NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir

Bellatrix menarik napas panjang, memusatkan seluruh kekuatan air murni yang mengalir di dalam darahnya dan juga sedikit sihir cahaya, kekuatan yang tidak hanya menyembuhkan tubuh, tapi juga menyentuh jiwa. Ia tahu betul bedanya cara menangani ketiga orang ini. Alexander dan Silas terluka oleh gelombang sisa serangan, namun Thiago menampung racun inti sihir hitam itu sendiri, sehingga penanganannya harus jauh lebih dalam dan pribadi.

Tanpa bergerak satu langkah pun dari posisinya di samping Thiago, Bellatrix mengangkat kedua tangannya perlahan ke udara. Ia memutar pergelangan tangannya dengan gerakan lembut namun penuh kekuasaan. Seketika itu juga, pusaran air berwarna putih bersih lebih terang dari salju di puncak gunung tertinggi, memancarkan cahaya suci yang menenangkan muncul melayang di udara.

Tanpa perlu diarahkan secara langsung, dua pusaran itu terbelah. Satu meluncur perlahan ke arah Alexander, satu lagi bergerak cepat namun halus menuju Silas.

Pusaran air putih itu menyelimuti tubuh mereka berdua selembut selimut. Tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa tertekan. Hanya rasa sejuk yang menyusup ke pori-pori kulit, membasuh luka fisik, menenangkan tulang yang retak, dan perlahan menarik keluar sisa-sisa energi gelap yang menempel di tubuh mereka.

Urat hitam di dada Alexander memudar perlahan menjadi abu-abu lalu hilang sama sekali, sementara luka membusuk di tubuh Silas tertutup kulit baru yang sehat tanpa bekas. Napas mereka berdua menjadi teratur dan tenang seketika, seolah tidak pernah terluka parah.

Seluruh rombongan dari istana yaitu Kaisar, Permaisuri, Duke, Duchess, serta para prajurit yang ikut dan bahkan beberapa warga yang dulu pernah ditolong Bellatrix dan kini ikut membantu di markas pengobatan, semuanya terpaku melihat hal itu.

Mulut mereka terbuka tak percaya, mata mereka tak berkedip sedikit pun. Mereka belum pernah melihat seseorang mampu menyembuhkan dua orang sekaligus dari jarak jauh dengan kemudahan yang begitu memukau, seolah memerintah alam itu sendiri untuk bekerja atas nama kebaikan.

Namun Bellatrix sama sekali tidak memperhatikan kekaguman mereka. Seluruh fokus matanya tertuju hanya pada satu orang yaitu Thiago.

Ia berlutut lebih dekat, wajahnya sejajar dengan wajah lelaki itu. Tangannya yang halus namun kuat perlahan terangkat, mendekati pipi Thiago yang dingin dan pucat. Gerakannya sangat pelan, seolah takut mengejutkan atau menyakiti dia yang sedang berjuang melawan kegelapan di dalam dirinya.

Di dalam kabut kesadaran yang gelap dan dingin itu, Thiago merasakannya terlebih dahulu sebelum melihatnya. Rasa hangat. Sebuah kehangatan yang tidak membakar seperti apinya sendiri, melainkan hangat yang menembus dingin yang menusuk tulang, hangat yang terasa seperti rumah, seperti tempat di mana ia seharusnya berada. Rasa hangat itu mendekat, mendekat, lalu menyentuh pipinya dengan lembut selembut bulu burung.

Seketika kegelapan yang menutupi pandangannya bergetar. Matanya yang biasanya berwarna biru safir yang jernih dan tajam kini berubah total menjadi hitam pekat, tanpa ada sedikit pun cahaya yang tersisa seolah jiwanya telah lenyap digantikan oleh bayangan. Namun sentuhan itu memicu sesuatu yang tertidur di dalam dirinya. Ia berusaha keras melawan beban berat kelopak matanya, berusaha membukanya perlahan, berjuang untuk melihat siapa sosok yang membawa kehangatan itu di tengah neraka dingin ini.

Bellatrix menatap mata hitam itu dengan air mata yang masih menumpuk di pelupuk matanya, lalu perlahan meletakkan telapak tangannya tepat di atas dada Thiago di atas tempat jantungnya berdetak lemah dan tidak beraturan.

"Aku di sini..." bisiknya pelan namun tegas, suaranya menembus hingga ke kedalaman jiwa lelaki itu.

"Kamu harus tetap bersamaku" Bisik Bellatrix di telinga Thiago.

"Ingat, Thiago. Kita ditakdirkan untuk berjalan bersama. Jika kau lemah, maka aku pun akan lemah. Jika kau hancur, maka bagian dari jiwaku pun akan hancur bersamamu. Jangan biarkan kegelapan ini memisahkan apa yang sudah diikat langit."

Saat telapak tangannya menempel sempurna di dada Thiago, cahaya biru murni memancar kuat dari telapak tangannya, menyusup masuk ke dalam tubuhnya. Bellatrix mulai menyedot keluar sisa racun sihir hitam yang menumpuk di sana. Asap hitam pekat dan berbau busuk keluar perlahan dari mulut dan luka di tubuh Thiago, terangkat ke udara lalu lenyap saat bersentuhan dengan cahaya airnya. Namun tidak semua racun bisa keluar begitu saja. Inti kegelapan itu masih menempel erat di inti jiwanya, membuat tubuh Thiago tetap terbaring kaku, matanya masih sebagian besar tertutup, dan tatapannya masih kosong ia belum sepenuhnya kembali menjadi dirinya sendiri.

Belum sempat Bellatrix beristirahat sejenak, tiba-tiba dari kejauhan di balik kabut tebal di garis depan, puluhan anak panah yang diselimuti api hitam dan sihir jahat melesat cepat ke arah mereka pengikut pemberontak yang melihat kesempatan saat mereka sedang fokus mengobati.

Tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari wajah Thiago, tanpa menarik kembali tangannya dari dada lelaki itu, Bellatrix hanya mengangkat tangan kirinya dengan santai. Ia tidak berteriak, tidak memanggil senjata. Ia hanya mengubah wujud uap air di udara menjadi gelombang ombak raksasa yang padat namun lentur. Ombak biru putih itu melesat ke depan seperti tombak raksasa, menyapu bersih semua anak panah itu di udara, lalu menghantam pasukan musuh yang bersembunyi di balik kabut hingga mereka terpental jauh mundur dan tidak berani lagi maju.

Seluruh orang yang melihatnya menahan napas takjub. Kemampuan membagi fokus sehebat itu menangkis serangan musuh, menyembuhkan dua orang lain, dan berjuang menyelamatkan satu orang yang paling penting adalah hal yang hampir mustahil dilakukan oleh siapa pun, bahkan penyihir terkuat sekalipun. Namun Bellatrix melakukannya dengan tenang, seolah itu adalah hal yang paling wajar.

 

Bellatrix tahu cara terakhir dan satu-satunya yang tersisa. Ia harus menyatukan jiwanya sepenuhnya dengan jiwa Thiago saat ini juga, untuk membersihkan inti racun itu lewat ikatan yang paling dalam.

Walaupun dia tau akibat yang akan dia dapatkan adalah tidak akan pernah lepas dari lelaki didepannya itu.

Ia menundukkan kepalanya perlahan, mendekatkan wajahnya ke wajah Thiago yang bibirnya terasa dingin seperti es. Ia menatap wajah itu lama sekali, lalu menempelkan bibirnya dengan lembut di bibir Thiago. Bukan ciuman yang penuh gairah, melainkan ciuman penuh pengorbanan, kasih sayang, dan tekad bulat. Ia mencoba menyedot sisa kegelapan yang menempel di jiwanya lewat ikatan rasa ini, sekaligus menyalurkan seluruh kehangatan dan kekuatan air murni yang ia miliki masuk ke dalam tubuhnya.

Seketika itu juga, dua cahaya menyala terang dari tubuh mereka berdua. Cahaya biru yang lembut namun kokoh dari Bellatrix, dan cahaya merah menyala yang berjuang bangkit dari dalam diri Thiago. Kedua cahaya itu tidak saling bertabrakan mereka menyatu, melilit satu sama lain, membentuk warna ungu kemerahan yang megah dan suci, memancar ke seluruh penjuru tenda hingga menerangi kabut gelap di luar sana.

Di dalam kegelapan yang mulai menipis itu, kesadaran Thiago tersentak kuat. Ia merasakan kehadiran Bellatrix begitu dekat, begitu nyata, merasakan air matanya jatuh di pipinya, merasakan betapa tulusnya usaha gadis itu untuk menariknya kembali ke dunia ini. Perlahan, sangat perlahan, kelopak matanya yang berat terbuka sepenuhnya.

Di bawah cahaya penyatuan itu, warna hitam pekat di matanya perlahan memudar, kembali berubah menjadi biru safir yang asli namun kini terlihat lebih dalam, lebih hangat, dan penuh dengan emosi yang meluap-luap. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Bellatrix yang sangat dekat, mata terpejam rapat, air mata mengalir deras di pipinya yang merah, dan bibirnya menempel lembut di bibirnya demi menyelamatkannya.

Rasa syukur, rasa cinta yang selama ini ia sembunyikan, rasa takut hampir kehilangan, dan rasa kagum yang tak terhingga meledak di dadanya. Thiago mengangkat tangannya yang kini sudah kembali memiliki tenaga, melingkarkan erat di pinggang ramping Bellatrix, menariknya lebih dekat ke arah dirinya, lalu membalas ciuman itu dengan penuh perasaan lembut namun dalam, menyalurkan sisa kekuatan apinya untuk berpadu sempurna dengan airnya, menyelesaikan penyatuan takdir yang telah tertulis sejak lama.

Cahaya biru dan merah semakin membesar, menyapu bersih setiap jejak sihir hitam yang tersisa di tubuhnya, membuat urat hitam itu lenyap tanpa jejak, dan mengembalikan seluruh kekuatannya bahkan lebih kuat dari sebelumnya, karena kini ia sudah tidak lagi berjalan sendirian.

 

1
Osie
waaahhh bakal dibakar abiz nih ma sihir api bella
Osie
laaahh udah buta msh aja ngebacot nih kaisar Utara
Osie
huuufttt habislah sdh kaelen cs ditangan bella
Ayu Padi
kereeen
Ayu Padi
seru sekali...lanjut Thor...ayo ramaikan baca dan koment ny .
Osie
BOOOM jleb baru suara bella yg keluar blm lagi pasukan elemen n para sahabat kontraknya
aku
astaga 🤣🤣🤣🤣 ngakak bgt
aku
4 tor 🤔 bukan 3. 😭
lagian mereka kyk gk ad kerjaan ngintipin 🤣🤣🤣🤣
aku
wkwkwkwk gagal lagi 🤣
aku
kok NAK tor? bukannya DEK..?? 🤔😁😁
Osie
waduh LDR an deh bella ma thiago
Osie
hrsnya utk kuda kuda bella udah jago donk nya..secara kan jiwa ms depan sosok hebat lagi yg jago main senjata..gak mungkinlah ya gak bisa
Osie
eleanor ente salah cari lawan🤣🤣🤣jiwa ms depan dilawan ya kalah licik lah ente
Osie
interupsi interupsiii thoorr.nale dibab ini rambut putra mahkota jd warna hitam logam.. apa dicat tuh rambut
Jennifer: ok deh, krna kamu aku double up lagi kali yaaa, hehe makasihhhh🫶
total 3 replies
Osie
jiwa bella kan jiwa masa depan apalagi ahli perang..pastinya bisa donk bela diri masa depan jadi kenapa tdk itu aja di kuatkan dgn dipadukan bela diri kuno
Osie
yaaaaa demi bisa kuat bella masukan jebakan batman🤣🤣🤣ish ish ish padahal aku dah berharap bella minggat dr hdp si putra mahkota..dahlaaahh/Frown/
Osie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣ku suka gaya bella..kereeeennn😍😍😍😍
Osie
aku hadir nih..suka cerita transmigrasi dgn tokohnya sosok wanita tangguh n smart ..dan yg pastinya gak muluk muluk permintaanku.. moga ceritanya ini sp end💪🙏
Dewiendahsetiowati
hadir thor
khemjira
lnjt ka, cium aja udh🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!