Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.
Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"
Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"
Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khilaf?
Perlahan Aruni membuka matanya. Udara pagi ini terasa begitu segar. Tercium aroma tanah basah karena air hujan yang turun semalam dan aroma telor goreng yang gurih.
Mencium aroma telur goreng, perut Aruni langsung keroncongan. Aruni mengernyit sambil meraba perutnya. Ya, sakit bulanannya sudah hilang, tinggal yang terasa sekarang hanyalah rasa lapar yang luar biasa. Bagaimana tidak, karena sakit perut ini, semalam Aruni jadi melewatkan makan malam, dan kini perutnya meronta-ronta minta Diisi.
Aruni pun bangun dari tidurannya, menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan bergumam sendiri, “Siapa sih pagi-pagi goreng telor? Bikin laper aja! Dosa tau, bikin tetangga laper gara-gara bau masakan!” gerutunya.
“Aku juga mau goreng telor aja kalau begitu,” ucapnya lagi sambil menggulung rambutnya asal-asalan dan berjalan menuju kamar mandi. Dia ingin mandi secepatnya karena rasanya sudah tidak nyaman, haidnya kemarin sangat banyak dan dia ingin membersihkan diri pagi ini.
Saat mandi Aruni mendengus karena teringat mimpinya semalam. “Mana mungkin Mas Sena pulang karena aku sakit, memangnya dia seperhatian itu? sampi ngusep-ngusep perut aku lagi! Gila! gara-gara nyeri perut sampai mimpi aneh-aneh!” gumamnya. Tapi mungkin memang itu yang Aruni harapkan, bukankah mimpi adalah implementasi dari keinginan terpendam kita? Ya, mendapatkan perhatian begitu rupa dari suaminya kan memang impian Aruni. Aruni pun terkekeh sambil melanjutkan mandinya.
Setelah selesai membersihkan diri, Aruni pun keluar dari kamarnya. Berniat ke dapur untuk masak telor goreng. Saat perut lapar, makan makanan sat set lebih enak, karena dia pun malas harus memasak macam-macam. Bukankah dia Cuma sendirian seminggu ini?
Namun saat kakinya mencapai tangga terbawah, Aruni terdiam –tertegun. Bau telor gorengnya jelas-jelas dari dapur bukan dari rumah tetangga. Lalu siapa yang sedang memasak di dapur?
Buru-buru Aruni menuju dapur, dan kembali tertegun saat melihat punggung kokoh itu menghiasai dapur. Itu Mas Sena, dia sedang di dapur? Memasak? Bukankah dia di luar kota satu minggu? Kenapa pagi-pagi sudah ada di sini?
Selesai memasak, Sena berbalik hendak meletakkan masakan yang sudah matang di meja, dan dia pun terkejut saat melihat Aruni yang berdiri bengong menatapnya.
“Kamu sudah bangun? Ayo sarapan? Semalaman perutmu terus keroncongan,” ucap Sena dengan santai. Dia meletakkan sepiring nasi goreng yang dihiasi telor ceplok, potongan tomat dan taburan bawang goreng. Terlihat sangat nikmat sampai-sampai tanpa sadar Aruni meneguk ludahnya sendiri.
“Ma-Mas Sena? Kapan datang?”
Sena menatap Aruni, menaikkan salah satu alisnya –bingung. “Kemarin sore. Bukankah semalaman aku menemanimu? Apa kau lupa?” ucap Sena acuh, dia menarik kursi untuk di duduki Aruni, dan dia sendiri duduk di kursi sebelahnya. “Duduklah.”
“A-apa.. be-berarti yang semalam…” Aruni mengusap perutnya sendiri, “bukan mimpi?” gumamnya lirih.
Sena dengar, tapi pura—pura tak dengar. Dia menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya sambil menghela. Dia sendiri bingung harus bicara apa dengan Aruni.
“Mas… sudah selesai kerjaan di luar kotanya?” Aruni duduk di sebelah Sena, menatapnya.
Sena tak menoleh untuk balas tatapan Aruni, dia hanya memandangi piring nasi gorengnya dan terus makan. “Belum, setelah sarapan aku berangkat lagi,” ucapnya singkat.
Aruni menghela.
“Cepatlah makan.”
“Tapi, Mas.. aku ingin bicara-“
“Aku sibuk, Aruni!” ucap Sena cepat. Sepertinya dia tau apa yang akan dibicarakan oleh Aruni dan Sena belum siap, makanya dia memotong ucapan istrinya itu.
“Lima menit saja, Mas…”
"Nanti kita bicarakan lagi! Aku benar-benar harus mengejar pesawat!”
“Mas Sena hanya mau menghindari aku, kan? Kenapa Mas? Kenapa harus menghindar? Mas Sena nyesel udah cium aku?”
“Aruni!” sentak Sena cepat, “tolong jangan bahas itu-“
“Jangan bahas bagimana! Itu ciuman pertamaku! Mas Sena harus tanggung jawab!”
Sena mendengus, “berciuman nggak membuatmu hamil, Runi! Jadi jangan khawatir!”
“Ini bukan masalah hamil atau tidak! Ini masalah tanggung jawab! Apa alasan mas, cium aku kemarin? Dalam hati Mas, aku ini apa?!” Aruni bangun dari duduknya, bahkan sampai menggebrak meja.
Sena menghela panjang, “bukankah kamu yang duluan menciumku? Aku hanya membalas ciumanmu, sudah!” lalu tanpa menoleh Sena berjalan meninggalkan Aruni.
“Aku memang belum pernah berciuman! Tapi aku tau, ciuman mas Sena bukan ciuman iseng! Aku bisa merasakannya! Mas! mas Sena!” teriakan Aruni tak didengarkan, Sena langsung pergi keluar dari rumah meninggalkan istrinya yang sedang tantrum itu.
“Arghh!!” Aruni kesal –dia menghentak-hentakkan kakinya di lantai. “menyebalkan!”
Dan ya, Sena terlihat tidak terpengaruh dengan luapan emosi Aruni. Dia berjalan menjauh, terus pergi naik taksi menuju kanatornya. Ya, sebenarnya dia memang tak ada kerjaan di luar kota. Dia hanya ingin menghindari Aruni. Dia masih tak tau apa yang dia rasakan ini.
"lho, Runi! Lu udah sehat? udah baikan?" pekik Vivi yang melihat Aruni sedang memarkirkan motornya di halaman gedung fakultas Ekonomi.
Aruni menghela panjang melirik Vivi, "lu kemarin yang nyuruh Mas Sena pulang, ya?" ucapnya sedikit kesal sambil melepaskan kunci kontak motornya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Iya. kenapa memangnya?
"Nggak apa-apa, tapi lain kali tolong jangan ya! aku lagi marahan sama dia!" ucap Aruni.
"Marahan? tapi semalam Mas Senamu itu kelihatan khawatir banget, tuh. Nggak kelihatan kayak orang marahan," Vivi berjalan cepat mengikuti Arun yang tampak malas mengobrol.
"Ceritanya panjang!" kesal Arni.
"Gara-gara lu nggak bisa kasih service yang memuaskan ke dia? makanya dia marah?" tanya Vivi dengan polosnya, dia masih menghubungkan ini semua dengan permintaan Aruni yang nyeleneh kemarin pagi.
Aruni kembali menghela, "bukan itu!" lalu dia menarik tangan Vivi dan mengajaknya duduk di salah satu bangku taman. "Aku mau tanya!"
Vivi menatap Aruni dengan serius, "apa?"
"Kalau cowok, balas ciuman kita dengan penuh gairah... ya begitulah.. itu artinya dia suka kita, kan?" bisiknya
Vivi mengerutkan alisnya, "tergntung..."
"Maksudnya?"
"Ya nggak musti suka juga. Musang kalau birahi juga, nggak lihat siapa yang ada di depannya, langsug terkam saja. Cowok juga sama, mereka kan sejenis musang!"
Aruni menatap datar ke arah temannya yang malah nyengir tak merasa bersalah, "kamu lagi berantem sama pacarmu, ya! sampai cowokku di bawa-bawa dijadiin musang!" kesalnya.
Vivi terkekeh, "Aruni.. Aruni.. lu masih penasaran apakah Mas Sena mu itu suka lo atau enggak? emang Lo nggak bisa merasakan perhatian dia? tuh, lu dibelikan motor, lu sakit dia langsung pulang jagain lu, lu laper, dia langsung cariin makan. Kurang apa lagi untuk bukti?" ucap Vivi panjang lebar.
"Tapi kenapa Vi? dia langsung ngehindarin aku setelah ciuman panas kita kemarin malam.. aku jadi bingung, apa maksudnya? apa dia cuma khilaf? tapi kalau khilaf.. kenapa rasanya..." Aruni meraba bibirnya lalu jantungnya yang kembali berdebar saat teringat kejadian beberapa hari yang lalu itu. "Rasanya.. terlalu indah untuk disebut khilaf..."
"Mungkin saja, dia sebenarnya memang suka elo, Run. Tapi ada sesuatu yang masih mengganjal dihatinya. Itu yang musti lu cari tau!"
Aruni mengangguk, "Iya, aku harus cari tau! tapi bagaimana caranya..."
"Aku kenal Sena sejak lama, aku tau cara kerjanya, aku tau kelemahannya. kalau kamu ingin mendapatkan hatinya, aku akan bantu."
Tiba-tiba ucapan Adit kembali terngiang di kepala Aruni.
"Kak Adit!" serunya seolah menemukan jawaban.
lecet2 ga ya punya rumi,,😁😁
masa iya perdana kur Pindo 😂😂🤭🤭🤭 ya noo good lah
selanjutnya mau apa mereka di kamar😁😁😁