Season 1 (tamat)
Farida tak menyangka, keputusan terlalu cepat yang diambilnya ternyata sangat mempengaruhi kehidupannya di masa depan. Yaitu menikah dengan pria yang sudah menikah sebelumnya dan telah mempunyai anak.
Sifat alpha suami istri yang masing-masing selalu ingin mendominasi juga terkadang menjadi problema. Ditambah lagi dengan usia yang terpaut jauh sehingga mereka harus berhadapan dengan karakter yang berbeda.
Mampukah pernikahan mereka bertahan dengan segala pelik permasalahan di dalamnya?
...
Season 2 (On going)
Segala bentuk keplagiatan bisa dilaporkan ya!
Area dewasa 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pil pahit pembawa sial
"Aku masih bingung dengan maksud dan tujuan laki-laki tadi siang..."
Suara Vano memecah keheningan diantara mereka berdua yang kini sedang tidur berdampingan. Malam sudah selarut ini, tapi pria misterius itu masih menjadi ganjalan terbesar di dalam pikirannya. Siang sampai malam, saat membaca email, mengetik pesan, berbicara, menelpon dan masih banyak lagi. Semua aktifitas dilakukannya dengan tidak fokus.
Sejenak terlintas tentang pria misterius itu, apa dia ada hubungannya dengan Woodley?
"Dad, kita harus bujuk Jajam lebih meyakinkan lagi agar dia mau pindah ke sekolah yang lebih aman." Farida berkata sambil menelusupkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Kamu jangan mulai lagi, aku gak bisa diajak bercanda." Tangan Vano menghentikan tangan Farida yang sudah merayap kemana saja sampai ke perut bagian bawah.
"Hmmh..." Farida mendesah saat belakang telinganya sedang di kecup oleh suaminya. "Dad, kamu kemarin di sana tiga hari gak macem-macem kan?"
"Kenapa belakangan ini kamu jadi cemburuan begini sih Da? Cemburuan, curigaan, gak terkontrol."
Biasanya Woodley datang kesini pun dia tidak pernah protes, cemburu atau menanyakan hal apapun. Sekarang, hanya terdengar dia mengigau saja sudah meledak-ledak.
"Kan wajar..."
"Gak ada yang aku lakukan disana, kecuali pekerjaan."
Percakapan malam ini mereka akhiri dengan tidur saling memeluk.
***
"Hm, iya-iya saya catat alamatnya sekarang. Tunggu sebentar saya cari dulu bolpoinnya." Ucap Vano pada seseorang yang berada di sebrang sana. Satu persatu laci ia buka untuk mencari barang yang dia perlukan. "Nanti saya hubungi kembali secepatnya. Hmm, iya-iya." Vano menutup panggilannya dan meletakkan ponselnya di meja.
"Mana sih bolpoinnya? Giliran dicari malah gak ada, ini pasti kerjaan Jajam!" Gerutunya dengan tangan yang masih sibuk mencari.
Selain tidak bisa diam, James juga mempunyai tangan yang gratil. Termasuk menggratil barang-barang milik Daddynya. Terkadang jika seperti ini menjadikan Vano sulit untuk mencari. Malah yang paling parah, James pernah mengambil berkas miliknya yang sudah di tanda tangani oleh banyak pihak, untuk James corat-coret seperti layaknya buku gambar.
"Da? Carikan bolpoin sekarang juga! Kenapa gak ada pen satu pun di kamar ini?" teriaknya kepada Farida. Padahal Vano sedang terburu-buru. Sekarang sudah jam tujuh, dia harus segera tiba di kantor pukul delapan.
Saat sedang sibuk mencari, gerik tubuh Vano terhenti saat menemukan satu strip pil yang berada di laci nakas milik istrinya. Vano memaku, rahangnya mengeras dan tangannya me remas benda itu. Berani-beraninya dia menyembunyikan ini darinya! Hati Vano memanas, dia merasa dipihak yang paling tersakiti sekarang ini.
"Ada apa Dad, tadi panggil aku?" Farida masuk ke kamar. Dia baru saja mengurus segala keperluan James dan menunggunya sampai berangkat sekolah.
Farida terperanjat kaget saat Vano berbalik badan menghadapnya. Tatapan Vano kepadanya begitu tajam. Sangat terlihat jelas bahwa dia sedang sangat-sangat marah. "Ada apa Dad? Kamu marah kenapa? Ada apa?" Tanya Farida sekali lagi.
"Kamu tanya kenapa aku marah?!" Hardik Vano keras.
"Apa sih maksudnya, aku gak ngerti Dad? Kamu lagi cari apa biar aku bantu ya..." jawab Farida melembut, batinnya berucap, dia harus bisa meredakan amarah suaminya.
"Tidak perlu!" Vano langsung melemparkan benda itu ke dada istrinya. "Sekarang jawab! Sejak kapan kamu minum pil kontrasepsi?"
Ya, Vano bukan laki-laki yang awam tentang pil yang ditemukannya dan kegunaannya.
Farida mendadak merasa takut dan bersalah. "Maafin aku Dad, aku memang meminumnya pada saat awal--"
"Kurang ajar!" Potong Vano cepat. "Sekarang saya tanya, siapa yang menyuruhmu minum itu?"
Farida menggeleng, "tapi udah gak minum lagi... Please Dad, jangan marah ya. Maafin aku ya.."
"Duduk!" Titah Vano memerintahkan Farida agar duduk di kasur. "Dari awal sebelum kita menikah, kita sudah sepakat untuk tidak menunda momongan. Tapi kenapa kamu membuat keputusan sendiri?"
"Maafin aku Dad, aku hanya ingin menundanya karena pada saat itu kamu masih suka mabuk. Kamu ingat?"
"Kenapa Da? Kamu tidak suka mempunyai anak dari laki-laki brengsek sepertiku?"
"Bukan begitu Dad, please! Dengerin aku dulu. Aku hanya ingin menundanya."
"Apa rumah tangga ini hanya kamu sendiri yang menjalankan sehingga kamu tidak berdiskusi dulu denganku?" Vano memalingkan wajahnya. "Aku meragukanmu sekarang!"
Farida memeluk Vano dari belakang. "Jangan bilang gitu lagi... Aku sayang sama kamu Dad, stop marahnya..."
"Lepas!"
Vano menghempaskan kasar tubuh Farida hingga sedikit terhuyung. Farida kembali mendudukkan kembali badannya ke kasur. Detak jantungnya berdegup sangat kencang. Farida tidak pernah melihat suaminya marah besar seperti sekarang. Secerewet apapun Farida kepada Vano, atau sebesar apapun kesalahannya, selama ini Vano hanya menghadapinya dengan diam atau deheman saja.
Farida menghirup nafasnya dalam-dalam, terlalu sesak saat diperlakukan seperti ini. "Aku pikir, dulu kamu belum mencintaiku. Aku yakin kamu hanya perlu Ibu untuk James. Itu saja. Benar begitu kan?" Tangan Farida sembari menyeka bulir air matanya.
"Farida!" Hardik Vano dan menatapnya tajam. "Kamu pikir saya hanya penikmat tubuhmu saja? Apa serendah itu saya di mata kamu?" Vano menggeleng pedih. Dia selalu saja dianggap laki-laki yang buruk.
"Nggak Farida.. nggak! Saya menikahimu karena saya mencintaimu!" Vano menunjuk Farida dan menyudutkannya. "Saya pikir saya telah memilih wanita yang tepat, menjadikanmu sebagai istri agar dapat memberi warna dalam hidup kami berdua, mengubah agar diriku lebih baik. Tapi kenyataannya, karena saya yang buruk, membuatmu tak bisa menerima. Bahkan kamu sampai tak mau mengandung anak dariku."
"Sudah Dad? Sudaaaaaah! Kamu hanya salah paham." Farida berkata sambil menutup telinganya.
"Bukan tanpa alasan aku ingin segera kamu mengandung. Tapi aku ingin bisa bertanggung jawab menghidupi mereka saat ragaku masih kuat untuk menjaganya. Dan usiaku saat ini sudah menjadi patokan." Sela Vano. "Kamu mengecewakanku!"
Vano beranjak dari tempat dia berdiri. BLAM! Dia keluar dari kamar dengan penuh rasa kekecewaan.
"Dad, kamu salah pahaaaamm!! Aaaakkhhh!!" Farida teriak menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.
................
Ada banyak hal dan keuntungan yang bisa kita lakukan jika kita mempunyai anak selagi kita masih muda. Kita bisa bermain dengannya, menikmati hari-hari dengan anak-anak saat kita masih sehat, tidak renta, dan yang pasti seperti Daddy V. Selagi raga kita masih kuat dan mampu menghidupi mereka. Karena pada saat umur semakin bertambah, pasti kesehatan semakin menurun dan banyak sekali keluhan. Karena kalau sudah renta, jangankan menjaga atau menghidupi anak-anak. Menjalankan hidupnya sendiri saja sudah sulit.
To be continued.
Maaf ya, kalau banyak typo atau kesalahan di dalam penulisan. Kadang diburu sama pekerjaan juga di dunia nyata. Harap maklum. Kalau belum up berarti authornya sedang...
IG @ana_miauw