Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Hutang Ciuman
Naomi mengira makan malam bersama Danny dan Michelle sudah menjadi ujian tersulit malam itu.
Ternyata Danny masih punya tenaga untuk membuat masalah baru.
Setelah keluar dari restoran, Danny menunjuk area kecil di lantai bawah yang dipenuhi mesin permainan. Ada mesin basket, capit boneka, dan papan digital untuk permainan tembak-tembakan. Lampu warna-warni berkedip di kaca, suara musik arcade bercampur dengan tawa pengunjung mall.
"Satu ronde saja," kata Danny. "Pasangan baru harus diuji kekompakannya."
Naomi langsung menggeleng. "Tidak perlu."
"Takut kalah?" Danny tersenyum lebar.
"Takut kamu terlalu berisik," kata Michelle datar.
Kelvin tampak tidak tertarik. "Kamu main sendiri."
"Kel, ayolah. Demi kenangan. Kalau lo kalah, traktir dessert."
"Aku tidak kalah."
"Nah, itu baru sombong yang gue kenal."
Entah bagaimana, lima menit kemudian Naomi berdiri di depan mesin basket bersama Kelvin. Danny dan Michelle berdiri di samping, Danny bersiap merekam, Michelle tampak lebih tertarik melihat reaksi Kelvin daripada permainan itu sendiri.
"Aturannya gampang," kata Danny. "Skor gabungan. Kalau kalah dari gue dan Michelle, kalian harus jawab satu tantangan."
"Tantangan apa?" tanya Naomi curiga.
Danny membuka mulut, tapi Kelvin mendahului.
"Tidak ada yang aneh."
Naomi menatapnya. "Kamu yakin?"
"Kalau dia aneh, aku lempar dia ke mesin capit."
Michelle mengangguk tenang. "Aku dukung."
Danny tersinggung. "Kalian ini teman macam apa?"
Permainan dimulai. Naomi tidak buruk, hanya terlalu panik. Bola pertama memantul keluar. Bola kedua mengenai pinggir ring. Kelvin mengambil bola dengan gerakan santai dan memasukkannya hampir tanpa melihat.
"Fokus," katanya.
"Saya fokus."
"Ke ring, bukan ke tanganku."
Naomi hampir menjatuhkan bola ketiga.
Danny tertawa keras. Michelle menutup mulut, tapi bahunya bergetar sedikit.
Pada akhirnya, Kelvin dan Naomi menang tipis. Bukan karena Naomi mendadak mahir, melainkan karena Kelvin mencetak terlalu banyak poin di detik terakhir.
Danny protes bahwa itu tidak adil.
Kelvin mengambil tisu dari mesin, mengelap tangan, lalu menatap Naomi. "Kita menang."
"Kamu yang menang," jawab Naomi jujur.
"Skor gabungan."
"Saya menyumbang tiga bola."
"Cukup."
Danny menunjuk mereka. "Karena kalian menang, gue kasih hadiah. Tantangan buat yang menang boleh ditagih kapan saja."
"Itu hadiah atau ancaman?" tanya Michelle.
"Tergantung yang nagih."
Kelvin melirik Naomi. Naomi langsung merasa tidak enak.
"Tidak perlu," katanya cepat.
"Sudah dicatat," jawab Kelvin.
Naomi ingin bertanya dicatat di mana, tapi ia takut jawabannya lebih berbahaya daripada pertanyaannya.
***
Di mobil menuju Tebet, tantangan itu kembali.
Jakarta malam itu macet seperti biasa. Lampu merah panjang membuat mobil mereka berhenti di dekat deretan toko yang sebagian sudah tutup. Di luar, pengendara motor bergerak di sela kendaraan. Di dalam mobil, udara terlalu sunyi.
Naomi duduk dengan kedua tangan di pangkuan, berusaha tidak mengingat bagaimana Kelvin memasukkan bola demi bola di arcade tadi.
"Tantangannya," kata Kelvin tiba-tiba.
Naomi menoleh. "Apa?"
"Hadiah dari Danny. Aku mau tagih."
"Bukannya itu bercanda?"
"Danny bercanda. Aku tidak."
Naomi menatap profil wajah Kelvin yang diterangi lampu jalan. "Mau apa?"
Kelvin tidak langsung menjawab. Mobil di depan bergerak sedikit, lalu berhenti lagi. Kelvin mengikuti, kemudian menarik rem tangan. Setelah itu, ia menoleh.
"Kalau aku menang permainan berikutnya, kamu cium aku sekali."
Naomi merasa semua suara jalan mendadak hilang.
"Permainan apa?"
"Tebak lampu." Kelvin menunjuk lampu lalu lintas di depan. "Sebelum hijau, tebak berapa detik lagi."
Naomi menatap lampu merah itu dengan panik. "Itu bukan permainan. Itu tidak adil."
"Kamu boleh pilih angka dulu."
"Tidak."
"Takut kalah?"
Kalimat itu jelas meniru Danny. Tapi di mulut Kelvin, rasanya berbeda. Lebih rendah. Lebih dekat. Lebih membuat dada Naomi berantakan.
"Kalau saya menang?" tanyanya, entah mendapat keberanian dari mana.
Kelvin menatapnya. "Kamu boleh minta apa saja."
Apa saja.
Naomi hampir berkata uang, lalu merasa malu pada dirinya sendiri. Hampir berkata jangan panggil Baby, lalu tahu itu bohong karena ia justru menunggu panggilan itu. Hampir berkata jangan membuatku berharap, tapi kalimat itu terlalu benar.
"Saya mau... kamu tidak mengganggu saya selama satu hari."
Kelvin tertawa pelan. "Berat juga."
"Takut kalah?"
Kali ini, Naomi yang mengembalikan kalimat itu.
Mata Kelvin berubah sedikit, seperti ia menyukai jawaban tersebut.
"Pilih angka."
Naomi menatap lampu merah. "Dua belas detik."
"Tujuh."
Mereka menunggu.
Satu.
Dua.
Tiga.
Naomi menghitung dalam hati terlalu cepat. Pada detik ketujuh, lampu masih merah. Ia hampir tersenyum.
Detik kedelapan, lampu berubah hijau.
Kelvin menang.
"Itu delapan," protes Naomi.
"Lebih dekat ke tujuh daripada dua belas."
"Itu curang."
"Itu matematika."
Mobil bergerak. Naomi menatap lurus ke depan dengan wajah panas. Ia kira Kelvin akan langsung menagih, tapi laki-laki itu justru menyetir sampai jalan lebih sepi, lalu berhenti sebentar di depan taman kecil dekat kos Naomi.
Naomi mengenali area itu. Dari sini, ia hanya perlu berjalan lima menit ke gang kos.
Kelvin mematikan mesin.
Sunyi mobil menjadi lebih jelas.
"Kalau tidak mau, bilang tidak," katanya.
Naomi menoleh.
Kelvin tidak tersenyum. Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya serius. Tangannya tidak bergerak mendekat. Ia hanya menunggu.
Jantung Naomi menghantam dada.
Ia bisa berkata tidak.
Seharusnya ia berkata tidak, karena ini palsu, karena semua yang terlalu manis akan berakhir dalam dua bulan, karena ia tidak boleh membiarkan dirinya mengingat sentuhan yang nanti tidak boleh ia miliki.
Namun kata itu tidak keluar.
Naomi menunduk sedikit, lalu mengangguk hampir tidak terlihat.
Kelvin melihat anggukan itu.
"Naomi."
Ia mengangkat wajah.
Kelvin mendekat perlahan, cukup lambat untuk membuat Naomi bisa mundur jika ia mau. Naomi tidak mundur. Tangannya meremas ujung kursi, napasnya tertahan di tenggorokan.
Jari Kelvin menyentuh sandaran kursi di belakang kepalanya, bukan menahan, hanya memberi batas agar ia tidak terbentur. Lalu bibirnya menyentuh sudut bibir Naomi.
Ringan.
Sebentar.
Terlalu sebentar untuk disebut ciuman penuh, tapi terlalu jelas untuk dianggap tidak sengaja.
Naomi memejamkan mata terlambat.
Ketika Kelvin menjauh, dunia masih belum kembali normal.
"Ini baru uang muka," katanya dengan suara rendah.
Naomi membuka mata, bingung dan nyaris tidak bisa bernapas. "Apa?"
Sudut bibir Kelvin naik sedikit.
"Hutang ciumanmu masih banyak yang belum lunas."
Naomi ingin marah. Ingin mengatakan bahwa ia tidak punya utang apa pun. Ingin membuka pintu dan keluar secepat mungkin.
Yang ia lakukan hanya menatapnya dengan wajah panas dan mata kacau.
Kelvin tampak semakin puas.
"Masuk. Sudah malam."
Naomi keluar dari mobil dengan kaki yang terasa tidak sepenuhnya miliknya. Ia berjalan menuju gang kos tanpa berani menoleh. Baru setelah sampai di depan pintu kamar, setelah menguncinya dari dalam, setelah tas kecilnya jatuh ke lantai, ia menyentuh sudut bibirnya.
Di sana tidak ada apa-apa.
Tidak ada bekas.
Tidak ada bukti.
Tapi jantung Naomi tetap berdebar sampai lewat tengah malam, seolah satu ciuman di sudut bibir cukup untuk mengubah seluruh kamar kosnya menjadi tempat yang asing.