Tanpa Air mata, daun - daun jatuh...
Yura hanya bisa menangis, walau Reihan akan tanggung jawab tetap saja Yura merasa semua tidak adil. Jalan takdir yang benar - benar membuatnya sulit.
Yura kian terisak, akankah dirinya bahagia? Akankah semua baik - baik saja?
Tidak ada yang bisa dirinya lakukan lagi, semua sudah terjadi. Yura pun pada akhirnya pasrah walau sulit menerimanya.
Ketukan pintu membuat Yura mengalihkan fokusnya.
Di ambang pintu Farah berdiri."Kamu Hamil?" tanya Farah dengan bibir bergetar.
Mau tidak mau, siap tidak siap Yura pun menikah dengan Reihan. Orang asing yang satu sekolah dengannya. Menikah tanpa cinta pun menjadi awal mereka.
Seiring berjalannya waktu, keduanya mulai terbiasa. Tanpa di tolak, Cinta pun mulai menyapa. Memeluk hangat keduanya di antara dinginnya perjalanan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chanie1001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Yura menatap tangan Reihan yang membawa tangan Yura masuk ke dalam saku jaket yang di pakai Reihan.
Hangat..
Reihan menatap Yura dalam." Kalau dingin bilang.." katanya dengan senyum simpul.
Yura mengembangkan senyumnya." Iya, sekarang udah anget kok. Makasih udah peka ya " goda Yura.
Reihan mengusap tangan Yura yang berada di sakunya." Hmm, yuk masuk ke dalam, kita belanja..”
Yura mengangguk lalu mengedarkan pandangannya. Hingga berhenti di salah satu tempat yang membuatnya tertarik.
“ Aku mau makan aja di sana! ” pekik Yura riang.
Tak menolak Reihan pun mengikuti tarikan Yura menuju ke arah yang di tunjuknya tadi. Keduanya mencari tempat lalu mulai memesan dan makan.
" Mau pesen lagi yang udangnya, enak! " pinta Yura dengan cengiran.
Reihan mengangguk lalu memanggil pelayan." Mba, pesen satu porsi lagi udang balado ya.." terang Reihan dengan senyum kecil di akhir.
Pelayan pun mengangguk lalu berlalu. Reihan kembali menatap Yura yang makan begitu lahap.
" Suka? "tanya Reihan.
Yura mengangguk." Suka banget.." jawabnya dengan riang.
" Kalo sama aku? " tanya Reihan seraya melempar senyum kecil, tangannya terulur menyelipkan rambut Yura yang melambai – lambai.
Yura mengulum senyum." Suka banget banget banget, hehe" cengirnya yang membuat Yura terlihat semakin cantik di mata Reihan.” tapi kayaknya lebih suka udang deh ”lanjut Yura menggoda Reihan.
“ Oh jadi aku kalah dan udang yang menang gitu? ”tanya Reihan dengan senyum geli.
***
Reihan mengusap perut Yura. Keduanya sedang berada di dalam bioskop. Bukannya fokus ke layar di depan, Reihan malah sibuk mengamati Yura yang banyak berekspresi.
Yura yang sadar pun menoleh." Kenapa? "tanyanya kurang nyaman plus heran.
Reihan menggeleng." Kamu cantik.." akunya jujur.
Yura tersipu, di tahannya tangan Reihan yang mengelus perutnya." Kamu jangan gini nanti aku serang kamu di sini gimana? " keluh Yura dengan pura - pura gelisah.
Reihan terkekeh pelan." Serang? Woa kamu agresif ya sekarang " bisik Reihan seraya mengecup kilat pipi Yura yang merona.
Yura membawa tangan Reihan ke dalam genggamannya Lalu kembali menatap layar di depan.
" Kamu punya aku sampai kapan pun titik! " gemas Yura tanpa menatap Reihan.
Reihan yang mendengar itu semakin melebarkan senyumnya. Yura begitu menggemaskan, wajahnya begitu cantik walau hanya tersinari cahaya layar saja.
" Love you.." sambung Yura masih tanpa menatap Reihan.
Reihan merasakan usapan di tangannya yang kini di genggam Yura. Reihan membalas usapan itu.
" Aku juga cinta kamu Ra dan juga anak kita.."
***
Yura tengah merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di perpustakaan kecil yang di buat Reihan di rumah. Sedangkan Reihan tengah memilah buku yang akan dirinya baca.
Reihan melirik Yura yang tengah bersenandung kecil. Senyum kecil pun tersungging di bibirnya.
Reihan memutuskan untuk mendekati Yura lalu Berdiri di sampingnya. Mengamati wajah Yura dari atas.
Yura yang sadar pun segera menutup bukunya. Menatap Reihan heran.
" Kenapa? "tanya Yura.
Reihan membungkukkan tubuhnya, tangan sebelahnya terulur menangkup sebelah pipi Yura. Yura menelan ludah gugup. Bola Matanya mulai bergerak gelisah.
"Rei.."cicitnya saat di rasa wajah Reihan perlahan mendekat.
Seperti tau apa yang akan terjadi Yura pun memejamkan matanya kuat - kuat. Reihan tergelak geli saat melihatnya.
Usapan tangan Reihan di pipi Yura pun berpindah ke belakang kepala Yura, memegang tumpukan buku yang Yura jadikan bantal.
" Kenapa tutup mata? " bisik Reihan tersirat kegelian.
Yura membuka matanya cepat. Rona merah pun kian menjalar di kedua pipinya.
" Akh.."pekik Yura saat Reihan mengambil buku yang menjadi bantalan kepalanya.
Sontak Yura bangun dengan cepat, namun keadaan malah semakin terlihat intim. Wajah Reihan begitu dekat bahkan sekilas hidungnya bersentuhan tadi.
" Aku cuma ambil buku.." singgung Reihan seraya mengulum senyum, menahan tawanya tanpa menjauhkan posisi wajahnya.
Yura memalingkan wajahnya seraya mendorong pelan tubuh Reihan hingga membuatnya berdiri tegak.
" Ak-aku..itu " gelagap Yura dengan begitu salah tingkah.
Reihan mengecup pipi Yura sekilas." Aku cium tapi nanti, setelah aku beres baca buku ini.." goda Reihan seraya mengusap sekilas bibir Yura.
Yura berdehem pelan." Si-siapa juga yang mau di cium ha-ha"dumelnya seraya tertawa garing.
Reihan menggeleng pelan dengan mengulum senyum lalu berbalik membawa tubuhnya duduk di sofa seraya membuka bukunya.
Yura duduk di samping Reihan, ikut memperhatikan buku yang kini di buka Reihan.
Yura kembali merona. Pasalnya buku yang di baca Reihan itu buku tentang kehamilan.
" Kamu bulan ke-4 ya.." gumam Reihan seraya terus membuka halaman per halaman buku itu.
Reihan membacanya begitu serius, tak lama melirik Yura." Katanya udah mulai terasa ya geraknya anak kita? "tanya Reihan memastikan.
Yura mengangguk." Tapi dikit banget.."akunya jujur.
Reihan kembali membaca gejala - gejala lainnya." Katanya paru - paru akan sedikit tertekan dan kamu sedikit kesulitan bernafas.."
Yura mengulas senyum." Emang kadang agak sesek dikit.."
Reihan menutup bukunya masih dengan menatap Yura." Kalo gitu ciumnya ga jadi.." putusnya acuh.
" Loh kenapa? " tanya Yura sedikit terdengar tidak terima. Tanpa dirinya sadari.
Reihan melebarkan senyumnya." Kamu mau banget aku cium? " goda Reihan semakin gencar.
Yura kicep. Terdiam cukup lama seolah jiwanya sudah hilang entah kemana, Yura meringis tanpa suara seraya memalingkan wajahnya. Malu!
Reihan menggigit bibir bawahnya saat melihat ekspresi Yura. Begitu membuatnya gemas.
"Kenapa masih malu sih.." gumam Reihan seraya memeluk Yura sekilas.
Yura berdehem pelan." Yuk ba-baca lagi gejala lainnya.." ajak Yura dengan sedikit salah tingkah.
***
Reihan menyelimuti Yura yang sudah terlelap. Reihan pun ikut masuk kedalam selimut, mendekatkan tubuhnya agar lebih merapat dengan Yura.
" Mm.."gumam Yura seraya mengubah posisinya menjadi terlentang.
Reihan menatap Yura tanpa ekspresi. Mengamati setiap detail wajah Yura yang seperti bayi itu.
Tangannya terulur menyentuh pipi Yura yang semakin hari semakin berisi. Rasanya Reihan ingin menggigit pipi itu. Yura membuka matanya karena merasa terusik dengan usapan yang kini Reihan berikan.
" Maaf.." ucap Reihan seraya menarik pinggang Yura. Di peluknya Yura dengan sayang.
" Cepet Tidur besok hari kencan kita.." bisik Reihan. Yura memejamkan matanya seraya mengulum senyum.
***
Yura berdiri di depan cermin yang menampilkan keseluruhan badannya. Mengamati apa yang kini dirinya pakai.
Gaun selutut dengan tanpa motif berwarna pink muda. Cantik.
Yura merapihkan tatanan rambutnya, memastikan rambutnya rapih dengan di selipi jepit kecil dua biji berbentuk bunga yang berwarna senada dengan gaun.
" Ah kok deg - degan sih.." pekik Yura tertahan, bibirnya mengulum senyum bahagia.
Sadarlah Yura!
Yura pun menarik nafas lalu dirinya hembuskan secara perlahan dan teratur.
" Ra.."panggil Reihan.
Yura terperanjat seraya menatap pintu yang kini kian terbuka.
" Udah? "sambung Reihan.
Yura mengangguk dengan tersipu malu. Tangannya terulur menyelipkan rambutnya sendiri ke telinga.
Reihan berjalan ke arah Yura dengan luwes. Wajahnya datar.
"Ayo.."ajak Reihan seraya meraih telapak tangan Yura, menuntunnya keluar kamar.
Yura menekuk wajahnya bete. Reihan sama sekali tidak melihat perubahan Yura bahkan tidak merasa kagum atau memberikan pujian.
Apa seburuk itu?
Setelah di dalam mobil pun Reihan masih saja diam. Bahkan tidak meliriknya, Yura merasa kalau Reihan seperti terpaksa mengajaknya kencan.
Mobil Reihan pun berhenti di sebuah rumah yang sangat Yura kenali. Tentu saja! Mereka sedang berada di depan rumah Yura.
" Kenapa ke sini? " tanya Yura terheran.
Reihan mematikan mesin mobilnya saat sudah terparkir lalu melirik Yura.
" Cuma sebentar, aku mau ketemu papa kamu, ada urusan.." Reihan mengusap pipi Yura sekilas." kenapa cantik banget sih.."gumamnya lalu setelahnya turun dari mobil meninggalkan Yura yang tersipu.
Yura menutup mulutnya menggunakan tangan. Menahan agar senyumnya tidak terlalu lebar. Yura memukul angin.
" Bisa banget bikin aku deg - degan!" gerutunya di akhiri kikikkan." ah! Rei bisa bikin aku lagi - lagi jatuh cinta!"lanjutnya tak terkendali.
Tak lama Yura menepuk jidatnya. Dengan tergesa Yura turun dari mobil.
Reihan yang berdiri di ambang pintu menoleh menatap Yura.
" Kenapa lama? " tanyanya dengan datar.
Yura gelagapan.
***
Yura melirik sang mama yang tengah merapihkan meja makan.
" Kemana bibi ma? Kenapa ga bibi aja yang beresin? " tanya Yura setelah berdiri di samping Farah.
Farah menghentikan kegiatannya lalu menghela nafas lesu." Mama pecat semua, kecuali Alya, semenjak kamu ga di sini rasanya mama ga punya kerjaan jadi lebih baik mama aja yang kerjain tugas rumah.." jelasnya seraya menuntun Yura menuju ruang keluarga.
Keduanya pun duduk di sofa dengan santai.
" Udah lama ga ketemu papa sekalinya pulang malah Rei yang di ajak ngobrol, sebenernya ada apa sih ma kenapa tiba - tiba gitu.."
Farah menatap wajah penasaran putrinya dengan tersenyum kecil.
" Nanti biar Reihan yang jelasin ke kamu.."
***
Yura memeluk Farhan dengan begitu erat." Papa ga tau sih Yura kangen papa banget, bukan cuma itu! Mama juga kasihan cuma di tinggal di sini bareng mba Alya.."celoteh Yura seraya melerai pelukannya.
" Papa juga maunya kumpul terus, tapi ya mau gimana lagi, banyak tanggung jawab yang harus papa jalanin.." terang Farhan seraya mengusap kepala Yura sekilas.
" Katanya mau kencan? Cepet nanti ke maleman, ga baik buat cucu mama.."sela Farah.
Yura melirik Farah dengan tatapan geli." Bilang aja mama usir aku biar bisa berduaan sama papa, paham kok paham Yura.." sindir Yura di akhiri kekehan geli.
" Huss sembarangan! Siapa juga yang usir " gerutu Farah pura - pura kesal yang di akhiri ******* senyum.
Reihan mengulum senyum kecil." Kalo gitu ma, pa Reihan sama Yura pamit.."
“ Iya. Hati – hati di jalannya.. “
***
Reihan mengusap kepalanya pelan." Maaf kencannya jadi ga full dan kemaleman.." sesal Reihan.
Yura melempar senyum." Engga papa kok.. oh Iya tadi bicarain apa sama papa? "
Reihan mengulum senyum penuh arti." Nanti juga tau, yang pasti bukan sekarang.."
Yura menekuk wajahnya tak suka." Kok rahasia - rahasiaan? Ck! Ga mood kencan! " tekan Yura seraya melipat tangannya di perut.
Reihan membukakan pintu mobil untuk Yura. Sedikit mendorong Yura untuk masuk.
" Masuk dulu.."
Setelah Reihan masuk dan duduk di jok kemudi, Yura memalingkan wajahnya, tak ingin melihat Reihan.
" Kejutan, aku mau kasih kamu kejutan jadi sabar aku mohon jangan marah.." bisik Reihan setelah memeluk Yura.
Yura terdiam, kejutan? Pikirnya sedikit terkejut, hatinya tiba - tiba berbunga - bunga.
" Kejutan? "tanya Yura untuk memastikan.
Reihan hanya mengangguk seraya mengendus wangi rambut Yura yang masih berada dalam pelukannya.
" Oke, ga jadi deh marahnya aku suka kejutan hehe " cengir Yura setelah pelukan Reihan terlepas.
***