Riana Nina Zara adalah seorang wanita yang baik dan punya pembawaan yang ceria. Ia memiliki seorang sahabat baik bernama Alina Raya Wijaya. Mereka sangat dekat karena berteman baik sejak duduk di bangku SMP. Bahkan Riana sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Orangtuanya juga selalu baik kepadanya.
Alina sendiri adalah seorang gadis piatu yang hanya tumbuh besar di bawah pengasuhan ayahnya. Ibunya meninggal dunia setelah setahun melahirkan dirinya. Sejak itu ayahnya tidak pernah menikah kembali karena fokus untuk merawat dan membesarkan dirinya.
Namun suatu hari ayahnya secara tiba-tiba memperkenalkan seorang wanita cantik kepadanya. Dan kedepannya wanita itu akan menjadi ibu sambungnya. Sayangnya ia tak menyukai wanita itu.
Apakah pernikahan itu akan terjadi atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali menangis.
"Riana sayang! Ayo kemarilah! Ibu dan ayah sangat merindukanmu. " seorang wanita melambai-lambaikan tangannya ke arahnya.
Riana menyambut uluran tangan itu dengan cepat. "Ibu, ayah!" serunya.
"Kenapa kita ada ditempat seperti ini? Kenapa ayah dan ibu memakai pakaian berwarna putih?"
"Kita sedang berada di alam mimpi, sayang!" jawab ibunya .
"Di alam mimpi? Jadi ini semua hanyalah mimpi?" ia tampak bingung.
"Sayang! Kami harus pergi sekarang." ucap ayahnya.
"Pergi? Pergi kemana? Riana ingin ikut bersama kalian."rengeknya.
"Maaf, sayang! kamu tidak bisa ikut. Tapi kami tidak akan meninggalkan kamu sendirian. Jadi kamu harus tetap kuat ya!" kali ini ibunya berucap.
"Kenapa Riana tidak bisa ikut? Riana takut tinggal sendirian. Bawa Riana juga ya?" ia semakin merengek pada mereka.
Namun ibu dan ayahnya tak mengatakan apapun lagi. Mereka berdua hanya tersenyum sambil perlahan melepaskan tangan Riana.
Riana tak henti memanggil mereka yang kian menjauh dari dirinya. Perlahan tubuh keduanya menghilang dari pandangannya.
Riana terus menyerukan nama mereka seraya memohon untuk kembali.
"Ayah! Ibu! Jangan pergi!"
***
Riana tersentak dan membuka matanya. Pandangannya terlihat kosong. Namun dadanya terlihat naik turun dengan ritme yang cepat. Nafasnya tersengal-sengal seperti baru saja mengejar sesuatu.
"Riana, kamu sudah sadar?" pertanyaan seorang wanita menyadarkannya.
Riana berusaha untuk memahami situasi dengan melihat keadaan sekitar. Hanya ada Alisa di sana yang sedang memegang tangannya. Ia tampak panik dan cemas melihatnya.
"A-lina! Aku ada di rumah sakit ya?" tanyanya setelah mengenali tempat itu.
"Iya. Kamu sedang ada di rumah sakit. Kamu pingsan dan kami membawa kamu ke rumah sakit." jelasnya.
"Oh! Begitu ya!" ia mencoba untuk bangun, tetapi kepalanya terasa sangat sakit.
"Jangan bangun dulu, kamu baru saja sadar." larang Alina.
Riana merebahkan tubuhnya kembali.
"Sudah berapa lama aku pingsan?" tanyanya.
"Sekitar tiga hari."
"Tiga hari? Selama itu? Hmm... Ayah dan ibuku ada dimana?" tanyanya Riana mengejutkan Alina.
Riana mungkin masih belum bisa menerima kenyataan yang ada. Alina terlihat bingung menanggapi pertanyaannya. Namun ia tetap harus mengatakan yang sebenarnya pada sahabatnya itu.
"Ri! Ayah dan ibumu sudah meninggal. Kamu juga hadir di pemakaman untuk mengantarkan kepergian mereka. Aku tahu kamu masih terkejut dan belum bisa menerima kenyataan yang ada. Tetapi kamu harus kuat dan ikhlasin kepergian mereka." jelas Alina dengan hati-hati.
Mendengar perkataan Alina membuat Riana semakin tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis kembali.
Alina yang tak kuasa melihatnya, ikut menangis bersamanya.
"Kamu harus kuat ya! Kamu nggak sendirian. Aku akan selalu ada untuk kamu." ucap Alina menguatkan sahabatnya itu.
Ia memeluknya.
Wanita itu menangis lagi sejadi-jadinya.
...****************...
"Kamu makan dulu, ya? Perawat sudah mengantarkan makanan untukmu." ucap Alina pada Riana setelah keadaannya lebih tenang.
Riana duduk bersandar di atas ranjang. Ia masih terlihat sedih dan merasa hampa. Air matanya yang telah mengering meninggalkan bekas hingga terlihat sembab.
"Aku belum lapar. Nanti saja makannya." jawabnya.
"Jangan gitu. Kamu udah nggak makan sejak kemarin. Makan sedikit saja ya! Nanti kalau nggak makan kamu tambah sakit dan nggak bisa keluar dari rumah sakit." bujuk Alina.
"Aku nggak selera makan, Al! Nanti saja ya. Tolong jangan paksa aku."
"Dulu kalau aku nggak mau makan, kamu akan terus-menerus maksa aku buat makan. Sekarang kamu yang harus aku paksa untuk makan. Ayo! Buka mulutmu!" ucapnya sambil menyodorkan sendok kepadanya.
"Al!" pintanya.
"Sedikit saja. Ayolah! Kamu harus makan." bujuknya paksa.
Akhirnya Riana membuka mulutnya dengan terpaksa. Ia memakan satu suapan yang di berikan Alina.
"Sudah ya!" pinta Riana.
"Baiklah! Tapi nanti kami harus makan lagi, ya?"
"Iya." seru Ayana sendu.
Wanita itu kembali diam. Ia menatap pemandangan di luar jendela depan tatapan sendunya. Hanya saja pikirannya entah melayang kemana.
"Kamu bolos kuliah, ya?" tanyanya tiba-tiba memecah kesunyian yang ada.
"Aku ngambil cuti satu Minggu." jawab Alina.
"Cuti? Untuk ngerawat aku?" tanyanya.
Alina menganggukkan kepalanya.
"Buat apa kamu ngambil cuti? Aku bisa urus diriku sendiri kok. Kamu pulang saja ya." bujuk Riana.
"Nggak. Aku nggak akan pulang. Kamu nggak usah cemaskan aku. Aku juga sudah izin sama ayah." jelas Alina.
"Al!" Riana merasa tak enak hati.
"Kamu udah sering ngerawat aku kalau aku sakit. Sekarang gantian aku yang jaga kamu ketika kamu sakit."
"Ya, udah. Terserah kamu." ucap Riana.
Suasana kembali sunyi. Alina tampak membereskan pakaian kotornya dan meletakkannya di dalam tas.
Sore nanti ayahnya akan datang untuk membawakan pakaian bersih untuknya.
"Ri! Aku pergi ke minimarket di bawah sebentar, ya! Perlengkapan mandi kamu nggak ada. Jadi aku beli dulu di minimarket." jelasnya.
"Iya!" seru Ayana dengan tatapan kosongnya. Ia bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari jendela.
Alina lalu pergi meninggalkannya. Sepeninggalan Alina, Riana mulai meluapkan kembali emosinya. Ia teringat kembali pada orang tuanya yang telah pergi dan mulai menangis kembali. Ia benar-benar tak sanggup kehilangan keduanya secepat ini.
Riana menangis seorang diri. Ia memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya. Ia menangis terisak tanpa perduli dengan sekitarnya.
Bahkan ia tak sadar jika Ervin masuk ke dalam kamarnya. Pria itu awalnya ragu untuk masuk ketika melihat Riana menangis sendirian. Namun akhirnya ia tetap masuk karena tak tega melihatnya menangis sendiri seperti itu.
Ervin duduk di ranjang tepat dihadapan Riana yang masih menyembunyikan wajahnya.
Ervin seketika tampak ragu untuk menyentuh Riana. Namun karena rasa kasihan, ia menepuk pundaknya dengan lembut.
Riana yang merasakan tepukan seseorang mengangkat wajahnya yang basah akan air mata.
"Om Ervin!" Tanpa pikir panjang, Riana langsung memeluknya.
Ervin tentu saja merasa kaget. Ia tampak kebingungan.
"Maaf, om! Tapi saya mohon diam saja untuk sementara waktu. Lima menit saja. Tidak, semenit saja sudah cukup." pintanya dengan suara serak.
Ervin lalu membiarkannya. Ia juga menepuk punggungnya untuk menguatkan dirinya.
"Iya. Tidak apa-apa jika kamu ingin menangis. Menangis lah sepuasnya. Tetapi pastikan besok kamu akan kuat dan kembali bangkit." pesannya.
Riana terus menangis di pelukan pria itu. Ia sadar jika ia tak mampu menjalaninya seorang diri. Ia butuh sandaran untuk menopang kehidupannya.
Di luar kamar, Alina yang kelupaan membawa dompetnya berdiri di depan pintu kamar karena tak ingin merusak suasana haru itu.
Melihat kedekatan ayahnya dengan Riana membuatnya terpikir sesuatu. Ia tampak tersenyum karena sudah mendapatkan ide yang bagus.
Tapi bagaimana cara untuk melakukannya? Bagaimana jika mereka berdua menolaknya? Pikirnya ragu.
Alina kembali melihat suasana di dalam ruangan. Ia tampak sedih melihat kesedihan yang sedang di rasakan oleh sahabatnya itu.
"Bagaimana caranya?"
...****************...
Hai! Selamat datang di karya terbaruku. Semoga kalian menyukai jalan ceritanya ya.
Jangan lupa jaga kesehatan dan terus dukung ya.
Terima kasih. 🙏🏿