NovelToon NovelToon
LOLIPOP MANIS

LOLIPOP MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?

Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.

MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?

NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 — TAMU TAK DIUNDANG

BAB 12 — TAMU TAK DIUNDANG

Pagi itu, langit tampak mendung.

Angin bertiup pelan, membuat dedaunan di halaman kediaman keluarga Axlarta bergoyang perlahan.

Eiri baru saja selesai membantu para pelayan menyiram bunga.

Meskipun kini hidupnya jauh lebih berkecukupan, ia tetap tidak ingin hanya berdiam diri.

Ia ingin tetap melakukan sesuatu dengan tangannya sendiri.

"Terima kasih sudah membantu, Nona."

Salah seorang pelayan tersenyum.

Eiri membalas dengan senyuman hangat.

"Tidak apa-apa. Aku justru senang."

Dari lantai dua, Mahendra memperhatikan semua itu melalui jendela ruang kerjanya.

"Dia benar-benar tidak berubah..."

gumamnya pelan.

"Selalu memikirkan orang lain lebih dulu."

Tok...

Tok...

"Asisten masuk."

Asisten 01 membawa sebuah map hitam.

"Tuan, hari ini ada rapat dengan para direktur pukul sembilan."

"Batalkan."

Asisten itu tampak terkejut.

"Batalkan?"

"Iya."

"Saya ingin berada di rumah hari ini."

"Baik, Tuan."

Asisten tidak bertanya lagi.

Sudah bertahun-tahun ia bekerja bersama Mahendra.

Ia tahu, setiap keputusan yang diambil atasannya pasti memiliki alasan.

Sementara itu...

Di ruang tamu.

Melveri sedang menemani Eiri menikmati teh hangat.

"Eiri."

"Iya, Kak?"

"Apa kau masih ingin membuka kafe lagi?"

Pertanyaan itu membuat mata Eiri berbinar.

"Tentu."

"Itu impianku."

Melveri tersenyum lembut.

"Kalau begitu, jangan menyerah."

"Suatu hari nanti pasti terwujud."

"Terima kasih, Kak."

Entah mengapa...

Setiap berbicara dengan Melveri, Eiri selalu merasa nyaman.

Seolah-olah mereka sudah saling mengenal sejak lama.

Tak lama kemudian...

Ding dong...

Bel rumah berbunyi.

Seorang pelayan segera membukakan pintu.

"Permisi."

Di depan pintu berdiri seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan jas abu-abu rapi.

Di belakangnya terdapat seorang gadis muda berambut hitam panjang.

"Apakah Tuan Mahendra ada?"

Pelayan mengangguk.

"Silakan masuk."

Beberapa menit kemudian.

Mahendra turun dari lantai dua.

"Selamat pagi, Paman."

Pria itu tersenyum lebar.

"Sudah lama tidak bertemu."

Mahendra mengangguk sopan.

"Silakan duduk."

Eiri yang melihat tamu itu segera berdiri.

Mahendra menoleh.

"Eiri."

"Iya?"

"Perkenalkan."

"Beliau Tuan Leonard."

"Sahabat mendiang ayahku."

Eiri membungkukkan badan.

"Salam kenal."

Leonard tersenyum ramah.

"Jadi ini istrimu?"

Mahendra mengangguk singkat.

"Iya."

Leonard memperhatikan wajah Eiri cukup lama.

Tatapannya berubah sedikit terkejut.

"Wajah gadis ini..."

gumamnya pelan.

Mahendra mengernyit.

"Ada apa?"

Leonard segera menggeleng.

"Tidak."

"Mungkin aku hanya salah lihat."

Namun di dalam hatinya...

Ia merasa wajah Eiri sangat mirip dengan seseorang yang pernah ia kenal bertahun-tahun lalu.

Di sisi lain.

Gadis muda yang datang bersama Leonard sejak tadi hanya diam.

Tatapannya sesekali mengarah kepada Mahendra.

Namanya Celine Leonard.

Putri tunggal Leonard.

Sejak kecil, ia diam-diam menyukai Mahendra.

Namun...

Ketika mendengar Mahendra menikah secara mendadak, hatinya dipenuhi rasa kecewa.

"Itu istrinya..."

gumam Celine dalam hati.

Ia memaksakan senyum.

Tetapi sorot matanya menunjukkan hal yang berbeda.

Obrolan berlangsung cukup hangat.

Leonard menceritakan perkembangan beberapa perusahaan.

Sementara Mahendra hanya mendengarkan.

Hingga tiba-tiba...

"Tuan!"

Asisten 01 masuk dengan wajah panik.

Mahendra langsung berdiri.

"Ada apa?"

"Asisten menemukan seseorang menyelinap ke area belakang rumah."

Semua orang terkejut.

Mahendra langsung berubah serius.

"Siapa?"

"Belum diketahui."

"Pengawal sedang mengejarnya."

Mahendra segera melangkah keluar.

"Asisten, ikut."

"Baik."

Di halaman belakang.

Beberapa pengawal sedang mengepung seorang pria berpakaian serba hitam.

Namun sebelum mereka berhasil menangkapnya...

Pria itu melompat melewati pagar.

"Kejar!"

teriak salah satu pengawal.

Sayangnya...

Pria tersebut kembali menghilang.

Mahendra memperhatikan jejak sepatu yang tertinggal di tanah.

"Dia lagi..."

gumamnya.

Ia yakin orang itu adalah pria bertopi hitam yang sama.

Namun...

Mengapa orang itu hanya mengawasi rumahnya?

Di sebuah gang sempit.

Pria bertopi hitam berhenti berlari.

Ia membuka napas panjang.

"Maaf..."

"Aku belum bisa menemui kalian."

Rivan mengeluarkan sebuah foto kecil dari sakunya.

Foto itu memperlihatkan tiga anak kecil sedang tersenyum.

Di balik foto terdapat tulisan yang mulai pudar.

"Melveri, Marchel, Eiri. Jangan pernah berpisah."

Rivan menatap tulisan itu cukup lama.

"Aku berjanji pada ayah kalian..."

"Aku akan menyatukan kalian kembali."

Sore harinya.

Eiri duduk sendirian di taman.

Ia memikirkan kejadian siang tadi.

"Tamu misterius..."

"Pria bertopi hitam..."

"Kenapa semuanya terasa aneh?"

Saat sedang melamun...

Mahendra datang membawa dua buah lolipop rasa stroberi.

"Ini."

Eiri tersenyum.

"Terima kasih."

Mereka duduk berdampingan di bangku taman.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Hanya suara angin yang menemani.

Kemudian Mahendra tersenyum kecil.

"Eiri."

"Hm?"

"Kalau suatu hari nanti..."

"Kamu mengingat semua masa lalumu..."

"Apakah kamu akan membenciku?"

Pertanyaan itu membuat Eiri menoleh.

Ia melihat mata biru Mahendra yang biasanya dingin...

Kini justru dipenuhi kekhawatiran.

Eiri menggeleng pelan.

"Aku tidak tahu."

"Tapi..."

"Hatiku mengatakan..."

"Kalau aku pernah sangat mempercayaimu."

Mendengar jawaban itu...

Mahendra tersenyum lega.

Walaupun ingatan Eiri belum kembali...

Perasaannya ternyata belum sepenuhnya hilang.

Di balik semak-semak taman...

Sepasang mata kembali mengawasi mereka.

Namun kali ini...

Bukan Rivan.

Melainkan seseorang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Bersambung ke BAB 13 — Bayangan Masa Lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!