[Trailer sudah tersedia di you tube author]
Antara cinta dan keimanan. Mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika benteng tinggi yang berdiri kokoh tidak runtuh. Dan mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika salah satu di antaranya tidak ada yang mengalah.
Pengorbanan, perjuangan dan cinta. Hal itu menyatu padu dalam sebuah untaian kata ‘cinta terlarang’ yang bagaimana pun tidak akan bisa disatukan jika syarat tidak dituntaskan.
Atas dasar ‘pengorbanan dan perjuangan’ mereka bisa menghapus kata ‘terlarang’ dalam kisah cintanya. Bersatu atau tidak, tergantung keputusan mereka.
“Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka.”
—QS. Al-Mumtahanah: 10.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aidahlia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter #20
Lu itu satu-satunya perempuan yang bikin gua nyaman setelah mama.
—Artha—
___________
Flashback.
Artha mengerem motornya mendadak. Mobil tanah yang ada di belakangnya menubruk keras bagian belakang motornya hingga penyok. Untung saja Artha terpental, jika tidak, entah sudah seperti apa tubuhnya sekarang.
Angkutan umum yang mengerem mendadak hanya untuk satu penumpang mengakibatkan tabrakan bruntun. Hanya Arthalah yang parah, semua hanya mengalami kerusakan kendaraan. Artha menjadi yang terparah karena ia berada di depan mobil tanah yang sedang ngebut.
***
Syahla mengenakan sarung tangan terlebih dahulu sebelum mengolesi obat merah ke dahi Artha. Dia sudah siuman sejak sampai di UKS. Mama dan papanya sudah memaksa dia untuk di bawa ke rumah sakit, tapi dia menolak dengan alasan, dia tidak apa-apa. Padahal di hati ia sedang mengalami musim semi, Syahlalah yang turun tangan jika Artha diobati di UKS.
"Maaf, ya," ucap Syahla sebelum mengolesi obat merah ke dahi Artha.
Sepanjang waktu pengobatan versi Syahla, Artha terus saja mencuri-curi pandang ke wajah Syahla. Dia kira Syahla tidak memperhatikannya. Padahal, saat ini Syahla sedang menahan risih yang sulit untuk dicegah.
"Semoga lekas membaik, aku ke kelas ya, pasti guru udah masuk. Duluan." Syahla pergi begitu saja setelah menaruh bekas sarung tangan yang ia pakai ke tong sampah.
Senyuman Artha terukir. Walaupun dalam waktu yang tidak lama, semua itu memberikan sensasi yang bertahan lama.
***
Terkadang, jika ia bayangkan, ini terasa tidak mungking. Tapi, bagaiamana pun ia mengelak, ini adalah kenyataan, sebuah masa yang sedang ia jalani.
Belum lama ia mengenal Syahla. Tapi hatinya langsung terpaut, hingga untuk menjauh pun tidak bisa. Nama Syahla terus melekat di hatinya.
Terkadang ia sadar, mau seperti apapun ia mengejar Syahla, ia tidak akan mungkin bisa mengejarnya. Ada sebuah benteng besar yang menghalanginya untuk bisa menggapai Syahla seutuhnya.
Keimanan, ya karena itulah terkadang ia merasa menjadi orang terbodoh. Mengapa ia harus jatuh hati pada orang yang salah. Dan lebih bodohnya lagi, mengapa ia seakan stuck, tidak bisa kembali ke langkah awalnya semula, di mana ia belum mengenal Syahla.
"Besok UKK nih, lu udah siap mau jadi Kakak senior?" tanya Rio yang baru saja datang dari kamar mandi.
"Nanya keadaan gua dulu kek gitu, enggak bermutu pertanyaan lu." jawab Artha ketus.
"Oh Tuhan, gue baru inget, sobat gue ini abis nyungsep, ya? Gimana? Motornya enggak terselamatkan, ya? Yaudah enggak apa-apa, lu kan anak konglomerat, langsung minta yang baru aja, oke?"
Artha memutar bola matanya malas.
"Banyak omong lu ya sekarang," ucap Artha datar seraya mengotak-atik handphone-nya.
"Gua mau jadi penghibur aja, Tha. Kalo gua diem, temenan sama lu yang diem, enggak tau dah pertemanan kita kayak apa. Mungkin hambar, bagaikan sayur kol tampa garam."
Artha menjitak kepala Rio sambil menampakkan gigi-giginya yang rata.
"Enggak usah mellow, geli gua lihat cowok terlalu mellow."
"Apalah dayaku, aku selalu salah dimatamu. Sekuat apapun aku berlari. Kau tetap pergi menjauh dan terus menjauh."
Ocehan asal dari mulut Rio berhasil membuat Artha terdiam.
"Geli!"
***
Langkah Syahla terhenti saat ia melihat Wardani tertawa lepas dengan seorang perempuan bernama Laysa. Laysa ini sedang digosipkan, banyak yang bilang Laysa sedang ada hubungan spesial dengan Wardani, Ketua OSIS yang sebelumnya anti pacaran.
"War." Dengan langkah perlahan Syahla mendekat ke arah mereka berdua.
Laysa menatap bingung ke arah Syahla.
"Eh iya, Syah, ada apa?" tanya Wardani masih dalam keadaan sedikit tertawa.
"Kamu ngapain?"
Wardani diam. Begitu juga Laysa.
"Jadi benar apa kata orang kalau kalian ini pacaran?"
Wardani masih terdiam.
"Terus apa masalahnya sama kamu, lha?" tanya Laysa songong.
"Sa!" Mata Wardani melotot ke arah Laysa.
Laysa pergi begitu saja setelahnya.
"Aku enggak berhak sih sebenernya nyatain ini. Aku kecewa sama kamu, War. Semoga kamu sadar kembali, ya. Ingat, War, zina itu dosa besar." Syahla tersenyum simpul lalu pergi begitu saja.
Wardani menghembuskan napas pelan. "Aku enggak pacaran sama dia. Kita deket cuma karena aku suka dia yang ceria dan dia suka aku yang gampang ketawa."
Syahla menghentikan langkahnya. "Setahuku, kamu sangat sulit tertawa sebelumnya. Aku selalu berdoa yang terbaik untuk kamu, War."
Setelahnya Syahla seolah tutup telinga. Ia tidak hiraukan apa perkataan Wardani setelahnya.
***
Di seperempat jalan Syahla menghentikan kendaranya. Ia hendak mengisi bensin terlebih dahulu di pom bensin terdekat.
Siang menjelang sore ini pom bensin lumayan ramai. Dan rata-rata orang yang mengantri itu anak-anak berseragam putih abu-abu dengan bedge yang sama dengan bedge milik Syahla.
Syahla sedikit terkejut saat menoleh ke belakang untuk memastikan seberapa panjang antrian malah mendapati senyuman Artha. Ia langsung menoleh cepat untuk menetralkan degupan jantungnya. Entah karena terkejut atau terkesima, mungkin keduanya.
"Sya, kok kaget banget sih? Kayak lihat hantu aja."
Syahla langsung menoleh. "Lagian kamu datang tak diantar dan tanpa kabar," ucap Syahla asal.
"Oke deh, mulai besok setiap gua mau deketin lu bakal kasih kabar."
Syahla merutuki dirinya sendiri. Mulai sekarang berhenti ya berucap asal jeplak. Tuh si Syahla saja menyesal. Ibarat melempar batu ke asal tempat, kalau sasarannya kena orang, berabe urusannya.
"Sya, nanti malem dateng enggak ke birthday party-nya Angga?"
Syahla nampak berpikir. "Insyaallah datang nanti sama si Husna."
Artha menghembuskan napas pelan, baru saja mau menawarkan tumpangan, malah langsung ditikung tengah jalan sebelum nerobos.
Artha langsung mengangguk-anggukan kepalanya. "Sampai ketemu nanti ya."
Syahla hanya tersenyum. Setelahnya ia tidak menoleh sama sekali ke arah Artha. Entah mengapa setiap beriteraksi dengan Artha, degupan jantungnya berdetak lebih cepat.
***
Syahla mengenakan gamis berwarna peach dengan jilbab wolfice berukuran 130 cm berwarna senada. Tidak lupa handshock dan kaus kaki. Ia hanya membawa sling bag dan satu bingkisan kado.
Ba'da melaksanakan salat Maghrib Syahla langsung meluncur ke rumah Husna. Husna tidak bisa membawa motor malam ini karena motornya dipakai kakak perempuannya, jadi Syahlalah yang menjemputnya.
Sesampai di rumah Husna, Husna pun sudah rapih dengan gamis berwarna maroon dan jilbab senada. Tanpa menunggu lagi mereka langsung meluncur ke tempat acara.
Sesampai di sana, halaman rumah Angga yang besar nampak sudah ramai. Syahla dan Husna saling berhadapan saat mereka tidak mendapati seseorang yang berpenampilan sama seperti mereka.
"Udah enggak apa-apa," ucap Syahla seraya merangkul Husna untuk melangkah ke kerumunan.
"Eh, Ukhti, thanks udah mau datang," ucap Angga.
Syahla tersenyum simpul. "Sama-sama. Nih dari aku, dan ini dari Husna. Kita enggak bisa lama-lama, ya. Mau langsung pulang aja."
Angga terkekeh. "Yailah, kayaknya risih banget sih, udah ayo gabung dulu, kalo lu malu gabung sama anak-anak sekolahan. Gabung sama genk gua aja yuk, ada Artha lho."
Syahla tersenyum. "Terima kasih, Ngga, tapi aku sama Husna mau pulang aja."
Angga tersenyum. "Yaudah, makasih ya. Btw, naik apa kesini?"
"Motor."
"It's okay, take care, ya."
"Iya, Ngga. Assalamu'alaikum."
***
Syahla dan Husna mampir dulu ke perpustakaan sebelum pulang ke rumah. Ada beberapa buku yang mau ia pinjam untuk persiapan UKK.
"Setahu aku Angga itu orangnya jutek tau, Syah. Kok dia bisa akrab gitu sama kamu, kayaknya kamu sama dia enggak akrab deh sebelumnya?" Bukan Husna kalau tidak kepo.
Syahla menggedikkan bahunya seraya menaruh kembali buku yang sebelumnya ia genggam ke rak buku.
"Aku juga aneh sama hidup aku sekarang. Dulu aku jarang dikenal orang, entah kenapa sekarang malah banyak yang kenal aku," ucap Syahla seraya menghembuskan napas berat.
Husna ikut berpikir. "Mungkin karena kamu deket sama Artha kali, Syah."
Lagi-lagi Syahla hanya menggedikkan bahu.
"Udah ah biarin aja, semoga aja enggak ada masalah sama perubahan ini. Ayo kita pulang sebentar lagi adzan Isya."
Karena adzan berkumandang tepat saat mereka keluar dari perpustakaan, akhirnya mereka memilih untuk salat terlebih dahulu di masjid yang jaraknya lumayan dekat dengan perpustakaan.
***
Sepanjang perjalanan Husna terus saja bercerita tentang Wardani yang sedang dekat dengan Laysa.
"Aku waktu itu papasan sama Laysa. Dia lagi duduk sambil baca buku komik. Siapa yang enggak kenal sama perempuan jago buat komik itu, yang karyanya berjejer di mading sekolah. Waktu itu kayaknya dia emang sengaja duduk di bangku deket kelas kita. Dia kan anak Bahasa, ngapain coba duduk deket kelas IPA. Kan waktu itu aku emang lagi nunggu kamu, yaudah aku akhirnya berdiri di depan pintu sambil sesekali natap ke arah dia. Eh tau-taunya dia lagi nunggu Wardani.
"Nyesek sih," ucap Husna pelan tapi dapat terdengar jelas oleh Syahla yang sedang fokus berkemudi.
"Nyesek?"
"Ah, iya, nih aku sesek gara-gara tadi ada asap rokok."
"Siapa yang ngerokok?"
"Tuh tadi abang-abang."
Syahla tersenyum di balik helm. Dengan perkataan dan tanggapan Husna barusan saja ia sudah dapat menyimpulkan, kalau Husna memiliki rasa terhadap Wardani. Bagi Syahla itu hal yang wajar. Wardani memang masuk kedalam tipe laki-laki idaman para perempuan yang sedang berusaha berhijrah seperti Husna dan dirinya. Tapi jujur saja, Syahla tidak memiliki rasa apapun terhadap Wardani. Hanya terkadang jika Wardani menampakkan hal yang luar biasa di matanya baru ia kagum. Tapi hanya sekedar kagum, bersifat sementara, tidak mengagumi, bersifat kekal dan tahan lama.
Seketika rem Syahla berhenti mendadak. Setelah itu suara tubrukan mobil yang saling bertubrukan terdengar begitu keras hingga menimbulkan keriuhan.
Kaki Syahla seketika lemas. "Na, aku enggak lagi mimpi, kan?" ucap Syahla pelan.
Husna tidak menjawab, ia sama terkejutnya dengan Syahla.
Dari perempatan, di mana Syahla hendak menyebrang dari arah berhadapan ada dua mobil yang sama kencangnya saling bertubruk, tepat di hadapan Syahla.
"Terima kasih, Ya Allah. Syukur kamu bisa rem, syukur kamu enggak jadi nyebrang," ucap Husna lirih.
Setelahnya nampak keriuhan. Terciptalah kerumunan. Syahla dan Husna diajak ke pinggir jalan. Mereka diberi minum agar tidak shock berkepanjangan.
"Dari mana, Dik?"
"Perpustakaan."
"Rumahnya masih jauh enggak?"
Syahla menggeleng. "Enggak kok, Pak."
"Masih lemas enggak? Sanggup enggak kira-kira pulang berdua? Atau mau diantar?"
Syahla menggeleng cepat. "Enggak usah, Pak. Terima kasih banyak. Kita pulang, ya."
***
Di sepertiga malam, setelah Syahla mengerjakan salat Tahajud, terdengar suara dering telepon dari handphone-nya. Saat ia lihat, ada nomor tidak ia kenal menelepon dirinya.
Mungkin penting, pikirnya.
"Assalamu'alaikum, ada perlu apa ya?"
" .... " Orang di balik telpon malah diam saja.
Baru saja Syahla hendak memutuskan saluran telepon, suara di balik telpon itu langsung terdengar. Dan suara itu, sangat tidak asing di telinga Syahla.
"Mama, dia meninggal ...."
Syahla diam.
"Enggak akan ada lagi yang ngebela gua. Papa bakal seenaknya kasarin gua setelah ini. Dan ... gua bener-bener rapuh tanpa mama. Dia firts love gua selama gua lahir di muka bumi ini."
"Ar ...."
" .... "
"Ini kamu, kan?"
"Hm."
Setelahnya saluran telepon mati begitu saja. Tinggallah Syahla yang dibuat kebingungan.
"Mama Artha meninggal?"
Syahla menggedikkan bahu. "Biar nanti saja aku tau kebenarannya secara langsung."
***
Seperti biasa, sebelum ia meninggalkan rumah, ia akan membereskannya terlebih dahulu. Tidak lupa juga membereskan bayi jumbo yang malas bekerja jika sudah melihat Syahla di dapur, kerjaannya cuma meledek saja.
"Kakak ...." teriak Syahla ketika rambutnya yang masih ia urai karena habis keramas dijambak Kakakanya.
"Ih ... aku kira bukan rambut tau."
Syahla mengerucutkan bibirnya seraya memalingkan wajah.
"Jangan marah dong, nih jambak Kakak deh gantian, maaf ya ...." Kak Syakib langsung menampakkan wajah sok imut andalannya.
"Kesel, dasar bayi jumbo," gerutu Syahla seraya melangkah ke kamarnya kembali.
Subuh-subuh sudah ribut saja.
Sambil menunggu nasi matang Syahla memilih untuk membaca Al-Ma'atsurat terlebih dahulu di dekat kaca jendelanya yang langsung menampakkan keindahan langit.
Seketika kerinduan akan sosok bunda dan abba menyelimutinya. Entah mengapa saat rasa rindu itu hadir, tekad untuk memperbaiki diri semakin kuat. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan membanggakan kedua orangtuanya. Akan ia buat nama kedua orangtuanya harum walaupun hadirnya di dunia ini telah tiada.
***
Pagi-pagi saja sekolah sudah sangat ramai. Banyak kerumunan di mana-mana. Tujuan Syahla adalah kelas, ia tidak akan bertanya, lebih baik nanti saja di kelas ia bertanya kepada teman kelasnya yang datang lebih awal.
Tepat di tangga, tinggal belok saja, langkahnya terhenti, tepatnya dihentikan.
"Ar, ada apa?"
Artha menunduk. "Mama gua meninggal, Sya."
Syahla terbengong seraya menelan salivanya dalam-dalam.
Ucapan Artha terhenti saat ada orang yang hendak lewat. Dalam hitungan detik saja Artha dan Syahla sudah menjadi sorotan publik.
"Kamu mau curhat sama aku? Tapi jangan di sini."
"Kantin," ucap Artha seraya melangkah maju, sementara Syahla tetap melangkah maju ke arah kelasnya, ia ingin menaruh tasnya dahulu, baru nanti dia menyusul.
Artha pun sudah paham akan hal itu tanpa dijelaskan lagi.
***
Artha sudah lebih dulu memesan makanan dan minuman. Ternyata dia juga memesankan makanan dan minuman untuk Syahla.
"Hai ...." sapa Syahla.
Artha yang sebelumnya asyik mengaduk-aduk es jeruk beralih memandang Syahla dengan tatapan datar.
"Aku duduk, ya," ucap Syahla lagi.
"Ada apa, Ar?"
Artha tersenyum singkat. "Lu itu satu-satunya perempuan yang bikin gua nyaman setelah mama."
mampir and salken
Anty aidhon fii qolby daaiman, thor😍☺
Aku sekalian ijin promosi novel ku yang berjudul PEREBUTAN KEKUASAAN by Ira. Yuk mampir kakak di jamin seru jangan lupa like dan commen
Menjadi sosok yang berbeda bukanlah hal yang baik namun tidak juga buruk. namun apa jadinya jika seorang gadis tiba-tiba bertemu dengan keluarga yang terpandang dan kaya. Namun dia harus merelakan identitas aslinya menghilang begitu saja? Aira adalah gadis yang kehilangan namanya semua orang memanggilnya dengan Aurelia sejak hari itu semua berubah, namun itu juga awal pertemuannya dengan Dekarsa bersaudara.
Zidan memiliki cacat di wajahnya hingga membuat orang-orang membencinya dan menyebutnya monster, dia di asingkan oleh orang tuanya sendiri dan karena itu ia memiliki dendam terhadap ibunya. Dia selalu kesepian sampai dia bertemu dengan sosok Aurelia yang selalu menyemangati dan mendukungnya, dia juga yang membatunya untuk tampil Tampa sebuah topeng mengerikan itu lagi.
smoga sukses selalu
panjang umur
dan sehat
nyesel aku baru baca novel ini...
yang aku pingin baca tuh novel kaya gini
aku lebih hobi baca2 daripada ngumpul2