Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Satu jam kemudian, deru mesin mobil SUV hitam milik Ganda kembali terdengar memasuki halaman ndalem Pondok Pesantren Al Ikhlas.
Begitu mobil berhenti, Ganda dan Abah Kiai bergegas turun dan melangkah masuk ke dalam kediaman utama.
Namun, begitu melintasi pintu, suasana di dalam rumah terasa begitu senyap dan sepi.
Ganda mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.
"Kemana semua orang, Abah? Kok sepi sekali, tidak ada siapa-siapa di rumah," tanya Ganda, keningnya mengkerut dalam, merasakan kejanggalan yang kian menebal.
Abah Kiai mencoba berprasangka baik. "Mungkin mereka sedang pergi jalan-jalan keluar, Ganda. Biarkan saja, itu bagus agar mereka berdua bisa saling akur."
Ganda sempat menganggukkan kepalanya pelan, mencoba menerima ucapan sang ayah.
Namun, saat langkah kakinya hendak berbalik, matanya tidak sengaja menangkap sebuah benda yang tergeletak mengenaskan di atas lantai dekat meja sudut. Itu adalah ponsel milik Diaz.
Jantung Ganda mencelos seketika. Ia memungut ponsel itu dengan tangan gemetar.
"Abah, tidak mungkin Diaz pergi keluar... ponselnya tertinggal di lantai seperti ini," ucap Ganda dengan suara yang mulai meninggi panik. Diaz tidak akan pernah meninggalkan rumah tanpa membawa ponsel pribadinya.
Abah Kiai yang melihat hal itu mulai ikut merasa tidak enak.
Beliau segera merogoh jubahnya, mencoba menghubungi ponsel Umi Maryam beberapa kali, namun panggilan itu terus berdering tanpa pernah diangkat.
"Umi tidak mengangkat teleponnya, Ganda," ucap Abah dengan guratan cemas di wajah sepuhnya.
Tanpa membuang waktu, Ganda melangkah lebar keluar teras ndalem.
Dengan suara baritonnya yang menggelegar, ia memanggil para santri yang sedang beraktivitas di sekitar halaman.
"Zainal! Lukman! Tolong kemari!"
Mendengar suara Ganda yang menggelegar, Zainal dan Lukman tersentak hebat.
Tubuh mereka gemetar mendapati fakta bahwa sang ustaz dan Abah Kiai sudah kembali secepat ini.
Dengan langkah lunglai dan wajah pucat pasi, kedua santri senior itu berjalan mendekat.
Bukannya berdiri menjawab, mereka langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam dan duduk bersimpuh di lantai teras sembari menangis ketakutan.
"Nyuwun sewu, Ustaz... Abah... Mohon maaf, kami salah... Mohon maaf..." ratap mereka bergantian.
Ganda menatap mereka dengan tatapan mata yang tajam dan dada yang kembang kempis.
"Ada apa, Zainal?! Ada apa, Lukman?! Kenapa kalian duduk bersimpuh dan meminta maaf seperti ini? Katakan yang jelas!" bentak Ganda, kehilangan kesabarannya.
Dengan suara bergetar, Zainal akhirnya membuka suara.
"Tadi... tadi pagi setelah Ustaz dan Abah berangkat... Umi Maryam memaksa kami. Umi meminta saya dan Lukman untuk mengikat istri pertama Anda, Mbak Diaz, lalu memasukkannya ke dalam gudang belakang..."
"L-lalu... Umi dan Mbak Laura sekarang sedang pergi berbelanja ke pasar dari tadi dan belum pulang, Ustaz..." sambung Lukman dengan tubuh yang semakin menggigil.
"APA?!!"
Bagai disambar petir di siang bolong, wajah Ganda seketika memerah padam menahan amarah yang luar biasa.
Ia tahu betul trauma masa lalu Diaz yang takut setengah mati dengan ruang gelap dan sempit.
Tanpa memedulikan apa pun lagi, Ganda berbalik dan bergegas berlari sekencang-kencangnya menuju gudang belakang pondok, diikuti oleh Abah Kiai yang berjalan cepat dengan wajah syok.
Brak!
Ganda menendang engsel pintu kayu gudang yang berdebu itu hingga terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari menerobos masuk ke dalam ruangan yang pengap.
Begitu pandangannya beradaptasi dengan keremangan di dalam, separuh jiwa Ganda seolah tercerabut dari tubuhnya melihat pemandangan di depannya.
Diaz tergeletak lemas di atas lantai semen yang kotor.
Tubuhnya melengkung kaku, tangannya terikat erat ke belakang dengan tali tambang, dan mulutnya dibekap rapat oleh lakban hitam tebal. Wajahnya yang pucat pasi dipenuhi sisa air mata yang telah mengering, dan ia berada dalam kondisi tidak sadarkan diri—pingsan akibat serangan panik dan sesak napas yang hebat.
"Astaghfirullahaladzim... Diaz!!" teriak Ganda histeris. Suaranya pecah oleh rasa sakit dan murka yang teramat dalam.
"Kenapa mereka tega melakukan ini semua kepadamu, Dik?!"
Ganda langsung berlutut di lantai yang kotor, merengkuh tubuh ringkih Diaz ke dalam pelukannya.
Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang tanpa sadar meluncur di pipinya, Ganda membuka ikatan tali di tangan Diaz dengan tergesa-gesa.
Setelah terlepas, ia menarik pelan namun cepat lakban hitam yang menyumbat mulut istrinya.
Ganda mendekatkan telinganya ke dada Diaz, deru napas istrinya terdengar sangat lemah dan pendek.
"Abah, napasnya lemah sekali! Ganda harus bawa Diaz ke rumah sakit sekarang juga!" ucap Ganda panik, langsung menggendong tubuh pingsan Diaz ala bridal style ke dalam dekapan dadanya yang kokoh.
Sembari berjalan cepat keluar dari area gudang menuju mobil, Ganda menatap tajam ke arah Zainal dan Lukman yang masih berlutut ketakutan di lorong.
"Kalian berdua, dengarkan perintah saya! Tetap rahasiakan dari Umi dan Laura kalau saya dan Abah sudah pulang ke pondok! Jangan ada yang berani membuka mulut satu kata pun sampai saya kembali!" bentak Ganda dengan kilat amarah dingin yang membuat bulu kuduk merinding.
Para santri yang sudah terlanjur ketakutan itu langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Nggih, Ustaz... nggih, kami janji akan bungkam..."
Ganda langsung memasukkan Diaz ke kursi belakang mobil SUV-nya, menyelimutinya dengan jubahnya sendiri, lalu melesat pergi meninggalkan pondok menuju rumah sakit dengan kecepatan penuh, membiarkan badai kemarahannya bersiap menggulung Umi Maryam dan Laura saat mereka pulang nanti.
Di dalam kabin mobil SUV yang melesat membelah jalanan, suasana terasa begitu mencekam.
Di kursi belakang, napas Diaz terdengar semakin tersengal-sengal, pendek, dan berat.
Wajahnya yang semula pucat kini mulai membiru karena kekurangan pasokan oksigen ke otak, sementara tubuhnya sesekali kejang kecil akibat trauma psikologis dan fisik yang menghimpitnya.
Melihat kondisi istrinya melalui kaca spion tengah, rahang Ganda mengeras.
Setir mobil ia cengkeram erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ganda melajukan mobilnya sekencang mungkin, menerobos beberapa lampu lalu lintas dan menyalip kendaraan lain tanpa memedulikan bahaya, demi mengejar waktu yang kian menipis untuk menyelamatkan nyawa Diaz.
Sesampainya di area drop-off rumah sakit, Ganda langsung membuka pintu belakang dan kembali menggendong tubuh lemah Diaz masuk ke dalam ruang kegawatdaruratan.
Beruntung, Dokter Fahmi—dokter spesialis yang juga merupakan kerabat dekat keluarga pondok—sedang berjaga.
Melihat Ganda yang masuk dengan wajah panik dan menggendong Diaz yang tak sadarkan diri, Dokter Fahmi langsung mengomando tim medis ke UGD.
"Bawa ke bed satu! Siapkan tabung oksigen dan rontgen sekarang!" seru Dokter Fahmi tegas sebelum ikut menghilang di balik tirai putih UGD.
Di luar ruangan, Ganda berjalan mondar-mandir di selasar rumah sakit.
Langkah kakinya terdengar berat dan cepat. Sorot matanya memancarkan kilat amarah yang luar biasa pekat—amarah kepada ibunya, amarah kepada Laura, dan yang terbesar adalah amarah kepada dirinya sendiri. Dadanya kembang kempis menahan sesak.
Abah Kiai yang sejak tadi menyertai putranya hanya bisa mengembus napas berat.
Beliau berjalan mendekat, lalu menepuk pundak Ganda dengan lembut.
"Putraku, duduklah dulu. Tenangkan dirimu, perbanyak istighfar. Marahmu tidak akan menyelesaikan masalah saat ini. Doakan batin Diaz kuat."
Ganda akhirnya terduduk lemas di kursi tunggu, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan yang gemetar.
Hampir setengah jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa, tirai UGD akhirnya tersingkap.
Dokter Fahmi keluar dengan gurat wajah yang tampak sangat lelah dan serius.
Ia melepas stetoskopnya, lalu menatap Abah Kiai dan Ganda bergantian.
"Kiai, Ustaz, mari ikut ke ruangan saya sebentar. Ada hal krusial yang harus saya jelaskan," ajak Dokter Fahmi dengan nada suara yang sengaja direndahkan.
Ganda dan Abah Kiai segera bangkit dan mengekor masuk ke dalam ruang kerja dokter yang sunyi.
Begitu pintu ditutup, Dokter Fahmi menghela napas panjang sebelum membuka rekam medis elektronik di layarnya.
"Ustaz Ganda, kondisi Mbak Diaz saat ini bisa dikatakan sangat kritis," ujar Dokter Fahmi membuka penjelasan secara blak-blakan.
"Beliau mengalami panic attack atau serangan panik ekstrem di ambang batas tertinggi yang memicu terjadinya hiperventilasi parah. Karena mulutnya disumbat rapat oleh lakban tebal sampai hidung dan di dalam ruangan yang minim oksigen, jalur pernapasannya tersumbat parah. Hal ini mengakibatkan asfiksia—kondisi di mana tubuh kekurangan oksigen secara radikal. Akibatnya, terjadi penurunan kesadaran yang sangat dalam, dan detak jantungnya sempat tidak stabil karena syok neurogenik akibat ketakutan yang teramat luar biasa."
Dokter Fahmi menatap Ganda dengan pandangan prihatin.
"Trauma psikologisnya mendadak aktif beruntun, Ustaz. Saat ini kami terpaksa memasang alat bantu napas intensif dan menyuntikkan obat penenang dosis tinggi agar otaknya bisa beristirahat dari syok. Jika dalam dua puluh empat jam ke depan pasokan oksigen ke otaknya tidak membaik, kami khawatir akan terjadi komplikasi yang lebih fatal pada organ dalamnya. Kita hanya bisa berserah dan menunggu masa kritis ini lewat."
Mendengar penjelasan panjang lebar dari Dokter Fahmi yang begitu mengerikan, pertahanan Ganda runtuh seketika.
Pertanyaan demi pertanyaan yang menyudutkan batinnya langsung menghantam kepalanya bertubi-tubi.
Ganda menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas meja dokter.
Air matanya luruh tanpa bisa dibendung lagi. Bahunya berguncang hebat, mengeluarkan suara tangisan pilu yang sarat akan penyesalan yang teramat mendalam.
"Astaghfirullahaladzim... Diaz... Maafkan aku, Dik..." ratap Ganda dengan suara serak yang tertahan.
Ia merasa telah menjadi suami yang paling munafik dan tidak berguna.
Di saat ia sibuk memikirkan bagaimana cara bertindak adil di hadapan hukum agama dan mendengarkan wejangan tentang poligami, ia justru membiarkan istri pertamanya disiksa dengan kejam oleh keluarganya sendiri.
Ganda menangis sejadi-jadinya, meratapi kegagalannya yang teramat telak dalam melindungi wanita yang semalam baru saja menyerahkan seutuhnya jiwa dan raganya ke dalam dekapannya.
Rasa bersalah itu kini mencengkeram dadanya, berubah menjadi bara api dendam yang siap ia tumpahkan kepada siapa saja yang telah membuat Diaz terbaring sekarat di ranjang rumah sakit.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡