NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021

Tidak Pantas

Pintu ruang keterangan tertutup pelan.

Sekar masih berdiri di tempat yang sama, tangan menggenggam tisu basah yang sudah dingin. Bau antiseptik murah dari lantai Polsek bercampur dengan aroma kopi hitam di meja piket. Di luar kaca, langit Jakarta makin gelap, seperti seseorang menumpahkan tinta ke ujung sore.

"Kak Sekar."

Bryan memanggilnya lirih.

Sekar menoleh. Anak itu duduk di bangku panjang dengan lutut rapat, wajahnya pucat, ujung jarinya masih gemetar. Biasanya Bryan bisa bercanda bahkan ketika dimarahi Kevin. Malam ini mulutnya terkunci.

"Lo nggak salah," kata Sekar sebelum Bryan sempat membuka suara.

Bryan menelan ludah. "Gue yang ngabarin Kakak. Kevin pasti marah."

"Biar dia marah sama aku."

"Tapi dia tadi bilang jangan kasih tahu siapa-siapa."

Sekar duduk di sebelahnya. Ia menaruh tisu basah itu ke dalam plastik kecil, merapikan gerakan tangannya agar tidak terlihat gemetar. "Kalau dia jatuh di jalan dan bilang jangan panggil ambulans, kamu juga nurut?"

Bryan terdiam.

"Ada hal yang nggak bisa dituruti cuma karena Kevin bilang begitu," lanjut Sekar. "Terutama kalau dia bilangnya sambil menyakiti diri sendiri."

Kata-kata itu membuat mata Bryan memerah.

Ia menunduk cepat. "Dia cuma nggak mau Kakak malu."

Sekar menatap pintu ruang keterangan.

Di balik pintu itu, Kevin sedang menjawab pertanyaan petugas. Mungkin dengan suara pendek. Mungkin dengan wajah dingin. Mungkin juga dengan rahang keras seperti tadi, saat mengatakan bahwa justru Sekar yang datang adalah masalahnya.

"Aku yang harusnya malu kalau aku nggak datang," bisik Sekar.

Bryan mengusap wajahnya kasar. "Yang mulai mereka, Kak. Gue bisa jelasin. Mereka dulu yang ganggu di tempat biliar. Tadi mereka ngomong kotor soal Kakak, terus narik gue. Kevin udah nahan. Sumpah, dia udah nahan."

"Aku tahu."

"Tapi orang cuma lihat dia mukul."

Kalimat itu jatuh di antara mereka.

Sekar tahu. Dunia sering begitu. Melihat darah di bibir lawan, bukan alasan kenapa seseorang akhirnya mengepalkan tangan. Melihat rambut biru dan anting perak, lalu langsung memutuskan siapa yang salah.

Ponsel Sekar bergetar.

Yola: Bu Wati sama Pak Arief otw. Steven ikut. Gue lagi nyari taksi.

Sekar mengetik balasan singkat.

Sekar: Jangan masuk ramai-ramai. Tunggu di depan saja. Aku kabari.

Begitu ia menekan kirim, pintu utama Polsek terbuka. Angin lembap masuk bersama langkah terburu-buru Bu Wati dan Pak Arief.

"Sekar." Bu Wati langsung mendekat, jilbabnya sedikit miring karena tergesa. "Kamu baik-baik saja?"

"Saya baik, Bu."

Pak Arief melihat Bryan, lalu pintu ruang keterangan. Wajah guru olahraga itu tegang, tetapi suaranya tetap rendah. "Kevin di dalam?"

Bryan berdiri cepat. "Iya, Pak."

"Lukanya parah?"

"Cuma bibirnya, Pak. Sama tangan."

Pak Arief menarik napas panjang. "Kamu gimana?"

Bryan menggeleng. "Nggak apa-apa."

Bu Wati duduk di depan Sekar. "Ceritakan pelan-pelan. Jangan ditambah, jangan dikurangi."

Sekar menjelaskan dari pesan Bryan, jalan kecil dekat ruko, pemuda bertopi, sampai mereka dibawa ke Polsek untuk dimintai keterangan. Ia tidak menangis. Ia tidak meninggikan suara. Setiap kalimatnya rapi, seolah ia sedang mengerjakan soal ujian yang tidak boleh salah satu angka pun.

Namun ketika ia menyebut Kevin tidak ingin dirinya datang, jari Bu Wati yang memegang tas berhenti bergerak.

"Anak itu..." Bu Wati menghela napas. "Dia selalu berpikir masalah harus ditelan sendiri."

Pak Arief menatap lantai. "Karena terlalu sering tidak ada orang dewasa yang benar-benar berdiri di depannya."

Sekar mengangkat mata.

Kalimat itu tidak panjang, tetapi menampar bagian dalam dadanya.

Kevin tidak punya Mama yang akan datang dengan wajah cemas. Tidak punya Papa yang akan masuk ke ruang piket dan bertanya siapa yang melukai anaknya. Ia hanya punya kartu pelajar, rambut biru, dan nama yang terlalu mudah dituduh.

Pintu ruang keterangan terbuka.

Kevin keluar lebih dulu. Di belakangnya, seorang petugas membawa berkas tipis dan berbicara dengan petugas lain. Bibir Kevin masih merah di sudutnya. Punggung tangannya lecet. Rambut birunya sedikit berantakan, tetapi wajahnya lebih dingin daripada saat masuk.

Sekar langsung berdiri.

Kevin melihatnya. Lalu matanya bergerak ke Bu Wati, Pak Arief, Bryan.

Sesuatu di wajahnya patah sangat cepat.

Bukan marah. Bukan takut. Lebih buruk.

Malu.

Ia menarik pandangan seolah semua orang di sana adalah cermin yang memantulkan bentuk paling buruk dari dirinya.

"Kevin," panggil Sekar.

Kevin tidak menjawab.

Petugas mendekati Pak Arief. "Bapak dari sekolah?"

"Iya. Saya guru olahraga mereka. Ini wali kelasnya," jawab Pak Arief sambil menunjuk Bu Wati.

Petugas mengangguk. "Untuk sementara kami catat keterangan dulu. Belum ada laporan resmi dari pihak sana. Mereka juga masih dimintai keterangan karena ada saksi yang bilang mereka memulai keributan. Anak-anak bisa pulang setelah tanda tangan surat pernyataan dan kami hubungi pihak sekolah lagi kalau perlu."

"Baik, Pak. Terima kasih," kata Bu Wati.

Sekar mendengar semua itu, tetapi matanya tetap pada Kevin.

Kevin berdiri setengah langkah di belakang, seperti ia sengaja membuat jarak dari kelompok mereka. Tangannya masuk ke saku jaket. Bahunya kaku. Ketika Pak Arief mengajaknya mendekat untuk membaca surat pernyataan, ia menurut, tapi tidak menatap siapa pun.

"Baca dulu sebelum tanda tangan," kata Pak Arief pelan.

"Udah, Pak."

"Kevin."

Nada Pak Arief tidak keras. Justru karena tidak keras, Kevin akhirnya menunduk melihat kertas.

Sekar memperhatikan tangan Kevin saat memegang pulpen. Ujung jarinya meninggalkan noda merah tipis di plastik meja. Ia terluka, tetapi tidak mengeluh. Ia hanya menulis namanya dengan gerakan cepat, seakan ingin menghapus keberadaannya dari tempat itu secepat mungkin.

Bryan menandatangani setelahnya.

Petugas memberi mereka beberapa nasihat standar. Jangan terpancing. Kalau ada yang mengganggu, lapor. Jangan main hakim sendiri. Sekar mencatat setiap kata, bukan karena belum tahu, melainkan karena ia ingin memastikan tidak ada celah yang akan membuat Kevin kembali disalahkan.

Kevin diam sepanjang waktu.

Ketika semuanya selesai, Bu Wati menyentuh bahu Sekar. "Saya antar kamu pulang."

"Saya bisa pulang sendiri, Bu."

"Tidak malam-malam begini."

Pak Arief menoleh pada Kevin. "Kamu ikut saya. Motor kamu biar diambil besok kalau perlu."

"Nggak usah, Pak."

"Kevin, ini bukan permintaan."

Kevin mengangkat wajah. Tatapannya sopan, tapi kosong. "Saya bisa pulang sendiri."

Pak Arief mengerutkan dahi. "Bibir kamu masih berdarah."

"Nggak apa-apa."

Sekar melangkah mendekat. "Aku ikut kamu."

Kevin langsung menoleh padanya. "Nggak."

Satu kata itu pendek. Dingin. Terlalu cepat.

Bryan sampai mengangkat kepala.

Sekar berhenti, tetapi tidak mundur. "Aku bilang aku ikut kamu."

"Gue bilang nggak."

Bu Wati memandang mereka bergantian. Pak Arief tampak ingin bicara, tetapi Sekar lebih dulu menggeleng kecil, meminta waktu.

Di luar Polsek, angin malam membawa bau aspal basah. Gerimis belum turun, tetapi udara sudah berat. Lampu jalan menyala kuning, membuat bayangan Kevin jatuh panjang di lantai teras.

Sekar mengikuti Kevin sampai ke sisi halaman, cukup jauh dari meja piket, cukup dekat agar Bryan masih bisa melihat mereka.

"Kev."

Kevin berhenti. Tidak menoleh.

"Lihat aku."

"Pulang sama Bu Wati."

"Aku nggak tanya harus pulang sama siapa."

"Sekar."

Untuk pertama kali malam itu, Kevin menyebut namanya dengan suara pecah.

Sekar hampir melangkah maju, tetapi Kevin justru mundur satu langkah.

Itu lebih menyakitkan daripada bentakan.

"Lo harus berhenti," kata Kevin.

"Berhenti apa?"

Kevin tertawa pendek. Tidak ada lucu-lucunya. "Berhenti pura-pura semua ini normal."

"Aku nggak pernah bilang ini normal."

"Lo datang ke Polsek malam-malam. Guru lo ikut datang. Teman-teman lo panik. Besok satu sekolah bakal tahu lagi. Setelah Adrian, setelah gosip kemarin, sekarang apa? Pacar Sekar dibawa polisi karena berantem di jalan?"

"Kamu dibawa untuk dimintai keterangan."

"Buat mereka sama aja."

"Buat aku nggak sama."

Kevin menoleh akhirnya.

Matanya merah, bukan karena menangis. Karena menahan sesuatu terlalu lama sampai seluruh wajahnya kaku.

"Itu masalahnya," katanya pelan. "Buat lo selalu beda."

Sekar menatapnya tanpa berkedip.

"Orang lihat gue, mereka tahu gue siapa. Anak kos nggak jelas. Rambut dicat. Nilai berantakan. Berantem. Masuk tempat biliar. Sekarang duduk di Polsek." Kevin menunjuk dadanya sendiri. "Gue bahkan nggak punya orang tua yang bisa datang tanda tangan kalau polisi minta wali. Yang datang guru lo. Pacar gue. Teman gue. Semua orang yang harusnya nggak ikut kena kotor."

"Kamu bukan kotor."

"Jangan ngomong begitu."

Sekar tersentak.

Kevin menggertakkan gigi. "Jangan ngomong seolah lo bisa bersihin hidup gue cuma dengan bilang gue nggak kotor."

Angin bergerak. Ujung rambut Sekar menempel di pipinya. Dari kejauhan, suara kendaraan lewat terdengar seperti ombak keruh.

Sekar menahan napas. "Aku nggak mau membersihkan hidupmu. Aku mau ada di dalamnya."

"Kenapa?"

Pertanyaan itu keluar begitu kasar sampai Kevin sendiri tampak kaget.

Namun setelah keluar, ia tidak menariknya lagi.

"Kenapa lo ngotot banget?" lanjutnya. "Lo punya Oma yang baik. Rumah yang aman. Nilai bagus. Masa depan jelas. Lo bisa pacaran sama orang yang kalau dipanggil guru, orang tuanya datang pakai mobil bagus dan bilang semua akan diurus. Kenapa harus gue?"

Sekar menatap bibirnya yang terluka, tangan yang lecet, mata yang berusaha mengusirnya.

Di kehidupan lalu, laki-laki yang sama pernah berdiri di depan makamnya sampai hujan membuat tanah menjadi lumpur. Pernah membalas semua darahnya sendirian. Pernah mati dengan namanya masih melekat di napas terakhir.

Tapi kehidupan ini, Kevin belum tahu.

Ia hanya tahu ia adalah anak laki-laki yang selalu ditinggalkan.

Sekar melangkah maju lagi. "Karena kamu Kevin."

Kevin memejamkan mata sebentar.

Jawaban itu tidak cukup baginya. Sekar tahu dari cara rahangnya mengeras.

"Gue bukan orang yang bisa lo selamatkan," katanya.

"Aku nggak sedang menyelamatkanmu."

"Lo datang ke Polsek."

"Karena aku pacarmu."

"Itu yang harus berhenti."

Sekar membeku.

Di teras Polsek, Bryan tiba-tiba bergerak. "Bro."

Kevin tidak menoleh. "Jangan ikut campur."

"Lo ngomong ngawur."

"Gue bilang jangan ikut campur."

Suara Kevin lebih tajam. Bryan berhenti, wajahnya pucat lagi. Pak Arief menahan bahu Bryan dari belakang, bukan untuk melarang, tapi agar anak itu tidak ikut terseret ke ledakan Kevin.

Sekar tidak melihat mereka. Ia hanya melihat Kevin.

"Ulangi," katanya.

Kevin menatapnya.

"Kalau kamu berani bilang itu," suara Sekar bergetar, tetapi matanya tidak turun, "ulangin sambil lihat aku."

Kevin membuka mulut.

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Lampu motor di jalan depan Polsek lewat, menyapu wajahnya dengan cahaya putih. Dalam sekejap itu, Sekar melihat semuanya. Ketakutan. Rasa bersalah. Marah pada diri sendiri. Keinginan untuk memeluk yang dipaksa menjadi dorongan untuk menjauh.

Lalu Kevin berkata, pelan dan kejam, "Berhenti jadi pacar gue, Sekar."

Hujan pertama jatuh di antara mereka.

Satu titik air mengenai punggung tangan Sekar.

Ia tidak bergerak.

Kevin juga tidak.

Di belakang mereka, Bryan memaki lirih, Bu Wati menarik napas tertahan, dan Pak Arief menunduk seolah baru saja melihat anak yang terlalu lama hidup tanpa tempat pulang akhirnya mencoba membakar satu-satunya rumah yang berani datang untuknya.

Sekar menatap Kevin, dadanya sakit sampai sulit bernapas.

"Kamu pikir," bisiknya, "aku akan pergi cuma karena kamu menyuruhku?"

Kevin tidak menjawab.

Ia hanya memalingkan wajah ke arah jalan yang mulai basah, sementara hujan turun lebih rapat, seperti tirai yang pelan-pelan menutup halaman Polsek.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!