Seorang gadis penulis muda bernama Nabila Adidaya Ningrum yang mengalami gangguan di setiap menulisnya. Untuk mengatasi masalah tersebut ia pergi mencari tempat sepi nan hening yang tak lain adalah kuburan di belakang rumahnya.
Sementara di satu sisi seseorang laki-laki bernama Demian Putra Wijaya harus mengalami nasib buruk karena meninggal di usia mudanya. Demian sendiri sebelumnya adalah seorang penulis jenius yang cukup terkenal di masa mudanya. Setelah meninggal ia merasa kesepian karena keluarganya tak pernah mengunjunginya. Ia juga tak begitu akrab dengan penghuni yang lainnya dan sebab itu mereka menganggapnya sebagai arwah yang sombong. Darah Nabila mendadak menetes ke nisan milik Demian dan menyebabkan arwahnya bisa terlihat. Mulai dari situlah Demian ingin membantu Nabila dan mencari tahu penyebab dirinya meninggal. Akankah ada kisah cinta timbul diantara mereka? Ikuti kisah mereka selengkapnya disini👇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 "Mengingat Sesuatu"
Demian terdiam sambil menatap gadis yang ada di sebelahnya. Ia merasa tak asing dengan nama yang baru saja di sebutkan oleh gadis tersebut. Rangga, pria yang pernah hadir di masa hidupnya dulu. Teman yang sudah dianggap saudara oleh Demian tiba-tiba terdengar kembali. Arwah tampan ini berpikir tentang Rangga, temannya dulu. Ia berfirasat kematian dirinya berhubungan dengannya.
"Nabila, Rangga yang kamu maksud dia adalah R?" tanyanya tiba-tiba.
"Hem, R_Star itu dia. Kenapa?" Nabila berbalik tanya.
"Sebenarnya pria yang kamu kenal itu adalah temanku dulu. Aku dengannya memiliki hobi yang sama yakni menulis. Kami akrab saat tahun pertama SMA," jelasnya
Flashback
Tahun pertama SMA Bakti Nuansa 2009.
Demian dikala itu yang baru masuk tahun pertamanya di bangku SMA memasuki kelasnya. Setelah menghabiskan waktu SMP nya di Purwo Gading, dirinya pindah ke Jayakarta dan melanjutkan sekolahnya di sana. Suasana yang baru ia rasakan, teman yang tak dikenalnya, lingkungan yang berbeda. Tentu membuat Demian remaja merasa kurang nyaman dengan keadaan tersebut. Sampai salah satu siswa menghampiri dirinya yang masih duduk sendiri. Siswa tersebut tersenyum sambil melihat buku yang sedang dibaca olehnya. Buku yang ternyata ia sukainya juga. Dengan antusias siswa tersebut meminta dirinya untuk duduk di sebelahnya.
"Permisi apa bangku ini kosong?" tanya siswa tersebut.
Demian menengok ke arahnya dan dengan pelan mengangguk.
"Wah terima kasih, kenalkan namaku Rangga siapa namamu?" celetuk siswa itu sangat antusias lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Demian, senang bertemu denganmu," jawab dingin pria itu tanpa menerima uluran tangannya dan hanya sedikit menoleh. Siswa tersebut sedikit terkekeh karena merasa canggung sebab salah mengira.
"Ngomong-ngomong buku yang kamu baca itu juga buku kesukaanku," tunjuk Rangga untuk menghilangkan rasa canggung nya.
"Benarkah?" Demian menjadi sedikit antusias karenanya.
Siswa tersebut tersenyum canggung padanya. Hari demi hari mereka berdua menjadi teman dekat dan selalu melakukan sesuatu yang sama. Hal tak terduga kembali mengejutkan karena mereka berdua ternyata memiliki hobi yang sama.
Tugas karangan yang mereka berdua kerjakan waktu itu ternyata mendapat nilai yang sempurna. Walau sebenarnya masih tinggi nilai Demian ditimbang dirinya.
Mulai dari situ keduanya mendadak ingin menjadi seorang penulis terkenal. Sebuah keberuntungan hadir pada mereka berdua saat memasuki kuliah di jurusan yang sama. Perkembangan menulis mereka juga sudah meningkat. Keduanya berhasil mendapatkan beasiswa di Singapura untuk melanjutkan kuliahnya di sana.
Keduanya terus melakukan yang terbaik sampai waktu itu terjadi. Karya pertama Demian ternyata lebih di pilih oleh perusahaan penerbit dan membuat dirinya menjadi iri. Hari demi hari ikatan keduanya tampak berubah. Mereka jarang melakukan aktivitas menulis bersama. Demian yang mulai terkenal perlahan melupakan dirinya.
Malam harinya waktu itu. Rangga mengajak Demian untuk bertemu jika dirinya sudah tak sibuk. Setelah menunggu lama, penulis yang sudah terkenal itu akhirnya datang ke apartemen, tempat mereka tinggal. Setelah lama mengobrol, Rangga tiba-tiba ingin melihat karya sahabatnya itu.
"Wah ini luar biasa, aku sangat iri padamu. Demian yang mendengarnya hanya tersenyum. Kapan kamu akan merilisnya menjadi buku, aku sudah tak sabar?" Rangga menatap dalam sahabatnya itu.
"Mungkin nanti," jawabnya.
"Owh begitu ya, oh iya tadi aku membuat sesuatu untukmu. Kamu pasti belum makan kan?" tawar Rangga sambil beranjak.
Demian menggeleng. Rangga mengangguk dan langsung menuju dapur untuk membawa sebuah makanan padanya.
Tak berapa lama Rangga kembali dan menyajikan nasi omlet buatannya di meja depan Demian. Dengan lahap pria tampan ini menghabiskan makanannya tanpa tersisa dan bahkan memuji masakannya.
Karena sudah larut, Rangga izin tidur duluan sementara Demian belum ingin tidur dan ingin melanjutkan garapannya itu.
Sesuatu mulai di rasakan oleh pria penulis ini. Dadanya terasa panas dan mendadak nafasnya tak beraturan. Namun ia tak mempermasalahkan itu dan terus melanjutkan tulisannya sampai tamat. Keringat ditubuhnya semakin banyak dan dadanya terasa semakin sakit. Demian pun memilih memejamkan matanya di meja komputer dan berharap besok akan membaik. Dan entah apa yang terjadi selanjutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ❤️👻❤️ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali ke masa sekarang. Dimana Demian yang mencoba mengingat-ingat kembali tentang suatu yang terjadi padanya waktu itu. Semakin ia mencoba mengingat, arwah satu ini mulai merasakan sakit kembali di dadanya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Nabila yang khawatir.
"Aku bisa menahannya. Nabila, aku memintamu untuk berhati-hati padanya. Pria itu sepertinya berbahaya," ucapnya memberitahu.
"Hah? Tapi kenapa sepertinya aku mulai penasaran?" pikir gadis itu yang sedikit terkejut tadi.
Demian menjadi bingung dengan gadis di depannya itu. Sebuah senyuman terukir di bibir cantik gadis ini.
"Apa maksudmu Nabila?" tanyanya yang tak mengerti.
"Untuk mencari tahu tentang semua ini. Aku akan mendekatinya tapi kamu harus selalu melindungi ku," jawab Nabila padanya.
"Tidak Nabila, ini mungkin akan membahayakan dirimu," larang arwah tampan tersebut.
"Ini salahmu karena kamu membawaku kesini dan bersikeras memberitahuku siapa penulis buku ini. Karena ku sudah tahu, apa aku tak boleh membantumu?" Jelas Nabila yang sedikit kesal.
Demian masih berpikir membawa gadis ini dalam masalahnya adalah benar atau salah. Dia tak ingin terjadi hal berbahaya pada gadis tersebut. Niatnya hanya ingin membuktikan buku miliknya saja dan sadar itu ternyata sudah terlalu jauh.
"Dengar Demian, kamu pasti ingin tahu semua yang terjadi kan? Kamu tenang saja, jika aku dalam bahaya bukankah kamu akan selalu melindungi ku," bujuk gadis itu padanya berharap Demian mau mengizinkannya.
Nabila masih menunggu jawaban dari arwah tampan yang masih berdiam penuh pikiran itu. Sementara disisi lain, Rangga memutuskan untuk kembali saja ke apartemennya. Tapi saat di tengah jalan, mendadak dirinya teringat dengan seseorang.
"Ah benar juga aku belum bertemu dengannya. Sebaiknya aku mengunjungi. Aku ingin tahu kabar pria tua itu," gumamnya.
Ia akhirnya memutar mobilnya kembali menuju pusat kota.
"Sudah dua tahun kita tak bertemu, apa dia masih mengenalku?" Senyum licik kembali melukis wajah pria ini. Dengan cepat ia melajukan mobilnya dan berhenti di depan sebuah lapas besar tempat orang-orang mendapatkan hukuman atas kejahatannya. Entah siapa yang akan ditemuinya di dalam sana.
Di dalam rumah yang sudah hampir semuanya rapuh itu. Dua mahluk berbeda masih duduk di lantai yang cukup kotor itu. Gadis itu masih menunggu jawaban arwah didepannya. Ia menatap nanar mata arwah yang sangat tampan menurutnya itu.
"Baiklah aku mengizinkanmu dekat dengannya. Tapi ingat kamu harus berhati-hati," ucap Demian yang akhirnya mengizinkan gadis cantik itu ikut campur.
Nabila tersenyum senang ke arahnya. Gadis yang tak disangka-sangka memiliki nyali ini benar-benar memasuki dirinya ke masalah Demian yang mungkin akan membuat dirinya dalam bahaya. Berbeda dengan arwah tampan tersebut yang malah merasa dirinya semakin mengkhawatirkan gadis yang terus menatap dan tersenyum padanya itu. Dengan ragu-ragu arwah tampan ini membalas senyumannya.
"Nabila, aku pasti akan melindungi mu," batinnya sambil terus menatap sang gadis.
Bersambung....❤️👻❤️
Pasti sakit lahh wong berdarahh...
ternyata demian gak mau bergaul bukan karena sombong ya, tapi dia sedih karena keluarga nya gak ada yang mau peduli lagi sama dia yang udah meninggal
tapi ko jadi penasaran mati nya itu damian karna apa ya🤔🤔🤔