NovelToon NovelToon
Wanita Pilihan Sang Ceo

Wanita Pilihan Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noire 23

Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 (21+)

Warning!!! Bab ini mengandung adegan dewasa.

***

Nial kembali ke dalam kabin mobil, membawa masuk embusan angin yang membekukan kulit.

Pintu mobil dibanting rapat, seketika memutus deru badai salju di luar sana. Pria itu menggosok kedua telapak tangannya yang mulai kaku, kemudian menoleh ke samping, menatap Queen yang tampak duduk dengan posisi tubuh yang luar biasa tegap dan kaku.

"Queen, kita benar-benar terjebak di sini untuk sementara waktu. Sinyal ponselku buruk karena cuaca, tapi tenang saja, aku sudah berhasil mengirim pesan teks pada Rayden untuk meminta bantuan segera. Mereka akan datang secepatnya setelah badai agak mereda."

Queen menelan ludah dengan susah payah. Alih-alih menjawab tentang situasi mereka, ia justru memutar tubuhnya, menatap Nial dengan binar mata yang campur aduk—antara gugup, malu, dan menuntut penjelasan. Kedua tangannya meremas ujung mantel wol milik Nial yang melingkari tubuhnya.

"Nial..." panggil Queen, suaranya agak bergetar pelan.

"Hm, ada apa? Kau kedinginan?" Nial mendekat, dahinya berkerut tipis melihat rona merah yang mendadak menjalar di pipi Queen.

Queen menggeleng tipis.

"Aku ... aku tadi lapar, jadi aku membuka kantong belanjaanmu di belakang," aku Queen jujur. Ia menjeda kalimatnya sejenak, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa sebelum akhirnya mengambil kembali tas belanjaan di belakang.

Nial hanya diam. Menunggu.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Queen mengeluarkan kotak kecil berwarna merah-hitam yang sempat ia sembunyikan tadi, lalu menyodorkannya tepat di depan dada Nial.

"Bisa jelaskan padaku, untuk apa kau membeli ini?"

Nial mengernyit, pandangannya turun, menatap kotak Premium Cond*ms - Ultra Thin yang kini berada di antara mereka.

Otaknya mendadak blank selama beberapa detik. Memorinya berputar cepat, kembali ke kejadian di kasir supermarket beberapa menit yang lalu.

"...toko kami sedang mengadakan promo khusus hari ini. Anda berhak mendapatkan hadiah gratis berupa sepasang pengaman..."

"Tidak perlu. Tolong cepat masukkan saja semuanya ke dalam kantong. Aku sedang terburu-buru."

Rahang Nial mengeras. Pria itu baru menyadari kebodohannya sendiri karena mengabaikan ucapan si kasir sialan itu.

"Jangan menatapku seolah-olah aku pria mesum yang merencanakan ini, Queen," suara Nial merendah menjadi bariton yang tenang namun tegas. "Benda sialan ini bonus dari kasir supermarket tadi karena aku membeli paket minuman. Aku bahkan tidak sudi meliriknya saat dia memasukkan semuanya ke dalam kantong."

Queen masih terdiam, menatapnya dengan binar mata yang campur aduk.

"Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izinmu, oke? Aku akan membuang benda ini sekarang juga."

Nial berbalik, tangannya bergerak menekan tombol untuk menurunkan sedikit kaca jendela mobil. Ia sudah bersiap melemparkan kotak merah-hitam itu ke tengah hamparan salju di luar sana.

Namun, tepat saat celah jendela terbuka dan angin yang dingin mulai berembus masuk, sebuah suara cicitan lembut memecah keheningan kabin.

"Mau mencobanya?"

Gerakan tangan Nial terhenti seketika di udara.

Dunia seolah berhenti berputar.

Nial mengerjap, mendadak merasa fungsi pendengarannya mengalami gangguan akibat suhu minus. Ia perlahan menolehkan kepalanya kembali ke samping, menatap lurus ke dalam manik mata Queen untuk memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.

"Apa kau bilang?" tanya Nial, suaranya mendadak berubah menjadi berat.

Queen menggigit bibir bawahnya, merutuki keberanian gila yang entah datang dari mana.

"Daripada dibuang..." Queen berbisik pelan, nyaris tak terdengar, namun sanggup meledakkan seluruh kewarasan Nial dalam satu detik. "Mau mencobanya?"

Klik.

Nial langsung menekan tombol jendela hingga tertutup rapat kembali, mengunci mereka berdua dalam keheningan yang mendadak terasa luar biasa panas. Kotak di tangannya ia hempaskan begitu saja ke dasbor mobil.

"Sial, Queen!"

Umpatan itu lolos begitu saja dari bibir Nial bersamaan dengan habisnya seluruh batas kesabaran yang ia pertahankan sejak malam tadi.

Tanpa aba-aba, tangan kekar Nial bergerak secepat kilat merengkuh pinggang Queen, menarik tubuh wanita itu dengan satu sentakan kuat hingga terangkat dan berpindah ke atas pangkuannya.

Brak.

Punggung Queen membentur kemudi mobil yang sempit, namun Nial sama sekali tidak memberikan jarak.

Ia mencengkeram rahang Queen dengan jemarinya yang hangat, mendongakkan wajah wanita itu agar menatap lurus ke dalam manik mata gelapnya yang kini dipenuhi kabut gairah.

"Kau tidak boleh menarik kembali kata-katamu, Queen,"

Gluk.

Queen menelan ludah.

Satu sudut bibir Nial terangkat, membentuk seringai tipis yang luar biasa seksi. "Kau yang memulainya, jadi jangan pernah berpikir aku akan melepaskanmu sebelum badai di luar sana benar-benar reda."

Detik berikutnya, ia langsung menyambar bibir ranum wanita itu dengan ciuman yang luar biasa menuntut dan dalam.

"Eungh..."

Desahan pertama Queen lolos begitu saja, teredam di dalam lumatan panas Nial saat lidah pria itu mulai menyusup egois, mengabsen setiap sudut manis di dalam mulut Queen.

Tangan kekar Nial bergerak liar. Satu tangannya mencengkeram erat tengkuk Queen, memperdalam tautan bibir mereka, sementara tangan lainnya turun meraba paha Queen, menyusup di balik mantel tebal dan meremasnya dengan possessif.

"Ngh, Nial ... pelan—ah..." Queen melenguh pasrah di sela-sela ciuman mereka saat Nial beralih menurunkan bibirnya ke rahang tegas Queen, lalu memberikan sesapan-sesapan basah yang kuat di ceruk lehernya.

"Tidak kali ini, Sweetheart," bisik Nial. Napasnya yang memburu dan terasa panas membuat bulu kuduk Queen meremang.

"Ah! Nial, hhh..."

Kabin mobil sport yang sempit itu mendadak terasa seperti tungku api. Udara dingin di luar seolah tak lagi berarti.

Suara decapan basah dari pagutan mereka dan deru napas yang saling berburu memenuhi ruang sempit tersebut.

Nial menarik resleting pakaian Queen dengan satu gerakan tidak sabaran, mengekspos kulit mulus wanita itu ke udara kabin. Begitu telapak tangan Nial yang hangat menyentuh kulit telanjang Queen, tubuh wanita itu refleks melengkung, merapatkan dirinya tanpa celah ke dada bidang Nial.

"Kau sangat hangat, Queen ... sial, kau membuatku gila," geram Nial rendah, suaranya benar-benar pecah oleh gairah yang sudah di ujung tanduk.

Queen menatapnya lekat, tangannya perlahan merayap turun kemudian berhenti di tengah.

"Punyamu keras sekali, Nial." Queen menurunkan resleting celana Nial, menggenggam milik pria itu yang sudah menegang hebat, lalu mengocoknya perlahan.

Nial memejamkan mata, tubuh tegapnya refleks bersandar pada kursi kemudi, memberikan ruang lebih bagi Queen yang kini memegang kendali penuh di atas pangkuannya.

"Oh, Shit!"

Nial mendongak, menatap Queen dengan manik mata yang sepenuhnya menggelap—tajam, posesif.

"Jangan berhenti, sweetheart," geram Nial rendah, suara baritonnya yang pecah bergetar tepat di depan bibir Queen. "Sekarang, masukkan lalu bergeraklah!"

Queen menggigit bibir bawahnya erat-erat, menatap ragu ke dalam sepasang mata elang di hadapannya. Ada ketakutan samar yang tersorot dari binar matanya—khawatir jika ia akan mengecewakan pria itu. Sepanjang kedekatan mereka, Queen belum pernah bercint@ dengan Nial dalam posisi dirinya memegang kendali penuh di atas tubuh tegap sang Ceo.

"Aku ... aku akan bergerak, tapi aku tidak menjamin kalau gerakanku—"

Cup.

Ucapan Queen terhenti seketika. Nial memotong kalimat itu tanpa ampun, menyambar bibirnya dengan satu ciuman yang luar biasa brutal dan menuntut.

Lidah Nial menyusup kasar, mengabsen rongga mulut Queen dengan lumatan-lumatan panas.

Setelah cukup puas, Nial melepaskan pagutan mereka, menyisakan benang saliva yang terputus di udara.

"Kau tahu cara menunggangi kuda?" tanya Nial parau.

Queen mengerjap, menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya mengangguk pelan dalam dekapan pria itu.

Satu sudut bibir Nial terangkat, membentuk sebuah seringai tipis yang luar biasa seksi dan mendominasi. Kedua tangan kekarnya turun, mencengkeram pinggang Queen dengan cengkeraman posesif yang begitu kuat, mengunci posisi wanita itu tepat di atas kejantannya yang berdenyut tegang.

"Anggap aku adalah kuda itu, Queen,"

"...Aku akan mencobanya. Tapi—bagaimana dengan pengamannya?" Tanya Queen, terbata - bata.

"Aku tidak butuh itu, sweetheart. "Sekarang—" Nial memberi aba - aba. "Tunggangi aku. Secepat dan seliar yang kau bisa."

Perintah gila itu seketika meruntuhkan sisa kewarasan Queen. Dengan adrenalin yang berlipat ganda, Queen menegakkan tubuhnya. Ia mencengkeram kuat pundak kokoh Nial, lalu mulai mengayunkan pinggulnya naik-turun dengan ritme yang lebih berani dan menuntut.

"Ahhh! Nial ... hhh!"

Desahan pasrah Queen pecah seketika, menggema di dalam kabin mobil yang terasa kian membakar.

Di bawah kendali penuh Queen, Nial hanya bisa mengerang berat, menikmati bagaimana wanitanya bergerak liar menaklukan dirinya di tengah amukan badai salju.

"S-sial, Queen ... ahhh!"

Erangan frustrasi lolos begitu saja dari tenggorokan Nial. Sepasang mata elangnya yang biasa menatap tajam kini bergetar hebat, setengah terpejam menahan gelombang kenikmatan yang datang terlalu bertubi-tubi.

Kedua tangan kekarnya yang semula mencengkeram pinggang Queen dengan mantap, mendadak bergerak kalang kabut—bingung harus berpegangan di mana karena sensasi yang terlalu intens ini.

"Ughh... kau sempit sekali,"

Tangan Nial naik meremas bahu Queen, lalu turun lagi ke paha wanita itu, sebelum akhirnya mencengkeram pinggiran kursi kemudi dengan sangat erat hingga urat-urat di lengannya menonjol ekstrem dan buku jarinya memutih.

"... pelan sedikit, Sweetheart... fuck, hhh..."

Nial terbata-bata, napasnya benar-benar putus-putus. Suara baritonnya yang biasa terdengar penuh perintah kini pecah dan parau, terdengar seperti pria yang sedang memohon ampun.

Queen yang sama sekali tidak memberinya celah untuk bernapas. Setiap kali Queen turun dan menekan kej@ntannya dengan presisi, kepala Nial refleks mendongak pasrah ke belakang, menabrak sandaran kursi dengan napas yang memburu parah.

"Queen... sebentar—nghh, sialan, aku bisa keluar sekarang kalau kau se-seperti ini..." geram Nial dengan wajah yang memerah dan rahang yang mengeras total.

Bukannya melambat, Queen justru semakin menegakkan punggungnya, mencengkeram erat bahu kokoh Nial, dan menghentakkan pinggulnya dengan ritme yang jauh lebih dalam dan menuntut.

"Ahhh ... Nial ... hhh!" Queen mendesah hebat, matanya terpejam erat saat merasakan bagaimana tubuh tegap di bawahnya bergetar menerima serangannya.

"Queen ... fuck... ahh!"

Nial benar-benar hancur. Pertahanan esnya meleleh total menjadi cairan gairah yang mendidih. Ia tidak pernah mengira bahwa menyerahkan kendali pada Queen akan senikmat dan semematikan ini.

"Ahhh... Nial... hhh, ini... terlalu..." Queen tidak bisa lagi melanjutkan kalimatnya. Tubuhnya gemetar hebat di atas pangkuan pria itu, kewarasannya terkikis habis oleh kenikmatan gila yang ia ciptakan sendiri.

Nial tidak bisa lagi hanya diam menjadi penonton pasif. Kedua tangan kekarnya langsung naik, mencengkeram pinggang Queen dengan begitu erat dan posesif, mengunci pergerakan wanita itu agar gesekan di bawah sana terhantam lebih dalam dan presisi.

"Bergerak lebih cepat, Sweetheart ... nghh, tepat seperti itu," perintah Nial.

Di puncak ketegangan yang membakar kabin, saat dinding-dinding pertahanan mereka nyaris runtuh sepenuhnya, sebuah sorot lampu bertenaga tinggi tiba-tiba memotong kabut sore.

Vrooom!

Suara raungan mesin mobil besar terdengar berhenti tepat beberapa meter di belakang mereka.

Itu Rayden. Bantuan telah tiba.

"Ah! N-Nial ... hhh, ada mobil..." Queen terkesiap di tengah lenguhannya. Tubuhnya menegang seketika, dan ia refleks berusaha menghentikan ayunan pinggulnya.

Ketakutan dan kepanikan mendadak menyergapnya, berniat untuk segera turun dari pangkuan Nial dan merapikan pakaiannya yang berantakan.

Namun, Nial tidak membiarkan itu terjadi.

Cengkeraman tangan kekar Nial di pinggang Queen justru semakin mengencang, mengunci tubuh wanita itu agar tetap menempel tanpa celah pada kejantan@nnya yang berdenyut tegang.

"Jangan berhenti, Queen," geram Nial rendah, suara baritonnya bergetar tepat di depan bibir Queen.

"Tapi ... Rayden ... nghh ... di luar..." Queen meremas bahu Nial, napasnya tersengal parah antara rasa malu yang memuncak dan kenikmatan yang terus menuntut.

Kaca mobil mereka memang gelap dari luar, namun keberadaan orang lain di dekat mereka membuat sensasi ini menjadi seribu kali lebih menegangkan.

"Persetan dengan Rayden. Dia tidak akan berani mendekat ke mobil ini," bisik Nial, urat-urat di lehernya menegang hebat saat ia justru mendorong pinggul Queen ke bawah, memaksa wanita itu menerima sentuhan yang lebih dalam.

Nial menyunggingkan seringai tipis yang luar biasa seksi dan berbahaya di sela napasnya yang memburu. "Selesaikan apa yang sudah kau mulai, Sweetheart. Terus bergerak."

Akhirnya, Queen terus mengayunkan tubuhnya di atas pangkuan Nial. Kali ini lebih cepat, lebih dalam, dan jauh lebih menuntut.

"Ahhh! Nial... hhh!"

Desahan pasrah Queen pecah.

Di luar sana, lampu mobil bantuan terus menyala, memayungi mereka yang sedang bertarung mencapai puncak pelepasan paling panas dan menggetarkan di tengah badai salju.

Nial mencengkeram pinggang Queen dengan kekuatan penuh, menahan hantaman terakhir yang begitu dalam dan mengunci tubuh wanita itu tanpa menyisakan jarak terkecil pun.

"Fuck, Queen ... nghh... kita keluar bersama."

"Ahhhhhh!"

Erangan berat terdengar dari bibir keduanya.

Nial merengkuh tubuh Queen semakin erat ke dalam dekapannya, menikmati sisa-sisa kedutan nikmat yang perlahan menyurut di tengah deru napas mereka yang masih saling berkejaran di dalam kabin yang panas.

Tok! Tok! Tok!

Bunyi ketukan sopan namun tegas di kaca jendela membuyarkan sisa-sisa keheningan pasca-badai gairah di dalam kabin.

Di balik kaca yang berembun pekat, siluet tegap Rayden berdiri tegak dengan payung di tangan, menunggu instruksi dengan profesionalisme tingkat tinggi.

Queen tersentak, wajahnya yang semula masih sayu akibat pelepasan seketika kembali memanas karena terkejut. Ia refleks menyembunyikan wajahnya di dada bidang Nial.

Nial  melonggarkan sedikit pelukan eratnya pada pinggang Queen, kemudian menunduk untuk mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan penuh kehangatan di kening wanita itu.

"Rapikan pakaianmu, Sweetheart," Nial membantu Queen berpindah kembali ke kursi penumpang di sampingnya dengan sangat hati-hati.

Dengan cekatan, Queen langsung membetulkan pakaiannya yang sempat berantakan, menarik resletingnya ke atas, dan kembali membungkus dirinya dengan coat wol tebal milik Nial hingga ke leher.

Sementara itu, Nial dengan tenang membetulkan letak kemeja short-sleeve miliknya yang sedikit kusut.

Setelah memastikan penampilan mereka berdua benar-benar rapi tanpa cela, Nial menekan tombol untuk membuka kunci, lalu mendorong pintu kemudi dan turun dari mobil.

Hawa sedingin es langsung menyergap, namun Nial berdiri dengan tegak, seolah suhu minus di hutan itu tidak ada artinya dibanding panas yang baru saja ia lalui di dalam kabin.

"Tuan, tim evakuasi sudah saya datangkan di depan," lapor Rayden dengan wajah datar dan formal, sama sekali tidak melirik ke dalam mobil atau membahas fakta bahwa ia sempat menunggu beberapa menit di luar. "Mobil derek juga sudah siap jika Anda ingin memindahkan kendaraan."

"Sebentar lagi," kata Nial rendah. Ia menyalakan sebatang rokok kemudian mengisapnya dalam-dalam, mencoba menetralisir rasa mint dan kehangatan yang masih tertinggal di dadanya.

Dari dalam mobil, Queen memperhatikan interaksi kedua pria itu melalui celah kaca yang sedikit terbuka. Tatapannya tertuju lurus pada Nial.

Wanita itu tiba - tiba tidak bisa menahan diri. Sebuah tawa kecil yang geli spontan lolos dari bibirnya.

"Lihat aktingnya, astaga. Bagaimana bisa dia bersikap tenang seolah tidak terjadi apa - apa?!"

1
Mia Camelia
semoga dady nya queen kasih restu ke quen and niel🥰
Mia Camelia
yaah ketauan deh😂😂😂
Mia Camelia
nial mode cemburu tuh ada rexi🤔🤣
Mia Camelia
hahaha niel bisa aja mencari kesempatan dalam kegelapan kolong meja🤣🤣🤣
Mia Camelia
ya ampun ternyata sempat hadir nial junior yah🤔🤔🤔
Mia Camelia
hahaha rayden berani bongkaran aib nial kalo ada britania,🤣🤣🤣
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰
Mia Camelia
nial gercep banget sih, queen jadi takut itu🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰
Mia Camelia
lari queen🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
Mia Camelia: semangat ya thor😄😄
semoga lolos kontrak, aku doaiin biar lancar, biar bisa lanjut lagi cerita nya👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!