NovelToon NovelToon
Aku Memilih Pergi

Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:275.6k
Nilai: 5
Nama Author: Intar

Berawal dari kejadian beberapa tahun lalu, Intan bertekad untuk menjadi seorang pengacara agar dapat membela hak-hak orang tuanya.

Gayung pun bersambut, seorang pengacara terkenal yang dikenalnya 1 tahun lalu menawarkan dirinya untuk menjadi sekretarisnya.



Intanpun menerima tawaran itu dan bekerja di sana. Seiring berjalannya waktu, akhirnya merekapun menjalin hubungan. Hubungan mereka terlihat sangat bahagia hingga akhirnya Intan mengetahui bahwa Pak Hendra sudah mempunyai istri dan anak.

Bagaimana kisah selanjutnya? Silahkan di baca dalam novel "Aku memilih pergi"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 21- Ungkapan hati

Sekembali dari jakarta, Pak Hendra memilih untuk kembali ke rumahnya. Sampai di rumahnya, dia langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Seketika bayangan tentang kebersamaannya dengan Intan muncul di kepalanya. Meskipun sempat ada kejadian yang tak mengenakkan, bagi Pak Hendra, kebersamaan dengan Intan selama seminggu di Jakarta menyimpan kenangan tersendiri di hatinya. Dia tak memungkiri bahwa perasaannya semakin besar terhadap Intan. Apalagi dengan berbagai kejadian manis yang terjadi secara tak sengaja di antara mereka. Dia tersenyum sendiri membayangkan semuanya.

Begitupun Intan. Di kamarnya dia selalu teringat saat-saat kebersamaannya dengan Pak Hendra di Jakarta. Apalagi ini untuk pertama kalinya dalam hidupnya bersama dengan seorang laki-laki meskipun bukan sebagai pacarnya. Intan pun tak bisa memungkiri ada rasa nyaman dan kebahagiaan yang hadir kala dekat dengan Pak Hendra. Dia membayangkan pelukan Pak Hendra padanya. Meskipun itu hanya candaan tapi dadanya tak bisa menyembunyikan degupan tak beraturan yang hadir.

"Tok tok...Neng Intan," panggil Bi Ani

Intan kaget mendengar panggilan dari balik pintunya. Seketika bayangan kenangannya bersama Pak Hendra buyar. Dia segera berdiri dan membuka pintu.

"Iya Bi," jawab Intan setelah membuka pintu.

"Makan malam udah siap," ucap Bi Ani.

"Iya Bi, aku segera turun."

"Baik Neng."

Setelah makan malam, Intan mengambil buku yang di pinjamnya beberapa waktu lalu di kantor Pak Hendra. Sebelum tidur dia menyempatkan diri untuk membaca. Sekitar setengah jam membaca, rasa kantuk mulai menyergapnya. Lalu Intan pun mulai bersiap-siap untuk tidur karena besok dia harus masuk kantor.

*******

Keesokan paginya, di kantor dia memilih untuk naik melalui lift khusus karyawan karena memang dia sedang tak bersama dengan Pak Hendra. Saat berjalan, semua orang melihat padanya. Dia menjadi kikuk bercampur heran.

"Mengapa semua orang terus melihatku? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Intan dalam hati.

Dia semakin mempercepat langkahnya. Di dalam lift, dia memperhatikan penampilannya.

"Ngga ada yang salah. Tapi kenapa mereka melihatku seperti itu?" gumam Intan setelah memperhatikan penampilannya.

Kehadiran Intan di Firma hukum Pak Hendra sudah menjadi buah bibir orang-orang kantor. Karena beberapa kali mereka terlihat makan siang bersama dan yang terakhir ini adalah kepergian mereka di Jakarta yang tak di temani oleh asisten Pak Hendra. Karena biasanya asistennya selalu ikut ketika ada pekerjaan entah di luar maupun dalam kota. Dan yang lebih mengherankan, sekertaris Pak Hendra yang sebelumnya tak pernah sekalipun di ajak makan siang ataupun keluar kota bersama. Dan, apalagi selama ini Pak Hendra tak pernah terlihat bersama dengan seorang wanita. Sehingga, orang-orang di kantor curiga kalau Pak Hendra dan Intan mempunyai hubungan spesial.

Sebelum masuk ke ruangannya, Intan berhenti sejenak dan melihat ke arah pintu Pak Hendra.

"Mas Hendra udah datang belum yaa," gumam Intan.

Ketika sampai kantor tadi, Intan langsung turun di depan pintu masuk sehingga dia tak melihat mobil Pak Hendra di parkiran.

"Ngapain sih aku cari-cari tahu, lagian emang kenapa kalau Mas Hendra udah datang atau belum," gumam Intan heran sambil memukul kepalanya sendiri.

Di ruangannya, Intan terlihat gelisah. Dia melihat ke jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul sebelas lewat dua puluh menit. Pagi ini Pak Hendra tak memanggilnya keruangannya. Biasanya setelah datang, dia langsung memanggilnya ke ruangannya bertanya tentang jadwal hari ini. Tapi hari ini tak ada tanda-tanda sama sekali.

"Apa Mas Hendra ngga masuk kantor?" tanya Intan pada dirinya sendiri.

"Apa aku telpon aja yaa. Ah ngga usah. Lagian suka-suka Mas Hendra lah, diakan bos disini." ucap Intan pada dirinya sendiri.

Namun entah kenapa Intan seperti merasa ada yang kurang. Tanpa sadar dia sebenarnya selalu menunggu kabar dari Pak Hendra. Sejak kepulangan mereka kemarin dari jakarta, Pak Hendra belum pernah menghubungi Intan. Intan hanya melamun sambil memegang ponselnya. Tiba-tiba dia di kagetkan dengan suara dering telponnya.

"Mas Hendra," bisik Intan setelah melihat layar ponselnya.

"Hmmm...." Intan berdehem dan memperbaiki posisi duduknya sepeti orang yang akan melakukan wawancara. Namun sontak dia menyadari keanehannya sendiri.

"Ngapain sih aku," gumam Intan yang lagi-lagi merasa heran dengan dirinya.

Diapun lalu menjawab panggilan Pak Hendra.

"Halo...," ucap Intan.

"Kamu ke ruanganku sekarang," pinta Pak Hendra.

"Baik Pak," jawab Intan.

"Yessss...!" jerit Intan dengan riang setelah telpon di tutup.

Lagi-lagi dia heran melihat dirinya. Entah kenapa dia merasa sangat senang ketika Pak Hendra menelponnya dan menyuruh untuk ke ruangannya. Padahal sebelumnya juga itu sering di lakukan Pak Hendra.

"Yaa udahlah, yang penting aku senang," ucap Intan sambil tersenyum.

Dia tak sadar, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari balik layar di sebelah ruangannya. Pak Hendra hanya tersenyum melihat tingkah Intan yang terkadang kekanak-kanakan.

Intan langsung menuju ke ruangan Pak Hendra. Terlihat Pak Hendra sedang memperhatikan sesuatu di depan laptopnya.

"Silahkan duduk," pinta Pak Hendra.

Intan hanya mengangguk lalu langsung duduk di sofa. Tiba-tiba dadanya langsung berdegup kencang. Dia tak tahu mengapa merasa gugup seperti ketika pertama kali dia kesini. Dia melihat ke arah Pak Hendra yang masih sibuk dengan pekerjaannya.

"Kenapa sih aku kayak gini?" tanya Intan dalam hati.

Untuk mengurangi kegugupannya, dia mengambil koran yang ada di meja lalu mulai membaca. Pak Hendra melihat ke arah Intan dan tersenyum. Dia langsung berdiri dan duduk di samping Intan.

Intan kaget tiba-tiba Pak Hendra sudah ada di sampingnya.

"Pak Hendra bikin kaget aja," ucap Intan menahan gugup.

"Serius sekali bacanya," ujar Pak Hendra sambil menatap Intan.

Intan langsung menundukkan wajahnya. Dia tak berani menatap Pak Hendra.

"Tan," panggil Pak Hendra dengan lembut.

"Iya," jawab Intan berusaha menaikkan kepalanya.

"Aku mau ngomong sesuatu," ucap Pak Hendra terlihat serius.

"Mau ngomong apa,?" tanya Intan penasaran.

"Tan, lihat aku," pinta Pak Hendra dengan syahdu.

Intan lalu menaikkan kepalanya dan berusaha menatap Pak Hendra. Degupan dadanya semakin kencang.

"Aku suka sama kamu," ucap Pak Hendra langsung.

Intan terkejut mendengar ucapan Pak Hendra. Di tengah keterkejutannya, tiba-tiba satu ciuman mendarat di bibirnya yang seksi. Intan tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya diam mematung dan membiarkan Pak Hendra mengulum bibirnya. Ini adalah pengalaman pertama bibirnya di sentuh oleh seorang laki-laki.

Beberapa detik berlalu namun tak juga ada respon. Pak Hendra menghentikan aksinya. Dia melihat ke arah Intan yang masih diam mematung.

"Tan, aku tahu mungkin ini terlalu cepat. Tapi jujur, sebenarnya aku udah lama suka sama kamu. Sejak pertama kali kita bertemu sekitar satu tahun yang lalu. Sejak saat itu aku tak pernah bisa melupakan kamu meskipun beberapa kali aku mencobanya," ucap Pak Hendra melihat Intan yang terlihat syok.

"Aku minta maaf kalo aku udah lancang," ucap Pak Hendra terlihat menyesal.

Beberapa saat waktu menjadi hening. Lalu Intan mulai melihat ke arah Pak Hendra.

"Ngga apa-apa kok, Pak, aku malah senang bapak bisa mengutarakan perasaan bapak." ucap Intan.

Entah setan apa yang sudah merasuki Intan hingga bisa berbicara seperti itu. Dia seperti sudah terhipnotis.

"Berarti kamu menerima aku sebagai pacarmu," ujar Pak Hendra meyakinkan dirinya.

Intan tak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah malu-malu. Karena mendapat jawaban sesuai dengan keinginannya, Pak Hendra langsung mendaratkan ciuman lagi. Mendapatkan ciuman untuk kedua kalinya, Intan yang tadinya masih malu-malu langsung membalas ciuman itu. Merasa mendapatkan respon, Pak Hendra semakin bersemangat. Dia memegang kepala Intan untuk semakin merekatkan ciumannya.

Merekapun berpagut menikmati setiap bibir satu sama lain. Intan yang tak pernah berciuman dengan laki-laki tiba-tiba menjadi seperti seorang yang berpengalaman. Pak Hendra tak usah di tanya lagi, setiap ******* bibirnya membuat Intan merasa melayang. Lama mereka saling berpagut, tiba-tiba mereka dikagetkan dengan ketukan dari balik pintu.

Merekapun berhenti. Intan segera merapikan rambutnya yang acak-acakan serta pakaiannya. Begitu pula Pak Hendra. Dia segera kembali ke kursi kerjanya.

"Masuk!" perintah Pak Hendra.

Pintu terbuka dan Dino masuk dengan memegang beberapa map.

"Maaf menganggu, Pak, ini ada beberapa berkas kasus yang baru masuk," ucap Dino sambil menyodorkan mapnya ke Pak Hendra.

Tanpa menjawab Pak Hendra mengambil map yang di sodorkan oleh Dino. Dia membuka map itu dan sekilas memperhatikannya.

Intan yang duduk di sofa tak berani melihat ke arah mereka. Dia hanya pura-pura membaca koran.

"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Dino kemudian berlalu.

Setelah Dino berlalu, Pak Hendra langsung berdiri menuju ke Intan. Intan terlihat malu-malu setelah menyadari apa yang baru saja di lakukannya.

"Kamu udah makan?" tanya Pak Hendra basa basi. Dia sebenarnya sudah tau kalau Intan pasti belum makan. Namun untuk mengatasi kecanggungannya, dia lalu bertanya seperti itu. Intan hanya menggeleng tanpa suara.

"Ya udah, kita makan di luar." ucap Pak Hendra.

Merekapun berlalu. Di dalam lift mereka hanya diam. Namun pelan-pelan tangan Pak Hendra mulai merayap ke pinggang Intan dan menariknya hingga tubuh mereka berdempetan. Intan kaget namun dia hanya tersenyum. Pak Hendra masih tetap menghadap ke ke depan, seakan-akan tidak ada yang terjadi. Setelah keluar dari lift, Pak Hendra menggenggam tangan Intan seakan akan tak mau melepasnya. Intan berusaha melepaskan tangannya karena malu di lihat satpam yang berjaga. Namun bukannya melepaskannya, justru pak Hendra semakin mengeratkan genggamannya. Intan hanya tersenyum pada satpam. Senyum yang di paksakan untuk menutupi rasa malunya. Sementara Pak Hendra terlihat cuek.

"Malu tau," ucap Intan setelah mereka masuk mobil.

"Emang kenapa, kamu kan sekarang pacar aku," ucap Pak Hendra cuek.

"Iya, tapi...,"

"Udah, kamu ngga usah peduli," ucap Pak Hendra memotong ucapan Intan.

"Atau kamu malu pacaran sama aku," ucap Pak Hendra.

"Hahh...! Ngga mungkinlah aku malu. Siapa sih yang ngga mau pacaran sama lelaki ganteng seperti Mas Hendra." ucap Intan polos.

Mendapat pujian seperti itu, Pak Hendra terlihat berbinar-binar.

"Masa sih, emang aku ganteng?" ucap Pak Hendra sambil menahan senyum.

Meskipun sudah sering mendengar pujian seperti itu, Pak Hendra merasa biasa saja. Entah kenapa itu terasa berbeda ketika Intan yang mengucapkannya.

"Mas Hendra ngga usah pura-pura. Aku sering dengar karyawan cewek sering muji Mas Hendra," ujar Intan.

"Masa sih, kok aku ngga tau," ucap Pak Hendra sambil menatap Intan.

"Iiiihhh...," teriak Intan manja dan malu-malu sambil mencubit Pak Hendra.

"Hahahahhaa...." Pak Hendra tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Intan yang begitu menggemaskan.

Sekitar dua puluh menit mengendarai mobil, akhirnya mereka sampai di restoran favorit Pak Hendra. Setelah parkir, Pak Hendra tak langsung turun, dia malah langsung mencium Intan yang sedang bersiap-siap untuk turun. Intan kaget dan berusaha melepaskan ciuman Pak Hendra.

"Mas Hendra, nanti di lihat orang," ucap Intan setelah Pak Hendra melepaskan ciumannya.

"Nggak akan ada yang lihat, kaca mobil ini ngga tembus pandang." ucap Pak Hendra meyakinkan Intan.

Sudah dari tadi Pak Hendra menahan diri karena sedang menyetir. Tingkah Intan yang menggemaskan membuat Pak Hendra tak sabar untuk mengulum bibirnya. Bibir yang selalu di impikannya.

"Kamu sih, menggemaskan. Buat aku ngga tahan," ucap Pak Hendra genit.

"Kok aku yang di salahin," balas Intan senyum malu-malu.

Melihat itu, Pak Hendra malah makin tak ingin turun. Dia langsung mendaratkan lagi satu ciuman yang membuat Intan akhirnya takluk. Hampir lima menit mereka berpagut, akhirnya Intan melepaskan ciumannya.

"Kalo gini terus, kita ngga jadi makan," ucap Intan sewot manja.

Pak Hendra hanya tertawa. Dia rasanya ingin terus mengulum bibir Intan. Hari ini sudah empat kali dia mencium Intan. Entah berapa kali lagi nanti.

"Yaa udah, kita turun sekarang," ucap Pak Hendra akhirnya.

Lalu mereka pun ke restoran di antar oleh pelayan. Setelah memesan dan pelayannya berlalu, Pak Hendra menatap Intan yang berada di depannya. Dia langsung mengambil tangan Intan dan menciumnya. Intan langsung salah tingkah mendapat perlakuan yang romantis seperti ini. Beberapa saat mereka hanya diam. Hanya mata yang bicara bahwa dua Insan ini saling jatuh cinta.

Setelah makan, mereka langsung kembali ke kantor. Di kantor, Intan langsung menuju ke ruangannya begitupun Pak Hendra. Di ruangannya, Intan tak bisa fokus pada pekerjaannya. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu terjadi. Ciuman demi ciuman datang bertubi-tubi tanpa dia sangka. Bukannya menolak dia malah menikmatinya.

"Mas Hendra, I Love You," gumam Intan baper.

Intan benar-benar merasakan jatuh cinta. Baru kali ini dia merasakan perasaan yang begitu dalam. Dulu waktu masih mahasiswa, dia pernah merasakannya namun tak sedalam sekarang. Mungkin karena dulu dia tak pernah menjalin hubungan dengan lelaki yang di sukainya. Intan terus hanyut dalam bayangan wajah Pak Hendra. Dia merasa ingin selalu berada di dekatnya.

Di ruangan sebelah, Pak Hendra tak henti-hentinya menatap Intan dari balik layar komputernya. Rasanya dia ingin terus bersama dengan wanita itu. Dia merasa seperti merasakan sesuatu yang sangat luar biasa. Setahun lebih dia harus menahan perasaannya, kini apa yang inginkannya sudah dia dapatkan. Dia merasa menjadi orang yang paling bahagia.

1
Yulia Wati
aku kok jdi jngkl k s intan ya htinya yg terlalu lemah tinggalin dulu Napa
Yulia Wati
intan htinya terlalu lemah dgombl8nbdkit aza udah seneng dasar bucin
Yulia Wati
mksdnya Hendra udah nikah Fong hadeh 🤦‍♀️🤦‍♀️gmna sana intan
Yunerty Blessa
singkat tapi mantap..aku sangat³ suka sekali dengan alur cerita nya..😘😘
Yunerty Blessa
akhirnya cerita nya pun selesai..singkat,padat dan memang the best..
terbaik kak thor 🥰🥰
mantap.
Yunerty Blessa
Intan pun bodoh.. tunggu dulu dari Hendra baru buat keputusan..
Yunerty Blessa
pasti terbongkar juga kebusukan mu Susan
Yunerty Blessa
jahat sekali kau Susan.. pasti ada balasan nya
Yunerty Blessa
asyik deh..
Yunerty Blessa
moga saja Hendra dan Susan cepat bercerai dan bersatu dengan Intan
Yunerty Blessa
pindah rumah saja Hendra.. Susan sudah tau,,bisa bahaya
Yunerty Blessa
ketemu lagi..
Yunerty Blessa
rasakan Hendra.. itulah akibatnya karna kau tak jujur
Yunerty Blessa
Hendra bodoh betul³ bodoh.. jujur saja pada Intan..
Yunerty Blessa
Hendra pun bodoh tidak mau jujur saja.. daripada bohong karna kalau Intan tau pasti akan sakit hati
Yunerty Blessa
jujur saja Hendra,,itu lebih baik
Yunerty Blessa
mantap Hendra..
Yunerty Blessa
seperti nya ada sesuatu yang disorokkan oleh Hendra dari Intan..
Yunerty Blessa
nikah saja Hendra.....kan halal.
Yunerty Blessa
diam² ada cinta tumbuh diantara mereka berdua..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!