Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa yang Menyebutku Iblis Cantik
Pagi di Halewick dimulai dengan tiga hal: udara dingin yang menusuk tulang, roti keras yang bisa dipakai untuk latihan militer, dan rumor bahwa aku adalah iblis cantik yang menyamar sebagai bangsawan.
Aku tahu karena saat turun ke ruang makan penginapan, dua nenek di pojok langsung berhenti mengunyah dan memandangku seperti aku baru saja mencuri musim semi dari desa mereka.
“Dia Lady Arvella itu,” bisik nenek pertama.
“Yang mau dieksekusi?”
“Katanya dia minum darah merpati sebelum tidur.”
Aku berhenti melangkah.
Mira yang berjalan di belakangku langsung tersandung rok sendiri.
Aku menoleh ke Cassian. “Apakah itu masuk daftar kejahatanku?”
Cassian tampak berpikir. “Belum.”
“Bagus. Tolong jangan tambahkan.”
Adrian meletakkan tangannya di gagang pedang. “Aku bisa menghentikan mereka.”
“Dengan cara apa? Menantang dua nenek duel kehormatan?”
“Jika perlu.”
“Kakak, kita sedang mencoba memperbaiki reputasiku, bukan memperluasnya menjadi ‘keluarga yang menyerang lansia’.”
Mira mengangkat tangan. “Hamba bisa menangis di depan umum agar mereka iba.”
“Itu mungkin membuat mereka semakin yakin kita sekte aneh.”
Aku berjalan ke meja dengan martabat yang kupinjam dari tubuh Evangeline dan ketabahan yang kubeli dari pengalaman hampir mati. Ketika duduk, seluruh ruang makan terasa memelan. Semua orang berusaha terlihat tidak mengawasi, tetapi gagal total.
Seorang pelayan penginapan mendekat dengan tangan gemetar. “S-selamat pagi, Lady.”
“Selamat pagi.” Aku tersenyum. “Apakah ada sarapan yang tidak bisa dijadikan senjata?”
Pelayan itu berkedip.
Mira memegang roti di meja dan mengetuknya pelan. Tok. Tok. Tok.
“Nona, roti ini punya ketahanan struktural yang mengesankan.”
Cassian memotong roti dengan pisau kecil. “Roti utara memang kuat.”
“Untuk dimakan atau membangun benteng?” tanyaku.
“Keduanya, pada masa perang.”
Aku memandangnya lama. “Anda bercanda?”
“Sedikit.”
Itu perkembangan. Duke North bisa bercanda. Sayangnya, humornya sedingin wilayahnya.
Setelah sarapan, kami mengadakan rapat kecil di kamar pribadi penginapan. Eron, penyerang yang dijatuhkan Mira dengan sendok, masih ditahan di gudang belakang. Adrian ingin mengirimnya langsung ke garnisun, tetapi aku meminta ia ditahan sampai kami mendapat informasi lebih banyak.
“Aku tidak percaya dia sepenuhnya,” kata Adrian.
“Aku juga tidak,” jawabku. “Tapi orang yang dipukul pingsan oleh sendok punya luka batin. Luka batin kadang membuat orang lebih jujur.”
Mira tampak bangga. “Sendok hamba membawa pencerahan.”
Cassian membuka peta Northmere di meja. “Menara beku terletak di area lama kastel utara. Tempat itu sudah ditutup selama bertahun-tahun.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Secara resmi, karena struktur bangunannya tidak stabil.”
“Secara tidak resmi?”
“Karena beberapa orang yang masuk tidak pernah keluar.”
Mira langsung mengangkat tangan. “Hamba mengusulkan kita percaya pada alasan resmi saja.”
Aku mengangguk pelan. “Siapa yang menutupnya?”
Cassian menatapku. “Ayahku.”
Ruangan hening.
Ayah Cassian, Duke North sebelumnya, sudah meninggal beberapa tahun lalu. Dalam novel, ia hanya disebut sebagai pria keras yang menjaga perbatasan utara. Tidak ada hubungan dengan keluarga Arvella atau ibuku.
Tapi sekarang semua jalan tampaknya mengarah ke tempat yang sama: menara beku, Mawar Hitam, Ordo Gagak Mahkota, dan masa lalu yang sengaja dikubur.
“Apakah ayah Anda mengenal ibuku?” tanyaku.
Cassian tidak langsung menjawab. Itu saja sudah jawaban.
“Ada kemungkinan,” katanya akhirnya.
“Ada kemungkinan berarti iya, tetapi Anda belum ingin mengatakannya.”
“Mulai terbiasa membaca saya?”
“Tidak. Wajah Anda masih seperti tembok mahal. Tapi jeda Anda berbicara banyak.”
Mira berbisik, “Nona dan Duke berbicara seperti sedang berduel menggunakan kalimat.”
Adrian mendengus. “Setidaknya tidak ada darah.”
Aku menatap Cassian. “Kalau ayah Anda dan ibuku punya hubungan dengan menara itu, saya berhak tahu.”
“Benar.”
“Lalu?”
“Saya akan memberitahu setelah kita tiba di Northmere.”
“Duke North.”
“Lady Evangeline.”
“Kebiasaan Anda menunda informasi penting sangat tidak sehat untuk hubungan kerja sama.”
“Hubungan kerja sama kita baru dua hari dan sudah melibatkan serangan bersenjata, simbol rahasia, serta sendok mematikan. Saya rasa kita melewati tahap sehat sejak awal.”
Aku tidak bisa membantah.
Siang itu, sebelum berangkat, aku memutuskan berjalan sebentar di sekitar desa. Adrian keberatan. Cassian keberatan dengan tenang. Mira keberatan sambil membawa dua selimut dan satu sendok. Aku tetap pergi karena aku butuh melihat bagaimana rakyat biasa memandang Evangeline.
Hasilnya: buruk.
Anak-anak bersembunyi di balik pintu. Pedagang menunduk. Seorang pria tua membuat tanda perlindungan ketika aku lewat. Di papan pengumuman desa, bahkan ada gambar kasar wajahku dengan tanduk kecil.
Aku menatap gambar itu.
“Mirip?” tanyaku.
Mira meneliti. “Hidungnya kurang anggun, Nona.”
“Terima kasih atas kritik seni.”
Cassian berdiri di sampingku. “Reputasimu sampai ke utara lebih cepat daripada utusan resmi.”
“Aku tersanjung. Fitnah ternyata punya jaringan distribusi bagus.”
Di dekat sumur desa, keributan kecil terjadi. Seorang pedagang kehilangan kantong uang. Ia menuduh anak laki-laki kurus yang kemarin kuberi roti. Anak itu menangis sambil menggeleng.
“Aku tidak mencuri!”
Pedagang itu mengangkat tangan hendak memukul.
Sebelum Adrian bergerak, aku sudah melangkah maju.
“Berhenti.”
Suara Evangeline keluar tajam, otomatis membuat semua orang membeku. Rupanya reputasi buruk punya satu kegunaan: orang langsung diam saat aku bicara.
Pedagang itu pucat. “L-Lady, anak ini pencuri.”
“Buktinya?”
“Ia anak miskin. Siapa lagi?”
Aku tersenyum manis. “Logika yang indah. Kalau begitu karena Anda pedagang, pasti Anda suka menipu harga. Haruskah saya langsung menghukum Anda?”
Wajah pedagang itu memerah. “T-tidak, maksud saya—”
Aku berjongkok di depan anak itu. “Kau mengambil uangnya?”
Anak itu menggeleng cepat. “Tidak, Lady.”
Matanya takut, tetapi jujur. Atau aku ingin percaya begitu.
Aku berdiri dan memperhatikan sekitar. Di tanah berlumpur dekat sumur, ada jejak kaki kecil yang mengarah ke tumpukan jerami. Jejak anak itu? Tidak. Sepatunya berlubang di sisi kanan, sementara jejak itu menunjukkan pola sol utuh dengan paku kecil.
Aku menunjuk tumpukan jerami. “Mira.”
“Ya, Nona?”
“Gunakan senjata sucimu.”
Dengan penuh kebanggaan, Mira maju membawa sendok dan menyodok tumpukan jerami. Dari dalam, seekor anak anjing melompat keluar sambil menggigit kantong kulit.
Semua orang terdiam.
Pedagang itu mematung.
Anak laki-laki itu mengusap air mata.
Aku menatap pedagang. “Selamat. Pencurinya berbulu dan jauh lebih lucu daripada tuduhan Anda.”
Beberapa warga menahan tawa. Mira memeluk sendoknya. “Hamba dan sendok kembali berjasa.”
Pedagang itu meminta maaf dengan wajah merah. Anak laki-laki itu menatapku seperti baru melihat sesuatu yang tidak sesuai legenda.
“Lady... tidak jahat?” tanyanya pelan.
Aku terdiam sesaat.
Lalu menghela napas. “Aku sedang cuti dari menjadi jahat.”
Anak itu tersenyum.
Tawa kecil menyebar di antara warga. Tidak semua, tetapi cukup untuk membuat udara berubah. Bukan menjadi hangat, karena ini utara dan udara tetap menyebalkan, tetapi setidaknya pandangan mereka tidak setajam sebelumnya.
Saat kami kembali ke kereta, Cassian berjalan di sampingku.
“Kau tahu tindakan tadi akan menyebar.”
“Biarkan. Kalau mereka bisa menyebarkan rumor aku minum darah merpati, mereka juga bisa menyebarkan rumor aku menangkap anjing pencuri.”
“Itu judul yang bagus untuk balada desa.”
“Jangan beri Mira ide.”
Terlambat.
Mira sudah bersenandung, “Lady cantik, sendok sakti, anjing mencuri uang pedagang kikir...”
“Mira, hentikan sebelum aku benar-benar menjadi legenda lokal.”
Perjalanan dilanjutkan menjelang sore. Setelah insiden desa, suasana sedikit lebih ringan. Adrian bahkan membiarkan Mira mengajarinya cara memegang sendok “untuk lemparan presisi”. Aku tidak tahu apakah harus bangga atau takut.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Menjelang malam, ketika kereta memasuki jalur bukit menuju Northmere, kami menemukan sesuatu di tengah jalan.
Bukan pohon tumbang.
Bukan bandit.
Sebuah patung batu kecil berbentuk gagak, diletakkan tepat di jalur roda kereta. Di leher patung itu tergantung pita merah gelap.
Cassian turun dan mengambilnya dengan hati-hati.
Aku ikut turun meski Adrian memprotes. Saat melihat pita itu, dadaku kembali sesak.
Pita itu sama dengan pita rambut yang dikenakan ibuku dalam lukisan keluarga Arvella.
Di bawah patung gagak, ada ukiran kecil.
Mawar Hitam pulang ke kandang beku.
Angin malam berembus tajam.
Untuk pertama kalinya, Northmere terlihat di kejauhan: kastel besar di atas tebing, dikelilingi kabut dan salju tipis, seperti rahasia yang menolak dilupakan.
Mira merapat padaku. “Nona, apakah kandang beku itu metafora?”
Aku menatap kastel itu.
“Semoga saja.”
Cassian menatapku dengan wajah yang lebih serius daripada biasanya.
“Selamat datang di Northmere, Lady Evangeline.”
Aku menggenggam liontin Mawar Hitam.
Tempat ini tidak ada dalam alur novel.
Dan justru karena itu, aku merasa semua jawaban menungguku di sana.
Saat kereta bergerak lagi, aku melihat dari jendela bahwa beberapa warga Halewick berdiri di pinggir jalan. Mereka tidak bersorak. Tentu saja tidak. Reputasiku belum naik ke level parade. Tetapi mereka juga tidak membuat tanda perlindungan seperti sebelumnya. Seorang nenek bahkan mengangkat tangan sedikit.
Mira langsung melambai balik dengan semangat. “Nona, kita punya penggemar pertama!”
“Itu mungkin hanya gerakan mengusir lalat.”
“Biarkan hamba bahagia.”
Cassian berkata, “Perubahan opini publik biasanya dimulai dari hal kecil.”
“Seperti anjing mencuri kantong uang?”
“Dalam kasusmu, ya.”
Aku menyandarkan kepala ke jendela. Halewick semakin jauh. Aneh, hanya satu hari di desa itu, tapi aku belajar sesuatu: orang-orang bisa membenciku karena cerita yang mereka dengar, tetapi mereka juga bisa ragu ketika melihat hal yang berbeda. Ragu itu kecil, tetapi cukup. Sebuah celah.
Jika Evangeline asli tidak pernah diberi kesempatan membuat orang ragu, aku akan membuat kesempatan itu sendiri.
Adrian yang duduk di seberang berkata pelan, “Ibu pasti menyukaimu seperti ini.”
Aku menoleh. “Seperti apa?”
“Berisik, keras kepala, tetapi tidak kejam.”
“Apakah itu pujian?”
“Pujian militer.”
Mira menghapus air mata yang belum sempat jatuh. “Keluarga Arvella mulai sembuh, Nona.”
Aku ingin membalas dengan lelucon, tetapi tenggorokanku mendadak berat. Jadi aku hanya melihat ke luar jendela, ke arah kastel Northmere yang makin dekat, dan diam-diam berharap ibuku benar-benar meninggalkan jawaban di sana.
Aku tidak tahu apakah harapan kecil itu milikku atau milik Evangeline yang lama. Mungkin keduanya. Untuk sekarang, aku tidak keberatan berbagi tubuh dengan tekad yang sama: kami sama-sama ingin hidup.