Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Sepasangan kekasih yang harus terpisah karena keadaan. Namun, dengan berbagai cobaan yang datang, akhirnya mereka di pertemukan kembali dan di satukan dengan keadaan yang berbeda pula.
Raditya Purnomo ♥️ Winda Wulandari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Winda mengambil tasnya di kamar dan segera menemui Tante Ami di ruang keluarga.
"Tante, Winda pulang ya."
"Lho kok pulang sih. Nginap aja lagi."
"Terimakasih, Tante. Winda pulang saja. Kontrakan juga sepi gak ada orang. Mbak Septi lagi pulang kampung."
"Ya sudah. Kamu hati-hati ya. Terimakasih kamu sudah mau bantuin Tante."
"Sama-sama, Tante. Kalau begitu Winda permisi."
"Tunggu. Biar di antar Radit."
"Gak usah, Tante. Sepertinya mas Radit juga lagi capek."
"Gak apa-apa. Radit, kamu antar Winda ya. Pastikan dia selamat sampai rumah."
"Siap, mam. Bro, gue tinggal dulu ya." kata Radit ke Adi.
"Oke sip."
Radit mengambil kunci mobil yang ada di atas meja.
"Ayo, Win."
"Winda pulang, Tante, kak Vika. Assalamualaikum..."
Winda mencium punggung tangan Tante Ami dan Vika.
"Waalaikumssalam. Hati-hati ya Win." kata Vika.
"Waalaikumssalam." jawab Tante Ami. Tante Ami dan Vika mengantarkan Winda sampai halaman. Winda dan Radit pun masuk ke dalam mobil. Winda duduk di bangku depan, di sebelah Radit.
"Menurut mama, mereka cocok gak?" tanya Vika setelah mobil Radit keluar gerbang.
"Cocok. Malah mama berharap banget kalau Winda jadi menantu mama."
"Kalau begitu, kita berdoa saja ya mam. Semoga harapan mama terwujud."
"Aamiin. Masuk yuk."
Vika mengangguk dan mengikuti mamanya masuk kedalam rumah. Dalam hati, Vika sangat mengharapkan jika Winda benar-benar menjadi istri Radit. Tetapi Vika tak ingin berharap banyak karena dia tak tau, apakah Winda mau menerima Radit setelah tahu yang sebenarnya.
Sementara itu, di dalam perjalanan. Winda heran karena Radit tak mengarahkan mobilnya ke rumah kontrakan.
"Lho mas, ini bukan jalan menuju kontrakan aku."
"Iya memang bukan. Aku mau ngajak kamu jalan-jalan dahulu."
Winda tak menjawab. Radit mengarahkan mobilnya ke sebuah taman kota. Menjelang sore, taman itu selalu ramai dengan orang-orang yang ingin melepas lelah. Setelah memarkirkan mobilnya, Winda dan Radit duduk di bangku taman yang tak jauh dari air mancur.
"Kamu tunggu dulu di sini ya."
"Mas Radit mau ke mana?"
Radit tak menjawab, dan berlalu dari hadapan Winda. Tak berapa lama, Radit kembali.
"Ini buat kamu."
Radit menyodorkan sebuah ice krim cone untuk Winda.
"Terimakasih, mas."
Winda menerima ice krim itu dan Radit duduk di sebelahnya. Mereka pun menikmati es krim itu sambil bercerita.
"Oh iya Win, aku mau tanya satu hal boleh?"
"Tanya apa mas?"
"Apakah kamu sudah punya pacar?"
"Sudah. Kenapa?"
"Sebenarnya aku..."
Tiba-tiba ponsel Winda berdering.
"Sebentar ya mas. Aku angkat telfon dulu."
Radit mengangguk. Winda segera mengangkat telfonnya. Ternyata Septi yang menelfon.
"Assalamualaikum, mbak..."
"Waalaikumssalam. Kamu di mana, Win? Aku pulang kok rumah sepi."
"Lho, mbak udah pulang?"
"Udah. Ini baru sampai. Kamu lagi di mana?"
"Lagi di jalan, mbak. Sebentar lagi pulang."
"Ya udah kamu hati-hati ya. Assalamualaikum..."
"Waalaikumssalam."
Winda menutup panggilan dan kembali menyimpan ponselnya.
"Siapa?" tanya Radit.
"Mbak Septi. Dia udah balik dari kampung.."
Radit mengangguk.
"Oh iya tadi mas Radit mau bilang apa?"
"Ah, enggak. Enggak jadi. Aku antar pulang yuk. Kasihan Septi sendirian di rumah."
Winda mengangguk. Mereka menuju tempat parkir mobil. Setelah masuk mobil, Radit melajukan mobilnya menuju rumah Winda. Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan antara Winda dan Radit. Radit menatap lurus ke depan tetapi dengan tatapan mata yang kosong.
"Mas Radit, awas..."
Teriakkan Winda mengagetkan Radit. Dengan cepat Radit menginjak rem mobil. Radit hampir menerobos lampu merah dan hampir menabrak seorang penyebrang jalan.
"Mas Radit kenapa sih gak fokus begitu nyetir mobil nya."
"Karena ada kamu." gumam Radit tapi masih terdengar oleh telinga Winda.
"Apa?"
"Ah, enggak. Sorry ya."
Lampu telah berubah menjadi hijau. Radit mulai menjalankan mobilnya dengan perlahan.
"Awas, jangan melamun lagi." kata Winda.
"Iya gak."
"Gak apa?"
"Gak melamun lagi."
Mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang. Tak lama kemudian mobil telah sampai di gang kontrakan Winda. Winda pun turun dari mobil. Tapi Radit memanggilnya.
"Winda..."
"Ya mas?"
"Kamu hati-hati ya."
Winda mengerenyitkan dahinya lalu tertawa.
"Harusnya mas Radit yang hati-hati, Nyetir sendirian jangan melamun seperti tadi."
"Iya. Enggak akan melamun lagi."
Winda tersenyum.
"Ya udah ya mas. Assalamualaikum."
"Waalaikumssalam."
Winda segera meninggalkan Radit. Radit memandang Winda sampai hilang dari pandangan. Entah mengapa dalam hati Radit, ada rasa takut dan gelisah mengingat Winda. Takut jika Winda meninggalkannya setelah tau kenyataannya yang sebenarnya. Radit pun memutar balik mobilnya untuk kembali pulang.
####
Pagi harinya, seperti biasanya Winda dan Septi sudah masuk kerja. Winda mengantarkan kopi untuk Radit.
"Permisi, pak. Ini kopi bapak." kata Winda.
"Oh iya taruh saja di meja."
Winda meletakkan cangkir kopi itu di meja Radit dan berbalik hendak keluar ruangan.
"Winda, tunggu." panggil Radit.
"Iya, pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Silahkan duduk."
Radit duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu. Winda masih berdiri di tempatnya.
"Kamu mau terap berdiri di situ?" tanya Radit. Winda pun segera duduk di sofa samping Radit.
"Ada apa ya pak?*
"Kamu masih panggil aku dengan panggilan bapak?"
"Eh, maaf."
Radit diam sesaat. Lalu menatap Winda.
"Winda, aku mohon kamu jangan tinggalin aku. Aku mohon...."
Winda terkejut mendengar perkataan Radit.
"Mas Radit ngomong apa sih?"
"Aku minta maaf. Tapi aku mohon kamu jangan tinggalin aku ya."
Radit mengenggam jemari tangan Winda. Winda kembali menarik tangannya.
"Mas Radit ngomong apa sih. Pagi-pagi udah ngaco ngomongnya."
"Aku cinta kamu Winda. Mau kah kamu jadi kekasih ku?"
Lagi-lagi Winda terkejut mendengar perkataan Radit. Dia menatap tajam ke arah Radit.
"Apa maksud mas Radit?"
"Sejak awal kita ketemu, aku udah jatuh cinta sama kamu. Aku ingin miliki kamu. Tapi..."
Winda berdiri dari duduknya.
"Mas Radit tau aku sudah punya kekasih. Walaupun kami berhubungan jarak jauh, aku akan mencoba untuk tetap setia kepadanya. Jadi mohon maaf mas. Aku gak bisa terima cinta mas Radit."
Winda berjalan menuju pintu. Tetapi, sebelum Winda membukanya, pintu telah terbuka dari luar dan ternyata yang membuka adalah Vika.
"Eh, Winda. Lagi ngapain?"
"Nganterin kopi buat mas Radit."
Winda menunjuk ke arah cangkir kopi di meja Radit. Vika mengangguk.
"Kalau begitu, saya permisi dulu kak.". kata Winda.
"Silahkan."
Winda keluar ruangan tanpa menoleh ke arah Radit. Vika duduk di samping adiknya itu.
"Kenapa, Dit? Kok wajah kamu kusut gitu?"
"Aku takut kalau Winda ninggalin aku."
"Ninggalin kamu? Kenapa?"
"Ya kalau dia tau siapa Gito sebenarnya. Dia pernah bilang kalau akan ninggalin orang yang pernah bohongin dia, meski orang yang dia sayangi sekalipun."
Vika mengelus punggung Radit.
"Kamu yang sabar ya. Semuanya akan indah pada waktunya."
Radit mengangguk sambil menarik nafasnya dalam-dalam. Dia benar-benar takut jika Winda akan meninggalkannya. Mengingat itu semua, Radit mengusap wajahnya. Ketakutannya benar-benar membuatnya pusing.
meluncur ke cerita lainnya