Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posesif
Sepulang kantor,Anisa langsung balik ke kost an nya. Setelah obrolan tadi siang bersama Kais, Anisa tak banyak berinteraksi dengan laki-laki itu.
Anisa ingin segera membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuh nya setelah lelah bekerja. Tapi semua rencana itu gagal karena jam sembilan malam ternyata Kais datang ke kostan nya.
Tentu saja Anisa terkejut dengan kehadiran Kais di kost nya. Apalagi Kais sebelum nya belum pernah berkunjung ke tempatnya.
"Mas, ngapain kamu kemari? Jam segini lagi, gimana kalau ada yang ngadu ke ibu kost berabe jadinya."
Kais terlihat santai menanggapi ucapan Anisa. "Bersiaplah!"
Anisa membuang nafas kasarnya. Rasanya baru saja beberapa jam bisa rebahan santai, sekarang tiba-tiba saja ada pengacau datang.
"Mau kemana malam-malam gini? Aku capek, ingin istirahat. Please kasih aku istirahat, bisa kan?" dengan wajah memelas nya Anisa memohon pada Kais untuk pria itu memberikan waktu untuk istirahat.
"Ganti bajunya, sekarang!" Anisa mendes*h pelan mendengar perintah Kais. "Dosa loh kalau nggak nurut suami." Anisa mendelik tajam ke arah Kais saat laki-laki itu membawa-bawa statusnya sebagai suami siri nya.
"CK...dasar pemaksa!" Anisa menghentakkan kakinya dengan kesal lalu berbalik arah melangkah menuju kamar kostnya.
Sedangkan Kais menatap kelakuan istri sirinya itu hanya bisa tersenyum tipis.
Tak berapa lama, Anisa sudah terlihat ganti baju dan mereka pun segera masuk ke dalam mobil Kais. Selama perjalanan tak ada obrolan diantara mereka. Kais pun tahu jika Anisa sedang kesal dengannya. Makanya dia tak berniat menambah rasa kesal perempuan di sampingnya itu.
Kais membawa Anisa ke apartemen yang biasa mereka tempati saat berdua. Keduanya masuk ke dalam apartemen itu. Saat pintu apartemen ditutup, Kais langsung memeluk tubuh Anisa dari belakang.
Erat sangat erat. Anisa yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun lumayan terkejut. Anisa berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan posesif Kais. "Jangan pernah pergi dari ku Nis, aku nggak bisa bayangkan jika kamu nggak ada di samping aku. Kamu hanya milikku Nis." dengan berbisik Kais berkata pada Anisa dan pelukan itu semakin erat dan semakin menyesakkan dada Nisa.
"Lepas mas, aku nggak bisa nafas." Kais mengendurkan pelukannya namun tetap memeluk tubuh ramping Anisa sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Anisa. Menghirup wangi tubuh perempuan yang selalu bisa menenangkan hati dan pikirannya.
"Aku lapar mas, kamu sudah makan belum?" Anisa berusaha untuk bisa terlepas dari dekapan Kais.
"Belum," jawaban singkat itu terlontar dari bibir Kais.
"Kita makan dulu ya, aku lapar. Mau pesan makan apa? Di kulkas ada stok sayuran atau bahan masakan nggak?" Kais melepaskan pelukan nya di tubuh Anisa.
"Aku lupa masih atau nggak bahan masakan di kulkas. Kamu bisa cek saja." Anisa mengangguk lalu melangkah ke arah dapur. Sedangkan Kais setia mengekor di belakang Anisa.
Anisa membuka kulkas dan ternyata hanya ada telur. " Makan mie instan pake telor enak deh, tapi kamu ada stok mie nggak?"
"Coba lihat di atas, seingat ku ada sih. Tapi, kamu suka atau nggak." Anisa membuka lemari penyimpanan yang ada di dapur dan ternyata dia melihat ada beberapa bungkus mie instan di sana.
"Kita makan mie instan malam ini, nggak apa-apa kan?"
"Oke, sudah lama juga aku nggak makan mie." ujar Kais dan Anisa pun mengangguk lalu dengan cepat menyiapkan bahan-bahan yang dia butuhkan untuk masak mie instan.
Kais yang menatap Anisa yang sedang masak mie instan dengan kaos kebesaran dan hotpants serta rambut panjangnya di gulung asal membuat leher jenjangnya terekspos membuat kesan sexy. Hal itu membuat Kais tak tahan ingin mendekati Anisa.
Kais melingkarkan tangannya di pinggang Anisa yang tengah fokus di depan kompor. "Astaghfirullah mas, kamu buat kaget saja."
"Kamu sexy sekali sayang.." bisik Kais sembari iseng mengecup leher jenjang Anisa.
"Mas, jangan gangguin dong.."
"Aku cuma pengen peluk kamu sayang.." suara serak-serak basah Kais terdengar sexy di telinga Anisa membuat tubuh Anisa merinding di buatnya.
"Tapi kamu gangguin aku loh.."
" Kita bisa seperti ini setiap hari kan sayang?" Anisa tak menjawab pertanyaan Kais. "Sayang, jawab dong.."
" Nggak bisa dong mas, ingat...kamu juga punya Marsya. Kita nggak bisa setiap hari sama-sama juga, kasihan Marsya."
"Nis, bisa kan kalau kita sedang berdua jangan bahas Marsya. Sayang, kalau aku sama kamu itu bahas tentang rumah tangga kita. Kalau urusan aku sama Marsya kamu nggak perlu pikirkan, biar aku saja yang mikirin." Anisa mematikan kompor dan kemudian mengangkat mangkok yang ada di depannya.
Dia berjalan ke meja makan minimalis di dekat dapur dan meletakkan mangkok itu disana. Anisa duduk di salah satu kursi di ikuti oleh Kais. Anisa tak berkata-kata apalagi. Dia menyuapkan sesendok mie instan ke dalam mulutnya.
Malam itu Kais membiarkan Anisa istirahat di sampingnya. Hanya pelukan hangat yang Kais berikan pada Anisa.
...----------------...
Keesokan harinya, saat Anisa sedang fokus dengan laptop nya, tiba-tiba saja seseorang berdiri di depan meja kerjanya membuat Anisa mengalihkan perhatian nya ke arah depan mejanya.
"Nyo_nyonya, maaf saya nggak tahu nyonya datang. Nyonya mau ketemu pak Kais?" dengan wajah terkejut Anisa langsung berdiri dari tempat duduknya dan bicara dengan sopan pada Sekar yang sudah berdiri di depan meja kerja Anisa.
"Saya nggak cari Kais, saya cari kamu. Lima menit lagi jam makan siang, saya ingin ajak kamu keluar, bisa?" dengan cepat Anisa menganggukan kepalanya.
"Oh, bisa nyonya. Saya rapihkan meja saya dulu kalau gitu." Sekar mengangguk dan kemudian dia duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Anisa.
Dengan cepat Anisa membereskan meja kerja nya. Dalam hati Anisa bertanya-tanya kenapa nyonya Sekar mencarinya. Bahkan mengajak dirinya makan siang. Apa dia mau bahas hubungan nya dengan Kais? entahlah, pertanyaan itu hanya bisa Nisa tahu jawabannya saat makan siang nanti.
Setelah selesai, mereka langsung menuju sebuah restoran. Mereka memilih menu makanan dan kemudian Sekar pun mulai buka percakapan. "Kamu baik-baik saja Nis?"
"Alhamdulillah nyonya .." dengan singkat Nisa langsung menjawab pertanyaan Sekar.
"Nis, kamu pasti sadar kalau saya sedang mengawasi kamu dan Kais. Saya tidak tahu apa yang menarik dari kamu sampai anak itu mendekati kamu." Anisa menelan ludah nya dengan susah payah saat mendengar ucapan Sekar barusan. Anisa hanya bisa tertunduk. *Kamu tahu, dia nggak akan pernah mau melepaskan kamu. Bagi dia kamu adalah sumber kebahagiaan nya." Ucapan Sekar sontak membuat Anisa mendongakkan kepalanya dan matanya menatap ke arah Sekar dengan tatapan bingung.
Bersambung