Untuk lebih mengena lebih baik baca dulu PROGRAMMER SOLEHAH
ini season keduanya menceritakan kehidupan anak - anaknya.
Ammar Putra Ibrahim Al Malik jatuh cinta dengan seorang gadis yang mahir coding Annisa Rahma Wijaya.
Tetapi Cinta Mereka masih sama - sama tertahan dikarenakan Annisa mengetahui jika sahabatnya juga menaruh hati kepada Ammar.
Belum lagi Ammar harus melanjutkan studi S2 nya di luar negeri seperti permintaan Papinya untuk meneruskan perusahaan keluarga Mereka..
Akankah Mereka bersatu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aeni Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karena Suka jadi Enjoy
Mereka kembali ke toko buku dimana Annisa dan Aqila berada kemudian mengajak mereka untuk mencari minum di sebuah kafe yang ada di sana.
"Aku haus deh, minum yuk." Ameera yang baru datang kemudian memulai dramanya.
Riri bertugas memberi kode kepada Aqila agar mengikuti permainan Mereka. Annisa yang masih sibuk memilih buku kurang memperhatikan gerak-gerik ketiga sahabatnya.
"Nisa, ayo minum aku haus." Ameera menggandeng tangan Annisa.
"Aku belum selesai Ra."
"Nanti lagi aja, yuk minum dulu." Ameera menarik Annisa untuk keluar dari toko buku itu.
"Tapi kesini lagi ya."
"Oke."
"Yakin ini berhasil." Aqila berbisik dengan Riri berjalan di belakang Annisa dan Ameera.
"Yakin, lihat aja. Rencana Ku selalu berhasil." Riri.
"Oke."
Mereka masuk ke sebuah cafe kemudian mencari tempat duduk yang sangat nyaman karena nanti akan ditempati Ammar dan Annisa bertemu.
"Yuk di sana aja." tunjuk Riri.
"Oke." Ameera mengedipkan matanya.
Mereka duduk di pojok yang lumayan berjarak dengan pengunjung lainnya. Ameera terus mengirim posisi Mereka ke Ammar yang juga sudah sampai baru memarkirkan mobilnya.
"Pintar juga nih anak." Ammar tersenyum sendiri di dalam mobil kemudian keluar dan menuju cafe yang sudah dikirim oleh Ameera.
Ammar terlihat mencari - cari posisi Mereka, kemudian Riri yang melihat Kehadirannya melambaikan tangannya.
Ammar mendekati Mereka dan berpura - pura tak sengaja bertemu mereka.
"Dik, ngapain disini." Ammar sudah berdiri di belakang Ameera dan Anissa pun langsung menatap ke arahnya.
"Abang, ngapain."
"Kamu yang ngapain disini, kuliah kok sampai sini."
"Bang duduk dulu sini." Qila sengaja bergeser dan meminta untuk duduk di sebelah Annisa.
"Makasih Qila."
"Kita lagi cari buku Bang, eh haus minum dulu." terang Meera bersandiwara sambil mengaduk - aduk minuman yang ada di depannya.
"Abang sendiri ngapain." tanya Riri.
"Mau cari buku juga buat referensi."
Ammar sesekali melirik ke arah Annisa yang hanya diam saja.
"Ini kenapa jantung Ku, lagian Aqila ngapain pindah sih." batin Annisa.
"Annisa juga nyari buku." tegur Ammar.
Annisa ya sejak tadi hanya diam kemudian menatap kearah Ammar dan kedua manik mata Mereka bertemu.
"Hmm.. iya Bang. Tapi belum dapat tadi Ameera ngajak ke sini."
"Oh.. gitu, mau cari lagi." tawar Ammar.
Ameera memberi kode kepada Abangnya untuk terus maju.
"Nanti Bang, biar Mereka minum dulu." Annisa.
"Nisa, kamu cari aja dulu sama Bang Ammar, kita Mau ngabisin minum ini nanti kita nyusul daripada kamu kelamaan nungguin kami kesorean lho nanti." Ameera mulai lagi dan pasti Ammar tersenyum gembira tapi ditahannya.
"Nggak usah, aku nunggu kalian aja, nggak papa sampai sore tadi juga sudah pamit sama Mama."
"Jangan nunggu Kita Nisa, kelamaan nanti." Riri mulai aktingnya.
"Nggak papa, kalian kan mau nyari buku juga."
"Kita nanti nyusul Nis, udah sekarang kamu pergi sama Bang Ammar keburu sore."
Aqila dan Ameera berdiri mendekati Annisa dan memintanya berdiri.
"Tapi Ra, nanti aja aku."
"Itu Bang Ammar udah nungguin, nggak kasihan apa." Riri memberi kode ke Ammar untuk berdiri.
"Ayo Nis, kelamaan nunggu Mereka nggak niat gitu." Ammar berdiri dan menunggu Annisa berjalan duluan.
Annisa masih bingung dan hanya diam berdiri kemudian Ameera mendorongnya untuk berjalan.
"Ayo Nisa, bentar lagi kita nyusul deh."
"Beneran ya."
"Iya..." ucap Ameera, Aqila dan Riri bersamaan. Ammar tetap stay cool walaupun sebenarnya ingin sekali tersenyum.
"Ayo Annisa."
Ammar menunggu Annisa untuk berjalan duluan.
"Iya Bang."
Mereka berdua berjalan keluar dari cafe kemudian Ammar menghadap ke belakang memberi dua jempolnya ke arah mereka bertiga.
Ammar dan Annisa berjalan beriringan menuju ke toko buku yang tadi dikunjungi oleh Annisa.
"Kita..." Tak sengaja Ammar dan Annisa memulai pembicaraan secara bersamaan.
"Kamu duluan."
"Ke toko buku itu aja ya Bang, tadi Nisa sudah lihat beberapa buku yang cocok jadi tinggal ambil saja."
"Oke, Abang ikut aja."
Mereka masuk ke dalam dan Ammar mengikuti Annisa dari belakang.
"Kamu cari buku kuliah." tanya Ammar Ketika Annisa menghentikan langkahnya di deretan buku pemrograman.
"Iya Bang, mau cari buku buat mata kuliah baru."
"Oke.. Kamu nggak pusing lihat tulisan banyak gitu dan bahasanya sulit." Ammar memperhatikan sebuah buku yang diambil oleh Annisa dan sedang dibacanya bagian sampul belakangnya.
"Kalau Abang apa juga nggak pusing setiap hari melihat angka, penjualan saham atau apalah itu." Nisa balik tanya dengan tersenyum, sepertinya dia mulai nyaman.
"Nggak, karena suka jadi enjoy."
jawab Ammar singkat.
"Sama berati Bang, karena Nisa suka sama tulisan dan bahasa yang sulit ini jadi terasa enjoy."
"He he he.." Mereka tertawa bersama.
"Bisa aja Kamu, berati kalau suka jadi menyenangkan ya."
"Hmmm.. begitu lah Bang."
Mereka berdua nampak asyik bercanda, tanpa mereka ketahui ada 3 pasang mata yang mengawasi mereka dari jauh dan tertawa sendiri.
"Lihat kayaknya udah enjoy Mereka, kita pantau dari jauh aja." Riri.
"Oke.. ha ha ha ..."
Annisa sudah memilih beberapa buku, dan Ammar dengan sigap menawarkan bantuan untuk membawakannya.
"Sini biar Abang bawa, kamu pilih lagi aja."
"Nggak usah Bang, Nisa bisa."
"Nggak, Abang bawakan ya." Ammar mengambil buku yang berada di tangan Annisa dan membawakannya.
"Makasih Bang."
"Iya, pilih aja lagi ini biar Abang yang bawa."
Annisa tersenyum dan mengambil satu buku lagi yang ingin dia beli.
"Nisa."
"Iya Bang, kenapa. Oh.. Abang mau cari buku juga ya, Maaf ya sampai keasyikan Nisa lupa. Ayo Kita cari buku Abang."
"Bukan Nis, bukan itu maksud Abang."
"Terus apa Bang."
"Abang mau bicara sesuatu bisa."
"Bisa Bang, bicara aja."
Annisa menunggu Ammar untuk bicara.
"Bisa nggak kita keluar aja, Abang mau bicara di luar aja nggak enak di sini."
"Tapi nanti Ameera sama yang lainnya gimana."
"Mereka pasti masih asyik di sana, Abang minta waktu kamu bentar aja."
Annisa nampak berpikir namun melihat wajah Ammar yang seperti ingin bicara serius akhirnya Annisa menurutinya.
"Oke Bang, Nisa ke kasir dulu ya mau bayar ini."
"Oke,."
Ammar mengikuti Annisa dari belakang dan membawakannya buku yang dibeli Annisa. Sesampainya di kasir Ammar memberikan buku itu ke kasir dan mengeluarkan sebuah kartu.
"Bayar pakai ini Mbak."
"Abang, nggak usah. Nisa nggak mau repotin."
"Nisa, Abang sama sekali tidak merasa direpotkan."
"Silahkan pin nya Mas."
"Oke.." Ammar menekan enam digit angka.
"Oke, makasih Mas, Mbak."
"Sama - sama Mbak."
Ammar membawakan kantong plastik yang berisi buku Annisa dan mereka berjalan keluar.
"Kamu kenapa Nisa."
"Nggak papa, Nisa merasa nggak enak sama Bang Ammar udah bayarin buku itu."
"Nggak papa Nis, anggap aja kado dari Abang."
"Makasih ya Bang."
"Kita duduk di sana ya."
Ammar menunjuk sebuah bangku yang kosong.
"Iya Bang."
Mereka berdua duduk di sana dan menikmati suasana.
"Nisa."
"Iya Bang."
"Abang boleh nggak mengenal Mu lebih jauh." Ammar langsung to the point .
Annisa hanya diam, bukannya dia tak mengerti apa maksud Ammar tapi bingung mau beri jawaban apa.
"Maksud Bang Ammar."
"Abang ingin mengenal Mu lebih jauh, lebih tepatnya Abang ingin serius sama Kamu."
Ammar menatap Annisa dan mereka saling pandang.
Deg..deg...deg...deg...
jantung Mereka berdua kalau bisa di dengar mungkin sudah bergemuruh.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
uhhhh... apa jawabannya ya 😁😁😁😁😁😁