NovelToon NovelToon
PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Transmigrasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: subspace_illusion

Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GUNUNG SEMERU (1)

Keesokan harinya di Balairung Utama Kerajaan Dharmasraya, keputusan resmi akhirnya diketuk. Di hadapan para perwira dan pejabat keraton, aku dan Raja Srimat Trailokyaraja menandatangani gulungan kesepakatan penyerahan kekuasaan atas Ujung Medini. Tabung perak berisi dokumen resmi itu kini berpindah ke tanganku.

"Kirimkan armada kapalmu ke salah satu pelabuhan di Jawa dalam waktu tujuh hari dari sekarang," ucapku mantap pada Sang Raja. "Di sana, puluhan ribu persenjataan dan zirah yang kita sepakati sudah siap diangkut."

Srimat Trailokyaraja mengangguk puas, mengutus para jenderalnya untuk bersiap-siap. Tanpa membuang waktu lebih lama, aku segera berpamitan dan melangkah meninggalkan wilayah Sumatra.

Aku tidak langsung kembali ke istana Singhasari untuk menemui Rimbu atau Anusapati. Menggunakan "Ajian Saipi Angin", aku melesat cepat menuju kawasan sekitar Gunung Semeru.

Tujuanku ke sini sudah jelas: memperalat kawanan jin dan siluman penghuni gunung sakral ini. Kalau dalam catatan sejarah masa depan orang-orang memanfaatkan tenaga mahluk halus untuk membangun candi atau situs megah dalam semalam, maka otak modernku punya gagasan yang jauh lebih praktis. Aku akan memperalat kekuatan gaib mereka untuk menempa puluhan ribu senjata baja dan zirah tempur kualitas tinggi secara instan.

Namun, untuk mendatangi sarang mereka, aku butuh 'alasan' dan panggung yang pas agar posisi tawarku tetap mutlak.

Aku mengubah penampilanku, menyamar menjadi seorang pengembara berpakaian rakyat biasa, lalu berjalan santai ke pemukiman warga di kaki Semeru. Di sana, aku melihat beberapa anak kecil sedang asyik bermain tanah.

Aku mendekati mereka sambil memutar-mutar beberapa keping uang perak di jemariku. Berkilat manis disengat cahaya sore.

"Kalian sedang main apa" tanyaku sambil tersenyum tipis. "Kalau kalian berani bermain di tebing batas hutan Semeru sana sampai matahari benar-benar tenggelam dan malam tiba, keping-keping perak ini bakal jadi milik kalian."

Anak-anak desa yang polos dan haus tantangan itu langsung berbinar-binar melihat uang perak di tanganku. Tanpa berpikir panjang, mereka berseru setuju dan langsung berlari gembira menuju area bawah tebing hutan Semeru.

Ketika malam benar-benar jatuh dan kegelapan membungkus kaki gunung, kepanikan pecah di desa. Para orang tua berlarian kesana-kemari membawa obor, memanggil-manggil nama anak mereka dengan suara bergetar ketakutan. Suasana makin mencekam karena area Semeru dikenal sangat angker dan dihuni oleh kerajaan iblis yang tak segan menyesatkan manusia.

Di tengah riuhnya tangisan para ibu, inilah saatnya aku memulai aksi utama.

Aku melangkah menjauhi kerumunan warga, menerobos pekatnya hutan Semeru hingga tiba di wilayah perbatasan ghaib. Di depanku, udara malam terasa sangat dingin dan menusuk tulang, tanda adanya dinding dimensi ghaib yang menyembunyikan sarang para siluman.

Aku menatap kosong ke arah udara hampa tersebut, menyunggingkan senyum dingin.

Aku menancapkan dua jari tanganku ke udara kosong, lalu merobek portal ghaib itu secara paksa bagaikan menyobek lembaran kain tua. Udara bergetar hebat, disusul suara dentuman gaib yang bergema memecah kesunyian malam. Selubung ilusi hancur berantakan, menyingkapkan sebuah gerbang alam gaib yang gelap dan sarat dengan hawa mistis pekat.

Dengan dalih "mencari anak-anak warga yang hilang", aku melangkah santai memasuki wilayah istana siluman Semeru. Saatnya memaksa para penghuni dimensi ini menjadi kuli pandai besi perasanku.

Langkahku di dalam lorong dimensi gaib Semeru mendadak terhenti ketika tiga sosok siluman berwajah mengerikan dengan taring mencuat dan zirah berkarat melompat turun dari tebing batu. Mereka adalah penjaga gerbang bagian dalam.

"Berani sekali manusia bau kencur melangkah ke tanah ini!" gertak salah satu siluman berdada bidang dengan suara berat bergema. "Untuk apa kau datang, Manusia?"

Aku bersedekah tangan, menatap mereka santai tanpa riak takut. "Mencari anak-anak yang kalian culik malam ini."

Siluman di tengah tertawa terkekeh, suara tawa parau yang memicu bulu kuduk merinding. "Anak-anak yang sudah melangkah melewati batas wilayah kami otomatis menjadi milik kami! Mereka akan jadi santapan istimewa malam ini."

Aku menggeleng pelan, menyunggingkan senyum tipis. "Mereka masih punya keluarga. Mereka milik orang tua mereka, bukan milik kalian."

"Bicara omong kosong! Pergi sebelum kami membantai"

Malas mendengar dialog konyol yang tak ada habisnya, aku melangkah maju menerobos barisan mereka. Ketiga penjaga itu langsung menggeram murka dan menodongkan tombak serta pedang besar mereka tepat ke arah dadaku.

"Kalian yang duluan ya..." gumamku halus.

Aku menepuk tanganku sekali ke udara.

Gumpalan petir menyambar dari langit gaib yang pekat. Seekor naga kecil bersisik keemasan meluncur turun bagai kilat melingkari lenganku, lalu meledak dalam pendar cahaya menyilaukan dan bertransformasi menjadi sebilah pedang berukir rumit.

Aku memegang hulu pedang itu dengan mantap. "Bharadasura."

Tanpa buang waktu, aku mengayunkan pedang itu satu kali secara mendatar ke udara kosong di hadapanku.

Bukan tebasan fisiknya yang mengenai mereka, melainkan gelombang aura pekat bercampur gumpalan angin pemotong dimensi yang terpancar dari mata bilah Bharadasura. Seketika, zirah besi dan tubuh ketiga penjaga ghaib itu terkoyak berantakan bagaikan kertas ditiup angin topan. Darah hitam menyembur, membasahi ubin batu sebelum tubuh mereka hancur menjadi abu gaib.

Suara dentuman tebasan Bharadasura bergema luas ke seluruh penjuru istana ghaib. Dalam hitungan detik, sirene gaib meraung-raung.

Dari balik kegelapan lorong-lorong batu dan puncak-puncak tebing, ribuan siluman, jin, raksasa berwajah kerbau, hingga iblis bertanduk merayap keluar bagaikan kawanan rayap yang sarangnya diusik. Mata merah mereka menyala pekat di tengah kegelapan, mengunci sosokku yang berdiri sendirian di tengah pelataran batu.

"Bantai manusia itu!"

"Cincang dagingnya!"

Ratusan siluman melompat serentak dari atas tebing, mengacungkan kapak, gada, dan tombak bermata ganda.

Aku tidak bergeming. Dengan tangan kanan memegang Bharadasura yang membara oleh kilatan petir keemasan, aku menghentakkan kaki kiriku ke tanah.

Gelombang tekanan angin menghantam sekelilingku, menerbangkan gelombang pertama siluman yang melompat. Sebelum mereka sempat mendarat kembali, tubuhku sudah bergerak membelah bayangan menggunakan "Ajian Saipi Angin".

Langkahku menjadi tak kasatmata. Yang terlihat oleh kawanan iblis itu hanyalah guratan-guratan cahaya emas yang meliuk-liuk cepat di antara barisan mereka.

*SLAASSH! BZZZZT! SLAASSH!*

Bharadasura menari-nari liar. Setiap tebasan tidak hanya memotong tubuh lawan, tetapi juga melepaskan ledakan plasma gaib yang membakar puluhan siluman di sekitarnya hingga gosong. Raksasa bertubuh setinggi lima meter mencoba memukulkan gada nya dari belakang, namun aku melompat di atas gada tersebut, berlari kencang menyusuri lengannya, dan menancapkan Bharadasura tepat di tengah jidatnya.

Kepala raksasa itu meledak dalam pendar cahaya. Aku melompat turun dari tubuhnya yang ambruk, berputar di udara sambil melepaskan tebasan melingkar 360 derajat. Gelombang aura sabit raksasa menyapu ratusan jin di barisan depan, memotong benteng pertahanan mereka menjadi puing-puing berdarah.

1
blue.rose
Suka banget sama Sena, kelihatannya aja polos dan suka merendah, tapi aslinya diam-diam mematikan. liciknya itu elegan, nggak cuma modal otot tapi pake otak juga. dalang dari segala kejadian deh pokoknya, seru abis.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
Victoria
alur cerita punya pacing yang pas banget. elemen fiksi sejarahnya kuat, tapi dikemas modern dengan konflik emosional dan kejutan plot yang bikin penasaran di tiap bab. karakter utamanya tegas dan punya pendirian.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!