Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serpihan Plastik dan Doa di Sepertiga Malam
Matahari pagi Jakarta menyembul malas dari balik kepulan polusi kelabu yang mengepung kawasan Sudirman. Bias cahayanya menembus kaca-kaca besar ruang kerja fungsional di hotel bintang lima tempat tim DKV Surabaya menginap. Kamar suite eksekutif yang luas itu kini telah disulap menjadi studio kerja darurat yang penuh dengan tumpukan maket kemasan, berkas cetak baliho raksasa, dan cangkir-cangkir kopi saset yang kosong di sudut meja.
Anya duduk membelakangi jendela, fokus menatap layar laptopnya dengan kacamata radiasi bertengger di hidung bangirnya. Dia mengenakan blus rajut berwarna abu-abu gelap dengan potongan leher yang feminin, dipadukan dengan rok denim span hitam yang membingkai tubuh proporsionalnya dengan berat 55 kg dan tinggi 165 cm. Rambut panjang lurusnya yang hitam legam diikat kuda dengan rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah oriental tegasnya. Sisa air hujan kemarin sore tampaknya tidak menyisakan flu pada tubuhnya, melainkan hanya mempertebal perisai dingin di sepasang mata indahnya.
"Nya, ada yang mencarimu di lobi depan," Ririn masuk dari pintu penghubung dengan wajah canggung, memegang sebuah papan klip. "Kak Joana. Dia bilang hanya ingin menyerahkan sesuatu secara pribadi. Dia berjanji tidak akan lama dan tidak akan mengganggu rapat koordinasi tim kita."
Gerakan jemari Anya di atas papan ketik laptop terhenti sejenak. Keheningan sesaat menyergap ruangan sebelum dia mengembuskan napas pendek dan melepas kacamata radiasinya dengan gerakan anggun. "Biarkan dia masuk ke ruang perantara saja, Rin. Jangan biarkan anak-anak yang lain ikut terganggu karena urusan ini."
Di ruang perantara yang disekat oleh dinding kaca buram, Joana berdiri mematung. Penampilannya hari ini jauh lebih kasual, tanpa riasan tebal atau gaun mewah yang biasa mendefinisikan citra wanita sosialita Jakarta. Di kedua tangan kalbunya, dia mendekap sebuah kotak kayu kecil berwarna mahoni gelap yang tampak memiliki beberapa guratan samar dan sedikit berdebu di sudut-sudutnya.
Begitu Anya melangkah masuk dengan keanggunan yang dingin, Joana langsung menegakkan tubuhnya yang tampak sedikit kurus. Matanya yang sembap menatap lekat-lekat pada adik bungsunya yang kini memancarkan aura wanita dewasa yang seksi, mandiri, sekaligus teramat asing bagi keluarga mereka sendiri.
"Anya..." bisik Joana, suaranya langsung bergetar hebat. Dia tidak mencoba memangkas jarak atau mengulurkan tangan untuk memeluk, menyadari batas mutlak yang dipasang Anya kemarin sore di bawah guyuran hujan rumah sakit. "Kakak ke sini bukan untuk memintamu memaafkan kami lagi. Kakak tahu luka itu terlalu besar. Kakak hanya ingin menyampaikan ini... Ini peninggalan Papa. Maksud Kakak, ini barang yang Papa simpan di laci terdalam meja kerjanya sejak serangan stroke pertama merenggut sebagian kesehatannya."
Joana meletakkan kotak kayu mahoni itu di atas meja kaca di antara mereka dengan sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kaca yang mudah pecah.
Anya melirik kotak itu dengan senyum sinis yang tipis di bibirnya. Dia bersedekap, bersandar pada pilar dinding tanpa ada niat untuk menyentuhnya. "Apalagi ini, Kak Joana? Apakah ini surat perjanjian saham baru peninggalan Papa? Atau dokumen pembagian harta agar aku menandatangani klausul untuk tidak menuntut apa pun dari hasil merger perusahaan kalian dengan keluarga Edgard?"
"Bukan, Anya! Demi Tuhan, bukan!" tangis Joana akhirnya pecah seketika. Dia menggelengkan kepalanya dengan rasa bersalah yang teramat menyiksa, meremas saputangannya sendiri. "Buka dulu, Kakak mohon. Setelah kamu melihat isinya dengan mata kepalamu sendiri, kamu bebas melakukan apa saja pada kami. Kamu bebas untuk tetap membenci kami. Kakak pamit dulu, Papa sedang menunggu jadwal fisioterapi darurat di rumah sakit."
Joana berbalik dengan terburu-buru, menyeka air matanya yang terus luruh, lalu melangkah keluar dari ruangan dengan bahu yang bergetar terisak, meninggalkan keheningan yang mencekam.
Anya berdiri sendirian di dalam ruangan yang sunyi itu selama beberapa menit. Pandangan matanya terkunci pada kotak kayu mahoni di atas meja kaca. Dinding harga diri di dadanya seolah ditantang oleh keheningan ruangan. Didorong oleh sisa rasa penasaran yang mendalam dan denyutan aneh di ulu dadanya, Anya akhirnya melangkah mendekat. Jemari lentiknya membuka pengait kuningan kotak tersebut dengan perlahan.
Klek.
Begitu penutup kotak terbuka, wangi kertas tua dan kayu kering yang khas menguar di udara. Di dalam kotak itu, tidak ada selembar pun surat hukum, sertifikat rumah, atau dokumen korporat yang kaku. Yang ada di bagian paling atas adalah selembar kartu SIM ponsel lama yang telah patah menjadi dua bagian—kartu SIM area Surabaya milik Anya yang setahun lalu dia patahkan dan buang ke dalam tempat sampah plastik apartemen studionya.
Jantung Anya mendadak berdegup dengan ritme yang liar. Bagaimana mungkin serpihan plastik kartu SIM yang dia hancurkan di kota pengasingan itu bisa berada di dalam kotak kayu rahasia milik Papanya di Jakarta?
Di bawah serpihan kartu SIM tersebut, terdapat sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam polos. Anya meraih buku itu dengan tangan yang mulai gemetar hebat. Dia membuka halaman pertama yang dipenuhi oleh guratan tulisan tangan Sang Papa yang besar, tegas, dan penuh otoritas. Namun, semakin membuka halaman-halaman akhir, tulisan itu tampak semakin bergetar, miring, dan tidak teratur—sebuah bukti fisik yang nyata dari dampak serangan stroke yang mengikis kemampuan motorik pria paruh baya tersebut.
Anya menahan napasnya, membaca baris demi baris catatan harian tersembunyi itu:
14 November.
Hari ini aku mengirim Anya ke Surabaya. Aku membentaknya di depan semua orang, aku mengusirnya seperti monster tak punya hati. Mirna menangis semalaman sampai matanya bengkak, Joana mengurung diri di kamar. Aku tahu aku kejam. Tapi di depan Baskoro dan seluruh jajaran dewan komisaris utama malam itu, aku tidak punya pilihan lain. Jika aku tidak bertindak keras dan mengisolasi Anya, Baskoro akan menarik seluruh investasi merger dan menggunakan kekuasaan medianya untuk menghancurkan nama baik putri bungsuku karena dianggap mengacaukan kantor pusat Baskoro Group. Aku egois... aku memilih menyelamatkan masa depan bisnis dengan mengorbankan senyuman anak gadis kecilku sendiri.
4 Maret.
Edgard datang ke rumah dengan wajah kuyu. Pria kaku itu akhirnya mengaku bahwa dia salah menilai hatinya sendiri. Dia membatalkan perjodohan dengan Joana secara resmi di depan keluarga besar Baskoro. Aku sempat marah karena mengira ini permainan, tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa sangat lega. Aku meminta sekretaris pribadiku diam-diam mencari tahu kabar Anya melalui pihak administrasi kampus di Surabaya tanpa melibatkan media. Stafku menemukan serpihan kartu SIM lama Anya di tempat sampah apartemennya saat mendata kebutuhan fasilitas kamarnya. Aku meminta stafku membawa serpihan itu padaku. Aku menyimpannya di sini. Kartu patah ini adalah bukti nyata betapa dalamnya luka yang kutorehkan pada putri kecilku. Dia memotong lidahnya sendiri agar tidak perlu bicara lagi dengan ayahnya yang berdosa ini.
19 Agustus.
Fisikku mulai menyerah kalah. Stroke kedua ini membuatku kesulitan bahkan hanya untuk menggenggam selembar pulpen. Tapi aku tidak pernah berhenti berdoa pada Tuhan, setiap malam di dalam sunyi ruang kerjaku saat Mirna dan Joana sudah tertidur... Tuhan, tolong jaga Anya di Surabaya. Jangan biarkan kulit putihnya terbakar terik matahari kota itu. Biarkan dia tumbuh menjadi wanita yang kuat dan mandiri, agar suatu hari nanti, saat dia berdiri di hadapanku, dia bisa mencaci maki ayahnya yang bodoh ini dengan kepala tegak. Aku tidak butuh dimaafkan olehnya, aku hanya rindu melihat binar matanya yang ceria dan mendengar suaranya yang manja memanggilku 'Papa' sekali lagi... sebelum mataku tertutup untuk selamanya.
Pluk.
Setetes air mata yang hangat dan berat luruh dari pelupuk mata indah Anya, jatuh tepat di atas lembaran kertas catatan yang tintanya mulai sedikit memudar tersebut. Genggaman tangan Anya pada buku kulit hitam itu mengencang hingga kertasnya sedikit kusut di bawah jemarinya. Dada ringkihnya naik-turun dengan cepat menahan gelombang sesak yang teramat pekat mengalir dari ulu hati ke tenggorokannya.
Kebenaran ini... kenyataan bahwa Papanya yang terkenal keras kepala dan otoriter ternyata menyimpan serpihan sampah kartu SIM-nya, memantaunya dari jauh demi melindunginya, dan mendoakannya setiap malam di sepertiga malam di atas kursi rodanya, menghantam seluruh fondasi kebencian yang selama setahun ini dia rawat dengan susah payah di Surabaya. Perisai dingin di hatinya berguncang hebat, retak berantakan dari dalam oleh rasa haru yang luar biasa bercampur dengan rasa bersalah yang teramat menyiksa dadanya.
Anya mendekap buku harian kecil itu di dadanya, lalu meluncur jatuh terduduk di atas lantai marmer ruang perantara hotel yang dingin. Tangisnya pecah dalam keheningan yang senyap, menumpahkan segala ego pertahanan yang selama empat ratus hari ini mengunci jiwanya dalam sangkar es yang kaku.
Sore harinya, langit Jakarta berubah menjadi jingga keunguan yang pekat, sewarna dengan badai emosi yang masih tersisa di dalam diri Anya. Dia berjalan melintasi lobi utama kantor pusat Baskoro Group di Sudirman dengan langkah kaki yang tidak se-tegap biasanya. Buku catatan kecil milik Papanya kini tersimpan aman di dalam tas ransel kulit hitam yang dia peluk erat di pangkuannya selama di dalam lift eksekutif.
Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai teratas, Anya langsung melangkah menuju ruang kerja utama Edgard Baskoro, mengabaikan Siska yang baru saja hendak berdiri dari meja sekretaris untuk menyapanya.
Brak.
Anya mendorong pintu ganda kayu jati ruang kerja Edgard tanpa mengetuk untuk kesekian kalinya.
Di dalam ruangan yang luas, mewah, dan ber-AC dingin itu, Edgard Baskoro sedang berdiri di dekat jendela kaca besar, menatap hamparan lampu kota Jakarta yang mulai menyala di balik kabut senja. Mendengar dentuman pintu, pria dengan struktur wajah setegas aktor dunia dan berahang kokoh mirip Daniel Henney itu membalikkan tubuh tegapnya dengan perlahan. Dia meletakkan cangkir kopi hitamnya di atas meja marmer dengan ketukan pelan.
Edgard terpaku di tempatnya berdiri melihat penampilan Anya yang berantakan. Sepasang mata indah wanita itu tampak memerah, bengkak, dengan sisa air mata yang masih basah membasahi pipi putih cerahnya. Aura dingin yang biasanya memancar dari tubuh Anya kini telah lenyap, digantikan oleh kerapuhan yang teramat murni.
"Anya..." bisik Edgard, suaranya bariton, rendah, dan dipenuhi oleh kecemasan yang mendalam. Dia melangkah maju beberapa meter, memotong jarak di antara mereka. "Ada apa? Apakah terjadi sesuatu yang buruk dengan Papamu di rumah sakit sore ini?"
Anya tidak menjawab dengan kata-kata profesional. Dia melangkah maju dengan cepat, memangkas sisa jarak di antara mereka hingga dia berdiri tepat di hadapan Edgard. Napasnya memburu, dadanya naik-turun karena luapan emosi yang tidak bisa dia bendung lagi sejak membaca isi kotak mahoni siang tadi.
"Kenapa..." bisik Anya, suaranya bergetar hebat, nyaris hilang ditelan udara ruangan yang dingin. "Kenapa Anda tidak pernah menceritakan semua kebenaran ini kepada saya, Edgard? Kenapa Anda membiarkan saya membenci Papa, membenci Kak Joana, dan membenci Anda selama satu tahun penuh di Surabaya?!"
Anya memukul dada bidang Edgard dengan tangan mengepal, menumpahkan seluruh rasa frustrasi, sesak, dan sakit hati yang kini berbalik menjadi rasa bersalah yang teramat besar. "Kombinasi saham... restrukturisasi... pelindung... kalian semua membuat saya merasa seperti orang asing yang dibuang dan tidak diinginkan di dunia ini! Anda membiarkan saya membangun perisai es ini sendirian menembus hari-hari yang melelahkan... tapi ternyata... ternyata kalian melakukan ini semua demi melindungi saya dari belakang!"
Edgard tidak bergerak mundur atau menghindar sedikit pun. Dia membiarkan tinju lemah Anya mendarat di dada bidangnya berulang kali, menerima seluruh sisa amarah dan rasa sakit wanita itu dengan lapang dada. Air mata pria sedingin es itu—sesuatu yang selama bertahun-tahun terkunci rapat di balik keangkuhan jabatannya—kini perlahan menggenang dan luruh melewati garis rahangnya yang tegas.
"Karena saya tahu saya tidak pantas menggunakan alasan itu untuk meminta maaf kepadamu, Anya," ucap Edgard dengan suara yang teramat serak, pecah oleh penyesalan yang mendalam. Dia mengulurkan kedua tangan tegapnya, lalu dengan gerakan yang teramat lembut namun pasti, dia menarik tubuh proporsional Anya ke dalam pelukannya.
Edgard mendekap tubuh Anya erat-erat di dadanya, menenggelamkan wajah tampannya di antara rambut panjang lurus Anya yang harum bunga lili. "Saya yang memicu seluruh pengasinganmu karena kelalaian saya di masa lalu. Saya yang membuat papamu terpaksa bertindak keras di depan Baskoro Senior malam itu demi menyelamatkan namamu dari ancaman dewan komisaris Jakarta. Jika saya menceritakannya sejak awal di Surabaya saat kamu membenci saya, saya hanya akan terlihat seperti pria pengecut yang mencari pembenaran atas kebodohannya di masa lalu."
Edgard mencengkeram bahu Anya dengan tangan yang gemetar hebat, menumpahkan tangis senyapnya di atas pundak wanita itu, meresapi setiap detak jantung Anya yang kini berdegup seirama dengan miliknya. "Bencilah saya sepuasmu, Anya... maki saya sesukamu karena saya yang paling bersalah di sini. Tapi saya mohon, jangan siksa dirimu lagi dengan perisai dingin itu. Pulanglah ke rumah sakit, peluk papamu sebelum semuanya terlambat. Biarkan sisa dinding es di hatimu runtuh seutuhnya, dan biarkan saya yang menanggung sisa hukuman penyesalan ini seumur hidup saya."
Anya membeku di dalam dekapan hangat, kokoh, dan protektif dari Edgard. Wangi maskulin bercampur aroma kopi premium yang khas dari tubuh tegap atletis pria itu memenuhi indra penciumannya, memicu memori masa remajanya yang dulu begitu merindukan perlindungan dari dada bidang ini. Kali ini, Anya tidak mendorong Edgard menjauh, tidak juga menarik pergelangan tangannya dengan ketegasan yang sarkas. Sisa kekuatan harga dirinya melumer seutuhnya di bawah dekapan tulus yang sarat akan air mata penyesalan dari sang CEO utama. Anya menenggelamkan wajah cantiknya di dada Edgard, menangis tersedu-sedu menumpahkan seluruh beban trauma setahun belakangan, membiarkan pertahanan dinginnya runtuh untuk pertama kalinya di bawah langit Jakarta yang kini mulai menggelap sepenuhnya.
semangat nulisnya 💪