NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Action
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puing-puing Keadilan

Suara hantaman keras memecah keheningan di ambang pintu utama bangunan dalam Istana Draken yang terbuat dari kayu oak.

Sir Lancel menendang daun pintu raksasa itu hingga engsel besinya patah dan terlempar berdebum ke lantai.

Komandan ksatria suci itu melangkah masuk dengan napas memburu, membiarkan sisa air hujan menetes dari zirah peraknya.

Pedang emas di tangan kanannya memancarkan pendaran cahaya suci yang berusaha mengusir bayangan di lorong tersebut.

Sejak berusia enam tahun, Lancel adalah seorang yatim piatu yang dipungut oleh biara pinggiran yang sangat keras.

Ia telah mengorbankan seluruh masa kecilnya, menukar kehangatan keluarga dengan doktrin absolut tentang keadilan dewa cahaya.

Baginya, setiap bidah yang ia tebas adalah sebuah tiket emas untuk menebus dosa-dosa fana umat manusia di dunia ini. Namun malam ini, keyakinan sucinya terasa bergetar hebat saat ia menyusuri lorong istana yang dipenuhi hawa kematian.

Suara jeritan dari pelataran luar perlahan meredam, seolah dinding pualam istana ini menelan seluruh kebisingan dunia. Kesunyian di dalam istana terasa sangat tidak wajar, menyerupai rahang monster tak kasatmata yang siap mengunyahnya hidup-hidup.

Lancel terus berjalan maju mengikuti jejak aura kegelapan yang menuntunnya lurus menuju aula perjamuan utama. Pintu ganda aula tersebut sudah terbuka lebar, menampilkan ruangan luas yang hanya diterangi oleh beberapa lilin redup.

Di ujung meja panjang yang dipenuhi sisa hidangan membusuk, duduklah Valerius van Draken dengan postur sangat rileks.

Mahkota Tiran Berdarah di kepalanya memancarkan aura hitam pekat yang seolah menghisap cahaya lilin di sekitarnya.

Valerius sedang memutar sebuah piala kristal berisi anggur merah, menatap kedatangan Lancel dengan senyum asimetris yang merendahkan.

Tidak ada secuil pun rasa takut di wajah pucat tersebut, hanya ada antisipasi gelap layaknya predator menyambut mangsa.

"Kau memiliki keberanian yang sangat luar biasa untuk berjalan sendirian ke dalam perut monster, Sir Lancel," sapa Valerius pelan. Suaranya bergema di seluruh penjuru aula, membawa hawa dingin yang langsung menusuk hingga ke sumsum tulang sang ksatria.

Lancel mengacungkan pedang emasnya lurus ke arah wajah Valerius, matanya memancarkan kemarahan suci yang membakar jiwa. "Aku tidak berjalan sendirian, Iblis, karena cahaya dari ratusan dewa keadilan selalu menyertai setiap langkah kakiku!"

Valerius tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat merdu namun sekaligus membekukan kewarasan siapa pun yang mendengarnya.

Ia meletakkan piala kristalnya perlahan, lalu bangkit berdiri dari kursi beludru dengan keanggunan seorang kaisar maut.

"Dewa keadilanmu pasti sedang menutup mata mereka sekarang, terlalu takut melihat apa yang akan kulakukan padamu," balas Valerius. Ia melangkah menyusuri sisi meja perjamuan, membiarkan jubah sutra hitamnya terseret anggun di atas karpet berdebu.

Lancel tidak membuang waktu lebih lama lagi untuk berdebat dengan sosok penista agama yang berdiri di depannya. Ia menerjang maju dengan kecepatan luar biasa, mengayunkan pedang emasnya dalam tebasan vertikal yang mematikan.

Bilah pedang itu membelah udara dengan suara desingan tajam, membawa kekuatan sihir cahaya yang sanggup melelehkan baja. Namun Valerius sama sekali tidak menghindar, ia hanya mengangkat tangan kirinya yang terbalut sarung tangan kulit.

Benturan dahsyat meledak saat pedang suci itu menghantam telapak tangan kosong Valerius yang dilindungi aura hitam. Gelombang kejut dari benturan itu mementalkan kursi-kursi kayu di sekitar mereka hingga hancur berantakan menghantam dinding.

Mata Lancel terbelalak lebar tak percaya melihat serangan pamungkasnya ditahan mentah-mentah hanya dengan satu tangan kosong. Sihir cahaya miliknya mendesis layaknya air yang disiramkan ke atas bara api, perlahan padam ditelan oleh kegelapan Valerius.

"Imanmu ternyata jauh lebih tumpul daripada bilah pedang emas yang kau banggakan ini," bisik Valerius tepat di depan wajah Lancel. Pemuda itu dengan mudah memelintir bilah pedang emas tersebut, memaksanya berbelok arah menjauhi lehernya.

Sebelum Lancel sempat menarik kembali senjatanya, Valerius mengayunkan kaki kanannya dalam tendangan menyamping yang sangat brutal. Ujung sepatu bot Valerius menghantam rusuk kiri Lancel dengan tenaga yang telah diperkuat oleh sistem iblisnya.

Terdengar suara retakan tulang rusuk yang patah dari balik zirah perak sang komandan ksatria suci tersebut. Lancel terlempar jauh ke belakang, tubuhnya menghantam meja perjamuan hingga kayu tebal itu terbelah menjadi dua bagian.

Piring-piring perak dan sisa makanan berjatuhan menimpa tubuh Lancel yang kini terkapar di atas lantai pualam. Ia terbatuk keras, memuntahkan segumpal darah segar yang langsung menodai zirah peraknya yang semula suci berkilau.

Valerius berjalan mendekat dengan langkah santai, mencabut Belati Penyedot Jiwa dari balik jubah hitamnya. Bilah obsidian itu berdengung gembira, merespons aroma darah ksatria suci yang menguar di udara aula tersebut.

"Kau bertarung dengan sangat gigih untuk melindungi sebuah gereja yang bahkan tidak pernah peduli padamu," ejek Valerius dingin. Ia menunduk menatap Lancel yang sedang berusaha keras untuk kembali bangkit menggunakan sisa-sisa tenaga.

Lancel mengertakkan giginya menahan rasa sakit luar biasa di dadanya, menatap Valerius dengan pandangan penuh kebencian. "Gereja adalah rumahku, dan aku akan melindunginya hingga tetes darah terakhir mengalir dari nadiku!"

Valerius menghentikan langkahnya, matanya yang kelam tiba-tiba memancarkan kilatan ketertarikan yang sangat sadis dan psikopat. Ia menggunakan skill 'Mata Penilai Iblis' untuk menggali langsung ke dalam memori paling menyakitkan di benak Lancel.

Sistem holografik di depan mata Valerius membedah masa lalu sang ksatria dalam hitungan sepersekian detik yang mematikan. Sebuah informasi emas tentang kebusukan gereja langsung disajikan secara sempurna untuk dihancurkan oleh sang tiran.

"Rumah?" Valerius mengulang kata itu dengan nada empati palsu yang luar biasa menjijikkan dan menyayat hati. "Apakah rumah suci itu pernah memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi pada adik perempuanmu, Elara, dua puluh tahun yang lalu?"

Tubuh Lancel seketika membeku kaku di lantai, nama yang baru saja diucapkan Valerius bagaikan mantra yang menghentikan jantungnya.

Elara adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki sebelum gereja mengambilnya, dan ia diberitahu bahwa adiknya tewas karena wabah.

"D-Dari mana kau tahu nama itu, dasar iblis?!" raung Lancel dengan suara yang mulai bergetar karena panik dan bingung. Ia memaksakan diri untuk berdiri terhuyung-huyung, menodongkan pedangnya dengan sisa tenaga yang terus melemah.

Valerius tersenyum sangat lebar, menikmati detik-detik awal keruntuhan mental sang pahlawan keadilan di hadapannya. "Adikmu sama sekali tidak pernah mati karena wabah penyakit, Lancel, itu adalah kebohongan paling busuk dari Uskup Agungmu."

Valerius melangkah maju perlahan, membiarkan aura kegelapan dari mahkotanya menekan jiwa Lancel semakin dalam. "Elara yang malang dijual diam-diam oleh pihak gereja kepada sindikat budak di benua timur untuk membiayai pembangunan katedral baru."

Pernyataan itu menghantam otak Lancel layaknya palu godam raksasa yang meremukkan seluruh kewarasannya seketika. "Itu bohong! Uskup Agung Leoric adalah utusan dewa, dia tidak mungkin melakukan hal sekeji itu!" bantah Lancel histeris.

"Kau bisa menyangkalnya seumur hidupmu, tapi jauh di dalam hatimu, kau tahu bahwa gerejamu sangat haus akan emas," bisik Valerius tajam. Ia mengaktifkan skill 'Lidah Berbisa', memproyeksikan memori masa lalu tersebut langsung ke dalam kornea mata Lancel.

1
Ysya Jeje
roman
Lucy Sandy
seru caritaanya romantis bantaiii
Roy Kkk
bantaiiiiii
King Salman
seru banget
Sarndi Kurma
menarik
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!