Penyesalan memang selalu datang terlambat, itulah yang dialami gadis cantik bernama Clara.
Efek mabuk dan ketampanan seorang pria bernama Dean, ia sampai kehilangan kesuciannya di malam itu dan mengandung.
Ia tak punya pilihan lain selain harus menikah kontrak dengan Dean.
Saat Clara berharap akan cinta Dean, masa lalu Dean terus mengganggunya.
Apakah ia bisa menggantikan posisi wanita pengisi hati Dean pada akhirnya?
Atau semuanya akan berakhir sesuai tanggal batas akhir kontrak pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xoxo_lloovvee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Clara terbangun dari tidurnya. Ia meneliti sekelilingnya. Dean tertidur di lantai tanpa alas. Ia hanya berselimut jaket tipis.
Clara menjatuhkan selimut miliknya agar menutupi Dean yang membuatnya terbangun.
"Kau tidak apa-apa?" Dean berdiri.
"Aku tidak apa-apa. Pakailah selimut."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku gerah."
Dean menatap Clara. Tak percaya begitu saja alasan Clara.
"Dean, pakai saja, kalau kau sakit bagaimana?" Clara memaksa.
"Bilang kalau kau kedinginan nanti."
Dean kembali tidur di lantai. Ia membungkus dirinya dengan selimut yang Clara berikan.
Dari sudut matanya Clara bisa memperhatikan suaminya itu. Entah dia tidur jam berapa tadi malam. Clara sudah tertidur pulas saat Dean masih di mushola dan baru bangun sekarang.
Ingatan Clara kembali pada kejadian tadi malam saat ia terbangun. Ia merasa ada yang menggenggam tangannya. Isakan samar-samar cukup jelas terdengar di ruangan yang hening. Dean membungkam tangisannya dengan menutup wajahnya di samping Clara.
Tak berapa lama, Dean mengangkat wajahnya. Clara langsung menutup matanya berpura-pura tertidur. Ia bisa merasakan gerakan Dean yang memperbaiki selimutnya. Ia keluar dari ruangan setelahnya.
Dean tak kembali untuk beberapa waktu. Clara khawatir keadaan Dean yang entah di mana. Untungnya seorang perawat yang memeriksanya tahu di mana Dean karena hanya dirinya yang keluar dari kamar. Clara tak tahu Dean kembali jam berapa.
Cahaya mentari menyeruak dari jendela kaca ruangan, menembus gorden pembatas antar pasien. Suara dari pasien dan penjaga mereka mulai terdengar di dalam ruangan membuat kegaduhan di pagi itu.
Seorang perawat perempuan dan laki-laki datang memeriksa keadaan Clara. Dean yang mendengar kegaduhan terbangun. Ia duduk di kursi di samping ranjang Clara.
Perawat yang bertugas memeriksa tensi Clara. Cukup baik pagi ini. Ia lanjut menyuntikkan cairan ke dalam infusnya. Terasa sangat sakit saat cairan itu memaksa masuk ke dalam nadinya.
"Dean, kamu pulang istirahat saja. Nanti aku telpon Gina untuk menemaniku." Clara prihatin melihat keadaan Dean yang berantakan.
"Baiklah. Aku akan pulang setelah memakamkan anak kita." Suara Dean tercekat. Ia tampaknya tak sengaja mengucapkan kata-kata itu. Tak berniat membuat Clara semakin bersedih.
"Aku akan menelpon ayahku untuk segera melakukannya." Clara sudah tak punya tenaga untuk menangis. Ia ikhlas pada takdir yang tak berpihak padanya.
Pukul 9 pagi, orang tua Clara datang bersama Gina. Mereka akan melakukan pemakaman secara layak terhadap janin berusia 20 minggu itu. Dean ikut bersama orang tua Clara, sementara Gina yang menunggunya.
"Kau mau apel atau pisang?" tanya Gina, mengeluarkan isi kresek hitam yang ia bawa. Ia tadi menyempatkan diri untuk membeli buah-buahan untuk Clara dan juga makan pagi untuk Dean seperti yang dipesankan Clara.
"Aku senang punya sahabat sepertimu." Clara berkata alih-alih menjawab pertanyaaan Gina.
"Dih. Jadi mau apel apa pisang ini?"
"Galaknya," ejek Clara yang tahu bahwa sebenarnya Gina tersipu malu.
Pernyataan Clara bukan dusta. Ia memang bersyukur punya sahabat seperti Gina. Meskipun galak, seperti kata Abad, ia sahabat yang sangat peduli. Selalu membantunya dalam masalah apapun.
Gina berdecih pelan sambil mengupas kulit apel. Ia tahu kebiasaan Clara yang mengupas kulit apel, sementara dirinya hanya mencuci kulitnya lalu menggigitnya. Kadang mereka berdebat karena perbedaan ini.
"Padahal apel sama kulitnya enak loh." Gina yang tak suka hal ribet mulai mengomel. Seperti saat Clara masih sibuk mengupas apel, sementara dirinya sudah hampir menghabiskan apel utuh.
"Ih pokoknya nggak suka." Clara kekeuh. Ia senang mengerjai Gina seperti itu. Kapan lagi ia akan meminta Gina mengupas apel untuknya.
"Oh iya Gin, nanti kamu pulangnya bareng Dean aja ya. Kalau bisa berhenti cari makan buatnya dulu. Kasihan dia nggak pulang dari kemaren."
"Iya, iya, bawel."
Sebelum tengah hari, rombongan Dean kembali ke rumah sakit. Ayah dan Ibu Clara langsung memeluk putrinya itu. Ayah Clara sudah melarang keras ibu Clara untuk menangis tapi ia tak kuat menahan. Ibu Clara malah menangis sejadi-jadinya saat melihat Clara.
"Tante, Om, kami pulang dulu ya, Dean mau istirahat," ucap Gina saat keadaan mulai tenang.
"Oh iya nak Gina, nak Dean istirahat dulu." Ayah Clara yang menjawab. Ibu Clara tak peduli dengan Dean. Ia masih menyimpan amarah padanya.
Gina menarik Dean keluar setelah berpamitan.
"Dean pernah memberimu makanan?" selidik Ibu Clara saat Dean dan Clara keluar dari ruangan.
"Pernah Bu, kenapa?" tanya Clara bingung.
"Dia nggak ngeracunin kamu kan?"
"Ibu... Dean bukan orang seperti itu. Berhenti menyalahkannya." Clara membela Dean.
"Ndo, yang paling senang kalau anakmu mati siapa lagi? Setelah ini dia pasti akan menceraikan kamu." Ibu Clara ngotot.
"Bu, nggak boleh suudzon gitu. Dean selama ini yang jagain Clara." Ayah Clara menenangkan istrinya.
"Loh memangnya salah? Kalau dia benar-benar menjaga Clara pasti semua ini tak akan terjadi."
"Ibu... Keadaan bayiku memang tidak sehat. Dean tidak salah apa-apa. Jangan membuatku semakin pusing."
Ibu Clara menahan omelannya. Jika bukan karena keadaan Clara, ia pasti akan tetap menyalahkan Dean.
...****************...
Sorenya, Dean kembali ke rumah sakit membawa barang yang mungkin akan diperlukan Clara. Ibu Clara meliriknya tak suka, masih menuduh Dean melakukan sesuatu pada Clara.
Dean meminta Abad untuk mengantar orang tua Clara karena jam besuk sudah habis. Hanya boleh satu orang yang menjaga.
"Tidurlah," ucap Dean.
"Aku sudah tidur seharian ini." Clara menolak.
Obrolan pasien lain terdengar cukup jelas sementara keduanya sudah kehabisan topik obrolan. Suasana cukup canggung antara keduanya. Biasanya mereka menghabiskan waktu sebentar di meja makan.
"Eumm... Kemaren yang sama kalian dua Abad itu siapa?" Clara memulai topik obrolan. Ia sudah tahu itu Felix yang Gina ceritakan.
"Felix. Bos tempatku bekerja."
"Bos?" Clara terperangah. Ia baru tahu informasi ini. "Cukup muda."
"Ah, dia teman baikku. Aku bekerja untuknya untuk saat ini." Dean menjelaskan.
"Ku kira kau hanya berteman dengan Abad."
"Aku menyebut namanya karena dia orang yang kau kenal."
Clara ber-oh pelan. Pantas saja dia tak pernah menyebut Felix. "Dia tidak datang saat pernikahanmu?" Clara mengorek informasi lagi.
Dean terlihat tak ingin menjawab pertanyaan itu. "Ada urusan."
"Kau tidak dekat dengannya ya?" tebak Clara.
"Bukan." Dean terlihat ragu-ragu. "Ia tak datang karena alasan lain."
Ini membingungkan bagi Clara. Felix seharusnya yang pertama datang. Ia dekat dengan Dean dan berhubungan dengan Verona.
"Apa dia single? Aku mau menjodohkannya dengan Gina." Clara memancing Dean. Ia mau tahu hubungan Felix dan Verona.
"Single, tapi aku mau menjodohkan Gina dengan Abad saja."
🥰🥰🤭