Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Melangkah ke Dalam Kabut
Perjalanan menuju Hutan Terlarang memakan waktu sekitar empat jam penuh. Semakin jauh mereka melangkah meninggalkan wilayah yang aman, semakin terasa perubahan di sekeliling mereka. Padang rumput yang hijau dan segar perlahan berubah menjadi tanah yang berwarna cokelat pucat, lalu berganti menjadi tanah kering yang keras seperti batu. Pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan pun mulai kehilangan daunnya, ranting-rantingnya menjulang ke atas seperti jari-jari kerangka yang kaku, tanpa sedikit pun tanda kehidupan.
Saat tim tiba di batas resmi kawasan terlarang, langkah mereka terhenti seketika. Di hadapan mereka terbentang dinding kabut tebal yang tampak seperti tembok besar berwarna kelabu pudar. Kabut itu tidak bergerak tertiup angin, melainkan tergantung diam, seolah membentuk penghalang alami yang memisahkan dua dunia yang sangat berbeda. Udara dari balik kabut itu terasa dingin menusuk tulang, membawa bau tanah basah yang bercampur dengan aroma sesuatu yang mati dan membusuk.
“Ini dia gerbang menuju tempat yang selama ini menjadi legenda dan ketakutan banyak orang,” kata Kapten Valerius dengan suara rendah, matanya menatap tajam ke dalam kabut. “Ingat pesan saya sekali lagi: begitu kita melangkah masuk, kita akan kehilangan kontak dengan dunia luar. Segala aturan dan logika yang kita kenal bisa saja tidak berlaku lagi di dalam sana. Tetap dekat satu sama lain, jangan menyimpang dari jalur, dan segera beri isyarat jika ada yang terasa tidak wajar.”
Rey mengeluarkan kotak kayu kecil yang diberikan oleh Penasihat Elara. Begitu ia membuka tutupnya, keluar cahaya keemasan lembut yang stabil, tidak teredam oleh kabut atau diserap oleh energi sekitar. Cahaya itu berputar perlahan di dalam kotak, lalu mengarah lurus ke depan menembus kabut, seolah menjadi panah penunjuk arah yang jelas.
“Benda ini bekerja dengan baik,” gumam Rey. “Cahayanya menunjuk lurus ke arah dalam, artinya kita sudah berada di jalur yang benar menuju sumber energi utama.”
Dengan isyarat dari Kapten Valerius, barisan tim mulai bergerak maju perlahan. Begitu kaki mereka melangkah melewati batas kabut, sensasi aneh langsung terasa menyelimuti seluruh tubuhnya. Seolah melangkah masuk ke dalam ruang yang berbeda, suara dari luar langsung teredam, digantikan oleh keheningan yang sangat sunyi hingga membuat telinga berdenging. Pandangan mereka hanya bisa mencapai jarak sekitar tiga sampai empat meter saja, selebihnya tertutup kabut tebal yang menyamarkan segala bentuk pemandangan.
“Pertahankan jarak pandang! Jangan sampai ada yang terpisah!” teriak Valerius, suaranya terdengar agak teredam seolah diserap oleh udara di sekitarnya.
Rey dan Sylfia berjalan tepat di belakang pemimpin tim, menggunakan indra mereka secara maksimal untuk menggantikan penglihatan yang terbatas. Rey merasakan aliran energi yang semakin kuat dan berputar kencang di sekitarnya, sementara Sylfia mengandalkan pendengaran dan indra penciuman untuk mendeteksi keberadaan makhluk hidup atau bahaya tersembunyi.
Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, suasana mulai berubah lagi. Kabut di bawah kaki mereka menjadi lebih tipis, memungkinkan mereka melihat tanah dan pepohonan di sekitar dengan lebih jelas. Namun pemandangan yang terlihat justru lebih mengerikan daripada yang dibayangkan. Tanah di sini berwarna abu-abu kelabu, seolah debu dan abu telah menyelimuti seluruh permukaannya. Di antara pohon-pohon mati yang menjulang tinggi, terlihat sisa-sisa tumbuhan yang mengerut dan berwarna hitam, serta bebatuan yang terlihat meleleh dan terbentuk secara tidak wajar.
“Lihatlah… bahkan bebatuan pun terpengaruh,” kata salah satu penyihir bernama Morin, sambil menyentuh permukaan batu besar di pinggir jalan. “Energi yang mengalir di sini begitu kuat hingga mengubah struktur fisik benda mati sekalipun. Kita harus sangat berhati-hati agar tidak terkena arusnya secara langsung.”
Saat mereka melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Sylfia mengangkat tangan memberi isyarat berhenti. Matanya menyipit, telinganya bergerak sedikit mendengarkan suara yang hanya bisa ia tangkap.
“Ada gerakan… banyak gerakan dari arah kiri dan kanan,” bisiknya pelan namun tegas. “Langkahnya ringan, tapi jumlahnya banyak sekali.”
Dalam sekejap, seluruh anggota tim langsung siap siaga. Pedang terhunus, perisai diangkat, dan energi sihir mulai berkumpul di telapak tangan mereka. Dari balik pepohonan mati, mulai muncul sosok-sosok makhluk yang berjalan merayap di atas tanah. Bentuknya mirip serigala dan babi hutan, namun tubuh mereka terlihat menyusut dan berubah bentuk, kulitnya menempel erat pada tulang dengan warna abu-abu pucat, dan mata mereka bersinar terang dengan cahaya ungu gelap yang menakutkan. Mereka adalah makhluk yang telah lama hidup di dalam hutan ini dan telah terpengaruh oleh energi kacau hingga berubah menjadi makhluk bayangan yang agresif dan tidak memiliki rasa takut.
“Mereka adalah penjaga alami kawasan ini yang telah dirusak pikirannya,” ujar Rey dengan tenang sambil mengamati gerakan mereka. “Mereka tidak menyerang karena keinginan sendiri, tapi karena dikendalikan oleh dorongan energi di sekitarnya. Jika kita bertindak terlalu keras, kita harus membunuhnya; tapi jika terlalu lemah, kita bisa kewalahan menghadapi jumlahnya.”
“Kita buat jarak dan gunakan serangan yang cukup untuk menghentikan gerakan mereka saja!” perintah Kapten Valerius. “Jangan buang tenaga lebih dari yang dibutuhkan!”
Serangan pun dimulai. Dari jarak jauh, Morin dan penyihir lainnya melepaskan gelombang energi kejut yang meledak di udara, menciptakan goncangan yang membuat makhluk-makhluk itu terhenti sesaat. Sementara itu, prajurit di barisan depan membentuk pertahanan rapat, memukul mundur makhluk yang melompat mendekat dengan gagang perisai dan sisi tumpul pedang.
Rey melangkah maju sedikit, membiarkan aliran energi elemen angin dan air mengalir keluar secara halus namun luas. Ia membentuk lapisan udara berputar yang mengelilingi kelompok mereka, berfungsi sebagai penghalang lembut yang menahan gerakan makhluk-makhluk itu agar tidak bisa mendekat terlalu cepat. Di sampingnya, Sylfia melepaskan panah yang ujungnya mengandung sihir cahaya menenangkan; setiap panah yang melesat tidak melukai tubuh, tapi menyinari mata dan kepala makhluk itu, membuat mereka tersentak dan mundur seolah terkena rasa sakit di dalam kesadarannya.
Pertarungan berlangsung selama sekitar sepuluh menit. Karena makhluk-makhluk itu tidak memiliki strategi yang teratur dan hanya mengandalkan dorongan buta, mereka akhirnya mundur perlahan, menggeram kesal namun tidak berani melangkah lebih dekat lagi saat merasakan adanya energi penyeimbang yang dipancarkan Rey dan Sylfia.
Saat suasana kembali tenang, seluruh anggota tim menghela napas panjang, merasakan detak jantung yang masih berdebar kencang. Wajah mereka menunjukkan kekaguman melihat bagaimana Rey dan Sylfia mampu mengendalikan situasi tanpa menimbulkan banyak pertumpahan darah, sesuatu yang jarang bisa dilakukan dalam kondisi seperti ini.
“Kalian berdua benar-benar luar biasa,” kata Morin sambil menyeka keringat di dahinya. “Biasanya kita harus bertarung habis-habisan melawan makhluk yang sudah terkontaminasi seperti ini, tapi kalian justru membuat mereka mundur dengan energi penyeimbang. Apakah ini jenis sihir khusus yang jarang diketahui?”
Rey hanya tersenyum tipis dan menjawab dengan jawaban yang aman. “Hanya mencoba memanfaatkan hukum alam dasar. Semua energi memiliki pasangan penyeimbangnya. Selama kita bisa menemukannya, kita tidak perlu menggunakan kekerasan berlebihan.”
Kapten Valerius menatap Rey dengan pandangan yang semakin dalam, namun tidak menanyakan lebih lanjut. Ia hanya mengangguk dan berkata, “Bagus sekali. Ini membuktikan bahwa kita memilih kalian dengan tepat. Tapi ingat, rintangan ini hanyalah permulaan. Semakin kita masuk ke dalam, makhluk yang kita hadapi akan semakin kuat dan terkontaminasi lebih parah lagi.”
Mereka melanjutkan perjalanan dengan kewaspadaan yang dua kali lipat lebih tinggi dari sebelumnya. Cahaya dari kotak penunjuk arah terus bersinar terang, membimbing mereka melewati jalan setapak yang semakin sempit dan berliku. Di sepanjang perjalanan, mereka menemukan lebih banyak sisa bangunan kuno yang hancur, serta ukiran-ukiran di atas batu yang menceritakan kisah tentang penjaga keseimbangan dan kekuatan yang harus dijaga agar tidak jatuh ke tangan yang salah.
Setelah berjalan selama hampir tiga jam, kabut di sekitar mereka perlahan menghilang sepenuhnya, digantikan oleh langit yang tertutup awan gelap tebal yang tidak membiarkan cahaya matahari menembus sama sekali. Di depan mereka terbentang sebuah lembah luas yang dikelilingi oleh tebing tinggi yang terbuat dari batu berwarna hitam mengkilap. Dan tepat di tengah lembah itu, terlihat sebuah struktur bangunan raksasa yang menjulang tinggi—sebuah menara batu kuno yang menjadi pusat dari segala pusaran energi yang mereka rasakan sejak awal.
Itulah Pilar Penyeimbang yang telah berubah fungsi. Di puncaknya terlihat pusaran energi berwarna ungu gelap yang berputar dengan kecepatan luar biasa, menarik segala cahaya dan kehidupan dari sekitarnya, lalu memancarkan kembali gelombang energi kacau yang menyebar ke seluruh penjuru hutan.
Rey berhenti melangkah, matanya terfokus pada menara itu, merasakan denyutan energi yang begitu kuat hingga membuat seluruh tubuhnya bergetar. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa tujuan perjalanan mereka kini sudah terlihat jelas, dan pertarungan untuk memulihkan keseimbangan dunia baru saja akan dimulai.