"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
BAB 18: PERTANYAAN YANG BELUM TERJAWAB
Anggun masih berdiri di samping mobil dengan wajah lelah. Baru saja ia menempuh perjalanan berjam-jam, kini suaminya malah sudah menggenggam kunci mobil lain.
"Mas, aku baru sampai."
"Naik."
"Dengerin dulu..."
"Naik."
Nada suara Papa Deni datar, tapi justru terdengar jauh lebih berbahaya daripada ketika ia berteriak.
Anggun mengembuskan napas panjang.
"Aku capek."
"Aku juga capek."
"Bukan capek badan."
"Aku juga capek hati."
Kalimat itu membuat Anggun terdiam.
Tak ada lagi yang bisa ia bantah.
Dengan langkah berat, ia masuk ke mobil. Beberapa detik kemudian mesin kembali menyala.
Sepanjang perjalanan menuju kota tempat tinggal Ranu, suasana begitu sunyi.
Hanya suara mesin mobil yang terdengar.
Namun tak lama.
Papa Deni mendadak menggerutu sendiri.
"Heran aku sama anak-anak laki-lakiku."
Anggun melirik sekilas.
"Kamu masih kepikiran?"
"Ya jelas."
Papa Deni menggeleng kesal.
"Yang satu Yuda."
"Yang satu lagi Ranu."
"Sama aja."
Anggun ikut menghela napas.
"Sama-sama nikah diam-diam."
"Iya."
"Kita ini orang tuanya apa bukan, sih?"
"Tahu-tahu udah jadi suami orang."
Anggun ikut menimpali dengan nada kesal.
"Waktu Yuda dulu aku juga sakit hati."
Papa Deni langsung menyahut.
"Sekarang Ranu."
"Lengkap sudah."
Ia mendecak pelan.
"Memangnya susah bilang, 'Pa, Ma, aku mau nikah?'"
Anggun memijat pelipisnya.
"Aku sampai malu sama teman-temanku."
Papa Deni mendengus.
"Aku juga."
"Kalau ditanya kapan mantu datang, aku malah nggak tahu ternyata mantunya sudah ada."
Anggun menatap keluar jendela.
"Tadi aku benar-benar syok."
"Aku juga."
Papa Deni kembali menggeleng.
"Ranu itu dari kecil paling kalem."
"Paling nurut."
"Eh ternyata kalau bikin ulah..."
"...langsung besar."
Meski sedang kesal, Anggun nyaris tersenyum mendengar ucapan suaminya.
"Turunan siapa ya?"
Papa Deni langsung melirik tajam.
"Jangan lihat aku."
"Bukan turunan aku."
"Kalau keras kepala mungkin iya."
"Kalau nikah diam-diam, jelas bukan."
Anggun mendengus pelan.
"Kedua anakmu itu memang pintar bikin kejutan."
"Bukan kejutan."
Papa Deni mengoreksi.
"Serangan jantung."
Sesaat suasana kembali sunyi.
Langit mulai berubah gelap.
Jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam.
Anggun melihat jalanan yang semakin sepi.
"Mas."
"Hm?"
"Kalau kita terus jalan sekarang..."
"Malam."
"Iya."
Papa Deni melirik jam di dashboard.
Perjalanan masih cukup jauh.
Ia akhirnya mengangguk pelan.
"Kita istirahat dulu."
Anggun mengembuskan napas lega.
Malam itu mereka memutuskan menginap di sebuah hotel yang berada di tengah perjalanan.
Meski tubuh mereka beristirahat, pikiran keduanya tetap sibuk.
Tak satu pun benar-benar bisa tidur nyenyak.
****
Keesokan paginya, tepat saat matahari baru naik sedikit, mereka sudah kembali melaju menuju rumah Ranu. Harapan mereka sebenernya bisa bicara baik-baik pagi ini, sebelum kesibukan dimulai. Namun begitu sampai di sana, pagar rumah sudah terbuka, mobil Ranu sudah tak ada di tempatnya.
"Kok sudah pergi?" Deni turun dari mobil dengan wajah masih masam. "Jam segini belum tentu jam masuk kantor!"
Mbak Siti membukakan pintu dengan gugup sekali. "Maaf, Pak, Bu... pak Ranu dan bu Galuh sudah berangkat sejak pukul tujuh tadi pagi. Katanya ada urusan mendadak di luar kota."
Deni mendengus kasar. "Mendadak... pasti saja alasan mendadak!"
Mereka duduk di ruang tamu dengan perasaan yang makin berkecamuk. Menunggu. Entah menunggu apa, yang jelas mereka tak mau pulang sebelum semuanya jelas.
Menjelang jam makan siang, gerbang kembali terbuka. Sebuah mobil jemputan sekolah berhenti, dan tak lama kemudian Arkan melangkah masuk dengan tas kecil di punggungnya.
"Assalamualaikum!"
Deni dan Anggun langsung menoleh, Arkan juga seketika berubah kaget dan berhenti melangkah.
"Anak kecil? Kebapa ada anak kecil di rumah ini?" tanya papa Deni ke Anggun.
"Anak wanita itu."
"Anak wanita itu?"
"Om ma?" sapa Arkan sedikit ragu. Dia lalu mendekat dan mencium tangan Anggun.
"Hemm, kamu baru pulang."
"iya Oma."
"Ini opa," kata anggun sambil menunjuk Deni.
"halo opa..." kini arkan ganti mencium tangan Deni.
Deni menatap anak itu lekat-lekat. "Kamu pulang sekolah, Nak?"
"Iya, opa."
"Namamu siapa?"
"Arkan Wardhana."
"hmmmm..." deni menepuk sisi sebelah, Arkan langsung duduk di sana. "Kamu sekolah di mana?"
"TK Mawar, opa. Kelas B."
"Umur kamu berapa?"
"Lima tahun, opa."
Deni mengangguk pelan, lalu pandangannya beralih ke Anggun. Ada rasa pahit yang menyelinap di hati. Lima tahun... berarti sebelum Ranu menikah dengan Galuh, anak ini sudah ada. Perlahan benih keraguan mulai tumbuh di pikirannya.
"Arkan..." panggil Deni pelan. "Dulu... sebelum Papa Ranu datang, kamu tinggal sama siapa?"
Arkan menunduk sebentar, lalu menjawab polos. "Dulu Arkan tinggal sama Ibu, Kakek, dan Nenek di rumah. Terus sekarang Papa sudah jemput, jadi Arkan tinggal di sini sama Papa dan ibuk."
Deni menelan ludah. "Lalu... ayah kandung kamu sendiri sekarang di mana? Kamu ingat dia?"
Arkan menggeleng pelan. "Arkan nggak tahu, opa. Sejak kecil Arkan nggak pernah lihat Ayah. Nenek cuma bilang Ayah sudah pergi jauh."
Jawaban itu membuat suasana jadi hening. Anggun dan Deni saling berpandangan. Tanpa sadar, pikiran mereka mulai melayang ke hal-hal yang kurang baik. Kalau begitu ceritanya... apa Galuh itu wanita yang benar-benar baik-baik saja?
*****
Sampai akhirnya telepon rumah berdering. Mbak Siti mengangkatnya sebentar, lalu menoleh ke arah mereka.
"Bu, Pak... itu Tuan Ranu."
Deni langsung menyambar gagang telepon itu. "Halo?"
"Papa... Mama? Kalian ada di rumah?" suara Ranu terdengar agak kaget di seberang sana.
"Iya, kami sudah di sini sejak pagi. Kamu ke mana saja? Kapan kamu pulang? Dan apa sebenarnya maksud dari semua ini?" nada suara Deni langsung meninggi.
"Maaf Pa, urusan proyek ini mendadak sekali. Kliennya minta segera diselesaikan. aku sama Galuh masih harus mengurus perjanjian ini sampai tuntas hari ini juga," jawab Ranu tenang, meski tahu ayahnya pasti sedang marah besar.
"Galuh? Kamu bawa dia juga?"
"Iya, Pa. Dia kan sekretaris ku, banyak berkas yang harus dia urus langsung."
Deni mendengus kesal. "Apa? Jadi kamu menikahi sekretaris mu sendiri?!"
"Hahaha, iya. Pah." Ranu menggaruk kepalanya yang tidak gatal."O iya, Pah. Mumpung lagi di sana. Tolong jagain Arkan dulu ya. Besok kami mungkin baru balik."
"Apa?"
"Aahh, udah ya, Pah. Klien udah datang."
Tututut!
Deni meletakkan teleponnya dengan kasar. Jengkel saja dia. "Hahahah! Bagus! Udah pinter dia nyuruh-nyuruh papanya jagain anak!"
Sementara itu, di ruang pertemuan proyek yang jauh dari sana, Ranu baru saja menutup telepon. Galuh yang duduk di sampingnya menatap khawatir.
"Ada apa, pak?"
"Mas!"
"Ada apa, Mas?"
"Ada Papa sama Mama di rumah," jawabnya santai.
"Apa?" tanya Galuh kaget.
"Udah, tenang aja."
"Mungkin kita harus pulang sekarang saja, Mas. Urusan ini bisa ditunda sebentar..."
"Enggak bisa, Galuh. Selesaikan ini dulu."
"Tapi..."
"Tenang aja, mama sama papa enggak akan makan Arkan kok."
Pertemuan itu berlangsung lama. Mereka berdebat, menyepakati angka, menandatangani perjanjian, hingga matahari benar-benar terbenam. Badan rasanya remuk semua, pikiran pun sudah jenuh tak karuan.
"Sudah malam sekali," kata Ranu sambil melirik jam tangannya. "Kalau kita pulang sekarang, nanti sudah lewat tengah malam. Lebih baik kita menginap di sini saja."
Mereka pun berjalan menuju hotel terdekat. Begitu sampai di resepsionis, Ranu langsung meminta satu kamar.
"Satu kamar."
"Baik, pak."
"Dua." sela Galuh. Ranu menoleh."Satu katu kamar lagi ya."
Ranu menoleh, menatap istrinya lekat-lekat. "Buat apa?"
"aku..."
"Galuh," potong Ranu pelan tapi tegas. "Kamu istri ku. Kenapa harus sewa kamar terpisah? Buang-buang uang saja."
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up