Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
"Ternyata Yohan sudah berumur 20 tahun, dia juga seorang CEO dan sudah lulusan S3. Selama ini dia menjadi murid SMA Taruna karena untuk seseorang," ucapnya dengan nada penyesalan, sambil menatap layar besar yang menampilkan profil Yohan.
Sementara itu, Rani, siswi lain, menggumamkan spekulasi sendiri.
"Apa dia menyamar karena Violet?" tanyanya dengan nada penuh tanya.
Seketika itu, mata mereka saling bertemu, berbagi rasa iri yang sama terhadap Violet yang selama ini dekat dengan Yohan tanpa mereka sadari.
Suasana koridor menjadi riuh, beberapa siswa lain bergabung dalam diskusi sambil menunjuk-nunjuk layar Mading digital.
Rasa kagum, iri, dan penyesalan bercampur menjadi satu, menyelimuti koridor sekolah yang biasanya hanya dipenuhi tawa dan canda.
"Iya selama ini yang aku lihat, Yohan sering sekali berusaha untuk mendekati Violet! Apa mungkin orang yang dimaksud Yohan memang Violet?"
"Aku gak nyangka, ternyata Yohan pewaris utama keluarga Draken. Bahkan dia juga tipe orang yang seromantis itu."
Di koridor kembali ramai saya membahas perihal Yohan.
Bahkan semua orang juga membicarakan tentang kepemilikan saham yang begitu besar oleh Yohan setara milik Romeo.
Sementara itu, kedua tangan Felix terkepal.
Selama ini dia berkuasa di SMA Taruna karena mengandalkan saham milik Romeo, tapi sekarang ini sepertinya posisinya sudah sedikit tergeser.
"Kak Felix, aku gak nyangka ternyata Yohan itu kaya raya, bahkan dia pewaris tunggal."
Ucapan Marina langsung membuat sudut mata Felix berkilat tajam.
"Pantas saja, sekarang Violet meninggalkan Kak Felix dan lebih memilih bersama dengan Yohan atau paman Kak Felix sendiri yaitu Romeo," imbuh Marina yang berusaha menyiramkan bensin di api kemarahan yang sekarang ini sedang membakar jiwa dan tubuh Felix.
Wajah Felix terlihat semakin masam.
Sementara itu, tak jauh dari koridor sekolah.
Di dalam kabin mobil mewah yang diparkir tak jauh dari gerbang sekolah, Violet mencengkram seragamnya dengan kuat, jemarinya pucat.
Romeo memperhatikannya dengan alis terangkat, rasa ingin tahu memenuhi wajah tampannya.
"Violet, kenapa gak turun? Bukankah kamu yang tadi pagi memaksa sekolah?" suaranya tenang, mencoba menenangkan gadis yang duduk di sampingnya.
Violet menatap ke luar jendela, melihat beberapa siswa yang lewat melirik ke arah mobil mereka. "Saya, merasa takut dengan pandangan teman-teman sekolah saya, karena turun dari mobil mewah Tuan Romeo," suaranya terbata, terdengar keraguan yang mendalam.
Romeo menghela napas, tidak mengerti. "Bukankah selama ini kamu gak pernah peduli dengan cara pandang orang?" tanyanya lagi, kali ini lebih lembut.
Violet menggeleng pelan, matanya masih tertuju pada seragam yang ditempatinya.
"Saya... saya introvert, Tuan. Mungkin mereka akan berpikir yang bukan-bukan tentang saya," katanya, suara yang hampir tidak terdengar.
Kekhawatiran menggelayut di wajahnya, membuat Romeo merasa perlu untuk memberikan dukungan.
Dia menyentuh bahu Violet, memberikan tekanan lembut.
"Kamu kuat, Violet. Jangan biarkan pandangan mereka menghentikan langkahmu. Aku di sini, mendukungmu," Romeo berbicara dengan keyakinan, berusaha menghapus ketakutan yang menghantui gadis di sampingnya.
Violet menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. Setelah beberapa saat, dia perlahan melepaskan cengkeraman pada seragamnya dan mengangguk, meski masih dengan rasa ragu.
Romeo tersenyum, memberi semangat, sebelum akhirnya Violet membuka pintu mobil dan turun, langkahnya masih sedikit gugup tapi penuh keberanian untuk menghadapi hari itu.
Violet menatap ke luar jendela mobil, matanya terpaku pada gerbang sekolah yang ramai dengan siswa yang datang.
Seragam sekolah yang sudah ia cengkram erat sejak tadi, terasa semakin basah oleh keringat dinginnya.
Romeo, yang duduk di kursi pengemudi, memperhatikan dengan cermat raut wajah Violet yang tampak resah.
"Kamu pasti bisa, Violet," ujar Romeo mencoba menenangkan.