Reinkarnasi pasti tak asing di telinga kalian, hanya saja akan asing jika kalian mengalaminya. Tidak untukku, empat kali kesempatan hidup terbuang percuma.Yang aku dapatkan hanyalah warna hitam dan putih.
Reinkarnasi mungkin sudah menjadi hal yang wajar bagiku. Klasik. TAPI KENAPA AKU BISA ADA DI TUBUH ANTAGONIS DALAM SEBUAH NOVEL!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Estellaafseena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.22
Hari menjelang sore. Mendung, seakan langit tau apa yang di rasakan semua orang di sini.
Orang-orang menara sihir sekaligus orang terdekat Kakek Roy datang, turut berdukacita. Bangsawan-bangsawan tingkat menengah ke atas ikut bergabung di suasana duka ini.
Tubuh kakek Roy akhirnya di masukkan ke dalam peti warna putih, dengan lambang naga emas menghiasinya. Enam orang dari menara sihir mengangkat peti dengan khidmat.
Semua berdiri, aku menyusul. Aku menatap peti yang di bawa keluar aula doa. Kami yang ada di aula mengikuti jejak mereka.
Pemakaman ini sama seperti pemakaman pada umumnya. Kakek Roy di makamkan di tempat khusus, sebagai penghormatan atas jasa yang dia lakukan.
"Selamat tinggal, Roy Mozard. Salah satu Archmage terbaik di kerajaan."
Raja berseru kehormatan. Kelima Archmage mengangkat senjata mereka, membuat garis sihir di udara, garis itu saling bertabrakan membuat partikel kecil cahaya berguguran bagai salju. Aku menatap guguran cahaya di sekitar kami. Terlihat sakral.
Enam orang yang mengangkat peti kakek Roy menurunkannya ke dalam tanah. Saat ini, tiba-tiba saja memori ku bersama dengan Kakek Roy muncul di kepalaku. Itu adalah saat-saat yang sangat menyenangkan.
Aku teringat saat Kakek Roy menawarkan pelukannya padaku. Aku menggigit bibir, meremas tanganku.
Aku berbohong. Sebenarnya aku sangat.. sangat ingin pelukan itu. Kakek, maaf.. aku berbohong padamu. Maaf.. maafkan aku.
Rasanya aku ingin menangis. Tapi air mataku tidak keluar sama sekali. Ini adalah hal yang aku sesali pertama kali di kehidupan ku.
Pemakaman berjalan lancar. Namun, beberapa cemoohan aku dapat dari mulut bangsawan-bangsawan itu.
Aku berjalan berat meninggalkan makam. Masih dengan pikiranku yang tenggelam dengan memori-memori itu.
Aku berjalan tanpa arah, sampai tak menduga aku sampai di taman istana, tempat pertama ku bertemu dengan Lucifer.
Sepi di sini. Aku melangkah mendekat ke arah pohon besar tepat di tengah-tengah taman. Menatapnya.
Sebenarnya apa yang aku rasakan? Jawab aku. Siapapun, tolong jawab pertanyaan ku.
"Kenapa kau malah kesini? Seharusnya kau istirahat saja."
Seseorang bicara di belakangku. Aku balik badan, ternyata Lucifer.
Aku berusaha untuk tersenyum. "Hanya ingin jalan-jalan saja." Aku menjawab.
Lucifer menatapku tak mengerti. "Kenapa kau berbohong?"
Ekspresi ku berubah seketika, aku menatapnya datar. "Bukan urusan anda." Aku bicara singkat, balik badan kembali menghadap pohon.
"Kau selalu saja begini"
Tiba-tiba sebuah tangan menutup kedua mataku dari belakang, membuat jarak tubuh kami sangat dekat. Tidak salah lagi ini Lucifer kan. Aku menggenggam tangannya. "Apa yang-"
"Jangan menggunakan topeng untuk menyembunyikan jati dirimu. Kau yang mengatakan itu padaku. Sekarang aku yang akan mengatakannya. Jangan gunakan topeng untuk menyembunyikan perasaan mu. Jika kau senang, maka tertawa lah. Jika kau marah, maka murka lah. Jika kau sedih, maka menangislah. Clea."
Lucifer bicara, dekat dengan telingaku. Aku terdiam, tak bisa berkata-kata lagi. Aku tidak mengerti, perasaan ku saat ini. Bagaimana caranya aku mengekspresikannya? Aku marah, namun juga takut, aku juga sedih dan menyesal. Bagaimana caraku menghadapinya?
Tanpa sadar air mataku mengalir deras, aku tidak tahu mengapa. Aku hanya ingin menangis. Aku hanya ingin itu.
Lucifer masih menutup mataku. Mungkin sekarang, tangannya sudah basah karena air mataku. Samar ku rasakan tangan Lucifer gemetar, dia menahannya. Aku berusaha berhenti menangis.
Sesuatu menetes di pundakku. Aku menarik pelan tangan Lucifer dari wajahku, aku balik badan.
"Kenapa anda juga menangis?" Aku bertanya, mengusap jejak air mataku yang masih saja mengalir.
Lucifer menunduk, "Lebih baik daripada menangis sendirian kan."
Aku menatapnya, menepuk pundaknya. Dia menegakkan pandangannya, menatap ke arahku. "Sudah, sudah. Jangan menangis lagi, semua akan baik-baik saja."
Lucifer tersenyum tipis. "Seharusnya aku yang bicara sepeti itu, bodoh."
Kami saling bertatapan, kemudian tertawa, menertawakan diri kami yang bodoh ini.
"Kalian tidak mengajak kami? "
Tawa kami terhenti, menoleh. Aku tersenyum tanggung. "Tidak." Aku menjawab singkat.
Devian, Jeremy, dan Irene datang bersama. Jelas sekali terlihat Irene menjauh dari Jeremy.
"Sejak kapan kalian di sini?" Lucifer bertanya dengan ekspresi tak senang.
"Sejak kau mendekat pada Lea." Jeremy ketus menjawab.
Lucifer tersentak, dia salah tingkah. "I-itu.. aku hanya.. menenangkannya saja"
Devian dan Jeremy menatap tajam Lucifer.
'Dia minta di sunat ya?'
"Pfft.." Aku menahan tawa membaca pikiran mereka berdua tentang Lucifer. Lucifer berkeringat dingin.
Aku menatap Irene. Kenapa dia diam saja sejak tadi?- Eh?
Irene tersenyum padaku. "Bagaimana keadaanmu, Clea?"
Aku tersentak, "A-a.. ya.. aku.. baik-baik saja."
Aku salah lihat kan?. Pikirku. Sekilas aku melihat tatapan benci yang diarahkan Irene padaku. Namun itu sangat cepat jadi aku tidak tahu itu benar atau tidak.
"Syukurlah.. aku sempat khawatir tadi. Kau masih ingin di sini? Atau jalan-jalan ke tempat lain?" Irene bicara senang.
Aku mengernyit, ucapan Irene itu sangat mudah untuk menimbulkan kesalahpahaman. Tapi dia tidak mungkin berniat buruk kan?
Irene mendekat, berdiri di antara aku dan Lucifer, dia menggandeng tanganku. "Ayo kita ke tempat lain, Clea." Ujarnya ceria.
Aku tersenyum. Ya, tidak mungkin gadis sepertinya berniat buruk. Pikirku.
"Maaf, tapi aku harus pergi." Aku melepas genggaman Irene.
"Kau Pergi? Kemana?" Lucifer bertanya.
Aku menggeleng. "Kembali, aku tidak bisa berada di sini lebih lama. Para bangsawan itu pasti akan mulai meributkan hal ini."
Devian menghela nafas. "Baiklah. Kita kembali ke kediaman Luxia. Di sana kau bisa menenangkan dirimu."
Jeremy mendekat, memegang tanganku. "Aku ikut denganmu."
"Apa maksudnya itu?!" Lucifer dan Devian berteriak kencang. Gendang telingaku rasanya ingin pecah.
Jeremy berdeham, "Lea dan aku ini berteman. Kami berjanji untuk selalu bersama." Jeremy bicara, entah kenapa rasanya dia sedikit menyombongkan diri.
Lucifer dan Devian menatap ke arahku. Aku menghela nafas, memegang kedua pundak Jeremy, membuatnya menghadap ku.
"Jery, aku mempunyai tugas untuk mu. Kau harus tinggal di istana. Belajarlah sihir dengan penyihir kerajaan. Mereka akan membantumu."
Jeremy menatapku terkejut. "Tapi.. aku.."
'Aku ingin bersamamu'
Jeremy menunduk murung. Aku menghela nafas tipis. Mengacak-acak rambut Jeremy. Dia mendongak. "Aku akan datang tiga kali dalam seminggu."
Jeremy mengernyit. "Tujuh kali dalam seminggu."
Aku mengangguk. "Ya, ya. Tujuh kal- e?" Aku tersadar ada yang tidak beres dengan ucapan Jeremy.
Tujuh kali dalam seminggu? Seminggu tujuh hari... Laknat. Pikirku kesal.
"Jery, aku tida-"
"Baiklah. Aku akan menunggumu besok, lalu besoknya lagi, besoknya lagi, dan besoknya lagi, besok lagi dan lagi."
Aku menghela nafas. "Baiklah. Aku akan datang empat kali dalam seminggu."
Jeremy terlihat tidak puas, namun dia menerima keputusanku. Akhirnya aku kembali ke kediaman Luxia sendiri, Devian ingin menemui Duke dan Alvin yang tengah berasa di istana.
Aku berteleportasi ke kamarku. Tak lama, aku langsung membanting diriku ke atas tempat tidur.
Apa maksud kakek Roy ya?. Warna-warna dalam Kegelapan.
^^^つづく^^^
Arigato for reading~(◕ᴗ◕✿)