Di lorong-lorong megah Université Paris-Sorbonne, Xienna Elizabeth Mapelli Mozzi dikenal karena dua hal, kecantikannya yang ningrat dan cintanya yang mencekik terhadap Brandon Alton Everett.
Namun, ketika cinta itu hancur secara publik, Xienna justru terperangkap dalam radar pria paling berbahaya di Paris, Denzzel Lambert Riccardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Berdarah
Malam itu, gairah di vila Karibia mencapai titik nadir yang paling gelap. Xienna memberikan segalanya, setiap desah, setiap sentuhan binal, dan setiap tatapan tunduk yang diinginkan Denzzel. Ia membiarkan pria itu merasa telah memenangkan perang, membiarkannya tertidur dalam kelelahan yang puas setelah mengunggah kehinaan Xienna ke seluruh dunia.
Namun, di balik mata yang sayu itu, sisa-sisa darah Mapelli Mozzi yang dingin sedang mendidih.
Saat napas Denzzel mulai teratur dan berat dalam tidurnya, Xienna bangkit dari ranjang tanpa suara. Ia tidak lagi terlihat seperti wanita yang hancur. Ia bergerak seperti bayangan. Tangannya meraih pisau lipat taktis yang selalu Denzzel simpan di laci Nakas sebagai bentuk kewaspadaan.
Xienna berdiri di atas pria yang telah menghancurkan reputasinya. Tanpa ragu, tanpa air mata, ia menghunjam kan pisau itu tepat ke sisi perut Denzzel.
"Ini untuk setiap inci harga diri yang kau curi dariku, Denzzel," bisiknya dingin saat Denzzel terbangun dengan rintihan kesakitan yang tertahan.
Denzzel mencoba meraih lengan Xienna, namun darah yang memancar membuat tenaganya luruh. Xienna mencabut pisau itu, membiarkan darah musuhnya membasahi kemeja putih yang ia kenakan. Ia tidak membunuhnya di tempat, ia ingin pria itu merasakan perlahan bagaimana rasanya dikhianati oleh sesuatu yang ia pikir telah ia kuasai.
Dengan tangan yang masih berlumuran darah dan hanya mengenakan jubah tipis yang ia rampas, Xienna berlari menuju dermaga. Ia sudah mengatur segalanya, sebuah pesan rahasia yang ia kirimkan melalui perangkat komunikasi cadangan Denzzel saat pria itu sedang mandi sore tadi.
Sebuah helikopter tanpa logo mendarat di pantai pribadi itu tepat saat fajar menyingsing. Xienna melangkah masuk dengan tubuh gemetar, bukan karena takut, tapi karena adrenalin murni.
Di dalam helikopter, Vittorio Mapelli Mozzi duduk menunggu. Ia menatap putrinya yang berantakan, berlumuran darah musuh mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Vittorio tidak melihat seorang korban. Ia melihat seorang Mapelli Mozzi yang sejati.
Vittorio berdiri, mengambil selimut wol tebal dan menyelimuti bahu Xienna. Ia mengusap pipi putrinya yang terkena bercak darah Denzzel.
"Kau kembali, principessa," ucap Vittorio dengan suara parau namun bangga. "Malam-malam binal itu... foto-foto itu... kau melakukannya untuk membuatnya lengah, bukan?"
Xienna menatap ayahnya dengan mata yang kini kosong, seolah jiwanya sudah mati bersama pengkhianatan nya. "Dia pikir dia bisa menjinakkan ku, Papa. Dia lupa bahwa singa yang paling berbahaya adalah singa yang membiarkan dirinya ditangkap."
Vittorio tersenyum sinis. "Kau telah menyelamatkan kehormatan keluarga ini dengan cara yang paling brutal. Aku bangga padamu."
Di sebuah rumah sakit pribadi di Miami, suasana sangat mencekam. Denzzel Lambert Riccardo terbaring tak berdaya dengan tumpukan selang yang menopang hidupnya. Ia baru saja melewati masa koma selama empat hari penuh akibat luka tusukan yang mengenai organ dalamnya dan kehilangan banyak darah.
Di samping tempat tidurnya, Lorenzo Riccardo berdiri dengan wajah yang memancarkan kebencian murni. Ia tidak menangisi putranya. Ia justru merasa jijik.
Saat mata Denzzel perlahan terbuka, hal pertama yang ia dengar bukanlah kata-kata penghiburan, melainkan tamparan keras di meja samping tempat tidurnya.
"Kau bodoh, Denzzel!" raung Lorenzo. "Kau mempertaruhkan kekaisaran kita, reputasimu, dan nyawamu hanya untuk seorang wanita Mapelli Mozzi? Kau pikir kau telah menaklukkannya, tapi dia justru menjadikanmu lelucon terbesar dalam sejarah keluarga Riccardo!"
Denzzel mencoba bicara, namun tenggorokannya terasa seperti terbakar. Ia teringat tatapan terakhir Xienna sebelum ia kehilangan kesadaran, tatapan penuh kemenangan yang dingin.
"Dia pergi, Denzzel. Dia kembali ke ayahnya sebagai pahlawan, sementara kau terbaring di sini seperti anjing yang ditikam," lanjut Lorenzo. "Jangan pernah lagi menyebut namanya. Jika kau ingin tetap menjadi pewaris ku, kau harus memusnahkan setiap ingatan tentangnya. Dan jika tidak... aku sendiri yang akan menghabisi kalian berdua."
Denzzel menatap langit-langit rumah sakit. Lukanya terasa perih, namun rasa sakit di dadanya jauh lebih dalam. Ia dikhianati oleh satu-satunya wanita yang ia pikir telah ia "miliki" sepenuhnya. Di dalam kepalanya, obsesi itu tidak hilang, itu justru bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dari sebelumnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰🥰😍
simple tapi penuh makna