Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Mereka kembali membully dan menghina Ardi dengan kata-kata kasar seperti dulu mereka diperlakukan seperti itu olehnya sekarang dia harus merasakan apa yang mereka rasakan.
"Enak kan rasanya dibully seperti itu Ardi, selama ini itulah yang kami rasakan saat kamu menghina dan merendahkan kami".
Ardi hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat, dia ingin membalas mereka tapi yang mereka katakan benar adanya, selama ini sia berpikir jika dia bisa masuk kedalam perusahaan ini dengan kemampuannya tapi ternyata Ranialah yang berada dibalik layar untuk mendukung kariernya dan sekarang dia kehilangan segalanya, Rania sudah membencinya, karir nya berada di ujung tanduk dan sekarang orang-orang yang dia bully dulu kini membalasnya.
Ardi langsung berdiri tegak kemudian mendorong mereka keras sehingga beberapa dari mereka terjatuh, dia langsung pergi dari sana tanpa menghiraukan semua orang yang sudah meneriaki dirinya karena emosi.
"Persetan dengan kalian semua". Jawabnya sambil berlalu dari sana.
Dia bahkan tidak menoleh sama sekali, dia langsung pulang kerumahnya dengan hati yang begitu panas dan sangat buruk. Dia melakukan motor meticnya dengan kencang karena sangat kesal
Sesampainya dirumah, pemandangan yang ada dihadapannya membuatnya langsung emosi, rumah begitu berantakan, pakaian berceceran kemana-mana belum lagi bekas makan mereka sebelumnya belum dirapikan, emosinya langsung meledak.
Niat hati pulang kerumah untuk mencari ketenangan dan juga dukungan tapi pemandangan dihadapannya betul-betul menguras emosinya
"Ibu, adel". Teriaknya menggema disemua ruangan didalam rumah membuat ibu dan adiknya yang sedang beristirahat langsung berlari keluar karena panik akan teriakan itu.
Dia menghempaskan semua barang itu dengan kasar dan kembali berteriak keras karena terlalu jengkel. Terdengar bantingan barang menggema diruang tamu membuat keduanya betul-betul dilanda kepanikan takut ada maling atau apapun yang membuat Ardi sangat marah.
"Ibu, Adel, keluar kalian dari kamar!!". Teriak Ardi kini jauh lebih kencang dari yang tadi
Kedua orang yang dipanggil itu tergopoh-gopoh mendatangi Ardi yang berteriak itu, wajah mereka panik setengah mati bahkan Adel yang sedang maskeran kelaur dengan wajah yang penuh dengan masker.
" Ada apa nak?, kok kamu teriak seperti itu sih, bikin kaget aja". Sungut sang ibu dengan nafas ngos-ngosan karena berlari kencang dan terkejut, dia sampai memegang dadanya karena terlalu khawatir.
"Iya nih kak Ardi, ada apa sih kok teriak begitu? , bikin kaget saja". Wajahnya kini berantakan karena berlari.
Masker yang dia pasang berjatuhan karena berlari tadi membuat lantai lebih kotor lagi dari sebelumnya
Ardi menatap keduanya dengan mata menyala, amarahnya kini telah sampai di ubun-ubun karena kedua wanita dihadapannya ini.
"Kalian berdua sejak tadi ngapain saja? , kenapa rumah berantakan dan kotor begini? , kalian berdua tidak lihat hah!! ". Teriaknya dengan penuh emosi sambil menunjuk keadaan rumah yang super berantakan.
"Aku ini capek pulang kerja tapi rumah bahkan tidak dirapikan sama sekali, dan aku yakin makanan juga pasti tidak ada".
Perasaan dongkol merebak kedalam dadanya, dulu saat tinggal dirumah Rania, rumah selalu tanpa rapi dan bersih serta wangi tapi sekarang rumahnya berantakan melebihi kandang ayam.
"Tadi kami pergi nak, adel juga baru pulang kulaih, maaf yah".
Ardi menatap keduanya semakin jengkel karena mereka menjawab dna mencari alasan.
"Rania juga bekerja tapi rumah selalu rapi dan bersih padahal dia cuma sendiri mengurus rumah apalagi rumah kami sangat besar sedangkan kalian dua orang dan rumah juga kecil tapi rumah seperti kapal pecah begitu kalian ini pemalas sekali". Bentaknya lagi.
Kedua perempuan itu langsung menunduk melihat amarah yang berkobar dimata Ardi saat menatap mereka. Mulut mereka seakan terkunci begitu saja melihatnya
"Ada apa ini?, kenapa kamu berteriak Ardi?, suaramu terdengar sampai diluar rumah". Suara bariton dari belakang mereka membuat mereka semua menoleh.
Dia melangkah mendekati mereka yang berada didepan pintu ruang tamu tapi matanya melihat keadaan di depannya itu
Santoso tertegun sejenak melihat keadaan rumahnya yang seperti kapal pecah seperti itu kemudian menghela nafasnya. Dia sudah lelah bekerja dan sekarang harus melihat keadaan rumah yang tidak bisa dikatakan baik sama sekali, kepalanya langsung dongkol seketika.
Istri dan anaknya sama saja, Sama-sama pemalas padahal mereka tidak bekerja sama sekali hanya sibuk main hape dan menghamburkan uang dan sibuk menghina orang.
Dia menatap keduanya dengan tajam dan dingin, matanya memancarkan emosi yang begitu besar
"Lebih baik kalian rapikan rumah sekarang juga, kami ini baru pulang bekerja dan sangat capek berharap pulang di rumah bisa istirahat tapi sekarang kami malah disuguhkan rumah yang seperti ini, kalian tidak punya otak? ". Tanyanya dengan dingin dan datar.
" Kami". Cicit keduanya dengan kompak.
"Kalian tidak bekerja dan hanya di rumah harusnya kalian bisa menjaga rumah ini dengan benar, tidak ada anak kecil yang menghancurkan rumah jadi kalian memang pemalas, kalian tidak jijik melihat rumah seperti itu? ".
Dia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah tanpa mengatakan apapun lagi dan langsung masuk kedalam kamar serta membanting pintu dengan sangat keras.
Ningsih dan adel saling menatap karena kebingungan, sikap kedua pria di rumah mereka itu begitu tidak baik, mungkin mereka sedang ada masalah dikantor jadi membawanya pulang kerumah.
"Tolong rapikan bu, aku sangat lelah dan capek karena pekerjaan di kantor". Ucapnya lelah.
Dia sangat marah tapi harus meredam emosinya agar dia tidak kurang ajar pada ibunya, dia harus menjauh dari mereka agar tidak mengeluarkan kata kasar lagi.
Dia berjalan gontai kedalam kamarnya untuk berganti pakaian, dia sudah tidak punya tenaga berdebat dengan keduanya apalagi kini emosinya sedang tidak baik-baik saja.
Adel dan sang ibu hanya bisa menghela nafas, mereka mengedarkan pandangannya kemudian saling memandang satu sama lain.
Pantas saja kedua lelaki itu sangat marah kepada mereka, keduanya memang paling tidak suka melihat rumah berantakan dan mereka malah tidak merapikannya padahal mereka ada dirumah.
"Kita rapikan saja yuk buk, aku takut kak Ardi dan ayah semakin marah pada kita, rumah memang berantakan sekali". Cicitnya ketakutan.
Teriakan dan bantingan pintu dari kedua pria itu sudah membuktikan jika mereka pulang dalam keadaan tidak baik-baik saja, makanya mereka berdua tidak mau mencari gara-gara untuk sementara waktu.
Keduanya bergegas membersihkan rumah secepat mungkin begitu juga memasak makan malam untuk mereka sekeluarga agar kedua pria itu tidak marah kembali.
Ardi yang berada didalam kamarnya hanya bisa duduk termenung sambil meratapi nasibnya kini, dulu saat masih bersama Rania dia hidup bagai raja yang dilayani, semua orang begitu menghormatinya tapi sekarang semuanya telah hancur berantakan tanpa sisa.
"Aku sial sekali".