NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Darren Kembali

Namun orang yang menginginkan ia tenggelam malam ini adalah Ethan Wijaya.

Kesimpulan itu tertanam di kepala Naomi bahkan ketika dokter keluarga Wijaya memeriksa paru-parunya di kamar tamu sayap timur. Tubuhnya sudah dibungkus selimut tebal, rambutnya masih lembap, dan tenggorokannya terasa seperti digesek pasir setiap kali ia menelan.

Giselle berdiri di dekat jendela dengan jaket kulit basah yang menetes ke lantai. Makeup matanya luntur, tetapi ia menolak pergi ganti baju.

"Gue bilang ini harus lapor polisi," katanya untuk ketiga kalinya.

Dokter menatapnya tidak nyaman. "Nona Giselle, kita perlu menunggu keluarga utama..."

"Keluarga utama apaan? Orang hampir mati di danau belakang."

Naomi batuk pelan.

Giselle langsung menoleh. "Lo jangan ngomong dulu. Suara lo udah kayak radio rusak."

Naomi hampir tersenyum, tetapi lehernya sakit. Di kulitnya, bekas cekikan mulai tampak merah keunguan. Dokter memeriksanya dengan wajah makin serius.

"Ada tekanan di bagian depan leher," katanya pelan. "Nyonya Naomi perlu observasi. Kalau ada sesak, pusing berat, atau muntah, harus ke rumah sakit."

"Tulis laporan medis lengkap," ujar Naomi serak.

Dokter terkejut. "Nyonya?"

"Tulis semuanya. Leher, paru-paru, air masuk. Jangan ada yang hilang."

Giselle menatapnya, lalu senyumnya muncul sedikit. "Oke. Lo ternyata bukan cuma cantik."

Di Singapura, Darren menerima sinyal darurat pada pukul sebelas lewat dua puluh tujuh menit.

Ia sedang duduk di ruang rapat hotel dengan tiga direktur Singapura dan layar kontrak terbuka di depannya. Ponselnya bergetar lima kali berturut-turut, pola yang ia atur sendiri untuk Naomi. Dalam detik yang sama, lokasi terakhir muncul: taman belakang Wijaya Estate.

Lalu sinyal bergerak kacau dan mati.

Darren berdiri begitu cepat sampai kursinya terbalik.

Billy yang berada di samping langsung pucat. "Bos?"

"Pesawat. Sekarang."

"Kontrak..."

Darren menatapnya. Billy langsung menutup laptop.

Jason menerima telepon Darren dua menit kemudian dan hanya mendengar satu kalimat.

"Naomi di danau."

Tidak ada penjelasan lain yang dibutuhkan.

Dalam dua puluh menit, jet pribadi Wijaya Group disiapkan. Dalam perjalanan ke bandara, Darren menelepon Arman. Tidak tersambung. Menelepon Naomi. Tidak tersambung. Menelepon nomor internal estate. Jawaban yang ia terima terpotong-potong: Nyonya jatuh, dokter datang, kondisi sadar, jangan panik.

Jangan panik.

Darren hampir menghancurkan ponsel di tangannya.

Ia tidak ingat banyak dari penerbangan itu. Hanya suara mesin, napas Billy yang tertahan, dan tangannya sendiri yang gemetar di atas lutut. Berkali-kali ia membuka foto lokasi terakhir Naomi. Titik merah di dekat danau belakang. Tempat yang sudah ia larang Naomi datangi sendirian.

Saat mobilnya memasuki Wijaya Estate menjelang subuh, langit masih abu-abu.

Darren turun sebelum mobil benar-benar berhenti.

Helena berdiri di ruang utama dengan wajah tegang, Felicia di belakangnya, Bryan masih memakai piyama. Ethan juga ada di sana, kemeja putihnya rapi, sapu tangan abu-abu di tangan. Ia terlihat seperti orang yang terbangun karena kabar buruk keluarga.

"Darren," ucap Ethan lembut. "Naomi sedang diperiksa dokter. Dia sadar."

Darren melewatinya tanpa menjawab.

Ethan tidak menahan.

Kamar tamu sayap timur dijaga dua pengawal. Begitu melihat Darren, mereka menunduk dan membuka pintu.

Naomi duduk di ranjang dengan selimut di bahu. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna, dan rambutnya masih sedikit basah di ujung. Namun yang membuat Darren berhenti bernapas adalah lehernya.

Bekas merah keunguan melingkar di kulit putih itu.

Sesuatu di dalam Darren putus.

"Nao."

Naomi mengangkat wajah. Saat melihatnya, ketegangan yang ia tahan sejak danau akhirnya retak. Matanya memerah.

"Kamu pulang."

Darren berjalan ke arahnya dengan langkah yang nyaris tidak stabil. Ia ingin memeluknya, tetapi berhenti tepat di depan ranjang, takut menyentuh bagian yang sakit.

"Boleh?" tanyanya, suara serak.

Naomi mengangguk.

Baru setelah itu Darren memeluknya. Sangat pelan. Sangat hati-hati. Seolah tubuh Naomi terbuat dari kaca yang sudah retak.

Naomi menempelkan dahi di bahunya. "Aku hidup."

Kalimat itu seharusnya menenangkan. Justru membuat Darren gemetar lebih keras.

"Siapa?" tanyanya.

Naomi menutup mata. "Bukan tangan Ethan."

Darren mengangkat kepala.

"Aku tidak melihat wajah orang yang mendorongku," lanjut Naomi, suaranya serak. "Tapi aku melihat Ethan di balkon. Dia melihat semuanya. Dia tidak memanggil bantuan. Dia hanya menunggu."

Ruang itu terasa kehilangan udara.

Giselle, yang masih berdiri dekat jendela, mengangkat tangan. "Gue lihat orang di balkon juga. Jauh, tapi kemeja putih. Dan sumpah, gue nggak sedang halu karena mau party."

Darren menoleh padanya. "Kamu yang menyelamatkan Naomi?"

Giselle mengangkat bahu, tiba-tiba canggung. "Kebetulan gue lewat."

"Terima kasih."

Dua kata itu keluar dari Darren dengan berat yang membuat Giselle diam. Ia menggaruk kepala, tidak tahu harus menjawab apa.

"Ya... jangan bilang Mama gue soal party."

Naomi batuk kecil, kali ini hampir tertawa. Darren tidak bisa tertawa. Matanya kembali ke leher Naomi, dan kemarahan di wajahnya membuat dokter yang berdiri di sisi ruangan mundur setengah langkah.

"Arman?" tanya Darren.

Billy yang baru masuk menjawab cepat. "Sadar, Bos. Ada benturan di kepala, tapi dokter bilang tidak kritis. Dia bersikeras ingin bertemu Bos setelah diperiksa."

Darren menoleh pada dokter. "Laporan medis Naomi?"

Dokter segera menyerahkan map tipis. "Sudah saya tulis sementara. Ada indikasi tekanan pada leher, aspirasi air ringan, dan memar di lutut. Saya sarankan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit."

"Buat salinan digital. Kirim ke pengacaraku dan simpan satu di server Wijaya Group." Suara Darren dingin. "Tidak ada satu baris pun yang diubah atas permintaan siapa pun di rumah ini."

Dokter menunduk cepat. "Baik, Pak Darren."

"Bawa dia nanti." Darren menatap Naomi. "Ceritakan dari awal."

Naomi memegang tangannya. "Kamu harus tenang."

"Tidak bisa."

"Dar."

"Jangan minta aku tenang saat ada bekas tangan di lehermu."

Naomi terdiam.

Darren menutup mata, memaksa napas masuk. Aturan mereka. Jangan menghukum diri sendiri. Jangan memutus percakapan. Jika panik, bilang.

"Aku panik," katanya akhirnya.

Naomi menggenggam tangannya lebih erat. "Aku tahu."

"Aku marah sampai ingin membakar rumah ini."

"Aku tahu."

"Tapi aku akan mendengarkanmu dulu."

Naomi menatapnya dengan mata basah. Lalu ia bercerita. Tentang Lila. Tentang pesan pada Darren. Tentang Arman. Tentang alarm pintu barat, gazebo kosong, lampu padam, tangan di mulut, kain di leher, air danau, kalung ayahnya, suara Giselle, dan Ethan di balkon.

Setiap kalimat membuat Darren semakin diam.

Diamnya bukan tenang. Diamnya adalah badai yang menunggu pintu dibuka.

Ketika Naomi selesai, Darren berdiri.

Naomi langsung menarik tangannya. "Darren."

Ia berhenti.

"Jangan pergi sendiri."

Darren menatapnya. Mata rubahnya merah, tetapi suaranya turun menjadi sangat pelan.

"Aku tidak akan pergi sendiri."

Ia menoleh pada Billy.

"Bangunkan semua orang di Rumah Besar."

Billy menelan ludah. "Sekarang, Bos?"

"Sekarang." Darren menatap pintu, seluruh tubuhnya bergetar oleh amarah yang ditahan. "Tidak ada yang tidur setelah mencoba membunuh istriku."

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!