Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.
Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.
Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.
Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Perpustakaan dan Keputusan
Lapangan latihan pagi itu lebih ramai dari biasanya karena para murid sudah berbaris dalam kelompok-kelompok berdasarkan tingkatan, bergerak mengikuti instruksi yang diberikan oleh senior yang memimpin sesi. Suara langkah kaki dan hentakan tangan beradu mengisi pagi yang masih terasa segar. Tidak terasa sudah hampir seminggu Zhao Fei menjalani rutinitas ini, dan tubuh yang semula kaku mulai merespons lebih baik dari hari ke hari.
Ketika instruktur membubarkan barisan, beberapa murid langsung mendekatinya.
"Zhao Fei, aku perhatikan dirimu selalu datang paling awal sejak hari pertama," kata salah seorang dari mereka, seorang pemuda dengan senyum yang tulus. "Padahal posisimu paling bawah, tapi semangatnya tidak kalah dengan senior."
Yang lain menambahkan dengan nada setuju, "Iya, pekerjaannya juga rapi. Aula yang kemarin kau pel, bersih sekali."
Zhao Fei menjawab dengan singkat dan sopan, tidak lebih dari beberapa kata. Pujian tidak pernah membuatnya nyaman di Alam Dewa, dan di sini pun sama saja.
Xiaopang, yang berdiri tepat di sampingnya, justru yang paling sibuk. Dadanya membusung seperti orang yang baru saja menangkap ikan terbesar di sungai. "Tentu saja! Temanku ini memang berbeda dari yang lain. Sejak hari pertama sudah terlihat."
Zhao Fei melirik Xiaopang sebentar.
"Kenapa melirik begitu?" bisik Xiaopang. "Aku hanya mengatakan fakta yang benar."
Sementara di bawah bayangan atap paviliun kecil di sisi timur lapangan, seorang wanita berdiri dengan tangan terlipat di dada. Ekspresi Liu Xue tidak berubah dari ekspresi dingin yang selalu dia bawa. Tidak ada pujian yang keluar dari mulutnya. Tapi matanya tertuju pada Zhao Fei lebih lama dari yang biasanya dia berikan kepada siapa pun.
Oleh karena itulah di bawah pohon besar yang daunnya sudah mulai menguning, tiga orang tengah berdiri dengan tangan bersilang. Bebas saja mereka berbicara sesuka hati karena memang jaraknya cukup jauh.
Yang di tengah adalah pemuda dengan rahang tegas dan mata yang selalu terlihat setengah tertutup, seperti seseorang yang terbiasa meremehkan semua yang ada di depannya. Namanya Li Wei, dikenal di antara murid dengan julukan "Tangan Besi" karena kekuatannya di tingkat kultivasinya yang jarang tertandingi. Lalu dua orang di sampingnya adalah Wang Hu dan Zhang Ming, berdiri dengan posisi yang lebih dekat dari bayangan daripada sinar matahari.
"Satu Minggu," kata Li Wei, suaranya pelan tapi setiap katanya terasa seperti memiliki berat tersendiri. "Baru seminggu, dan semua orang sudah membicarakannya seperti dia adalah bintang baru."
Wang Hu cepat-cepat menanggapi, "Benar, Kakak Li Wei. Padahal qi-nya saja tidak terdeteksi waktu ujian. Tidak jelas dari mana kemampuannya."
Zhang Ming menambahkan dengan nada yang terdengar lebih seperti sedang mencari persetujuan, "Belum lagi caranya menatap Senior Liu Xue waktu seleksi... cih, benar-benar tidak sopan. Hanya Kakak Li Wei yang selama ini paling pantas mendapat perhatian Senior Liu Xue."
Adapun Li Wei tidak menjawab karena matanya terlalu sibuk mengikuti punggung Zhao Fei yang sedang membalas ucapan beberapa murid dengan kepala sedikit menunduk. Kemudian pandangannya bergeser ke arah paviliun kecil di timur, ke arah Liu Xue yang masih berdiri di sana. "Anak baru selalu membuat kesalahannya sendiri," katanya sambil memainkan lidahnya dibalik pipi. "Kita tunggu saja."
Latihan berakhir. Sebagian besar murid berpencar ke arah asrama atau kantin, sementara Zhao Fei berjalan ke arah yang berbeda.
Xiaopang, yang sudah hafal dengan kebiasaan temannya itu, mengikuti dari belakang dengan langkah setengah malas. "Ke perpustakaan lagi?"
"Ya."
"Kau tidak capek? Latihan dua jam, langsung baca buku?"
Langkahnya Zhao Fei tidak melambat sedikit pun setelah mendengar pertanyaan itu.
Lantas Xiaopang berlari kecil untuk menyejajari dirinya. Mereka berjalan sebentar dalam diam, melewati koridor yang atapnya dihiasi ukiran burung garuda yang sudah memudar warnanya. Kemudian Xiaopang, dengan nada yang lebih pelan dan sedikit ragu, bertanya, "Hei. Seminggu ini kelihatan sekali kau sedang mencari sesuatu. Ada yang bisa aku bantu?"
Zhao Fei berhenti di depan persimpangan. Matanya menatap lurus ke depan selama beberapa saat. "Kau tahu soal tabib?"
"Tabib?" Xiaopang tampak tidak menduga pertanyaan itu. "Tergantung tabib apa. Ada yang biasa ada yang luar biasa."
"Yang luar biasa. Yang bisa menyembuhkan penyakit menahun yang tidak bisa ditangani tabib biasa."
Xiaopang mengernyit. Terlihat dia benar-benar berpikir keras, sesuatu yang tampak lebih jarang terjadi dari yang dia akui sendiri. Tiba-tiba matanya membulat. "Maksudmu Tabib Wen?"
Zhao Fei menoleh. "Kau tahu?"
"Semua orang di wilayah ini tahu dia. Tapi tidak semua bisa menemuinya." Xiaopang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebiasaan yang selalu muncul saat dia sedang memikirkan sesuatu yang rumit. "Rumornya dia hanya menerima pasien yang dia anggap layak. Sisanya disuruh pulang, meski sudah menempuh perjalanan berhari-hari. Pernah ada cerita seorang tuan tanah kaya datang membawa emas satu peti, tetap disuruh pulang."
Zhao Fei menyimpan informasi itu dalam kepalanya. "Ibuku sakit. Sudah lama sekali dan tidak ada yang bisa menyembuhkannya."
Xiaopang menatap Zhao Fei dengan ekspresi yang berubah. Matanya yang biasanya penuh semangat kini menjadi lebih teduh, seperti lampu yang dikecilkan nyalanya. "Oh," katanya. "Jadi itu alasanmu masuk sekte."
Zhao Fei tidak menjawab. Tapi diam itu sudah lebih dari cukup.
Mereka tiba di persimpangan sebelum perpustakaan. Satu jalan ke kiri menuju asrama, satu jalan ke kanan menuju perpustakaan.
Xiaopang mengambil jalan ke kiri. Sebelum melangkah, dia melambaikan tangan. "Istirahat yang cukup. Jangan memaksakan diri terus. Semoga kau bisa bertemu tabib itu dan ibumu lekas sembuh."
Kepala Zhao Fei bergerak sedikit ke bawah sebagai jawaban. “Terima kasih.”
Xiaopang berjalan beberapa langkah, lalu berbalik. "Hei, Zhao Fei."
Zhao Fei menoleh.
"Kau pekerja keras. Itu baik." Xiaopang tersenyum, kali ini lebih tulus dari biasanya. "Tapi jangan sampai sakit karena terlalu memaksakan diri. Aku tidak mau kehilangan satu-satunya teman yang ada di sini."
Tidak ada jawaban yang keluar. Tapi sudut bibir Zhao Fei terangkat sedikit, cukup untuk dilihat oleh orang yang berdiri cukup dekat.
Xiaopang berlalu. Zhao Fei berjalan sendirian ke kanan.
Perpustakaan Sekte Garuda Putih tidak semegah yang terdengar dari namanya.
Dua lantai dengan rak-rak kayu tua yang memanjang dari lantai hampir sampai menyentuh langit-langit. Buku-buku disusun berdasarkan kategori dengan sistem yang cukup teratur tentang teknik kultivasi di lantai atas, sejarah dan geografi di lantai bawah bagian kiri, ramuan dan pengobatan di bagian kanan. Adapun cahaya masuk dari jendela-jendela sempit di dinding, cukup untuk membaca tapi tidak cukup untuk membuat siapa pun betah berlama-lama.
Zhao Fei melewati seluruh rak teknik kultivasi tanpa memperlambat langkah. Semua itu sudah ada di kepalanya, bahkan dalam versi yang jauh lebih lengkap.
Jarinya berhenti di bagian sejarah dan geografi.
Satu per satu buku dia ambil, baca sekilas pada bagian yang paling penting, lalu letakkan kembali. Dia mencari peta kekuatan, nama-nama besar, dan hal-hal yang perlu dia pahami tentang dunia yang sekarang menjadi rumahnya.
Yang dia temukan membuat pikirannya bekerja lebih aktif dari biasanya.
Dunia ini disebut Alam Fana Xuanyuan. Terbagi menjadi lima wilayah besar, masing-masing di bawah pengaruh sekte yang berbeda. Sekte Garuda Putih menguasai wilayah timur, tapi posisinya hanya ketiga dari lima sekte terkuat. Peringkat pertama ditempati oleh Sekte Naga Hitam, yang namanya muncul berulang kali dalam berbagai catatan dengan konteks yang hampir selalu sama mengenai ekspansi paksa, penindasan, pungutan upeti dari wilayah yang lebih lemah. Kemudian peringkat kedua adalah Sekte Pedang Suci, yang konon menjunjung keadilan tapi dikenal sangat selektif bahkan terhadap anggotanya sendiri.
Zhao Fei membaca bagian ketidakadilan di antara sekte-sekte dengan ekspresi yang tidak berubah, tapi ada sesuatu yang bergerak di dalam pikirannya. Pola yang sama di Alam Dewa dan di sini. Kekuatan yang disalahgunakan. Yang kuat menindas yang lemah dengan alasan yang selalu terdengar masuk akal.
Tidak ada yang berbeda, pikirnya. Hanya skalanya yang lebih kecil.
Dari buku terakhir yang dia ambil, bagian tentang wilayah perbatasan timur dan utara, nama Gunung Cemara muncul. Tabib Wen tinggal di sana, perjalanan sekitar tiga hari dari sekte, melewati jalur yang tidak sepenuhnya aman karena monster dan kadang konflik antara patroli sekte yang bersaing.
Zhao Fei menutup buku itu, berdiri di depan rak dan menatap deretan buku di depannya tanpa benar-benar melihatnya.
Pikirannya menyusun pilihan satu per satu. Jika dia menunggu terlalu lama, kondisi ibunya tidak akan membaik dengan sendirinya. Tapi jika dia pergi sekarang dengan kondisi meridian yang masih hampir sepenuhnya tertutup, perjalanan tiga hari melewati jalur berbahaya itu seperti berjalan ke dalam kolam yang tidak diketahui kedalamannya.
Tidak perlu terburu-buru. Tapi tidak bisa ditunda terlalu lama.
Dia mengambil selembar kertas dari rak perlengkapan di sudut ruangan dan menuliskan beberapa hal singkat. Nama tabib itu. Lokasi. Perkiraan waktu perjalanan. Kondisi yang harus dia penuhi sebelum berangkat. Kertas itu lalu dilipat kecil dan masuk ke saku bajunya.
Langkah selanjutnya sudah jelas.
Zhao Fei keluar dari perpustakaan ketika cahaya sore sudah mulai miring. Udara di luar terasa lebih dingin dari tadi pagi saat dirinya berjalan kembali ke asrama.
Malam itu dia membaringkan tubuhnya lebih awal dari biasanya. Punggungnya menerima itu dengan rasa syukur yang tidak dia ucapkan.
Tapi pikirannya, seperti yang sudah menjadi kebiasaannya sejak dia masuk ke tubuh ini, tidak pernah benar-benar beristirahat. Ia terus berputar, menghitung, merencanakan, menyiapkan langkah-langkah yang belum waktunya diambil tapi harus sudah siap ketika waktunya tiba.