NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

No Kissing (A)

Asap rokok melayang tipis dari bibir Raphael, membias di udara sebelum lenyap diterpa angin. Ia bersandar di kap mobil hitamnya, satu tangan terbenam dalam saku celana. Tampak santai gesturnya tapi sorot mata hitam itu tidak demikian.

Dari kejauhan, langkah terburu terdengar. Raphael melirik sekilas. Sosok yang ditunggu akhirnya muncul dari pintu samping gedung.

"Tu—tuan Walter?" suara itu ragu, disertai tatapan mata gelisah.

Raphael perlahan berdiri tegak seraya menjatuhkan puntung rokok ke tanah, menginjaknya dengan sepatu kulitnya yang mengilap mewah. Pandangannya terangkat, dingin dan menusuk, langsung mengunci keberadaan pria tersebut.

"Andrew Paco." Raphael menyebut namanya tanpa intonasi ramah, sambil melangkah perlahan mendekat.

Andrew kebingungan. "Tuan.. Ada yang bisa saya bantu?"

Berhenti sesaat, Raphael mengusap dagunya yang dihiasi kumis tipis, mendongak malas. Namun justru sikap itu membuat atmosfer di antara mereka kian mencekam.

"Pertanyaan bagus," ujarnya datar. "Karena aku tidak suka bertele-tele."

Dalam hitungan detik, Raphael mengangkat tangannya, mencekik leher Andrew dan mendorong tubuhnya hingga membentur keras ke dinding beton di belakang. Suara benturan terdengar jelas, disusul erangan tertahan. Andrew panik, kedua tangannya berusaha menyingkirkan genggaman itu, tapi sia-sia.

"A-ap—" kata-kata Andrew tercekat. "T-Tuan, m-maksudnya apa ini?"

Raphael mendekatkan wajahnya, bengis di matanya pertanda ia menahan amarah. Giginya menggertak ketika ia menggeram. "Ini peringatanku yang terakhir, Andrew. Jangan pernah ganggu wanitaku lagi.

Andrew benar-benar kelimpungan. Sebab ia tahu pasti, sesekali pun tidak pernah ia berani mendekati wanita yang sudah jelas berada dalam lingkaran Raphael Walter sebagai mainannya.

Dengan napas terputus-putus, ia susah payah memaksa suaranya keluar di sela cengkeraman yang menyesakkan. "M-maaf, Tuan... s-sepertinya ada... kesalahpahaman. S-saya bersumpah... saya tak pernah... menyentuh—atau pun mengganggu... wanita Anda."

Cengkeraman Raphael semakin kuat. Nafas Andrew terdengar patah-patah, wajahnya memerah, matanya melebar ketakutan.

Raphael menunduk sedikit hingga terlihat jelas urat lehernya yang meremang. "Emily Cooper. Kau tahu siapa dia. Dan aku tahu bagaimana kau menatapnya, bagaimana kau berusaha mendapatkannya, bagaimana rencanamu untuk mengambil warisannya. Aku tidak butuh alasanmu. Fakta bahwa kau berani memikirkannya saja sudah cukup membuatku ingin mematahkan lehermu di sini."

Mata Andrew terbelalak kaget. Nama itu membuatnya semakin gemetar. "E-Emily Cooper...?" ulangnya. "T-tidak... saya—saya tidak menyangka Anda dan dia..."

Raphael tersenyum sinis. "Tentu saja kau tidak menyangka. Karena kau terlalu bodoh untuk mengerti."

Ia menekan lebih keras, membuat Andrew hampir habis nafas.

Andrew berusaha bicara. "T-tolong... Tuan... saya... tidak... akan pernah... lagi.."

"Lupakan semua obsesimu tentangnya. Jangan sebut namanya. Jangan tatap dia. Jangan dekati dia. Mengerti?"

Andrew hanya bisa mengangguk kecil, tubuhnya melemah, wajahnya pucat.

Raphael menambahkan. "Hanya aku yang boleh menyentuhnya. Hanya aku yang boleh mengganggunya. Emily Cooper adalah milikku. Dan siapa pun yang mencoba mengambilnya..." ia melepaskan cekikannya tiba-tiba, membuat Andrew terhuyung jatuh, terengah-engah mencari udara. Raphael menatap ke bawah, menekankan kata terakhirnya. "...akan kuhabisi."

Andrew memegang lehernya, masih kesulitan bernapas. Ia mendongak, wajahnya penuh ketakutan. "T-tuan... saya... tidak akan berani lagi. Demi Tuhan, saya bersumpah..."

Raphael berjongkok setara dengannya, menepuk pelan pipinya dua kali, seolah memperlakukan anak kecil yang bandel. "Good. Jangan pernah buat aku mengulangi ancaman ini. Karena jika sampai aku mendengar namamu bersinggungan dengan Emily lagi, kau takkan sempat meminta maaf. Kau akan hilang tanpa jejak, Andrew."

Tatapan Andrew berguncang, tak berani membalas. Ia hanya mengangguk cepat, tubuhnya gemetar.

Raphael bangkit kembali, merapikan jasnya, lalu melangkah menuju mobilnya. Ia membuka pintu, menoleh sebentar ke arah Andrew yang masih terduduk di lantai dengan napas tersengal.

"Kau harus ingat siapa aku dan siapa dirimu, Andrew. Then remember this night," katanya singkat. "Because next time, i won't use my hand. I'll use a bullet."

Pintu mobil menutup. Mesin meraung, dan sedan hitam itu meluncur menjauh, meninggalkan Andrew dalam ketakutan yang membekas.

"Sialan!" pekiknya marah memukul lantai.

...•••...

The Plaza Hotel,

New York

Suasana di presidential suite hotel tersebut dipenuhi kemewahan yang diam-diam menghadirkan rasa sesak. Di dalam kamar mandinya yang lapang, berlapis marmer putih dan aksen emas, Emily berkali-kali membasuh wajahnya dengan air dingin.

Tetesannya mengalir dari dagu, menyusuri ceruk leher, hingga terserap ke dalam kain bajunya yang melonggar. Jemarinya meraba kulitnya sendiri yang mendadak dingin—meraba denyut nadinya yang berpacu liar. Ia seolah ingin memastikan bahwa tubuh ini masih berada di bawah kendalinya, meski sebentar lagi kendali itu harus ia serahkan pada pria yang paling ia benci, sekaligus paling ia butuhkan.

Menatap cermin, sorot mata Emily tampak kosong. Namun di balik dinding matanya yang mulai memerah, bergolak badai keraguan. Apakah dia benar-benar akan melangkah sejauh ini?

Tenggorokannya tercekat oleh rasa hambar yang menyakitkan. Rasanya begitu terhina. Menyerahkan diri pada Raphael bukan karena jalinan romansa, bukan pula karena letupan hasrat, melainkan sebuah transaksi hitam di atas putih. Demi menyelamatkan runtuhnya perusahaan, demi nama baik yang ia bangun berdarah-darah selama bertahun-tahun. Andrew benar-benar brengsek, menjebaknya dalam sudut sempit hingga ia terpaksa mengambil pilihan semustahil ini.

Apakah orang tuaku akan bangga? Pikirnya getir, menatap langit-langit marmer. Atau justru mereka memalingkan wajah karena muak melihat apa yang terpaksa kulakukan sekarang? Sungguh ironi yang kejam. Betapa kuasa dan tumpukan uang bisa mendikte segalanya, bahkan hingga menawar harga diri seorang manusia.

Ia menarik napas panjang, mencoba menegakkan bahunya yang gemetar. Tapi jika dipikirkan lagi, apa bedanya dia dengan ekosistem bisnis di luar sana? Dunia yang kotor, penuh transaksi manipulatif, dan kompromi murahan. Ia pun sama, bukan? Sama-sama keras kepala mempertahankan ambisi, ego, dan korporasi. Sama-sama rela menginjakkan kaki di atas martabat sendiri demi keluar sebagai pemenang.

Bibirnya melengkung tipis, melahirkan senyum sinis yang menyayat wajah cantiknya. Mungkin bagi Raphael, ini hanyalah sekadar kesepakatan bisnis biasa. Sekadar permainan ego pria berkuasa yang gampang dilakukan. Tapi untuk Emily, setiap detik yang berjalan menuju malam ini terasa seperti tamparan yang terus-menerus menghantam wajahnya.

Emily mengusap sisa air di wajahnya dengan kasar. Kulitnya masih terasa basah oleh sensasi dingin, berbanding terbalik dengan dadanya yang bergemuruh panas. Ia tahu, jalan pulang sudah tertutup. Dan di balik daun pintu kamar mandi itu, Raphael sedang menunggu—laksana sosok predator tenang yang tahu mangsanya akan berjalan mendekat dengan sendirinya, cukup dengan satu jentikan.

Emily akhirnya memutar keran hingga mati, menatap genangan air yang berputar lambat sebelum hilang tertelan lubang wastafel. Beberapa tetes terakhir jatuh, gema suaranya terdengar begitu nyaring. Sambil mengembuskan napas berat, ia meraih robe putih hotel yang terlipat rapi di gantungan. Kain lembut itu membalut tubuhnya, menyelimuti kulitnya dari udara dingin kamar mandi.

Ia membuka pintu. Kamar utama menyambutnya dengan megah. Karpet tebal berwarna krem seakan menelan habis suara langkah kakinya, menambah kesan sunyi yang menegangkan. Tirai besar setengah terbuka, menyajikan pemandangan gemerlap lampu kota New York di luar jendela kaca raksasa.

Dan di sana Raphael sudah menunggunya.

Pria itu berdiri bersandar di dekat minibar. Jas hitamnya sudah tertinggal di sandaran kursi, menyisakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, mengekspos garis leher dan dadanya yang kokoh. Lengan bajunya tergulung rapi hingga batas siku, memperlihatkan guratan urat yang menegas di lengannya. Di tangannya, segelas bourbon berputar perlahan. Dari sudut bibirnya, seulas senyum miring terkembang—senyum arogan yang selalu sukses memicu kemarahan Emily, sekaligus menghadirkan desir aneh yang tak mampu ia definisikan.

Raphael menoleh saat mendengar gesekan kecil pintu yang terbuka. Tatapannya langsung terkunci pada sosok Emily, menyisir penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Emily merasakan paru-parunya mendadak menyempit. Ia sekuat tenaga mengunci otot wajahnya agar tetap datar, walau ia tahu, di bawah tatapan sedalam itu, seluruh dinding pertahanan yang ia bangun selama ini rasanya runtuh.

"Robe putih," Raphael berujar rendah. Suaranya berat, serak, bergaung pelan di dalam ruangan yang sunyi. "Classic. But, still... you look... tempting."

Mendengus sinis, Emily sengaja mengalihkan arah langkahnya melewati meja kerja besar di sudut kamar, mencoba membangun jarak aman. "Aku tidak mengenakannya untuk menyenangkan matamu."

Raphael meletakkan gelas bourbon-nya ke atas meja dengan bunyi denting yang memutus keheningan. Ia mulai melangkah maju. Satu langkah pertama, lambat namun pasti, netranya tidak sedetik pun melepas Emily. Langkah kedua, bahu pria itu tampak rileks namun auranya justru semakin mendominasi, seringai kecilnya semakin jelas saat menangkap bagaimana pundak Emily menegang.

Emily bisa merasakan detak jantungnya melonjak hingga ke pangkal tenggorokan. Udara di sekitarnya mendadak terasa menipis.

Langkah ketiga, sosok Raphael sudah berada di radius terdekatnya, memangkas jarak hingga Emily bisa mencium aroma samar bourbon dan parfum maskulin yang mengintimidasi indranya. Secara refleks, Emily mengambil langkah mundur, namun tumitnya justru membentur tepian ranjang king size yang tertata rapi dengan seprai satin putih. Napasnya benar-benar tercekat.

Sementara itu, Raphael terus mengikis sisa ruang di antara mereka dengan langkah yang tenang namun mematikan, berhasil mengurung Emily dalam dominasinya tanpa menyisakan celah untuk melarikan diri.

***

Jangan lupa dukung karyaku dengan like, vote, dan komen kalau kalian suka ceritanya, ya. Biar aku makin semangat berkarya dan selalu update.

1
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!