CERITA MASIH ACAK-ACAKAN AKAN AUTHOR REVISI SATU PER SATU.
-DALAM PROSES REVISI -
Sejak kecil Rania hidup bersama keluarga yang telah mengadopsinya dari sebuah panti asuhan. Segala hal akan Rania lakukan agar keluarganya bangga terhadap Rania, termasuk mengorbankan perasaannya sendiri.
Sampai kakak tirinya divonis tidak bisa memiliki anak. Sejak itu Rania ditunjuk untuk menikahi suami dari kakak tirinya agar bisa memiliki keturunan. Tetapi dengan perjanjian setelah memberinya anak Rania akan diceraikan.
Apakan Rania menyanggupi permintaan kakak tirinya? atau Rania memilih untuk pergi menghilang dari keluarga yang telah mengadopsinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon slwarulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 Nasihat (revisi)
Vino terus mengelus punggung Rania dengan lembut, tak disangka terdengar dengkuran membuat Vino tertawa lirih.
Lebih baik tidur seperti ini, daripada menangis terus menerus hanya karena laki-laki sia*** itu.
Ternyata menangis tidak hanya membuat Rania menjadi tenang, tetapi sampai tertidur. Ia meletakkan Rania dengan perlahan agar tidak terbangun.
Sesampainya dirumah, Vino langsung menggendong Rania.
"eh siapa nih, kamu habis nabrak siapa!" ucap Vivi yang kaget melihat anaknya menggendong perempuan
"Rania mah, dia Rania. Aku taro Rania dikamar aku dulu" Vino memperlihatkan sedikit wajah Rania yang tertutup oleh rambut kemudian berlalu untuk kekamar tamu
Vino langsung menghampiri Vivi dan duduk dihadapannya setelah menaruh Rania dan menyelimuti perempuan itu.
"kenapa Rania bisa ada sama kamu?"
"rencananya pulang kantor kita mau makan bareng, tapi ditengah perjalanan ia tiba-tiba nangis setelah melihat handphonenya. Vino juga gak tau karena apa, eh dia nangis Vino tenangin deh sampai Rania ketiduran dipelukan Vino"
"nak" Vivi menepuk sofa sebelah tempat ia duduki. Vino yang melihat raut muka mamahnya yang serius segera pindah kesamping mamahnya
"iya kenapa mah? Vino ada salah?"
"kamu tau kan Rania sudah menikah? kamu tahu kan kalau Rania sudah memiliki suami?"
Vino menyegarkan dahaga dengan sirup yang sudah ia bawa sedari tadi, "sudah pasti Vino tahu dong mah" jawab Vino mantap
"ada adab seorang istri yang gak boleh kamu langgar. Bagaimanapun juga kamu laki-laki yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kamu, nak"
Vino merebahkan diri dan menaruh kepala dipaha Vivi, "asal apa sih mah? kenapa ribet banget?" celetuk Vino
Vivi mengelus rambut anaknya, "kamu gak boleh terlalu dekat sama Rania, nak"
Vino mengubah posisi menjadi duduk, "aku gak bisa! aku udah anggap Rania hanya sebagai adek, mamah tau sendiri kan tingkah dia bener-bener mengingatkan Vino sama mendiang adek"
"yakin adek doang? dulu sih memang kamu menganggap Rania hanya sebagai adek, tapi tidak tahu kan kedepannya. Mamah lihat juga, akhir-akhir ini kamu beda aja memperlakukan Rania, dari cerita kamu itu"
Vini menggaruk tengkuk menutup kegelisahan nya, "aku bener anggep Rania adek kok. Tapi.... " Vino terdiam, memang benar beberapa hari terakhir perasaan-nya seakan berubah jika melihat Rania
Tepatnya setelah ia bertemu dengan Rania di Bali. Bukan bertemu, lebih benarnya Vino memang sengaja terbang ke bali setelah tahu perempuan itu sedang 'honeymoon' bersama suami barunya.
"gak usah dilanjut Mamah paham kok maksud kamu. Mamah hanya mengingatkan kamu harus sedikit jaga jarak kepada Rania. Pegangan tangan saja sudah salah, apalagi kata kamu sampai pelukan"
"aku pelukan juga nenangin dia kok mah" elak Vino,
"tetap saja kamu gak ada hak, Rania hanya boleh disentuh oleh suaminya. Bahkan berduaan saja dengan perempuan kamu salah, tapi mamah maklum karena Rania sekretaris kamu. kamu inget kan hadist
seperti ini, Tidaklah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali setan akan menjadi yang ketiga“
"tapi bener deh mah aku cuma anggap Rania adek kok" elak Vino lagi, "gak lebih sama sekali"
"kamu memang menganggap seperti itu, tapi apa orang lain akan menganggap seperti pikiran kamu itu. Orang yang melihat hanya akan salah paham dan akhirnya menyalahkan Rania. Bukankah itu akan semakin mempersulit Rania. Bukannya kamu ingin Rania hidup lebih baik lagi?"
"tapi kasihan Rania mah, kalau tidak ada yang bela? tidak ada yang menjadi tempat keluh kesah dia"
"mamah gak nyuruh kamu untung menjauhi Rania loh, kamu hanya harus inget batasan saja. Kamu gak mau suami Rania akan salah paham, dan akhirnya akan smeakin menyalahkan Rania kan. Apalagi kalau sampai kakak Rania yang tahu"
Vino merenungkan semua peristiwa yang kemung- kinan akan terjadi kepada Rania"iya mah, mamah benar? Vino janji akan tidak terlalu dekat sama Rania. Hanya akan memperlakukan Rania sebagai adik saja, itu pun akan tau batasan"
Vivi mengelus rambut anaknya, "nah ini baru anak mamah. Mamah mau istirahat dulu, sudah malam. Kamu jangan lupa makan sebelum tidur ya sudah mama siapkan sebelumnya, tinggal kamu hangatkan saja"
"iya mah, selamat tidur mah"
"habis makan kamu langsung istirahat ya, ingat tidurnya dikamar tamu, kamar kamu sedang ada Rania"
"ia mah, aku gak segi** itu untuk tidur sekamar dengan Rania. Mah, aku minta tolong untuk Ceking Rania sebelum mamah tidur, takut dia kebangun"
"iya akan mamah cek terlebih dahulu, selamat malam sayang"
"iya mah, makasih atas nasihat yang telah mamah curahkan"
"iya ihh, kayak sama siapa saja. Sudah mamah mau tidur"
Vivi meninggalkan Vino dengan segala pikiran yang ruwet dikepalanya.
😡😡😡😈😈😈
😡😡😡
😡😡😡
tokoh laki-laki.y juga gampang dibohongin pokok.y nambah beban pikiran dah
plis deh jangan goblok 😩 gak usah cari penyakit fokus aja ke karir Ama si kembar😑