas nya jangan kemana mana, saya khawatir. Soalnya kemarin malam saya denger Bapak sama Ibu berantem dan pak Daniel gak pulang. Baru pulang tadi siang, Mas nya disini dulu sebentar saya mau ngecek kamar Ibu dulu ya," kata Nina dan Owen pun mengiyakan nya.
Nina pun segera masuk dan menyalakan semua lampu rumah. Rumah itu tampak begitu sepi seperti rumah kosong. Yah bagaimana tidak, nenek sihir dan anak nya belum juga kembali ke rumah.
Beberapa menit kemudian Nina terlihat berlari keluar rumah menghampiri Owen dengan napas memburu.
"Ada apa?" tanya Owen bingung.
"I— itu huh huh, itu i ibu huh huh huh," ujar Nina sambil mengatur napasnya yang ngos ngosan akibat berlari menuruni tangga.