NovelToon NovelToon
Little Angel

Little Angel

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:483.8k
Nilai: 5
Nama Author: LeeGo

Gendis tidak pernah menyangka di umurnya yang baru menginjak 17 tahun ia sudah harus menyandang status sebagai calon istri seorang Dewa Ganesha, seorang tentara yang memiliki jarak usia tiga belas tahun dengannya.

"Gue mau mati aja, hiks."

Gendis Mahesa.

Demi neneknya yang sudah merawatnya sejak bayi, Dewa melepas kebebasannya sebagai lelaki merdeka. Ia yang terbiasa sendiri dan hidup bebas menikmati kepopulerannya dimata para wanita harus terikat dengan seorang gadis yang baru saja lulus SMA yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri sebagai calon ilmuwan.

"Anjaaaay! Gue mau nyentuh ni anak berasa ******* bangat."

Dewa Ganesha

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeeGo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berusaha memperbaiki

"Gue mau mati aja hikss.”

"Heh, gila lo. Apa-apaan datang langsung ngomongin mati aja.” Aleksis menatap Gendis horor. Liburan semester baru saja mulai dan awal pertemuan mereka sudah langsung dimulai dengan derai airmata.

"Nelen apaan lo di Oxford sampe eror gini?Nih minum.” Sandra yang baru datang membawa pesanan minuman mereka menyodorkan segelas jus jeruk pada sahabat mereka itu. Lagi-lagi kurang Nadia yang kini menetap di Papua bersama Om kesayangannya itu. Mereka baru saja mengkonfirmasi kiriman kado untuk keponakan mereka yang jauh disana dan Gendis sudah seperti orang kesurupan menangis.

"Bayangin dong, gue jauh-jauh pulang kampung buat ketemu lo semua dan bonyok, gue malah dapat musibah kayak gini.” Gendis menelungkupkan wajahnya diatas meja. Ia pikir Mami hanya bercanda soal perjodohan dan lagi katanya hanya kenalan dulu tapi kok tau-tau ngatur jadwal tunangan. Apa ia tidak gila kalau begini?!Lebih parah laki-laki itu adalah orang yang sudah menyebabkan trauma padanya. Beruntung ia tidak pingsan tempo hari saat bertemu pertama dengan tersangka yang selama tujuh bulan berhasil di hindarinya.

"Om Dewa nggak seburuk itu kok, ya walaupun emang mulutnya suka nyinyir sih.” Bela Sandra sembari menyerut minumannya. Bukannya apa, cyrcle Gibran itu sudah pasti cowok baik-baik semua meskipun tidak sebaik idolanya itu tapi setidaknya tidak bakalan menyakitilah.

“Bener. Lo liat noh si Nad, meskipun kejebak di hutan tapi happy bangat kayaknya hidupnya sama Om Gi. Lo juga bakalan gitu tuh.” Tambah Aleksis.

Gendis mengangkat kepala menatap sebal dua sahabatnya itu, ”Lo berdua disogok sama om-om mesum itu ya?Ngaku!“

Aleksis dan Sandra saling melirik lalu menggeleng bersamaan, ”Ini pendapat kami berdua. Emang lo yakin di luar sana ada yang mau nerima lo dengan segala isi kepala lo yang ajaib itu?Lagian lo ngomongin mesum, emang tu Om udah mesumin lo?” Sandra menangkup dagu dengan satu tangan membalas tatapan Gendis yang berubah sendu. Ya, Sandra dan Aleksis tidak pernah tahu bagaimana kehidupan seorang Dewa dan Gendis tidak bisa menyalahkan mereka untuk itu.

"Gue mahasiswi Oxford by the way. Lagian Om Gi beda sama dia wajar aja Nad betah.” Ujar Gendis merengut. Mau dibandingin Om Gi yang soleh itu dengan Dewa yang titisan dakjal jelas jauuuuh. Jauuuh bangat.

"Tau gue. Tapi skill hidup lo tuh mengkhawatirkan. Bayangin aja dong, orangtua lo sampe ngirim Mbak buat bantuin lo disana saking khawatirnya. Kalo lo sama Om Dewa, udah bisa dipastiin lo bakal nggak repot ngurus suami. Tau sendiri tentara gimana bisa diandalkannya kalau urusan ngurus diri sendiri” Aleksis menambahkan.

"Lo berdua nggak ngerti.” Gendis berujar lirih. Salahnya karena tidak menceritakan apa yang sudah dilakukan Dewa padanya. Entahlah, sampai sekarang ia pun tidak tahu mengapa masih menyimpan rahasia ini sendiri. Mungkin dirinya terlalu baik atau malah terlalu bodoh yang jelas membayangkan hidup bersama seorang Dewa Ganesha benar-benar mengerikan untuknya.

"Gini deh, lo coba dulu jalanin sama Om Dewa. Kalaupun nggak cocok atau nggak cocok bangat, Gue, Aleks, dan Nad bakalan bantu lo ngomong sama Mami. Atau kalau perlu Om Gi juga kita jadiin bala bantuan.” Sandra menawarkan solusi. Aleksis mengangguk menyanggupi. Selama ada Gibran semua masalah pasti beres.

"Nggak tau ah. Gue nggak bisa mikir dan nggak mau mikir sekarang. Biarin gue tidur dulu, bentar.” Kata Gendis yang mendapat hembusan nafas pelan dari dua sahabatnya.

"Tidur deh, kali aja lo dapat ilham lewat mimpi.” Ujar Sandra kali ini menyerut es jeruk Gendis. Mubazir.

.

.

.

"Astaga!“ Gendis terduduk mendapati sosok di depannya, ” lo ngapain disini?Aleks sama Sandra mana?” Tatapannya menyidak tempat makan yang terbilang cozy itu.

"Gue makan. Teman-teman kamu sudah pulang.” Jawab Dewa enteng menikmati nasi goreng cina di depannya mengabaikan wajah panik Gendis. Gendis yang baru sadar posisinya kini di tempat makan lesehan menatap Dewa penuh tuduhan.

"Lo yang mindahin gue?Lo nyentuh-nyentuh gue kan?” Gendis menunjuk wajah Dewa dengan sedotan yang diambil dari gelas minuman laki-laki itu. Awas saja kalau seujung kuku pria itu menyentuh kulitnya.

Dewa menurunkan tangan Gendis lalu memanggil pelayan. ”Nasi goreng kampungnya ya mbak.” Ujarnya pada pelayan yang menghampirinya. Pelayan itu mengangguk lalu kembali ke meja layanan.

"Saya tidak menyentuh kamu. Tenang saja.” Lanjut Dewa. Nasib sebagai tersangka apa-apa pasti dicurigai.

Gendis yang sudah memasukan Dewa dalam golongan manusia-manusia yang harus dihindari cepat-cepat membereskan tasnya.

"Mau kemana?“

"Bukan urusan lo.”

"Duduk!“

"Lo maksa?”

"Iya. Duduk!“

Gendis melongos, ”Bodo!“ Ia meninggalkan Dewa begitu saja.

Dewa yang tak menyangka Gendis benar-benar meninggalkannya cepat-cepat minum dan meletakkan tiga lembar uang merah untuk semua pesanannya.

"Ndis!“ Panggilnya mengejar langkah cepat Gendis.

Gendis tak menoleh. Gadis yang senang sekali memakai rok selutut itu mempercepat langkahnya. Bodo amat dengan lelaki kekar yang nyebelinnya ampun-ampunan ini. Bukankah ia sudah meminta lelaki itu untuk mengabaikannya?Menganggapnya pohon atau kalau perlu menganggapnya makhluk tak kasat mata juga tidak apa-apa.

"Gendis!“ Dewa menjegal Gendis tapi tetal berusaha menjaga jarak aman sesuai kesepakatan awal mereka tempo hari. "Kata Sandra kamu belum makan.”

Sandra ember.

"Apa peduli lo?”

Dewa mencebik, ”Makan dulu nanti gue anter.” Pintanya berusaha bersabar. Sudah beberapa bulan belakangan ini ia berlatih kesabaran dan untuk memulihkan Gendis, ia akan menekan jarum emosinya dibawah titik beku.

"Gak napsu.” Jawab Gendis lalu memundurkan langkah mencari jalan lain.

"Saya antar. Janji tidak akan macam-macam.” Pinta Dewa, tidak apa-apa deh tidak makan tapi setidaknya dia bisa antar pulang gadis manis ini. Sebut saja ia mengemis tapi sekarang dirinya merasa hidup kembali mendapati Gendis dekat dengannya.

"Nggak usah.” Tolak Gendis cepat.

"Sampai di halte. Disini susah nyari taksi.” Baru saja mengatakan itu, sebuah mobil berhenti di dekat mereka.

"Ada.” Kata Gendis mematahkan alasan Dewa yang ingin mengantarnya. Ia masuk dalam taksi online yang di pesannya lalu meminta supir untuk segera jalan. Dewa bergegas menuju parkiran motor untuk menyusul Gendis.

"Ada yang ikutin, Mbak.” Ujar supir taksi online yang membawa Gendis.

"Biarin aja, Pak.” Tanpa menolehpun Gendis sudah tahu bahwa Dewa tengah mengikuti mereka. Lelaki itu terlalu bebal dan dia lelah untuk menghadapinya.

"Mbak Kenal?”

Gendis tidak menjawab. Kekhawatiran Supir itu cukup beralasan melihat penampilan Dewa yang persis preman jalanan, "Abaikan saja, Pak.” Ujar Gendis lagi saat melihat tatapan khawatir supir yang mungkin mengira Dewa adalah begal. Gendis Ogah mengakui Dewa sebagai salah satu kenalannya tapi tidak bisa berbohong juga bahwa mereka saling mengenal. Supir itu mengangguk dan membawa mobilnya melaju dengan kecepatan sedang. Sementara itu Gendis memilih menyibukkan diri dengan hpnya. Seharian ini sudah cukup menenangkan diri setelah perdebatan dengan Maminya yang entah kenapa begitu menginginkan Dewa sebagai menantunya. Dimana demokrasi yang selalu diagung-agungkan keluarganya itu?Tidak ada sama sekali, Gendis bahkan harus membaca kembali buku kewarganegaraannya untuk memastikan pemahamannya tentang musyawarah dan demokrasi masih sama.

Setelah satu jam berlalu mobil pun berhenti di depan gerbang. Gendis turun dari mobil. Helaan nafas lolos dari mulutnya. Tak jauh dari mobil itu, Dewa berhenti tanpa membuka helm tengkoraknya. Gendis menatapnya sebentar lalu masuk melewati pagar hitam itu begitu saja. Ia tak mau ambil pusing dengan Dewa. Gendis sudah bertekad menganggap Dewa sebagai patung anjing laut seperti yang ada di halaman belakang rumahnya, tidak manarik sama sekali.

Sementara Dewa, setelah memastikan Gendis pulang dengan selamat langsung pergi dari tempat itu.

Di dalam rumah Gendis di sambut oleh Mami dan Papinya. Keduanya tampak bernafas lega setelah melihat Gendis pulang dengan selamat. Gendis tak pernah seperti ini sebelumnya. Masalah dalam keluarga selalu bisa diselesaikan dengan cara musyawarah tapi kali ini Gendis memilih untuk mengambil waktu sejenak agar bisa kembali berpikir jernih. Tapi sayangnya pertemuannya dengan Sandra dan Aleksis bukannya mendukung keputusannya membatalkan perjodohan malah memintanya untuk mencoba. Hei, ini hati bukan tempat uji coba.

"Malam, Mi, Pih.” Sapa Gendis. Ia hendak berlalu begitu saja menuju kamarnya namun langkahnya tertahan oleh pertanyaan papinya.

"Darimana?“

Gendis menghela nafas pendek, ”Nyari udara segar, Pi.” Jawabnya datar. Sudah sangat lelah dengan apa yang sedang terjadi saat ini.

"Kamu bikin Mami dan Papi khawatir. Ini yang kamu pelajari selama jauh dari kami?“ Tuduh Papinya tak seperti biasanya yang selalu menaruh percaya padanya.

Gendis menatap papinya tak paham, ”Maksud Papi?”

"Siapa yang ngajarin kamu keluar tanpa izin?Tega kamu bikin Mami khawatir?Mau jadi anak bandel?”

"Pih?” Tegur Mami. Suaminya tak sesantai biasanya.

"Jauh-jauh sekolah ke Luar negeri bukannya pulang bawa ilmu malah jadi pembangkang seperti ini. Bagus sikap kamu seperti ini Gendis?” Tanya Papinya dengan nada keras.

Gendis menggeleng tak terima tuduhan papinya, "Gendis nggak bandel, Pi. Mami dan Papi yang bikin Gendis kayak gini.” Jawab Gendis kesal. Kekecewaannya akan kedua orangtuanya membuatnya sedikit melewati batas. Katakan dia durhaka karena berbicara dengan nada tinggi seperti ini tapi seorang Gendis juga manusia biasa, bisa marah atau kesal. Sekali lagi, dia bukan malaikat.

"Maafin Mami. Mami cuma ingin yang terbaik untuk kamu.” Mami menghampiri Gendis namun refleks Gendis memundurkan langkahnya membuat raut wajah Kadek sedih.

"Yang terbaik menurut Mami belum tentu baik menurut Gendis.“ Ucap Gendis lirih, ”Mami janji bakalan dengerin pendapat Gendis tapi yang Gendis pahami dari rencana Mami dan Nenek Ida adalah pemaksaan. Gendis nggak suka. Ini hidup Gendis, yang jalanin juga Gendis, bukan Mami. Mami--”

"GENDIS!“ Bentak Mahesa. ”Bicara apa kamu sama Mami?Minta maaf!“

“Maaf Mi.”

Mami yang baru pertama mendengar kalimat tajam itu keluar dari mulut Gendis yang selama ini selalu berlaku lemah lembut jelas terkejut.

"Semua salah Mami. Maafkan Mami.” Ucap Mami lalu meninggalkan ruang tengah itu begitu saja.

Gendis menggigit bibir bawahnya menahan getir. Ia tidak bermaksud bersikap tidak sopan, ia hanya---

"Kamu sudah buat Papi kecewa.” Ujar Mahesa lalu pergi menyusul sang istri meninggalkan Gendis yang bergelung dengan rasa bersalahnya.

Ya Tuhaaan, kenapa jadi gini sih.

***

Di kesatuannya Dewa Ganesha terkenal sebagai pribadi yang banyak omong. Sumber nyinyir yang hobi sekali julid terhadap masalah orang lain. Jadi ketika Dewa yang biasanya cerewet tiba-tiba jadi pendiam, semua orang menjadi lebih waspada terutama para tentara baru yang harus selalu siap sedia menjadi sasaran mood pria itu.

"Sarapannya, Bang.” Ujar salah seorang tentara junior ketar ketir menyerahkan gado-gado menu sarapan kesukaan laki-laki itu. Dewa hanya melihat sekilas lalu kembali menyibukkan diri membersihkan pekarangan di lingkungan asrama. Pemandangan itu tentu saja tampak mengerikan di mata para tentara muda karena biasanya jari telunjuk lelaki itulah yang bekerja.

"Biar saya saja, Bang.” Pemuda yang sepertinya baru saja lepas pendidikan itu mendekat hendak mengambil sapu di tangan Dewa namun ditolak.

"Tidak usah. Kamu sarapan saja.” Ujarnya membuat beberapa orang yang juga turut mendengarkan hal langka itu melongok tak percaya.

"Siap, Bang.” Jawab si prajurit sembari melangkah mundur dengan kening mengernyit. Tapi daripada membuat atasannya ini berubah ganas seperti biasa, ia memutuskan untuk diam dan menikmati ini sebagai rejeki anak soleh. Jarang-jarang Dewa bisa semulia namanya. Satu batalyon pasti akan mengadakan syukuran jika laki-laki menyebalkan ini akhirnya benar-benar insyaf.

Saat semua orang disekitarnya memandang heran padanya, Dewa malah tampak biasa saja seolah memang tidak ada yang berubah dari dirinya. Dewa tidak menyadari bahwa diamnnya bisa membuat semua orang bertanya-tanya tentang apa yang sedang menimpa salah satu dari anggota mereka itu. Bahkan ada desas desus yang menyebar dikalangan militer di kesatuannya bahwa semua perubahan Dewa diakibatkan oleh penyakit berbahaya yang dideritanya. Ya, orang-orang berpikir bahwa Dewa mengidap penyakit ganas yang membuat lelaki itu berubah menjadi begitu berbeda dari yang biasanya.

Dewa sedang mengangkut daun-daun kering yang dikumpulkannya dibantu oleh beberapa tentara lainnya saat petugas pos piket memberitahunya tentang kedatangan seorang tamu perempuan.

"Siapa?” Tanya Dewa pada junior berpangkat praka itu.

"Siap, katanya teman dekat Bang Dewa.”

"Gila.” Umpat Dewa. Siapa yang berani-beraninya mengaku teman dekatnya di pos jaga?!Kalau itu Fina, sudah pasti orang-orang disini mengenalinya.

“Saya tidak punya teman dekat, suruh pulang.” Ujar Dewa sembari mendorong gerobak sampah.

"Siap.” Ujar petugas jaga itu lalu bergegas kembali ke pos.

Namun tidak lama berlalu, suara seorang wanita menghentikan gerak tangan Dewa mengambil sampah.

"Bang.” Panggilnya.

Dewa menoleh. Tidak jauh darinya seorang wanita muda tersenyum canggung. Pakaian kantor wanita itu bahkan belum di ganti. Dewa meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri wanita itu, wanita yang akhir-akhir ini menjadi menyebalkan dengan kelakuannya yang merepotkan.

"Ada apa, Vi?“ Tanyanya tak ingin berbasa basi. Ia lelah bermulut manis sekarang.Masalahnya dengan gadis lain belum kelar dan sepertinya tidak akan berakhir dengan baik jadi kemunculan Devi jelas masalah yang tak diinginkannya.

"Bisa minta waktunya sebentar?“

Bolehkah seorang gentlemen bilang tidak?Ah seandainya saja.

"Silahkan.” Dewa mempersilahkan Devi berjalan lebih dulu menuju rumah dinasnya. Beberapa pasang mata diam-diam menatap penasaran. Sepak terjang Dewa sebagai seorang playboy memang sudah bukan rahasia lagi tapi pria itu belum pernah mengenalkan seorang perempuan di lingkungan tempat kerjanya terkecuali Gendis itupun hanya beberapa orang dekat saja yang sempat bertemu dengannya. Jadi letika ada Devi yang tiba-tiba bertamu, para ibu-ibu tetangga jelas sudah membuat spekulasi-spekulasi.

"Devi ganggu ya Bang?“ Tanya Devi tak enak. Suster cantik itu tampak ayu dengan kepangan rambutnya yang digulung rapi.

Dewa tersenyum kecil, “Enggak. Ini cuma lagi bersih-bersih saja. Biasa.” Ujarnya berusaha terlihat tak keberatan akan kedatangan Devi yang tak diinginkannya itu.

“Tempatnya bersih, hangat juga.” Ucap Devi melarikan pandangan ke sekitat rumah. Seandainya ia tidak kedapatan menyimpan foto Gibran, seharusnya saat ini ia sudah menjadi bagian dari keluarga besar TNI. Wajah wanita muda itu tersenyum miris. Jika saja ia lebih cepat menyadari perasaannya, Dewa sudah pasti akan menjadi suaminya sekarang.

"So?“

Devi tersadar dari khayalan panjangnya, ”Maaf, saya--” Devi tersenyum malu-malu. Kedapatan memikirkan hal sudah dilewatkannya pasti sangat menyedihkan. "Mmm Devi nganterin undangan nikahan saudara sepupu. Abang bisa datang kan?“ lanjutnya penuh harap.

Dewa mengambil undangan itu lalu membacanya. Acaranya besok malam, sebenarnya ia tidak punya acara tapi--

"Ibu sering nanyain Abang.”

Dewa mendongak. Sesaat kemudian menyunggingkan senyum kecil, “Salam sama Ibu. Beliau sehat-sehat kan?“

"Sehat. Ibu nitip pesan katanya kapan abang main ke rumah lagi.” Suster cantik itu tampak malu-malu tapi penuh harap saat mengatakannya.

"Kapan-kapan nanti saya main kesana.” Dewa menanggapi pendek ucapan Devi.

Devi tersenyum senang, ”Devi berharap kita bisa seperti---“

Drrttt...

Ponsel Dewa bergetar memotong kalimat Devi.

"Maaf, bentar” Dewa mengangkat telfonnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya, ”Hal---”

"Lo tuh jahat. Gue benci lo!“

Tuuut tuuuut.

Dewa melihat layar ponselnya, nama Gendis tertulis disana. Keningnya bertaut. Gendis tiba-tiba menelfon dan tanpa basa basi langsung menyerangnya dengan kalimat kebenciannya itu.

To. Little Angle.

Saya ke rumah sekarang.

Tulisnya singkat lalu bergegas membuka pintu hendak masuk kedalam sebelum menyadari bahwa masih ada Devi yang memperhatikannya dengan penasaran.

"Sorry Dev bukannya mau ngusir tapi saya ada hal penting yang harus dilakukan.“ Ujarnya membuat Devi tampak murung.

"Penting bangat ya Bang kayaknya."Devi tersenyum dipaksakan, ” Ya udah, Devi pamit. Diusahain ya Bang.”

"Saya usahakan.” Balas Dewa lalu tanpa mengantar Devi langsung bergegas masuk untuk bersiap-siap menemui tuyul ngambek.

***

1
Munji Atun
Kak Lee 🥰 akhirnya bisa ketemu lagi sama Gendis and the genks 😍 uuh senengnya jgn lama" lagi ya upnya 🥰
makasih banyak ya ❤🥰💪
Miamia
ya salam ndissss bengek aku🤣🤣🤣, kocak , rajin up ya kak Thor 😍
Tita
yaaa habis,kapan lagi ini ketemu gendhis❤️
Tita
habis sedih,terharu sekarang nyengir dah😁
Tita
❤️❤️❤️❤️❤️
Tita
ayo bang dewa mendekat lagi sama Tuhan,gendis bukti sayang Tuhan sama kamu wa❤️
Opi Irbah Salma
lanjut Thor 😍
Deva Santi
bang dewa belum ngumpul sama bang GI sesama bucin bikin mual..., the Genk ngumpul seruhhh banget si Sandra dan leksis Lom dpt jodoh pa g laku si thorrr
Rahayu Kurniasari
maaciihhh kak othoorrr.. 😍😍
Sri Gunarti
waah rami kalau kalian kumpul seru 🥰🥰🥰
Turwaty suketi
Aduuuh om dewa makin ugal ugalan🤣
stnk
thoooor moga rutiiiinnnn....tak tungguuu loooh...
stnk
Om Gi juara berapa Nad...🤣🤣🤣
stnk
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
stnk
Lebaaayyyyyyy....🤣🤣🤣🤣
tintiin21
kumpulan om² bucin parah.... 😆😆😆😆😆
Deva Santi
kebucinan para tentara, seneng liat cerita gendis, Nadia lalu apa kabar aleksis dan sandraaa kak
Iwin Soviyatiningsih
makasih UP nya thor 🙏 next ditunggu
Sri Gunarti
jadi kangen gibdan
Rahayu Kurniasari
pertama..
sukaakk bangeett sama kebucinan Gendhis Dewa 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!