Dear Viona,
Terima kasih, karena telah memberikan warna-warni kehidupan disisa waktuku.
Terima kasih, karena telah mencintaiku dengan tulus.
Mencintaimu adalah hal terindah yang pernah kurasakan.
Bersamamu, kurasakan seperti seorang yang paling sempurna. Memiliki segalanya, dirimu dan cintamu.
Berjanjilah, untuk tidak menangisi kepergianku!
Karena aku selalu ada didekatmu, menjagamu, memelukmu, lewat penglihatan yang kutitipkan padamu.
I Love You, Sasha....
Salam,
Galang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Dreamers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VhieDjar 21
"Rasa cinta
Yang dulu telah hilang
Kini berseri kembali
Telah kau coba
Lupakan dirinya
Hapus cerita lalu
Dan lihatlah
Dirimu bagai bunga
Di musim semi
Yang tersenyum
Menatap indahnya dunia
Yang seiring menyambut
Jawaban segala gundahmu
Walau badai menghadang
Ingatlah ku kan selalu
Setia menjagamu
Berdua kita lewati
Jalan yang berliku tajam
Setiap waktu
Wajahmu yang lugu
Selalu bayangi langkahku
Telah lama
Kunanti dirimu
Tempat ku kan berlabuh
Cahya hatiku
Yakinlah kekal abadi
Selamanya
Seperti bintang
Yang sinarnya
Terangi seluruh
Ruang dijiwa
Membawa kedamaian
Walau badai menghadang
Ingatlah kukan selalu
Setia menjagamu
Berdua kita lewati jalan
Yang berliku tajam
Resah…"
(ADA Band- Masih(sahabatku, kukasihku)
***
"Hemmm..."
Viona terperanjat dari lamunannya saat sedang asik mendengarkan sebuah lagu yang diputar diplay list ponselnya, deheman dari seorang pemuda yang kini tengah berdiri diambang pintu masuk kamarnya membuat, Viona terlonjak kaget.
"Kamu juga suka lagu ADA Band yang ini? Sejak kapan?" Tanyanya saat pemilik kamar sudah menyadari keberadaannya.
Viona mengkerutkan dahinya, menatap seorang pria yang menerobos masuk kedalam kamarnya.
"Loh, kamu ngapain disini?"
Viona mendorong-dorong tubuh pria itu agar segera keluar dari kamarnya, dia takut kalo ibunya akan marah padanya karena telah berani membawa seorang pria kedalam kamarnya.
"Eh, jangan dorong-dorong dong..."
Bukannya keluar, pria tersebut malah semakin berani masuk kedalam kamar Viona seraya melihat-lihat isi seluruh ruangan kamar Viona.
"Kamu ih, cepet keluar dari kamarku... Nanti ibu marah kalo lihat kamu ada di sini."
Viona terus menarik-narik tangan Fajar agar segera keluar dari kamarnya.
"Tenang saja, ibu yang izinin aku masuk ke kamar kamu, kok..."
"Lagian aku gak bakal ngapa-ngapain kamu juga, kali..." Ucap Fajar seraya mendudukkan tubuhnya diatas sofa yang ada di kamar Viona.
Viona yang mendengar ucapan Fajar langsung memutar bola matanya malas.
"Kamu, kesini sendiri?"
ucap Viona seraya ikut duduk disamping Fajar,
"Ya seperti yang kamu lihat, aku cuma sendiri kesini..." Ucap Fajar datar.
"Intan gak ikut?" Tanya Viona,
"Aku gak bilang kalau aku mau ke rumah kamu." Ucap Fajar seraya menatap Viona. Sedangkan yang ditatap sibuk dengan ponselnya.
"Kenao gak diajak, sih?" Tanya Viona datar
"Ya, gak apa-apa juga. Eh tapi kamu belum jawab pertanyaan aku tadi loh." Ucap Fajar mengingatkan Viona bahwa pertanyaannya belum ia jawab.
"Pertanyaan?" cicit Viona seraya menatap Fajar, mengernyitkan alisnya berusaha mengingatnya.
"Iya, kamu sejak kapan suka dengerin lagu-lagunya ADA Band?" ucap Fajar menatap Viona dari samping.
"Sejak pertama kali denger dari seseorang yang mengupload video lagu ini di Sosmednya." ucap Viona sesantai mungkin.
Sebenarnya Viona sedang berusaha menyembunyikan perasaannya terhadap lelaki yang kini berada disampingnya.
Sejak Viona mengetahui bahwa lelaki yang ada bersamanya saat ini adalah seseorang yang sedang dia nantikan kedatangannya.
Viona ingin mengungkapkan perasaan bahagianya kepada pria tersebut karena akhirnya bisa bertemu dengannya. Tapi Viona urungkan niatnya mengingat tentang Intan sahabatnya yang akan segera bertunangan dengan Fajar.
"Kamu kenapa?" Tanya Fajar
"Kenapa?" cicit Viona, mengulang pertanyaan Fajar karena tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaannya.
"Kenapa malam itu kamu tiba-tiba nangis dan pergi begitu saja?" ucap Fajar,
Matanya menatap mata Viona yang kini sedang berkaca-kaca. Pandangan mereka beradu beberapa saat, kemudian berakhir saat Viona membalikan kepalanya ke arah lain sebelum akhirnya menunduk menatap lantai.
"Gak apa-apa... Oh ya, maaf karena waktu itu aku ninggalin kamu gitu aja..." ucap Viona memperlihatkan senyum yang dipaksakan.
Fajar melihat ada sebuah kesedihan di mata Viona, tapi dirinya tak tahu apa yang telah membuat gadis di sampingnya ini bersedih.
Dreett
Dreett
Dreett
Bunyi derinh ponsel Fajar terdengar nyaring. Fajar mengambil ponselnya didalam saku celananya. Viona melihat sekilas layar ponsel Fajar tertulis nama Intan disana.
"Hallo..."
"..."
"Kamu dimana sekarang?"
"..."
"Ya sudah aku kesana sekarang..."
Fajar mengakhiri sambungan teleponnya dan menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya.
"Mmp, Vhi..." Ucap Fajar belum selesai Viona langsung memotongnya,
"Mau pergi ya?" ucap Viona
"Iya, aku lupa hari ini aku dan Intan mau beli cincin untuk tunangan kami nanti..." ucap Fajar datar
Ded
Jantung Viona yang sedari tadi sudah berdebar kencang, sekarang malah semakin kuat seperti memaksa untuk keluar dari dalam tubuhnya. Dan kali ini dibarengi dengan rasa sakit bagai di iris-iris.
"Oh, ya udah tunggu apa lagi. Sana pergi, Intan pasti udah lama nunggu." ucap Viona,
Viona ingin agar lelaki ini segera pergi dari hadapannya. Ia takut tak bisa lagi membendung air matanya yang sebentar lagi memaksa menerobos keluar.
"Iya, tapi kamu juga harus ikut denganku... Aku mau minta tolong bantu pilihkan cincin yang cocok untuk kami pakai..." ucap Fajar dengan tatapan sendu menatap mata Viona yang juga terlihat berkaca-kaca.
Viona segera membalikan tubuhnya membelakangi Fajar. Air matanya perlahan keluar, dengan cepat Viona menghapus air matanya.
"Aku... Aku gak bisa, Jar. Maaf ya..." Ucap Viona lirih
"Pokoknya kamu harus ikut..." Fajar langsung menarik tangan Viona.
Viona yang tiba-tiba ditarik pun seketika hilang keseimbangan dan terjatuh tepat dipelukan Fajar.
Sejenak mereka mematung dengan posisi saling berhadapan, kedua tangan Viona dan tangan Fajar saling berpegangan. Pandangan mereka beradu dan terkunci beberapa saat.
"Hemm"
Viona dan Fajar saling menjauhkan diri masing-masing saat terdengar suara deheman dari arah pintu kamar.
Amara yang kebetulan lewat kamar Viona tak sengaja melihat kejadian tersebut.
"Eh, Ibu... Mmp, aku mau pergi nemenin Intan Dan Fajar pilih cincin tunangan mereka, boleh?" Tanya Viona pada Amara memecah kecanggungan diantara mereka.
Amara yang mendengar ucapan putrinya langsung menatap kepada Fajar, yang ternyata Fajar pun sedang menatap Amara seraya menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Viona.
Amara pun menatap putrinya kembali, ia tahu bahwa putrinya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Hanya saja Viona sedang berusaha menyembunyikan rasa sakitnya kepada pria ini.
"Kamu yakin sayang?" ucap Amara, Viona menggangguk yakin.
Sedangkan Fajar mengkerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan Amara pada Viona.
Amara menarik napas sejenak lalu menghembuskannya.
"Ya sudah, kalian pergilah..." ucap Amara tangannya menyentuh wajah Viona dan mengusapnya lembut seraya tersenyum pada putrinya.
Viona dan Fajar pun pergi setelah berpamitan kepada Amara sebelumnya.
Setelah sekitar tiga puluh menitan, akhirnya Viona dan Fajar tiba di tempat tujuan. Viona keluar dari mobil sedangkan Fajar memarkirkan mobilnya di tempat parkiran.
Viona dan Fajar pun masuk kedalam sebuah toko perhiasan terkenal yang ada di kota Bandung.
"Intan..." sapa Fajar saat melihat Intan sudah berada di tempat dan sedang berbincang dengan pelayan toko tersebut.
Fajar pun berjalan mendekati Intan disusul oleh Viona di belakangnya.
"Kok lama sih?" rengek Intan manja kepada Fajar. Intan yang belum menyadari keberadaan sahabatnya kaget saat melihat Viona juga ikut serta bersama kekasihnya.
"Loh, kamu bareng Viona?" Tanya Intan kepada Fajar, kemudian matanya beralih menatap Viona.
Viona yang merasa bahwa kehadirannya tak diinginkan oleh sahabatnya merasa tak enak hati seraya tersenyum canggung menyapa Intan.
"Iya, aku sengaja ngajak Viona untuk bantu kamu milih-milih cincin yang cocok untuk tunangan kita." ucap Fajar seraya melirik Viona.
"Gak boleh ya aku bantuin milih. Ya sudah, aku balik lagi deh kalo gitu..." ucap Viona hendak membalikan tubuhnya namun segera dicegah oleh Intan.
"Boleh dong... Pilihin cincin yang paling bagus ya buat aku juga Fajar," Intan menggandeng tangan Viona dan mengajaknya untuk segera melihat-lihat cincin untuk pertunangannya.
Fajar memperhatikan dua gadis yang sedang asyik memilih-milih cincin sambil bercanda dan sesekali mereka tertawa ditengah perbincangannya.
Fajar melihat Intan sesaat, kemudian beralih menatap Viona. Entah mengapa pandangannya terkunci pada Viona yang sedang fokus mencarikan cincin untuk pertunangannya, sesekali sudut bibir Fajar terangkat saat melihat gadis itu sedang tersenyum atau saat dia bercanda dengan calon tunangannya.
Sekilas Fajar mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat dirinya menarik tangan Viona dan kemudian Viona terjatuh dalam pelukannya, tanpa sadar Fajar tersenyum mengingatnya.
tapi galang sedikit obsesi sama viona alias shasha..bukan karna galang cinta..karna klo dia cinta pasti akan bertanya gimana perasaan wanitanya..bukan dengan egoisnya bilang nggak mau di tinggalin dan nggak membiarkan wanitanya memilih siapa yang sebenarnya ada di hati wanitanya..