NovelToon NovelToon
Budak Setan

Budak Setan

Status: tamat
Genre:Horor / Contest / Balas Dendam / Spiritual / Rumahhantu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:514.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mariah

"Menikah sejatinya menjadi moment yang paling bahagia. Namun, apa jadinya jika seseorang harus menikah dengan iblis demi sebuah pembalasan dendam.

Ini adalah kisah seorang wanita yang memilih jalan sesat demi membalaskan dendam.

Bainah adalah janda 2 kali, wanita yang nyaris mati bunuh diri, akibat kebodohannya meninggalkan seorang suami hanya untuk mendatangi seorang penipu, yang ternyata memanfaatkan nama baiknya, dan pada akhirnya dia harus rela menanggung semua beban hutang yang ditinggalkan oleh suami kedua untuknya.

penasaran, simak kisah berikut ini,

BUDAK SETAN KARYA MARIAH.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Sebelumnya ....

"Salah satu dari keluargamu harus mati, termasuk dirimu, hanya itu caranya, maka dari itu aku sarankan padamu untuk melepas suamimu saja, atau kau harus kehilangan segalanya."

Dhuaar!"

Bagai terhantam godam, Endang lemas mendengar penuturan Nyi Sundo.

BUDAK SETHAN

Selamat membaca~~~

Endang keluar dari kediaman Nyi Sundo dengan lemas, bayangannya pergi jauh ke alam lamunan.

"Mbak?" sapa Supri, menyentak Endang dari lamunan.

Wanita berusia 35 tahunan itu menoleh pelan. "Ayo, kita harus pulang sekarang!" ajaknya.

"Emm!" Endang hanya mengangguk. Malam itu dia pulang dengan sikap yang jauh lebih damai dari sebelumnya. Ya, sepanjang menuju pulang, Endang tak lagi banyak mengoceh seperti sebelumnya saat menuju kediaman Nyi Sundo. Dia lebih banyak diam, dan melamun.

"Mbak," sapa Supri sambil membawa kendaraannya dengan kecepatan sedang. "Jangan sedih, kita coba cari jalan keluarnya bersama, ya?"

Endang belum menyahut, hanya suara isakan kecil yang dianggap Supri sebagai jawaban. Ya, wanita manapun pasti akan menangis saat tahu kalau suami tercinta terpaksa harus direlakan.

"Pri, Mbak gak mau kalau Mas Takur harus mati!" terangnya setelah sekian lama bungkam.

"Iya, Mbak Endang. Aku paham kok gimana perasaan Mbak Endang. Makanya, ayo kita pikirkan cara agar tetap bisa menyelamatkan Mas Takur."

"Pri!" serunya, menahan ucapan yang ingin dia sampaikan.

"Ya, Mbak?"

"Apa sebaiknya kita menyerah saja pada Nyi Sundo, dan meminta bantuan Pak Hasan."

Kali ini Supri langsung terdiam. Sebenarnya dia kasihan dengan kerabatnya si Takur. Tapi mau bagaimana lagi, kalau Endang berhenti bersekutu dengan Nyi Sundo, maka hilang sudah harapannya untuk memiliki motor baru. Sementara dia sendiri sudah bersusah payah sejauh itu untuk membantu Endang menjadikannya orang kaya. Bahkan, ditengah malampun dia rela mengantar Endang meski awalnya mereka tak mungkin akan sampai ke tujuan, tapi dia nekad demi mendapatkan imbalan yang setimpal.

"Waduh, gimana ya, Mbak!"

"Pri! Kamu gak benar-benar berpikir untuk membiarkan Mas Takur mati 'kan?"

"Ya, bukannya aku menginginkan Mas Takur mati, Mbak. Tapi coba Mbak pikir lagi, sekalipun Mas Takur selamat, dan Mbak berhenti menjadi pengikut Nyi Sundo, tetap saja Nyi Sundo gak akan tinggal diam. Dia pasti akan marah besar. Yang ada juga Mbak sama anak-anak Mbak akan jadi sasaran Nyi Sundo."

"Supri!" Kali ini nada bicara Endang sedikit meninggi. "Tega ya kamu menyarankan Mbak untuk membiarkan Mas Takur mati!"

"Mbak, jangan salah paham, aku cuma berusaha memberikan saran."

"Saran katamu?"

"Terus, maunya Mbak Endang gimana?" Kali ini Supri juga mulai emosi.

Hening, perseteruan antar keduanya pun berakhir saat mode GPS kembali menerangkan bahwa mereka akan memasuki kawasan perbatasan hutan terlarang. Suaranya menggema dalam ponsel pintar milik Endang.

Supri langsung menenggak saliva, begitupun dengan Endang, segera Supri mempercepat kendaraannya yang hanya bisa mencapai 60 perkilo-meter.

Sepanjang jalan, suara-suara musik gamelan kembali mengusik, tapi kali ini mereka berusaha mengacuhkan, tak seperti sebelumnya saat belum mengetahui bahwa suara itu berasal dari acara sakral kaum kasat mata.

"Pri! Bisa lebih cepat lagi gak?" Endang sudah gelisah di belakang Supri.

"Iya, Mbak. Ini juga diusahain!" balasnya.

Suara-suara musik gamelan itu kini berubah menjadi suara teriakan dan jeritan manusia, membuat Endang dan Supri semakin merinding ketakutan. Ditambah lagi dengan suara gunderuwo yang menggema seakan menertawakan mereka berdua.

Selang beberapa detik, sekelebat kabut asap tebal menutupi pandangan Supri. Jalan yang tadi terlihat mulus dengan lampu penerangan menyinarinya, kini berubah pekat.

Supri menepikan kendaraannya karena takut jika tiba-tiba ada kendaraan yang melintas dari arah berlawanan sedang dia tak dapat melihat akibat tertutup kabut.

"Pri, kenapa berhenti! Lanjut aja!"

"Lanjut gimana, Mbak. Jalannya gak kelihatan gitu!"

Kini keduanya terdiam mereka pasrah dengan apa saja yang mungkin terjadi, hingga tiba-tiba suara alunan gamelan kembali hadir, tapi kini seperti membius mereka membuat keduanya mengantuk dan akhirnya tertidur.

*******

"Mas, Mbak! Bangun!"

Endang mengerjap, pandangannya masih buram, tapi dia menangkap puluhan bayangan kepala manusia tengah mengerubuninya.

Seketika pandangannya mulai kembali jernih. Dia bangkit untuk duduk, dapat dia rasakan tangannya yang langsung mendarat di atas rerumputan.

"Endang menyapu matanya, memastikan bahwa dia benar-benar terbangun, dan apa yang dia alami adalah nyata.

"Di mana saya?" tanyanya pada orang-orang itu.

"Mbak sejak semalam tidur pinggir jalan." sahut salah satu dari mereka. "Apa yang terjadi, Mbak? Kok sampai tiduran di jalan?" Yang lain ikut bertanya.

"Ini, minum dulu!" Salah seorang dari mereka memberikan air minum dari kemasan mineral. Endang meraih lalu menenggaknya.

"Di mana teman saya?"

"Teman Mbak, yang mana?"

"Yang .. yang .. cowok!" jawabnya gugup.

"Gak ada, Mbak. Sejak tadi Mbak sendirian aja."

Deg!

Endang langsung mengedarkan pandangan ke sekitar, dan benar saja, dia tak menemukan tanda-tanda kehadiran Supri termasuk motor legendaris miliknya juga tidak ada di dekat situ.

Ke mana Supri? Batinnya bergumam. Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar dari kumpulan orang yang mengerubuninya, tapi suara itu terdengar seperti gemuruh saja, sebab pikiran Endang sudah berhamburan ke mana-mana.

Apa yang terjadi padanya juga di mana kini keberadaan Supri menjadi misteri dan mulai menghantui benaknya.

Bersambung ....

1
Mega Arum
walah kecewaaa.... end kok gantung, aneh.. tiwas ngulang baca lagi, ternyata oh ternyata ga berlanjut
Mega Arum
tokoh utamanya Baniah atau endang, kok mlah bnyak alur tntg Endang.. bkn budak setanya si baniah
Mega Arum
ternyata prnh baca novel ini, tp dah agak lupa... , suka sih cb baca lagi
Mega Arum
baru nemu.. suka sg kisah sprti ini,
nixie norbert
mampir kesini karna iseng ... ehhh ternyata diksinya bagus
Edi Pete
Sayang seribu kali sayang.Ceritanya gak ada gambarnya.Jadinya kurang pas buat bacanya.
Naida Iko
500 km?
Naida Iko
ini naik bus apa kerete?
2021 last update author. Kemn pergi.. Setahun lebih berlalu
Else Widiawati
sekian purnama blm ip juga kk..sehat2 yah kk
Adinda
dukun versus dukun🤣
Anonim
malah end. belum juga selesai ceritain.
hadueh
Adinda
makany kalo mau ghibah orang tengok kanan kiri dulu😅
Adinda
mantap bainah👍😁
Sri Mesna
bagus skli kisahnya 😻
Felinfirhad fefir lovers
Seru banget bru epsode 1 ,brsa lgi ikut ngegibh ,yg bca jg asik
Felinfirhad fefir lovers
Seru banget bru epsode 1 ,brsa lgi ikut ngegibh ,yg bca jg asik
Felinfirhad fefir lovers
Seru banget bru epsode 1 ,brsa lgi ikut ngegibh ,yg bca jg asik
Mak Uda
kpnla cerita ini dilnjutin , ayo dong dilanjutin bikin penasaran ,,lg seru" nya nih
Mak Uda
Trharu SM anaknya yg mau nasehatin ibunya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!