NovelToon NovelToon
Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: S.Lintang

⚠️⚠️

Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.

⚠️⚠️

~•~

Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -

Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Zayna sampai di rumahnya, dan beberapa menit kemudian sebuah mobil hitam memang datang, lalu keluarganya keluar dari sana.

Zayna bernapas lega dan memeluk keluarganya. Ayah, Ibu dan adiknya selamat.

Menatap kepergian mobil hitam itu.

"Nak, kamu gapapa?" tanya sang Ibu khawatir.

"Gapapa Bu, kalian masuk dan kunci pintu ya, jangan bukain pintu sebelum aku pulang," ucap Zayna memberi instruksi.

"Kamu mau kemana?" tanya Ayahnya khawatir.

"Aku harus pergi lagi," jawab Zayna segera pergi dengan motornya.

"Semoga belum terlambat. Disty_ semoga lo baik-baik aja. Setelah ini nanti kalau lo bakal benci gue gapapa, asal gue masih belum terlambat untuk selamatin lo dari Zaffar yang gila itu," batin Zayna dengan cepat memacu motornya.

Zayna ngebut semampu dan sebisanya. Dan saat sampai, ia melihat mobil polisi terparkir di sana.

Zayna turun dari motor dan melihat dua orang polisi membawa dan menyeret Zaffar yang keadaannya sudah jauh dari kata baik. Dan di belakang mereka, berdiri Gaveno yang menghembuskan asap rokok.

"Javen," gumam Zayna mengira kalau itu Javeno.

Gaveno juga menatapnya sekarang, tapi Gaveno segera masuk ke dalam mobil dan pergi dari area sekolah ini.

"Dis, lo udah di selamatin Javen 'kan? Lo gapapa kan Dis?" Zayna berdoa dalam hatinya, berharap penuh kalau Disty bakal baik-baik saja setelah ini.

Pagi ini, Disty dan Javeno sudah duduk di kursi ruang makan. Disty ingat kejadian kemarin sore yang ia hampir di lecehkan oleh Zaffar, tapi ia tetap akan masuk sekolah hari ini.

"Jav."

Gaveno datang dan langsung duduk juga.

"Zaffar udah di penjara, dan petugas perpus yang terima uang untuk tutup mulut dan ikut dalam rencana dia juga udah berhasil di tahan dan di penjara," jelas Gaveno yang menyelesaikan semuanya kemarin.

"Hm," dehem Javeno.

"Kenapa nggak langsung pulang?" Javeno menoleh pada Disty yang menunduk.

"Aku tanya," kata Javeno dingin.

"Aku ke perpus," jawab Disty pelan.

"Tanpa izin?" Javeno bertanya dingin, mengintimidasi Disty.

Kali ini, Gaveno diam, fokus dengan sarapannya saja.

"Kemarin, 15 menit setelah lo bawa Disty pergi. Ada cewek yang balik ke sekolah. Mukanya panik, tapi pas liat gue, dia sedikit lega, mungkin ngira kalau gue ini lo," ucap Gaveno memberitahu perihal Zayna kemarin sore sebelum dia pergi.

"Kamu ke perpus bareng Zayna?" Javeno kembali bertanya. Giginya bergemelatuk sekarang, amarahnya memuncak lagi.

Disty semakin menunduk tidak berani menatap Javeno. Jemarinya meremat rok sekolahnya yang sekarang jadi kusut.

"Jawab Disty," geram Javeno semakin dingin.

"Iya." Disty memejamkan matanya.

Javeno terkekeh kecil dan bersandar di kursi, lalu...

Pranggg

Javeno menyapu isi meja dengan tangannya hingga membuat semuanya jatuh berserakan di lantai. Rahang nya mengeras.

Gaveno memberi kode melalui mata pada para pelayan untuk meninggalkan ruang makan. Begitu juga dengan dirinya yang langsung pergi, meninggalkan Javeno berdua dengan Disty saja.

"Kamu langgar perintah aku yang apa-apa harus izin, Dis," ujar Javeno menggeram tertahan.

Rok Disty semakin kusut karena ia yang meremat dengan kuat. Kepalanya masih tertunduk.

"Kamu tau kenapa aku kasih kamu izin untuk berteman sama Zayna?" tanya Javeno tanpa melihat, ia menatap langit-langit ruang makan dengan perasaan yang_ dia sendiri bahkan tidak tau apa sekarang.

"Aku berpikir kalau kamu kesepian, kamu butuh teman dan bener, kamu bahagia banget dan aku bisa rasain itu. Kamu ketawa bareng sama dia, bercanda bareng, gandengan tangan dan senyum, makan berdua di kantin bareng dia_ aku lihat semuanya, aku pantau semuanya dan aku ikut seneng walau aku sendiri cemburu lihat itu. Aku cemburu karena ternyata kamu sebutuh itu sama temen, aku cemburu karena kamu lebih bahagia sama temen, aku cemburu karena harus lihat kamu bahagia sepenuhnya yang mungkin aku sendiri belum bisa kasih itu. Tapi aku coba tahan semuanya, aku coba tenangin diri demi kamu."

Disty menangis mendengar kalimat panjang Javeno yang terdengar lirih.

"Aku pikir, oke aku harus tahan semuanya, mereka berteman, dan Zayna juga bukan cowok. Zayna normal, dan aku harus bisa tahan rasa cemburu aku demi lihat kamu bahagia."

Dada Javeno rasanya juga sesak sekarang.

"Kamu tau alasan sebenarnya aku larang kamu untuk nggak berinteraksi sama siapa pun termasuk cewek? Kamu masih kenal Melinda?" tanya Javeno.

Disty masih tidak menjawab, ia hanya menangis tapi Disty ingat gadis itu.

"Melinda sempat datang nemuin aku tanpa rasa takut dulu, dia berpikir kalau aku adalah sepupu atau sahabat kamu yang udah dekat lama sama kamu. Kamu tau apa yang lebih buat aku marah sampai bisa pukul dia tanpa mikir kalau dia perempuan?"

Javeno perlahan menatap Disty yang masih menunduk.

"Karena dia yang bilang kalau dia suka kamu, dia mau kamu lebih dari sekedar teman atau sahabat. Dia mau kamu jadi milik dia, selamanya."

Disty mengangkat kepalanya perlahan, mendengar fakta yang Javeno sembunyikan selama ini. Karena Disty sama sekali tidak tau kalau Melinda...

"Iya, dia bukan cewek normal, dia suka sama kamu, dia cinta sama kamu kayak aku sekarang. Dia mau bawa kamu masuk ke dunianya yang nggak di terima negara, makanya aku sampe hajar dia," ucap Javeno meneteskan air mata sekarang.

Dan ini, pertama kalinya bagi Disty melihat Javeno yang rapuh menangis di depannya.

"Jav...."

"Aku larang kamu karena aku takut Dis. Aku takut ada cewek lain yang sama kayak Melinda makanya aku larang kamu. Aku coba yakini diri aku kalau Zayna beda, dia normal. Iya dia normal, tapi aku nggak bisa terus kasih izin kamu buat berteman sama dia," ucap Javeno menghapus air matanya.

Disty segera memeluk Javeno saat pemuda itu hendak pergi. Dia menangis.

"Keputusan aku final dan nggak akan pernah berubah lagi Dis. Kamu nggak boleh berinteraksi sama siapa pun, cewek atau pun cowok. Termasuk Zayna. Izin aku cabut, larangan tetap berjalan. Kalau kamu langgar, aku yang kasih hukuman," ucap Javeno tegas.

"Jav...."

Disty menangis, tidak bisa melanjutkan kalimat.

Javeno menangkup wajah cantik yang sembab ini. "Tanpa seizin aku, kamu berani ke perpus. Aku tau di sana tempat belajar yang tenang, tapi kamu yang biasanya hal sekecil apa pun selalu izin, tiba-tiba berubah cuma karena Zayna. Dan aku_ aku nggak terima ini," kata Javeno.

"Dan kalau setelah aku dapetin bukti kalau dia berkontribusi di dalam rencana bejat Zaffar, aku juga nggak akan kasih dia ampun," ucap Javeno lagi.

Disty menggeleng kuat. "Enggak, jangan_ aku nurut, aku nggak akan berteman lagi, tapi jangan buat dia sakit," pintanya.

"Aku nggak peduli," sahut Javeno dingin.

~•~

Kelas IPS 5 mendadak sunyi di telinga Zayna saat melihat Disty yang masuk dengan tatapan datar dan kecewa.

Zayna berdiri. "Dis, lo gapapa kan? Gue...."

"Lo sengaja ajak gue ke perpus?" tanya Disty memotong.

Zayna gugup sekarang, Disty sudah tahu sebelum dia sempat memberitahu.

"Dis...."

"Gue mulai percaya sama lo Zay, gue nggak naruh curiga apa pun ke lo walau gue tau lo sempat beda kemarin sebelum pulang sekolah. Tapi lo_ lo seenaknya hancurin kepercayaan yang gue kasih?" tanya Disty dengan suara yang serak menahan tangis.

"Jadi sekarang_ gue cuma butuh pengakuan jujur dari lo. Lo yang sengaja bawa gue ke perpus kan? Lo tau rencana Zaffar?"

Satu kelas di buat diam, tidak ada yang berani bersuara. Mereka lebih memilih untuk mendengar saja tanpa ikut campur.

"Sorry," ucap Zayna lirih dan meneteskan air mata.

Air mata Disty juga jatuh sekarang, ia tertawa kecil lalu tanpa bicara lagi. Disty keluar meninggalkan kelas dengan Zayna yang mengejar.

"Gue terpaksa Dis! Keluarga gue di jadiin sandera sama Zaffar. Gue terpaksa lakuin semua itu untuk selamatin keluarga gue," teriak Zayna mampu membuat langkah kaki Disty berhenti.

Disty menoleh, menatap Zayna yang berkata jujur itu.

"Sekarang_ mereka udah aman?" tanya Disty sedikit merasa khawatir juga.

Zayna mengangguk. "Mereka langsung di bebasin pas gue udah sampe rumah. Gue balik lagi ke sekolah untuk selamatin lo tapi Javen udah ada duluan, polisi datang dan bawa Zaffar juga," ucapnya.

Disty tersenyum tipis. "Makasih untuk pertemanan kita yang sempat gue rasain selama dua hari, gue seneng. Tapi sekarang gue kecewa, dan_ gue harap gue bisa lupain semuanya termasuk lo yang pernah jadi temen gue," ucapnya sebelum melanjutkan langkahnya yang pergi meninggalkan sekolah.

Zayna jatuh terduduk dan menangis pilu. "Maaf, maafin gue Dis."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!