Suyitno merubah namanya menjadi Alex, semua bermula dari ketidak sengajaan yang terjadi disebuah persimpangan jalan.
Seiring berjalannya waktu Suyitno menemukan jati dirinya yang sebenarnya, rahasia yang tidak pernah dia ketahui sepanjang umurnya. Bahkan ibunya yang selalu menutup cerita darinya tentang masa lalu yang terjadi sehingga dirinya hadir di dunia ini.
"Kamu bukan orang lain untuk diriku, tapi ada hubungan darah yang lebih dari itu" kata tuan Ali suatu hari pada Alex.
"Ibu bukannya tidak mau bercerita yang sebenarnya, tapi ada hal yang harus ibu lakukan untuk melindungi dirimu" ucapan ibu Suyitno semakin membuat Suyitno penasaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Mungkinkah Suyitno adalah takdir dan karma lain dari kehidupan dimasa lalu, mampukah Suyitno menerima segala hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya?
Lalu ke mana cintanya akan berlabuh setelah semua terbuka dan mengetahui siapa dirinya ?
"Cinta tidak memandang dari apa yang ada, tapi lebih dari sebuah rasa untuk selalu ada bagaimana pun keadaanya."
Siapa yang berkata demikian saat Suyitno tidak mempercayai cintanya?
Mirna, Meilan atau mungkin mis Lina?
Waktu memang membuat rahasianya sendiri untuk kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukannya
Waktu seakan berhenti saat semua hal yang aku punya hilang satu persatu diambil kembali oleh Tuhan.
Saat pemakaman Alex yang penuh rahasia selesai, orang-orang kepercayaan ku masih setia menemaniku. Diam terpekur tanpa sepatah kata dan air mata tanda aku berduka.
Mungkin jika orang lain yang melihat keadaanku sekarang, mereka berpikir bahwa aku orang yang tidak mempunyai perasaan dan emosi.
Tapi berbeda dengan orang-orang yang dekat dan paham akan diriku. Seperti orang-orang ku ini, mereka sangat tahu keadaanku yang sebenarnya sekarang. Sungguh tidak ada yang bisa menggambarkan rasa duka yang asli rasakan sekarang ini.
Duka yang teramat dalam dan amarah yang terpendam tentu saja bisa meledak kapan saja. Bahkan air mata saja takut mengalir tertahan amarah yang membeku.
Hatiku terus berteriak memaki Tuhan.
Namun aku juga sadar bahwa semua memang milikNya.
Dia mampu mengambil kapanpun semaunya tanpa bisa ditahan dengan uang atau bahkan kekuasaan.
*****
Selang sehari pemakaman, aku masih tidak bisa berpikir jernih.
Aku tidak mampu menerima kenyataan jika Alex telah tiada dan yang sangat menyakitkan adalah penyebab kematiannya.
Alex, anaku satu-satunya, penerus dan pewaris ku pergi terlebih dahulu dengan sangat menyakitkan.
Sungguh aku tidak pernah bisa membayangkan seandainya kematian Alex sampai tersebar dan penyebab kematiannya menjadi berita utama koran serta majalah.
Seperti berita-berita yang terpampang besar setiap hari aku baca.
ALEX ABRAM Putra pengusaha ALI ABRAM DITEMUKAN TEWAS AKIBAT OD.
Sungguh tragis!
Beruntunglah diriku, semua yang menimpa Alex bisa terkendali dan orang-orang ku bekerja sesuai intruksi yang aku berikan.
Aku memang sedikit mempunyai insting yang kuat, sebab itulah aku bisa dan mampu menemukan peluang-peluang yang tidak datang begitu saja sehingga aku juga mempunyai pengaruh pada lembaga-lembaga yang dipegang oleh orang-orang yang mengenalku. Ternyata ini sedikit berguna disaat seperti sekarang.
Padahal aku termasuk orang yang tidak pernah memanfaatkan hal semacam itu.
Tapi keadaan ini sungguh memaksa aku untuk berlaku yang tidak seharusnya.
Setelah pemakaman, Tio pamit. Sahabat serta orang suruhan ku yang mengawal Alex tanpa seorangpun tahu, aku tidak mampu berbuat apapun selain mengijinkannya. Tio juga pasti merasa kehilangan dan gagal dalam tugasnya.
Penyelidikan yang seharusnya Tio lakukan terhenti karena rasa bersalahnya yang teramat memukul dirinya. Sungguh aku pun sangat terpukul melebihi siapapun.
Tapi, sudahlah. Mungkin waktu ke depan aku bisa menemukan cara lain yang lebih baik.
Aku yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri.
Akhirnya aku melakukan perjalanan keluar negeri untuk menenangkan diri dari duka yang aku rasakan. Aku mengabarkan jika Alex bersamaku ke luar negeri.
Ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan Alex selama waktu yang tidak terbatas diluar negeri secara mendadak. Dan orang-orang kantor pun tidak menaruh curiga apapun tentang hal tersebut.
Mereka tidak bertanya tentunya.
Baru beberapa hari aku diluar negeri aku pun akhirnya kembali, Ada banyak hal menyangkut kehidupan orang banyak yang menjadi tanggungan perusahaan yang aku pimpin. Jika aku tetap pada posisi berduka sepanjang waktu, perusahaan yang aku miliki pasti jatuh dan kasihan para karyawan yang menggantungkan nasib perekonomiannya padaku.
Aku merasa tidak adil jika hal tersebut Sampai benar-benar terjadi. Aku merasa orang yang paling egois saat itu.
Suatu hari setelah kepulangan ku dari luar negeri, aku mengajak pak Min supir sekaligus pengawalku untuk mengantar ke Bekasi lepas makan siang. Ada peresmian proyek perumahan yang akan aku lakukan disana.
"Pagi ini kita ke kantor, mungkin siangnya lepas makan siang nanti kita langsung ke Bekasi pak Min."
"Ya tuan." Jawab pak Min singkat seperti biasa sambil membuka pintu penumpang untukku.
Siang sekitar jam empat belas kurang seperempat aku sudah bersiap untuk ke Bekasi sesuai jadwal tadi pagi.
"Ayo berangkat sekarang pak Min, semoga jalan sudah tidak macet dan tidak ada hambatan."
"Semoga ada kebaikan yang ada dalam perjalanan kita ini nantinya." Ajakku pada pak min seraya berdoa untuk perjalanan kali ini.
Berharap perjalanan ini ada hasil yang baik dan menjadi kebaikan juga untuk orang lain.
"Aamiin...!" Terdengar pak min menjawab doaku lirih dengan suara yang tegas.
*****
Perjalanan dan peresmian yang menjadi planning perjalananan tidak ada hambatan sama sekali. Semua lancar dan memuaskan semua pihak.
Lepas peresmian perumahan di Bekasi aku ada kunjungan ke beberapa kenalan dan teman yang kebetulan ada disini. Mumpung dekat kami silaturrahmi karena kesibukan dijakarta memang banyak menghabiskan waktu sampai terlupakan satu hal, jika kita juga makhluk sosial yang membutuhkan orang lain apa pun bentuknya.
Setelah semua agendaku hari ini di Bekasi selesai, kami pun pulang ke Jakarta kembali.
Waktu memang sudah malam sehingga jalan lebih lengang. Badan sudah terasa letih dan capek. Apa lagi aku batu pulang perjalanan dari luar negeri juga, sungguh melelahkan.
Malam ini cuaca sedikit cerah dan ada beberapa bintang tampak yang di langit Jakarta. Aku tersenyum memandanginya. Aku juga bisa memperhatikan jalan-jalan yang terkadang masih ramai dan kadang ada juga terlihat sepi. Hal yang selalu luput aku perhatikan karena terlalu sibuk bahkan saat didalam mobil waktu perjalanan aku masih membuka laptop atau berkas laporan sekedar untuk pengecekan.
Aku masih memperhatikan sisi jalan sebelah kiri dari kaca jendela mobil. Hingga pada saat sampai di suatu persimpangan yang entah ke berapa dalam perjalanan yang aku tiak pernah hitung sedari tadi, sepintas aku melihat orang tergeletak dipinggir jalan dan tidak diperhatikan orang-orang disekitarnya.
Awalnya aku juga tidak peduli tapi begitu teringat Alex jiwaku tersentuh. Sisi kemanusiaan diriku bangkit dan meminta pada pak Min untuk berhenti. Pak Min, supir yang biasa menemaniku kemana pun aku pergi selama ini. Aku pun meminta pada pak Min untuk memeriksanya.
"Pak Min tolong berhenti dan periksa disana."
"Sepertinya ada seseorang yang pingsan dipingir jalan itu, atau..." Aku tidak mampu melanjutkan kata-kata. Terbayang apa yang terjadi pada Alex, anakku saat kejadian naas itu. Aku tidak bisa membayangkannya.
Semoga tidak akan ada lagi Alex-Alex yang lain, mengalami hal sama seperti yang dialami anakku Alex. Aku harus memastikan jika orang tersebut bukan korban OD atau sejenisnya.
Dari sini aku mengutuk sikap orang-orang kota yang tidak peduli keadaan sekitarnya. Bahkan orang pingsan pun tidak mereka pedulikan sama sekali. Sikap yang sangat tidak manusiawi.
Semoga keegoisan ini tidak menjadi sikap umum orang-orang kota berikutnya. Semoga sikap peduli masih ada pada hati nurani sebagian orang yang ada di kota sebesar Jakarta ini.
POV tuan Ali and.
30-10-2023 | 14.40