Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.
Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Azizah Kehilangan Kesabaran
Mentari pagi baru saja merangkak naik, memberikan rona keemasan pada sudut-sudut dapur yang mulai sibuk. Hari ini, pembagian tugas terasa sedikit berbeda. Dewi, Diah, dan Lina telah berangkat lebih awal menuju pasar tradisional dan supermarket untuk memenuhi daftar belanja bulanan keluarga. Sementara di dapur, Azizah kebagian tugas membersihkan tumpukan peralatan masak, sementara Iyem dan Gita bahu-membahu menyiapkan sarapan pagi.
Gita yang baru saja selesai menggunakan sebuah panci langsung meletakkannya di dekat tempat cucian Azizah. Ia sempat melirik hasil cucian Azizah sebelumnya yang tampak sangat bersih.
“Wah, Zah, hasil cucianmu kenapa sampai mengkilap begini? Padahal susah sekali loh untuk menghilangkan bekas minyaknya,” puji Gita dengan nada kagum.
Azizah yang sedang sibuk menyikat wajan hanya bisa tersenyum lebar sebagai respons. Ia sebenarnya ingin sekali meraih buku catatan untuk menulis ucapan terima kasih, namun kedua tangannya saat ini terlanjur penuh busa sabun. Alhasil, ia hanya bisa mengangguk kecil sambil terus bekerja dengan telaten.
Tidak lama kemudian, Iyem kembali dari ruang makan. Ia berdiri di tengah dapur sambil berkacak pinggang, diikuti dengan raut wajah yang tampak bingung dan sedikit heran.
Melihat seniornya menunjukkan gestur aneh, Gita juga ikut heran, “Ada apa, Mbak Iyem? Kenapa wajahmu bingung begitu?”
Iyem menghela napas panjang, “Itu lho, di meja makan tadi hanya ada Nona Clara saja yang duduk sendirian. Nyonya Besar sama sekali tidak terlihat, padahal biasanya beliau yang selalu turun lebih awal saat sarapan.”
Mendengar ucapan Iyem, Azizah seketika menghentikan gerakan tangannya. Ia mematikan keran air, lalu menatap wanita itu dengan tatapan penuh tanya dan kecemasan yang tiba-tiba muncul. Mengingat kondisi emosional Amisha semalam yang terlihat begitu terpukul, rasa khawatir langsung menyergap hati Azizah.
Iyem yang menyadari perhatian Azizah dan Gita pun langsung melanjutkan penjelasannya untuk menenangkan suasana, “Tapi tenang saja, Nona Clara sudah bergegas naik ke atas untuk memanggil Nyonya Besar.”
Mendengar penjelasan itu, Azizah dan Gita serempak mengembuskan napas lega. Ketegangan yang sempat menyusup di dada Azizah perlahan luruh. Mereka pun kembali melanjutkan tugas masing-masing.
Suasana dapur yang semula tenang seketika berubah tegang saat suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar menggema di koridor. Tiba-tiba, Clara muncul dengan wajah yang sudah sembab oleh air mata.
Melihat kondisi putri bungsu majikannya, Iyem dan Gita langsung bergegas menghampiri. Azizah pun tidak kalah sigap. Ia segera mengelap tangannya dengan serbet dan berlari bergabung dengan mereka.
“Mbak Iyem! Mama... Mama tidak sadarkan diri!” pekik Clara di sela tangisnya, “Aku sudah mengguncang tubuh Mama dan berteriak memanggilnya, tapi Mama tetap tidak ada pergerakan sama sekali!”
Tangisan Clara semakin menjadi, membuat suasana rumah seketika panik. Iyem yang paling senior segera menguasai diri. Ia menatap Gita dengan tegas.
“Gita, cepat telepon dokter pribadi keluarga! Dan hubungi Tuan Darel, beri tahu dia untuk segera pulang dari rumah mertuanya!”
Setelah itu, Iyem menatap Azizah dengan tatapan instruksi, “Zah, tenangkan Nona Clara.”
Azizah mengangguk mantap. Tanpa membuang waktu, ia melepas celemeknya dan mendekap Clara dengan penuh kasih, membiarkan gadis remaja itu menumpahkan seluruh ketakutannya di pelukannya.
Saat hendak berbalik menuju lantai atas, langkah Iyem terhenti sejenak. Ia menatap Gita kembali dengan raut wajah serius.
“Satu lagi, Gita. Kau juga harus menghubungi Tuan Ezra.”
Mendengar nama itu disebut, Azizah dan Gita spontan menatap Iyem dengan tatapan terkejut. Gita bahkan sempat ragu dan ketakutan membayangkan harus menghubungi pria sedingin itu. Namun, Iyem menegaskan dengan nada tidak terbantahkan.
“Bagaimanapun dia tetap anak sulung keluarga ini. Dia berhak tahu kondisi ibunya, apalagi Nyonya memiliki riwayat penyakit jantung yang tidak bisa dianggap remeh.”
Azizah membelalakkan matanya, benar-benar terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa wanita seceria dan secerah itu ternyata menyimpan penyakit serius.
Setelah memberikan instruksi, Iyem langsung bergegas menuju lantai atas menuju kamar sang Nyonya. Sementara Gita dengan tangan gemetar segera melaksanakan tugasnya. Azizah sendiri dengan sabar menuntun Clara yang masih terguncang menuju ruang tengah. Ia mendudukkan gadis remaja itu di atas sofa, lalu memeluknya erat, memberikan kekuatan di tengah badai kepanikan yang mendadak melanda rumah itu.
......................
Darel berlari sekuat tenaga memasuki rumah. Ia datang seorang diri tanpa menunggu istrinya yang harus mengurus bayi mereka. Darel langsung bergegas menuju kamar ibunya dan menerobos masuk tanpa membuang waktu.
Di dalam kamar, suasana terasa tegang karena seorang dokter pria sedang memeriksa kondisi Amisha. Kehadiran Darel yang mendadak sontak membuat Azizah, Clara, Iyem, dan Gita menoleh dengan cepat ke arah pintu.
“Dokter! Bagaimana keadaan Mama? Kenapa bisa jadi seperti ini?!” tanyanya dengan nada tidak sabar, suaranya bergetar antara cemas dan amarah yang tertahan.
Dokter itu perlahan melepas stetoskop dari telinganya dengan tenang. Ia kemudian beralih memeriksa tensimeter di lengan Amisha.
“Dok, katakan sesuatu! Apa Mama akan baik-baik saja?” desak Darel lagi, tatapannya tidak lepas dari wajah pucat ibunya.
Dokter itu akhirnya berdiri, lalu menatap Darel dengan serius, “Tuan Darel, tekanan darah Nyonya Amisha melonjak cukup tinggi. Selain itu, tubuh beliau kekurangan tenaga karena tidak ada asupan karbohidrat yang masuk,” jelas dokter itu sambil melirik piring kecil berisi sisa pancake durian di atas nakas, “Nyonya sangat harus menjaga pola makan dan yang paling penting adalah pikiran. Beban pikiran yang berlebihan bisa memicu hal seperti ini terjadi.”
Dokter itu memberi isyarat kepada asisten perawatnya, “Saya akan memberikan infus dan suntikan obat lewat selang, dalam waktu singkat Nyonya akan segera sadar.”
Mendengar penjelasan itu, bahu Darel yang semula tegang seketika turun. Iyem, Gita, dan Azizah yang sejak tadi menahan napas di sudut ruangan pun serentak menghembuskan napas lega.
Clara yang sejak awal tidak kuasa membendung air matanya, langsung berlari kecil menuju sisi ranjang. Ia mendekap tubuh sang Ibu yang masih terpejam dengan penuh kasih.
“Mama... cepat bangun, Ma,” bisik Clara lirih di dekat telinga ibunya.
Setelah selesai, dokter itu kemudian membereskan peralatan medisnya ke dalam tas. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh ke arah Darel.
“Jangan terlalu khawatir, Tuan Darel. Yang paling utama sekarang adalah menenangkan pikiran beliau. Kondisi fisiknya akan pulih asalkan beban pikirannya tidak bertambah.”
Darel mengangguk. Ia tentu sangat paham akar permasalahan ibunya. Ia tahu betul alasan mengapa pikiran Amisha selalu berkecamuk. Semuanya bermuara pada sosok sang kakak yang tidak kunjung pulang.
Melihat dokter bersiap pergi, Iyem segera menyenggol lengan Azizah, memberi kode agar ia mengantar mereka sampai depan. Sementara itu, Iyem dan Gita mulai sigap mengambil baskom berisi air hangat dan handuk kecil untuk menyeka tubuh Amisha agar lebih nyaman.
Azizah pun mengantar dokter dan perawat itu hingga ke depan pintu utama rumah. Saat mereka masuk ke dalam mobil, Azizah menunduk sopan sebagai bentuk penghormatan. Tidak lama kemudian, mobil itu melaju kencang meninggalkan pekarangan rumah.
Baru saja Azizah hendak melangkahkan kaki masuk kembali ke dalam rumah, sebuah mobil tiba-tiba datang dan berhenti tepat di depan gerbang garasi. Azizah mengernyitkan dahi. Ia belum pernah melihat mobil sedan hitam itu di garasi rumah semenjak kedatangannya kemarin.
Pintu kemudi terbuka, dan seorang pria melangkah turun dengan tenang. Sosok itu tinggi dengan perawakan tegap yang dibalut setelan jas berwarna gelap. Garis rahangnya tegas, namun wajahnya benar-benar datar, sedingin es, tanpa ada sedikit pun senyum yang menghiasi.
Pria itu berdiri di depan mobil, lalu dengan gerakan lambat, ia mengancingkan kancing jasnya. Tatapannya kemudian beralih, terkunci tepat pada Azizah yang masih mematung di ambang pintu rumah.
Seketika, Azizah pun sadar. Bahwa pria itu adalah pria yang sama dengan foto di koridor lantai atas.
Ezra Arkananta.
“Minggir! Kau menghalangi jalan!” sentak Ezra dengan suara berat dan dingin.
Azizah terkesiap. Ia segera melangkah mundur, menyingkir ke sisi pintu untuk memberi jalan bagi pria yang aura kekuasaannya begitu pekat itu. Tanpa menoleh sedikit pun, Ezra melangkah lebar masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya yang tegas meninggalkan kesan intimidasi yang kuat.
Azizah menatap punggung pria itu yang semakin menjauh. Sekarang, ia benar-benar mengerti mengapa Dewi mendeskripsikan Ezra sebagai sosok yang menakutkan. Ternyata, watak dingin dan tajam itu bukanlah asumsi belaka, tapi kepribadian yang sudah mendarah daging.
Di lantai atas, Ezra melangkah dengan ritme yang stabil. Begitu melewati koridor tempat foto keluarga terpajang, ia hanya melirik sekilas dengan tatapan datar, lalu melanjutkan langkahnya tanpa ada niatan untuk berhenti walaupun sejenak.
Brak!
Pintu kamar sang ibu terbuka kasar, “Apa yang sebenarnya terjadi?!” sentak Ezra, suaranya menggelegar di dalam ruangan yang tadinya hening.
Darel yang sedang membantu ibunya meminum air, sontak menghentikan gerakannya. Ia menatap kakaknya dengan tatapan tajam yang menyimpan bara amarah. Jika saja kondisi sang ibu tidak sedang sakit, Darel yakin ia sudah melayangkan bogem mentah ke wajah kakaknya itu.
Amisha yang baru saja tersadar dari pingsannya, tampak lemah namun binar kebahagiaan terpancar di matanya saat melihat putra sulungnya hadir.
“Ezra...” panggilnya dengan suara parau, tangannya yang terpasang infus bergerak pelan, meminta Ezra mendekat.
Ezra pun melangkah, berdiri di sisi ranjang dengan posisi kaku.
Melihat ketegangan yang mulai menyelimuti ruangan, Iyem dan Gita segera memberi kode satu sama lain untuk keluar kamar. Mereka juga menuntun Clara untuk segera bersiap ke sekolah. Setelah melihat sang ibu sadar, keadaan Clara sudah jauh lebih tenang, dan ia merasa sudah saatnya kembali ke rutinitasnya.
Namun tepat sebelum mereka menutup pintu, Amisha bersuara lemah, “Mbak Iyem, buatkan kopi kesukaan Ezra. Kau masih ingat kadar gulanya, kan?”
“Baik, Nyonya,” jawab Iyem sopan.
Setelah pintu tertutup dan hanya menyisakan mereka bertiga, Amisha mendongak menatap Ezra yang masih berdiri dengan wajah dingin.
“Apakah sudah lebih baik?” tanya Ezra singkat, matanya menatap ke arah lain untuk menghindari kontak mata.
Amisha tersenyum tipis, merasa lucu melihat sifat putra sulungnya yang peduli namun begitu gengsi untuk menunjukkannya.
“Baik, Nak. Mama sekarang baik-baik saja. Tampaknya, hanya dengan Mama sakit, kau baru akan pulang. Kalau begitu, mungkin Mama akan sakit terus agar kau datang.”
Ezra akhirnya menoleh, menatap langsung ke dalam mata ibunya.
“Maaa...” Darel memotong dengan nada tidak setuju, merasa ucapan ibunya terlalu menyedihkan.
Amisha terkekeh kecil, merasa senang karena bagaimanapun, kedua putranya menunjukkan kepedulian dengan cara mereka masing-masing.
“Kau akan tinggal, kan?” tanya Amisha penuh harap.
Ezra melirik jam tangan sekilas, “Tidak bisa. Aku harus menemani Sienna syuting iklan ke luar kota.”
Wajah Amisha seketika meredup, rasa kecewa tidak mampu ia sembunyikan, “Apa wanita itu lebih penting dari mamamu sendiri?”
“Aku harus bekerja, Ma. Sienna adalah wajah dari perusahaanku. Sebagai perusahaan kecantikan, tentu aku harus mendampinginya, sekaligus bertemu klien di tempat syuting nanti.”
“Apa kau tidak memiliki karyawan? Kenapa harus kau yang mendampinginya? Uhuk... Uhuk...” Amisha terbatuk hebat.
Darel segera bertindak, ia mengeratkan rangkulannya pada sang ibu, “Mama tidak apa-apa?” tanyanya panik dan Amisha menggeleng lemah sebagai jawaban.
“Perusahaan itu milikku dan aku bebas melakukan apa pun. Kalau keadaan Mama memang sudah baik, aku pamit pergi,” ujar Ezra dingin, ia segera berbalik badan.
“Setidaknya luangkan waktumu untuk menemani Mama! Mama menjadi seperti ini karena terus memikirkanmu,” seru Darel tidak tahan, “Apa kau pikir hanya kau saja yang sibuk dengan pekerjaan? Aku juga sama sibuknya dengan dirimu!”
Ezra berhenti melangkah. Ia berbalik, menatap adiknya dengan tatapan menghunus, “Tentu saja kau sibuk, Tuan Arkananta. Pasti perusahaan peninggalan Ayah membuatmu sangat sibuk, bukan?”
“Ezra!” peringat Amisha dengan suara gemetar, “Kau yang dari awal menolak meneruskan perusahaan Ayahmu, tidak perlu membahasnya di depan Darel dengan kalimat tidak enak seperti itu.”
Ezra menghela napas panjang, meredam gejolak di dadanya, “Aku yang salah, Ma. Maaf. Semoga lekas sembuh,” ucapnya singkat sebelum benar-benar keluar kamar tanpa menoleh lagi.
Sepeninggal Ezra, tangis Amisha pecah. Darel segera mendekap ibunya dan berusaha menguatkannya. Walaupun Ezra tidak ada di sini, Darel berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu menemani Amisha hingga sembuh total.
Di dapur, Iyem tampak sibuk meracik kopi dengan takaran yang pas. Sementara Gita sudah bergegas pergi untuk menemani Clara berangkat sekolah. Ia ingin memastikan gadis kecil itu sampai ke tujuan dengan perasaan tenang.
Azizah yang baru saja kembali dari depan rumah, menatap Iyem dengan dahi berkerut. Ia segera meraih buku catatan dari saku roknya.
'Kopi untuk siapa?’
Iyem membaca tulisan itu sambil terus mengaduk kopi dengan telaten, “Untuk Tuan Ezra, Zah. Nyonya yang meminta, karena hanya aku yang paham takaran gula dan racikan kopi yang dia mau.”
Azizah mengangguk paham. Iyem kemudian menatap Azizah dengan wajah sedikit meringis, “Zah, boleh minta tolong? Antarkan kopi ini ke atas ya, aku tiba-tiba kebelet ingin ke kamar kecil.”
Azizah memberikan jempol tanda setuju, lalu meraih cangkir porselen berisi kopi hangat itu dan melangkah keluar dari dapur.
Baru saja kakinya menginjak anak tangga pertama, Azizah terhenti. Ia melihat Ezra sedang menuruni tangga. Saat pria itu melihat Azizah membawa kopi, Ezra menatapnya dengan tatapan acuh dan melewatinya begitu saja.
Didorong oleh rasa peduli pada sang Nyonya, Azizah menarik pelan lengan Ezra agar berhenti, namun reaksi pria itu sangat kasar. Ezra menyentak tangan Azizah dengan keras dan membuat cangkir kopi di tangan Azizah terlepas. Cangkir itu pun jatuh menghantam lantai dan pecah berkeping-keping dengan air kopi yang mengotori lantai.
“Beraninya pembantu kotor sepertimu menyentuhku! Dasar tidak tahu diri!” bentak Ezra tanpa sedikit pun rasa sesal, sebelum ia berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Azizah tertegun sejenak. Rasa dihina yang hebat membuatnya mengepalkan tangan dan menatap punggung lebar Ezra dengan tajam. Ia tidak bisa menerima siapa pun merendahkan martabat orang lain seperti itu. Dengan keberanian yang meluap, Azizah berlari dan berhenti tepat di depan Ezra. Ia merentangkan tangan untuk menghalangi jalan pria itu.
Ezra mengerem langkahnya dengan decakan kasar, “Apa lagi?!”
Azizah segera menggerakkan tangannya dalam bahasa isyarat yang berapi-api.
'Walaupun aku hanya seorang pembantu, bukan berarti kau bebas menghinaku. Kau harus meminta maaf! Sekarang!’
Ezra mengikuti setiap gerakan tangan Azizah dengan alis yang menyatu, hingga akhirnya ia menyadari sesuatu.
“Kau bisu?” tanya Ezra dingin.
Azizah terdiam, tangannya berhenti di udara. Ia ingin menyinggung soal keadaan Amisha, tapi pertanyaan pria itu justru terdengar seperti sedang meremehkannya.
Ezra tertawa kecil, sebuah tawa yang sarat akan penghinaan. “Astaga, apa yang dipikirkan Mama sampai menerima wanita bisu sepertimu?” Ezra menatap sekeliling rumah dengan tatapan merendahkan, “Rumah ini ternyata semakin tidak karuan. Bahkan debu kotor pun bisa masuk dengan bebas.”
Plak!
Wajah Ezra berpaling ke samping saat telapak tangan Azizah mendarat telak di pipinya. Azizah menatap pria itu dengan keberanian yang membara.
Iyem yang baru saja keluar dari kamar mandi, membelalakkan mata melihat kejadian itu. Ia segera berlari mendekat dan menarik lengan Azizah menjauh.
“Aduh, Tuan Ezra, maafkan Azizah! Dia masih baru, jadi belum terlalu mengenal Tuan. Tolong maafkan kami,” ucap Iyem memohon.
Ezra menyentuh pipinya yang memerah, lalu meludah ke lantai untuk meredakan nyeri. Ia menatap Azizah dengan tatapan yang sangat tajam dan berbahaya.
“Ternyata pembantu sekarang sudah berani melawan majikannya,” desisnya tajam, “Tidak heran jika aku semakin muak tinggal di rumah ini.”
Tanpa ingin memperpanjang drama yang memuakkan baginya, Ezra segera melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Azizah ingin mengejar Ezra untuk menuntut permintaan maaf, tapi Iyem langsung menarik lengannya.
“Zah, berhenti. Bisa gawat jika Tuan Ezra menyimpan dendam padamu. Kau ingin terus bekerja di sini, kan?”
Azizah dengan wajah yang masih merah padam mengeluarkan buku catatannya dan menulis dengan tekanan pena yang kuat.
‘Dia sudah keterlaluan! Dia sengaja memecahkan cangkir dan menghina pekerjaan kita. Dia harus meminta maaf!’
Iyem membaca catatan itu dengan napas berat. Dalam hati, ia diam-diam mengagumi keberanian Azizah yang berani melawan arogansi Ezra, namun ia sadar bahwa Ezra tetaplah majikan mereka.
“Sudahlah, lupakan itu dan segera bersihkan lantainya,” perintah Iyem lembut.
Meskipun hatinya masih dibakar amarah, Azizah tetap menuruti perintah seniornya dan mulai memunguti serpihan cangkir yang pecah.