Naoto Raiden, seorang tentara yang tewas dalam konspirasi militer, bereinkarnasi ke masa perang klan di dunia Naruto sebagai bagian dari keluarga Senju. Namun, identitas aslinya jauh lebih agung: ia membawa darah murni Otsutsuki beserta mata Tenseigan yang legendaris.
Memilih untuk hidup santai namun tetap melindungi keluarga angkatnya, Raiden tumbuh sebagai kakak dari Hashirama dan Tobirama. Setelah melewati hibernasi panjang demi berevolusi di planet asing dan mengalahkan Momoshiki, ia kembali ke era Naruto dengan kekuatan yang melampaui dewa. Kini, dengan identitas sebagai suami Tsunade dan mentor rahasia bagi Naruto, Raiden bergerak di balik bayang-bayang untuk membersihkan Konoha dari kegelapan dan menghadapi ancaman klan Otsutsuki yang mulai mengintai bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orpheus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
akatsuki
Mei terumi dan Ao mengikuti Raiden, setelah sampai di samping Raiden.
"Raiden, ya?" gumam Mei sembari menyibakkan rambutnya. "Baiklah, Raiden-san. Karena kau sudah membuat peliharaan desa kami pingsan, setidaknya biarkan aku menjamumu di desa sebagai ucapan terima kasih... atau mungkin permintaan maaf karena bawahan ku sempat berniat menyerangmu."
Raiden terkekeh. "Fufufu, ajakan yang sulit ditolak dari wanita cantik sepertimu."
Raiden kemudian berjalan mendekati Mei. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan kawah tempat Isobu terkapar. Ia mengarahkan tangannya ke bawah, dan seketika muncul rantai-rantai kayu yang keluar dari tanah, mengikat tubuh raksasa Isobu hingga tak berkutik.
"Mokuton?!" teriak Ao yang sudah pulih dari rasa perih di matanya. "Bagaimana mungkin? Bukankah pengguna elemen kayu hanya ada di klan Senju Konoha?!"
Raiden melirik Ao dengan tatapan dingin yang membuat pria itu seketika bungkam. "Jangan banyak bicara, Paman. Aku hanya mengamankannya agar dia tidak mengamuk saat kita sedang asyik berbincang nanti."
Rombongan itu pun mulai berjalan menuju desa Kirigakure. Di sepanjang jalan, Raiden hanya diam sembari menikmati pemandangan kabut yang mulai menyelimuti hutan.
' Hmmm, kabut darah... aromanya masih terasa sedikit, walaupun sudah jauh lebih bersih dari ingatan asliku. Sepertinya wanita ini bekerja cukup keras untuk merubah desa ini. ' batin Raiden.
Sesampainya di gedung Mizukage.
Banyak ninja Kirigakure yang menatap aneh ke arah Raiden. Mereka bingung melihat pria asing dengan pakaian unik dan topeng kitsune berjalan di samping Mizukage mereka dengan santainya.
Di dalam ruangan Mizukage.
Mei segera menyuruh bawahannya untuk menyiapkan teh terbaik. Hanya tersisa Mei, Ao, dan Raiden di ruangan itu.
" Jadi, Raiden-san. Aku tidak akan berbasa-basi lagi. Kekuatanmu... itu bukan sesuatu yang biasa dimiliki oleh pengembara. Dan mata itu... " Mei menatap dalam ke arah Tenseigan milik Raiden. " Apakah kau ada hubungannya dengan klan yang sudah punah? "
Raiden duduk dengan menyilangkan kakinya, ia mengambil cangkir teh yang baru saja disajikan dan meminumnya sedikit.
" Haaahhh, nikmatnya. Untuk pertanyaanmu, Mizukage... anggap saja aku adalah sisa dari masa lalu yang terlupakan. "
Raiden kemudian meletakkan cangkirnya dan menatap datar ke arah jendela yang memperlihatkan pemandangan desa.
" Aku tahu desa ini sedang dalam masa transisi. Kabut darah telah meninggalkan luka yang dalam. Dan kau... kau butuh kekuatan untuk menstabilkan posisi Kirigakure di mata negara lain, bukan? "
Mei terdiam. Apa yang dikatakan Raiden adalah kebenaran yang pahit. Kirigakure masih dipandang lemah setelah masa kepemimpinan Yagura yang dikendalikan.
" Jika aku menawarkan bantuan untuk memperkuat pertahanan desamu, apa yang akan kau berikan padaku sebagai imbalannya? " lanjut Raiden sembari tersenyum misterius di balik topengnya.
Ao yang mendengar itu langsung menggebrak meja. " Jangan lancang! Kau pikir siapa dirimu bisa menawarkan hal seperti itu kepada Mizukage kami! "
Raiden tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melepaskan sedikit tekanan cakranya.
... Brakkkk ...
Mei dan Ao seketika merasa seolah-olah seluruh atmosfer di ruangan itu menghilang. Dada mereka terasa sesak, dan kursi yang diduduki Ao mendadak hancur karena tekanan tersebut.
" Aku tidak sedang meminta izin padamu, Paman. Aku sedang berbicara dengan pemimpinmu. " ucap Raiden dengan suara yang rendah namun menggelegar di telinga mereka.
Raiden kemudian menghilangkan tekanannya kembali. Ia menoleh ke arah Mei yang tengah berkeringat dingin.
" Jadi, bagaimana? Aku tidak butuh uang atau jabatan. Aku hanya butuh akses ke perpustakaan terlarang Kirigakure. Ada sesuatu yang ingin kucari di sana. "
Mei mengatur napasnya, ia menatap Raiden dengan pandangan yang sulit diartikan—antara takut dan tertarik.
" Akses ke perpustakaan terlarang adalah hal yang sangat rahasia. Tapi... mengingat kau bisa menghancurkan desa ini jika kau mau, kurasa aku tidak punya banyak pilihan. Baiklah, aku setuju. "
Raiden tersenyum puas. " Keputusan yang cerdas, Mei Terumi. "
Tiba-tiba, pintu ruangan Hokage diketuk dengan keras. " Lapor Mizukage-sama! Terjadi keributan di gerbang desa! Seseorang yang mengaku dari organisasi Akatsuki sedang memaksa masuk! "
Mata Raiden berkilat mendengar nama itu. ' Oya-oya, sepertinya mangsa datang lebih cepat dari perkiraanku. Fufufu. '
Raiden berdiri dan berjalan menuju pintu. " Mizukage, biarkan aku yang menyambut tamu tak diundang itu. Anggap saja ini sebagai DP dari kerjasam kita. "
Raiden menghilang dalam sekejap, meninggalkan Mei dan Ao yang masih terpaku.
Di gerbang depan Kirigakure, suasana tampak sangat mencekam. Dua sosok berjubah hitam dengan corak awan merah berdiri dengan tenang di tengah kepungan puluhan shinobi Kiri yang tampak gemetar.
Salah satu dari mereka membawa pedang besar yang terbungkus perban di punggungnya, sementara yang lainnya memiliki wajah yang lebih menyerupai hiu.
"Heehh... Jadi ini penyambutan untukku di desa kelahiranku sendiri? Sungguh tidak ramah, bukan begitu Itachi?" ucap Kisame Hoshigaki sembari menyeringai, memperlihatkan deretan gigi tajamnya.
Itachi Uchiha hanya diam dengan mata Sharingan yang terus berputar pelan. "Kita di sini hanya untuk mengambil Sanbi, Kisame. Jangan membuang waktu."
Namun, sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, sebuah tekanan luar biasa mendadak jatuh dari langit. Udara di sekitar gerbang seolah membeku, membuat para shinobi Kiri yang mengepung mereka jatuh berlutut satu per satu karena tak kuat menahan beban cakra yang muncul secara tiba-tiba.
... Wuuusshhh ...
Sesosok pria berambut putih panjang dengan jubah putih khas Otsutsuki mendarat dengan anggun tepat di antara anggota Akatsuki dan gerbang desa. Lonceng kecil di topeng kitsune-nya berdenting pelan, namun suara itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga mereka.
"Oya-oya... Seekor hiu dan seekor gagak yang tersesat," ucap Raiden dengan nada mengejek.
Mata Itachi menyipit. Untuk pertama kalinya, ia merasa indra persepsinya berteriak memperingatkan bahaya yang belum pernah ia temui sebelumnya. "Siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu dalam buku catatan bingo."
Raiden terkekeh pelan. "Tentu saja tidak, Bocah Uchiha. Aku adalah sesuatu yang melampaui imajinasi sempit milik organisasimu itu."
Kisame yang merasa tertantang langsung mencabut Samehada dari punggungnya. "Cih! Banyak bicara! Biar kulihat seberapa enak rasa cakramu!"
Kisame melesat maju dan mengayunkan Samehada dengan kekuatan penuh ke arah kepala Raiden. Namun, Raiden bahkan tidak bergeming. Ia hanya mengangkat tangan kanannya dan menangkap ujung pedang raksasa itu hanya dengan dua jari.
... Tingggg ...
Mata Kisame membelalak. Samehada, pedang yang biasanya rakus akan cakra, kini justru bergetar ketakutan. Pedang itu merintih, seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang jauh lebih predator darinya.
"Pedang yang menarik... Tapi sayangnya, ia takut padaku," ucap Raiden tenang.
Raiden kemudian sedikit mengerahkan kekuatannya. " Shinra Tensei! "
BOOOMM!
Kisame terpental jauh ke belakang, terseret ratusan meter hingga menghantam tebing di kejauhan. Itachi yang melihat rekannya diperlakukan seperti itu segera mengaktifkan Mangekyou Sharingan-nya.
" Amaterasu! "
Api hitam yang tidak bisa padam seketika muncul di jubah putih Raiden. Namun, bukannya terbakar, Raiden justru mengusapkan tangannya ke api tersebut. Detik berikutnya, api hitam itu terserap sepenuhnya ke dalam telapak tangan Raiden.
"Menghisap ninjutsu? Tidak... dia menghapusnya," batin Itachi terkejut.
Raiden menatap Itachi dengan pola Tenseigan-nya yang menembus topeng. "Teknik yang bagus, tapi kau terlalu bergantung pada mata itu, Itachi. Biar kutunjukkan padamu apa itu penglihatan yang sebenarnya."
Raiden tiba-tiba menghilang dan muncul tepat di depan Itachi. Tangannya bergerak secepat kilat, mencengkeram leher Itachi sebelum ia sempat mengaktifkan Susanoo.
"Katakan pada pemimpinmu, Nagato... atau siapapun yang mengaku sebagai Madara di balik topeng itu. Katakan bahwa Raiden Otsutsuki telah kembali. Dan jika kalian berani menyentuh apa yang menjadi milikku... aku akan menghapus organisasi kalian dari peta dunia dalam satu malam."
Raiden kemudian melepaskan cengkeramannya dan menendang dada Itachi dengan pelan, namun cukup kuat untuk membuatnya terlempar ke arah Kisame yang baru saja bangkit.
"Sekarang pergilah. Aku sedang tidak ingin membuang tenaga untuk membunuh kalian hari ini," ucap Raiden sembari membalikkan badan, berjalan kembali menuju gerbang desa di mana Mei Terumi dan Ao sedang menonton dengan mulut ternganga.
Mei Terumi menelan ludah. Ia baru saja melihat dua orang kelas S yang paling dicari di dunia shinobi diusir seperti lalat oleh pria yang tadi mengajaknya minum teh.
"Jadi... Mizukage," Raiden berhenti di depan Mei dan melepas topengnya sepenuhnya, memperlihatkan wajahnya yang tampan namun penuh wibawa. "Apakah tehnya sudah siap? Aku mulai haus setelah berurusan dengan hama tadi."
Mei tersenyum canggung, namun ada binar kekaguman di matanya. "T-tentu, Raiden-san. Silakan masuk."