Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Berkat bujukan dan janji Glen kepada nya, Sofia pun akhirnya bisa di tenang kan, ia akhirnya ingin mandi dan membersihkan tubuh nya di bantu oleh pelayan hotel.
"Tuan muda, ada yang ingin aku bicarakan," kata Glen kepada Zavier yang saat ini terlihat sedang duduk di dalam kamar nya sambil memainkan ponsel.
Melihat Glen yang sudah kembali, Zavier pun mematikan layar ponselnya dan menatap Glen.
Glen duduk di sofa yang berhadapan dengan Zavier.
"Sudah selesai?" tanya Zavier.
"Tuan muda, seperti nya dia mengalami trauma yang cukup berat, aku tidak habis fikir Rusita sangat kejam terhadap anak tirinya," kata Glen menjelaskan.
"Apa maksud mu?" tanya Zavier semakin penasaran.
"Dia berteriak menagis mama dan papa nya, dia juga mengatakan kalau dia tidak mau di jual, itu artinya lima miliar yang tuan muda dengan dari mulut tuan Ex, adalah dirinya, mama tirinya Rusita jelas-jelas menjual nona muda Sofia ke laki-laki tua itu," kata Glen.
"Sebentar, kau bilang dia berteriak karena tidak mau di jual? Trauma? Hm," kata Zavier seperti memikirkan sesuatu.
"Ya tuan muda," ucap Glen.
"Glen, sepertinya aku sudah menemukan orang nya," kata Zavier lagi.
"Apa maksud tuan muda?" Glen mengerutkan keningnya.
Zavier terdiam sejenak, entah apa yang saat ini ada di dalam pikiran nya.
Geln pun memerhatikan nya dengan seksama.
"Dia butuh bantuan kan? Dia takut di jual? Dia juga seperti nya orang yang tidak sehat dan trauma ya," kata Zavier lagi sambil tersenyum miring.
"Sepertinya begitu, dia memang orang yang membutuhkan bantuan, karena kita tidak mungkin mengembalikan nona Sofia kepada keluarga tirinya," ujar Glen yang masih belum ngeh dengan isi pikiran Zavier.
"Aku punya satu penawaran yang baik untuk nya, bagaimana kalau dia saja wanita nya, Glen apa menurutmu itu bagus?" Ujar Zavier sambil menatap Glen dengan tatapan penuh makna.
Seketika Glen pun memahami apa yang di maksud Zavier barusan.
"Tunggu, maksud tuan muda, anda ingin dia yang menjadi istri kontrak anda?" tanya Glen membulat kan matanya.
"Ya," jawab Zavier singkat.
"Tidak tuan muda, kenapa harus dia, dia punya latar belakang yang bukan seorang gadis biasa, aku khawatir akan bermasalah," ungkap Glen khawatir.
"Bodoh, bukan kah itu lebih bagus, kita bisa membantu nya dengan menjadikan dia istri kontrak ku, dengan latar belakang keluarga nya yang begitu bagus malah akan sangat membantu membuat kakek percaya kalau aku tidak berbohong dengan nya," jelas Zavier dengan begitu pintar.
Zavier berfikir Sofia adalah orang yang cocok untuk dia jadikan istri palsu atau istri kontrak nya karena latar belakang keluarga Sofia yang bagus akan menambah keyakinan kakek, Zavier juga berfikir Sofia bukan lah orang yang ribet karena dia butuh bantuan, ia juga berfikir kalau gadis seperti Sofia yang punya trauma akan laki-laki tidak akan mungkin merepotkan dirinya, apalagi jatuh cinta kepada nya.
"Tapi tuan muda," kata Glen ragu.
"Wanita seperti nya tidak mungkin jatuh cinta dengan ku kan? Karena dia adalah wanita yang trauma dengan laki-laki, jadi aku tidak perlu repot-repot mengurus nya, cukup dia patuh saja," kata Zavier mulai tersenyum miring.
"Tuan muda malah ingin memanfaatkan nya," batin Glen khawatir dan tidak tega.
"Kenapa kau diam? Apa sekarang kau yang tidak menyetujui permintaan ku?" Zavier menatap Glen yang terlihat tidak setuju.
"Tuan muda, anda sudah dua puluh tujuh tahun sedangkan dia gadis kecil yang berusia dua puluh tahun, ini tidak cocok, bahkan lebih tua aku dari nya," kata Glen sembari membenarkan posisi kacamata rose gold nya itu.
"Menurut ku tidak ada masalah dengan umur, aku tidak peduli," ungkap Zavier lagi.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu di depan kamar Glen dan Zavier.
Tok ... Tok ... Tok ...
Glen tak lagi bisa angkat bicara, apalagi mencoba menghalangi Zavier.
"Masuk," kata Zavier dari dalam.
Suara Zavier membuat bulu kuduk Sofia berdiri.
Pintu kamar tersebut pun terbuka, terlihat pelayan tersebut membawa Sofia bersama nya.
Wajah Sofia pucat, dia terlihat masih menyimpan trauma mendalam.
Tak di sangka nasip Sofia begitu buruk setelah di tingal kedua orang tua nya.
Ia sekarang sudah seperti orang terbuang.
Zavier menatap Sofia dengan tatapan dingin nya, sementara Sofia menatap nya dengan tatapan takut, Sofia bahkan mengengam erat tangan pelayan yang menuntunnya ke ruangan tersebut.
"Tuan muda tolong jangan menatap nya dengan tatapan seperti itu," bisik Glen.
Zavier menoleh ke arah Glen tampa bicara sepatah kata pun.
"Nona muda, duduk lah di sini," kata Glen kepada Sofia.
"A-aku?" tanya nya gugup seperti orang ling lung.
Glen mengangguk sambal tersenyum manis.
"Kalau begitu saya tinggal dulu tuan muda," kata pelayan tersebut yang kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.
Dengan sedikit gugup Sofia duduk berhadapan dengan Glen dan juga Zavier.
Lagi-lagi tatapan Zavier membuat nya gelisah, ia pun menundukkan kepalanya.
"Dia takut dengan ku?" batin Zavier.
Hal ini semakin membuat Zavier senang dan yakin kalau Sofia lah wanita yang cocok menjadi istri kontrak nya, karena selama ini Zavier selalu menemukan wanita yang tergila-gila dengan dirinya namun beda halnya dengan Sofia yang terlihat takut.
"Nona muda aku Glen dan ini tuan muda Zavier pemilik hotel ini, anda tidak perlu takut kami tidak akan melakukan hal buruk terhadap anda," kata Glen sambil memberi kode agar Zavier meneruskan ucapan atau keinginan nya kepada Sofia.
"Te-terima kasih," kata Sofia sambil mengengam dress yang ia gunakan.
Meksipun tampa di poles make up sedikit pun, Sofia tetap terlihat cantik dan menggemaskan ia benar-benar terlihat sangat imut dengan tubuh gempal nya dan tinggi badan nya yang tak terlalu tinggi serta rambut nya yang lurus dan juga pipi yang caby.
"Apa kau tidak kenal aku?" kata Zavier tiba-tiba.
Sofia menatap Zavier dengan tatapan takut, ia benar-benar tidak bisa melihat dengan jelas tadi malam, namun aroma parfum yang sekarang tercium di hidung nya membuat ia mengingat aroma tersebut.
Namun Sofia selalu mengira itu adalah aroma parfum nya Glen, dia berfikir laki-laki yang tadi malam membantu nya adalah Glen.
"Tuan muda jangan bicara seperti itu," kata Glen mewanti-wanti Zavier.
"Kalau begitu,kau saja yang bicara," kata Zavier malas.
"Nona muda, apakah benar anda tidak mau kembali ke mansion anda? Kami bisa mengantarkan anda jika anda mau," ujar Glen menguji Sofia.
Seketika wajah Sofia berubah menjadi khawatir, dia turun dari tempat duduknya dan bersimpuh di hadapan Glen.
"Tidak, tidak aku mohon jangan kembalikan aku ke tempat itu, aku tidak mau, mereka sangat jahat mereka ingin menjual ku, tolong aku, jangan antar aku ke tempat itu," kata Sofia dengan wajah panik.
Zavier menatap Sofia yang saat ini memegang kaki Glen dan bersimpuh di hadapan Glen.
Bersambung ....