Apa jadinya jika saat acara reuni SMA engkau berjumpa kembali dengan seseorang yang dulu pernah engkau sukai? Akankah mengungkit dan mengungkap kembali segala rasa dan kenangan yang perbah ada?
Mas Han, lelaki sholeh dan baik hati begitu mencintai istrinya, Mawar. Hidup berbahagia dalam biduk rumahtangga, meski belum dianugerahi seorang anak. Namun sayang, kebahagiaan itu harus berakhir, ketika diketahui bahwa dia mengidap tumor otak. Dari hasil scaning baru disadari bahwa tumor yang bersarang di kepalanya itu juga menyerang hormon kedlsuburannya. Sehingga menyebabkan Mas Han selamanya tidak akan pernah bisa memiliki keturunan.
Johan, seorang lekai tampan yang memiliki wajah mirip bintang film Bollywood Amir Khan. Pengusaha sukses memiliki tiga orang istri. Meski telah menikah ketampanannya tetap memikat hati kaum hawa. Sehingga tak heran dia selalu dipuja dan digilai banyak perempuan.
Siapa sangka dalam acara reuni SMA, Johan dan Mawar kembali dipertemukan. Ternyata sedari dulu, Johan sudah menyimpan rasa cinta kepada teman sekelasnya, Mawar. Tak ingin kecolongan kali kedua, Johan kembali menyatakan cinta dan berniat menikahi Mawar. Akan kah Mawar menerima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafri Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Penghianatan Sisil
Setelah melewati trimester pertama kehamilan, Johan mengizinkanku kembali mengasuh anak-anak. Masa tiga bulan yang sunyi tanpa suara tangis dan canda tawa mereka. Meski dalam mengasuh dan mendidiknya kali ini, gerakanku tidak segesit dulu. Karena perut yang mulai membesar.
Memasuki trimester terakhir, aku lebih sering membiarkan anak-anak bermain di kamarku. Segala jenis mainan, mulai dari boneka, mobil-mobilan, buku cerita dan berbagai macam alat tulis berserakan di lantai. Tapi aku senang melihat tingkah polah mereka yang lucu dan menggemaskan. Dari pada harus kelelahan, mondar-mandir mengikuti aktifitas gerak mereka yang sangat lincah, tanpa lelah.
-----
Malam menjelang, matahari sudah kembali ke peraduan. Ketika hendak berangkat tidur malam, sayup-sayup kudengar suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah. Aku menajamkan pendengaran, perlahan kubuka tirai jendela. Tampak Johan baru saja menutup pintu mobilnya. Kemudian berjalan menuju pintu utama.
Sejenak aku merasa heran, kenapa malam-malam begini Johan datang ke sini. Karena sesuai kesepakatan bersama, malam ini giliran dia bermalam di rumah Sisil. Mungkinkah terjadi sesuatu?
Segera aku keluar kamar. Kusaksikan Johan berjalan mondar-mandir di ruang tengah, tingkahnya terlihat gusar. Mukanya merah padam, matanya berkilat-kilat tajam seakan hendak menerkam. Aku jadi ngeri melihat ekspresinya kali ini. Sesekali mengusap wajah dan meremas rambutnya. Kemudian berdiri sambil berkacak pinggang. Apa yang dia pikirkan?
"Keterlaluan! Mereka benar-benar keterlaluan." Suara Johan menggeram marah. Tapi untuk siapa kata-katanya itu ditujukan? Aku hanya mematung di pintu kamar. Belum berani untuk mendekatinya.
"Johan ... ada apa?" Karena rasa penasaran akhirnya aku memberanikan diri mendekati sosoknya yang tengah diselimuti api kemarahan.
Seketika Johan mematung. Sepertinya dia terkejut melihat kehadiranku. Perlahan aku mendekati, membimbingnya untuk duduk di sofa. Dia menurut, lalu kami duduk bersama. Kudapati wajahnya masih memerah, sorot matanya masih menyala-nyala. Rahangnya mengeras, menyimpan bara amarah. Aku bangkit, mengambil segelas air putih. Kemudian kuberikan padanya. Diteguknya air itu hingga tandas.
"Apa yang membuatmu marah begini?" tanyaku hati-hati, sambil mengelus bahunya pelan. Mencoba menenangkan.
"Sisil ...," desisnya dingin.
"Kenapa dengan Sisil?" Entah kenapa perasaanku jadi tak enak.
"Dia kabur ke luar negeri bersama mantan pacarnya dulu."
Johan menutup wajah dengan kedua tangannya.
Aku beristigfar dalam hati. Tidak menyangka Sisil akan berbuat seperti ini. Kurasakan kemarahan masih merasuki darahnya. Terdengar dari suara napasnya yang terus memburu. Sesaat aku seperti kehabisan akal untuk membantu meredakan rasa amarah itu. Sebagai seorang lelaki dan suami. Tentu saja egonya merasa diinjak-injak dengan kelakuan Sisil kali ini.
"Sebaiknya kamu berwudhu dan sholat sunnah untuk meredakan amarahmu," saranku, seraya mengusap-ngusap punggungnya perlahan.
Kami berdua melangkah memasuki kamar. Dia langsung ke kamar mandi untuk berwudhu. Sementara aku, membentangkan sajadah lalu menyediakan kain sarung beserta peci. Setelah melakukan sholat sunnah dua rokaat untuk meredakan amarah. Kuberanikan diri duduk bersimpuh di hadapannya. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Tak lupa mengembangkan senyum termanisku. Sepertinya dia sudah agak lebih tenang.
"Semua ini salahku. Mungkin Allah sedang menghukumku." Suaranya terdengar parau. Ada penyesalan di mata elangnya.
"Allah tidak pernah berlaku zholim kepada setiap hamba-Nya. Kecuali, hamba-Nya itu sendiri yang mengania dirinya sendiri."
"Yah ... kamu benar, Mawar. Mungkin selama ini aku telah berlaku zholim pada diri sendiri. Hingga aku harus mengalami hal seperti ini. Benar-benar memalukan," sungutnya bernada emosi. "Bahkan. Aku belum sempat menceraikannya di pengadilan. Tapi dia sudah pergi duluan bersama lelaki itu, tanpa sepengetahuanku," gerutunya lagi.
"Jadikan ini pelajaran buat kita semua. Terutama untuk anak dan cucu kita kelak. Agar menikah dengan niat yang baik, karena Allah. Bukan hanya untuk permainan atau sekedar pelarian saja. Karena menikah tanpa niat yang baik. Rumah tangga yang dibangun akan rapuh."
"Ya ... akibat kesalahan kami sebelumnya. Kini anak-anak yang ikut menanggungkan akibatnya," ucap Johan penuh sesal.
"Sekarang anak-anak bersama siapa?"
"Untuk sementara aku titipkan di rumah Sekar."
"Jika bayi ini sudah lahir nanti. Biarlah anak-anak Sisil tinggal bersamaku. Meski kasih sayang seorang Ibu kandung, selamanya tak tergantikan. Aku akan berusaha mengasuh dan mendidiknya seperti anakku sendiri. Aku yakin, bayi dalam perutku ini akan merasa senang. Karena begitu ia lahir, langsung memiliki dua orang kakak yang imut dan lucu," kataku, sambil mengelus perut yang membuncit.
"Terimakasih, Sayang. Kamu memang kekasih hatiku yang tak tergantikan." Johan menatapku mesra. Mengecup keningku lembut.
Bahagia terasa saat melihat bintang-bintang itu kembali bersinar di matanya. Senyumnya kembali merekah. Aku merasakan, cintaku semakin bertambah-tambah kepadanya.
"Aduh ... sakiiitt!"
Tiba-tiba perutku terasa mulas tak terkira. Serasa ada yang menendang-nendang dinding rahimku. Aku beristighfar menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Kenapa, Sayang. Apa sudah tiba waktunya melahirkan?" tanya Johan cemas. Aku menggeleng, sambil terus mengerang kesakitan. Aku tidak tahu apakah ini tanda mau melahirkan atau bukan.
"Ayo, Sayang. Kita ke rumah sakit saja." Johan kelihatan panik. Dia membantu memakaikan jilbab, juga memasangkan kaos kakiku. Kemudian menggendongku menuju mobil.
"Bertahanlah, Sayang. Sebentar lagi kita sampai." Johan mengelus perutku. Sementara tangannya yang satu lagi, tetap konsentrasi mengendalikan stir mobil. Aku terus mengerang, sesekali menjerit kesakitan. Rasa sakit ini, sungguh tak tertahankan. Beginikah rasanya mau melahirkan?
Sesampai di rumah sakit, dua orang perawat menyambutku. Membawaku ke ruang UGD. Setelah memeriksaku, Bidan jaga memutuskan membawaku ke ruang khusus bersalin. Johan terus mengikuti masuk ke ruang bersalin.
"Ayo, terus Sayang ... terus ... sedikit lagi ...." Dia terus menyemangatiku, tak kalah heboh dari Bidan dan Perawat yang memanduku. Beberapa menit kemudian, entah pada dorongan ke berapa. Akhirnya, kurasakan sesuatu meluncur dari perutku.
"Oooaaaaaa ...."
"Alhamdulillah ...." Johan mendesah girang seraya menciumku berkali-kali.
"Bayinya laki-laki, Pak" kata Bidan memberitahukan.
Syukurlah. Persalinanku berjalan mudah dan lancar. Aku lega. Rasa sakit tak tertahankan. Berganti menjadi kebahagiaan yang tak terhingga. Setelah bayiku dimandikan. Johan mengazankan dengan suara pelan. Kemudian meletakkanya ke dalam box bayi yang ada di sampingku.
------
Paginya, Sekar dengan pakaian kantornya datang menjenguk bersama Inggit. Wajah mereka juga ikut menyiratkan kebahagiaan.
"MasyaAllah, ganteng banget bayinya, Mas." Sekar berdecak gemas.
"Wah ... kayaknya mesti dirayakan tujuh hari tujuh malam, menyambut kelahiran sang Pangeran," seloroh Inggit, seraya mengelus pipi bayiku yang masih memerah.
"Huss ... itu berlebihan namanya."
Sekar mengibaskan tangan, lalu mencium pipi bayiku lagi.
"Kalo aku sih, tergantung Tuan Putri aja gimana maunya." Johan menjawab, sambil melirikku.
"Loh ... kok tuan putri? Terus yang jadi ratunya siapa, dong?" Inggit membulatkan kedua bola mata.
"Yaaa, tetap aku lah!" Seru Sekar senang. Mereka bertiga tertawa bersama. Aku hanya tersenyum saja. Bahagia rasanya, kami berkumpul bersama dalam suasana ceria.