Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Darah Lebih Kental dari Anggur Merah
Pukul dua dini hari, sunyi kembali merebut kekuasaan di kompleks Mansion Ketiga. Di dalam kamar rawatnya, Alana baru saja memejamkan mata ketika sensor pintu mekanis kembali berdengung pelan. Namun, berbeda dengan kedatangan Dominic yang penuh intimidasi atau Xavier yang tergesa-gesa, ketukan langkah kaki kali ini terasa berat, ragu-ragu, dan sarat akan beban emosional yang teramat masif.
Cedric Garrick melangkah masuk ke dalam temaram lampu kamar.
Pria bertato ular itu masih mengenakan seragam prajurit rendahan yang lusuh, dengan kepalan tangan yang ternoda darah kering akibat menghantam dinding barak militer sepanjang malam. Dia berhenti di ujung ranjang Alana. Untuk beberapa saat, sang mantan komandan militer yang ditakuti itu hanya berdiri kaku, napasnya memburu pelan di bawah tekanan egonya yang sedang bertarung hebat dengan kenyataan.
Alana membuka matanya perlahan, tidak terkejut melihat sosok kekar itu berada di kamarnya pada jam rawan seperti ini. Dia mengubah posisinya menjadi bersandar pada sandaran ranjang, menatap kakak ketiganya dengan kelembutan yang samar namun konsisten.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Cedric tiba-tiba menekuk kedua lututnya. Tubuh kekarnya merosot, berlutut di lantai marmer yang dingin tepat di sisi ranjang Alana. Dengan gerakan gemetar yang sakral, Cedric merogoh saku taktisnya dan mengeluarkan sebilah pisau komando bermata ganda dengan ukiran lambang serigala militer—simbol otoritas tertinggi dan sumpah setia mutlak yang hanya dia berikan sekali seumur hidup.
Cedric meletakkan pisau itu di atas selimut, tepat di dekat jemari Alana.
"Aku tidak punya pasukan lagi, Alana. Aku tidak punya pangkat, tidak punya kuasa, dan di mata Ayah... aku hanya sampah yang menunggu giliran untuk mati di garis depan," suara Cedric bergetar hebat, parau oleh alkohol dan air mata keangkuhan yang pecah. Dia mendongak, menatap Alana dengan seluruh kerentanan jiwanya. "Tapi jika katamu benar... jika kamu bisa mengembalikan harga diriku yang diinjak-injak oleh Dominic dan Ayah... maka nyawaku, belati ini, dan setiap tetes darahku adalah milikmu. Perintahkan aku, Tikus Kecil. Aku akan menjadi anjing penjagamu yang paling buas."
Alana menatap belati di depannya, lalu perlahan mengulurkan tangannya. Alih-alih menyentuh senjata itu, jemari mungil Alana justru bergerak menyentuh rahang tegas Cedric, mengusap noda jelaga di pipi kakaknya dengan kehangatan yang tulus.
"Berdirilah, Tuan Muda Cedric. Seorang panglima perangnya Alana tidak boleh berlutut di lantai yang dingin," bisik Alana lembut.
Mendengar sebutan itu, tubuh kekar Cedric justru menegang. Rahangnya mengeras, bukan karena amarah, melainkan karena rasa bersalah yang mendadak menghantam dadanya seperti godam. Selama belasan tahun, panggilan "Tuan Muda" dari mulut Alana adalah simbol jarak, kasta, dan penindasan yang dia dan Faksi Pertama lakukan untuk menegaskan bahwa Alana hanyalah anak haram yang tak berharga.
Cedric menggenggam pergelangan tangan Alana yang masih berada di pipinya—bukan dengan kasar, melainkan dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah takut meremukkan kulit tipis adiknya.
"Jangan," suara Cedric tercekat di tenggorokan, matanya yang merah menatap Alana dengan kilatan posesif yang frustrasi. "Demi Tuhan, Alana... jangan pernah panggil aku dengan sebutan 'Tuan Muda' lagi. Hapus kata sialan itu dari mulutmu."
Alana mengerjapkan matanya sedikit, tertegun melihat reaksi emosional dari kakaknya yang biasanya bebal.
"Panggil aku Kak Cedric. Hanya 'Kak Cedric'," lanjut pria bertato ular itu, cengkeramannya di tangan Alana mengerat, memancarkan naluri protektif seorang kakak laki-laki yang baru saja terbangun dari kegelapan. "Aku bukan lagi Tuan Mudamu. Aku adalah kakakmu, dan mulai malam ini, siapa pun yang berani menganggapmu lebih rendah dari kami, akan kuhancurkan dengan tanganku sendiri."
Alana terdiam sejenak, menatap intens ke dalam sepasang mata Cedric yang kini dipenuhi ketundukan gila dan rasa sayang yang defensif. Sebuah senyuman tipis, kali ini benar-benar tulus, terukir di bibir pucat sang gadis.
"Baiklah... Kak Cedric. Simpan belatimu. Simpan untuk menusuk jantung Dominic dan meruntuhkan takhta Ayah saat harinya tiba. Mulai malam ini, kamu tidak lagi berjalan sendirian."
Tepat saat kalimat itu selesai, pintu kamar bergeser terbuka dengan kasar. Xavier dan Julian melangkah masuk dengan senjata yang setengah tercabut dari balik jas mereka, bersiap menghadapi potensi bahaya. Namun, langkah mereka terhenti ketika melihat Cedric yang masih berlutut, menatap Alana dengan pandangan penuh kepatuhan gila yang belum pernah dia tunjukkan pada siapa pun—bahkan pada Eleanor.
Xavier perlahan menurunkan senjatanya, menatap Cedric dengan seringai tajam yang sarat akan dominasi posesif. "Baguslah kalau kamu akhirnya sadar, Cedric. Tapi ingat satu hal, jika seujung kuku saja kamu membuat Alana berada dalam bahaya dengan temperamen bodohmu itu, aku sendiri yang akan menguburmu di bawah fondasi kasinoku."
Julian menyarungkan kembali pistol peraknya, membetulkan letak kacamatanya dengan senyuman taktis. "Selamat bergabung dalam aliansi, Kakak Ketiga. Keahlian militermu akan sangat berguna untuk menyabotase jalur integrasi yang sedang diurus Dominic."
Keesokan harinya, rencana sabotase digital mulai berjalan di bawah bayang-bayang. Flashdisk yang diberikan Alana kepada Dominic di perjamuan malam terbukti menjadi perangkap maut yang sempurna.
Di ruang bawah tanah Mansion Kedua, Adrian Garrick tertawa kecil di depan deretan monitor komputernya. Jari-jarinya bergerak secepat kilat di atas papan ketik. "Si bodoh Dominic benar-benar langsung memasukkan data itu ke dalam mainframe Faksi Utama. Malware buatanku sudah menyusup ke seluruh jaringan operasi mereka. Aku sedang menyalin manifes keuangan, rute logistik, bahkan riwayat obrolan privatnya dengan Ayah."
Julian yang berdiri di belakang Adrian menatap layar dengan mata berbinar licik. "Kita bisa menghancurkan otoritas Dominic dalam waktu tiga hari jika kita membocorkan data ini ke faksi luar."
"Jangan sekarang, Julian," sela Alana yang baru saja masuk ke ruangan, dipapah dengan sangat hati-hati oleh Xavier. Alana menduduki kursi empuk yang sudah disiapkan khusus untuknya. "Dominic terlalu berharga untuk dihancurkan sekarang. Biarkan dia merasa di atas angin. Kita simpan data ini untuk 'menyelamatkannya' ketika Ayah mulai bergerak menyingkirkannya. Ketika Dominic menyadari bahwa Faksi Utama-nya dikhianati oleh Ayah, dia tidak akan punya pilihan selain berlutut di bawah kaki kita."
Xavier tersenyum puas, membelai rambut hitam Alana dengan gerakan posesif yang kian protektif dari hari ke hari. "Dengar apa kata adik kecil kita. Kita bermain cantik."
Sore harinya, untuk pertama kalinya sejak badai politik melanda keluarga mereka, kompleks Mansion Ketiga menikmati atmosfer yang sangat langka: kedamaian yang canggung.
Kondisi fisik Alana sudah jauh membaik; jahitannya tidak lagi terasa terlalu menyiksa. Kakak-kakaknya memutuskan untuk membawanya ke paviliun kaca belakang yang dikelilingi oleh taman bunga mawar hitam yang indah.
Di dalam paviliun yang hangat, interaksi santai bergaya keluarga mafioso pun tercipta. Adrian dengan antusias memamerkan kode game konsol terbaru buatannya di depan Alana, mencoba mencari perhatian sang adik. "Lihat, Alana, aku membuat karakter utama wanita ini mirip denganmu, dia bisa meretas seluruh dunia!"
Sementara itu, Xavier sibuk memotong buah-buahan segar impor kelas satu. Dengan sifat posesif finansialnya yang gila, dia menolak membiarkan pelayan menyentuh makanan Alana. "Makan ini, Alana. Aku mendatangkannya langsung menggunakan jet pribadi dari perkebunan terbaik di Jepang pagi ini. Kamu harus menaikkan berat badanmu."
Julian duduk di seberang mereka, menyesap teh hitamnya sambil sesekali melempar senyuman tipis—pemandangan yang sangat langka bagi seorang pria dingin yang biasanya hanya memikirkan strategi pembunuhan. Di luar pintu kaca paviliun, Cedric berdiri tegak dengan setelan jas hitam baru, bertindak sebagai perisai manusia paling setia, menolak bergeser satu inci pun demi memastikan tidak ada satu pun pengawal luar yang bisa mengintip adiknya.
Alana menatap potongan buah yang disodorkan Xavier, lalu beralih menatap Adrian yang bersemangat, dan Cedric yang berjaga di luar. Untuk pertama kalinya, sebuah tawa kecil yang tulus dan sangat manis lolos dari bibir Alana. Sudut hatinya yang selama belasan tahun ini beku dan dipenuhi dendam, perlahan merasakan kehangatan sebuah keluarga yang sesungguhnya.
"Terima kasih, Kak Xavier... Kak Julian... Kak Adrian," ucap Alana lirih namun sarat akan emosi.
Mendengar kata 'Kakak' diucapkan dengan begitu tulus dari bibir Alana, Xavier dan Adrian seketika mematung, sementara Julian hampir tersedak tehnya. Sifat posesif gila mereka langsung melonjak ke tingkat maksimal.
"Sialan, Alana," bisik Xavier, matanya menggelap oleh rasa protektif yang luar biasa. "Aku bersumpah demi nyawaku, siapa pun yang berani membuatmu menangis atau terluka lagi di kompleks ini... bahkan jika itu adalah Ayah, aku akan meratakan kepalanya dengan tanganku sendiri."
Namun, momen hangat itu mendadak terusik. Suara geseran pintu kaca paviliun berbunyi kasar.
Dominic Garrick melangkah masuk ke dalam paviliun dengan wajah yang dilingkupi kemarahan dingin. Tablet militer berada di tangan kanannya. "Julian, Adrian, jelaskan padaku mengapa ada anomali enkripsi dalam data pelabuhan utara yang kalian berikan kemarin—"
Kalimat Dominic terputus di udara.
Pemandangan yang menyambut sang putra mahkota pertama seketika membuat langkah kakinya terhenti. Dalam hitungan milidetik, Xavier, Julian, dan Adrian secara serentak langsung berdiri dari kursi mereka. Mereka bergerak maju, memasang badan membentuk barikade kokoh yang menutupi seluruh tubuh Alana dari pandangan Dominic. Tangan Xavier sudah berada di balik jasnya, mencengkeram gagang senjata, sementara Julian menatap Dominic dengan tatapan dingin yang siap membunuh.
Di luar pintu, Cedric langsung masuk ke dalam ruangan, berdiri paling depan di hadapan Dominic dengan tubuh kekarnya yang masif, matanya memancarkan aura konfrontasi militer yang murni.
Empat kakak laki-lakinya kini berdiri sebagai perisai mutlak bagi sang adik perempuan.
Dominic tertegun, sepasang mata elangnya menatap tak percaya pada pemandangan di depannya. Pria berotak dingin itu seketika menyadari satu hal yang mengerikan: dia tidak lagi menghadapi anak-anak haram yang terpecah belah dan saling membenci. Di depan matanya, sebuah benteng pertahanan yang paling kokoh dan menakutkan di dalam dinasti Garrick telah lahir... dan seluruh kekuatannya berpusat pada satu gadis remaja yang duduk dengan tenang di balik punggung mereka: Alana.