Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pilihan Antara Dua Dunia
Pertanyaan yang dilontarkan Valerius tergantung di udara, terasa ringan namun menyimpan makna yang sangat besar. Di hadapan Elara terbentang dua jalan yang sama-sama memiliki arti mendalam: kembali ke dunia asalnya, tempat ia dilahirkan dan memiliki kenangan masa lalu, atau tetap tinggal di Aetheris, tempat hatinya kini menemukan rumah baru bersama orang yang dicintainya.
Mereka berdua duduk di bangku batu tua di tengah taman istana, di bawah naungan pohon bunga yang sedang mekar sempurna, mengeluarkan aroma harum yang menenangkan. Angin pagi bertiup lembut, menggerakkan helai rambut Elara dan membuat jubah Valerius berkibar perlahan. Di kejauhan, terlihat pemandangan kerajaan yang luas dengan atap-atap bangunan yang terbuat dari batu pualam dan kaca berwarna, bersinar diterangi sinar matahari.
Elara menundukkan wajahnya sejenak, jari-jarinya memainkan kelopak bunga yang jatuh di pangkuannya. Selama ini, keinginan untuk pulang selalu menjadi satu-satunya tujuan yang ia pegang erat, menjadi alasan ia bertahan melewati hari-hari yang sulit. Namun kini, setelah melewati berbagai peristiwa, setelah merasakan kasih sayang dan kepercayaan yang begitu tulus, jawaban yang dulu terasa pasti kini terasa samar dan penuh pertimbangan.
“Yang Mulia…” ucapnya perlahan, suaranya lembut namun terdengar jelas. “Sejak hari pertama saya terlempar ke sini, satu-satunya hal yang saya pikirkan hanyalah bagaimana cara kembali. Saya rindu rumah, rindu keluarga, rindu segala hal yang saya kenal dan mengerti. Rasanya seperti separuh jiwa saya tertinggal di sana.”
Ia mengangkat wajahnya, menatap mata Valerius yang menatapnya dengan penuh pengertian, tanpa sedikit pun memaksanya untuk memilih salah satu.
“Namun seiring berjalannya waktu, hati saya perlahan berubah. Di tempat yang asing ini, saya menemukan kebaikan yang tak terduga, perlindungan yang membuat saya merasa aman, dan perasaan yang begitu dalam hingga sulit untuk dijelaskan. Jika saya kembali, saya akan bisa bertemu dengan orang-orang yang saya cintai di dunia saya, tapi saya harus meninggalkan separuh jiwa saya yang lain — yang kini telah tumbuh di sini, bersama Anda.”
Valerius mendengarkan setiap kata dengan hati yang tenang. Ia menjulurkan tangannya dan menggenggam jemari Elara dengan lembut, memberikan rasa percaya dan kebebasan untuk memilih apa pun yang terbaik bagi gadis itu.
“Elara, dengarkan aku baik-baik,” katanya dengan nada lembut namun tegas. “Aku tidak akan memaksamu untuk tetap tinggal hanya karena perasaanku. Kehidupanmu di duniamu sendiri adalah bagian yang tak terpisahkan dari dirimu, dan aku tidak berhak memisahkanmu dari masa lalumu. Apa pun keputusan yang kau ambil, aku akan menerimanya dengan lapang dada. Jika kau ingin pulang, aku akan berusaha sekuat tenaga membuka gerbang itu agar kau bisa kembali dengan selamat. Jika kau memilih tetap tinggal, maka pintu hatiku dan seluruh kerajaan ini akan selalu terbuka untukmu selamanya.”
Kata-kata itu membuat beban di hati Elara terasa lebih ringan. Ia tahu bahwa di balik kebebasan yang diberikan itu, ada rasa takut kehilangan yang tersembunyi di mata Valerius, namun ia juga menghargai sikapnya yang tidak mementingkan diri sendiri.
Untuk menemukan jawaban yang paling tepat, mereka memutuskan untuk kembali menelusuri buku-buku kuno yang berisi catatan tentang gerbang antar-dunia. Jika memang ada kesempatan untuk pulang, maka Elara ingin melihatnya sendiri, memahaminya, dan baru kemudian mengambil keputusan dengan hati yang jernih.
Selama beberapa minggu berikutnya, ruang kerja Raja kembali menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama, namun kali ini bukan lagi hanya untuk pekerjaan atau mengobrol, melainkan untuk mempelajari rahasia alam yang telah tersembunyi selama berabad-abad. Di bawah cahaya lampu kristal yang hangat, mereka membuka lembaran demi lembaran tulisan kuno yang sering kali sulit dimengerti, penuh dengan simbol-simbol dan bahasa yang hanya dipahami oleh para ahli pengetahuan zaman dahulu.
Dari penelitian itu, mereka akhirnya menemukan informasi yang sangat penting. Gerbang antar-dunia tidak muncul secara acak semata. Ia terbentuk setiap seratus tahun sekali, ketika posisi tujuh bintang utama di langit Aetheris sejajar sempurna — sebuah peristiwa yang hanya berlangsung selama tiga hari dan tiga malam saja. Jika melewatkan kesempatan itu, maka harus menunggu selama satu abad lagi untuk bisa melintasi dunia yang berbeda.
Dan yang paling mengejutkan: peristiwa itu akan terjadi kurang dari dua bulan lagi.
“Jadi… kesempatannya sudah sangat dekat,” gumam Elara, matanya menatap tulisan di atas kertas dengan campuran perasaan senang dan sedih. “Jika saya ingin pulang, saat itulah satu-satunya waktu yang saya miliki sekarang.”
Valerius mengangguk perlahan, tangannya menyentuh bahu Elara dengan lembut. “Ya, itu waktunya. Kita juga menemukan keterangan lain: gerbang itu tidak hanya berjalan satu arah. Jika kondisinya tepat, seseorang bisa melintas ke dunia lain dan kembali lagi ke sini, selama masih dalam masa berlangsungnya peristiwa itu.”
Informasi itu membuka kemungkinan baru yang sebelumnya tidak terbayangkan. Elara tidak harus memilih secara mutlak antara satu dunia saja. Ia bisa pergi untuk sementara waktu, bertemu dengan keluarganya, menjelaskan keadaannya, dan jika hatinya masih menginginkan tempat ini, ia bisa kembali lagi.
“Jadi saya tidak harus pergi selamanya?” tanya Elara dengan mata berbinar, seolah menemukan secercah cahaya di tengah keraguan. “Saya bisa pulang, melihat keadaan di sana, dan kembali lagi ke sini jika saya mau?”
“Benar,” jawab Valerius dengan senyum lega. “Selama masih dalam waktu tiga hari itu, jalannya tetap terbuka. Namun kau harus sangat berhati-hati, karena jika melewatkan batas waktu itu, gerbang akan tertutup rapat dan tidak bisa dibuka lagi sampai seratus tahun mendatang.”
Penemuan ini membawa kedamaian baru di hati Elara. Ia tidak lagi merasa terjebak antara dua pilihan yang sama-sama berat. Ia memiliki kesempatan untuk melihat kedua dunianya, dan akhirnya menentukan tempat di mana hatinya paling merasa pulang.
Selama dua bulan menunggu hari yang ditentukan, kehidupan mereka berjalan dengan tenang. Elara tidak lagi harus bersembunyi atau merasa dicurigai; setelah kebenaran terungkap, banyak warga dan bangsawan yang mulai melihat ketulusannya dan menerima kehadirannya, meskipun masih ada segelintir pihak yang tetap ragu. Valerius pun semakin membawanya terlibat dalam urusan kerajaan, mengajarkannya cara hidup dan aturan di Aetheris, seolah mempersiapkannya untuk masa depan apa pun yang akan dipilihnya.
Namun di balik ketenangan itu, Elara juga sering termenung, membayangkan wajah-wajah orang yang dicintainya di dunia asal. Apakah mereka masih mengingatnya? Apakah mereka mengira ia sudah hilang atau meninggal? Pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya semakin tidak sabar menunggu saat gerbang itu terbuka.
Hingga akhirnya, hari yang dinanti tiba. Langit di atas Kerajaan Aetheris mulai berubah warnanya, dari biru cerah menjadi ungu keemasan yang jarang terlihat. Tujuh bintang utama mulai terlihat semakin terang dan perlahan bergerak menuju posisi yang sejajar. Suasana magis terasa menyelimuti seluruh alam, seolah waktu dan ruang sedang melunakkan batasnya.
Malam itu, Valerius dan Elara berjalan menuju lokasi yang tertulis dalam buku kuno — sebuah lembah tersembunyi di kaki gunung tertinggi kerajaan, tempat di mana energi alam paling kuat berkumpul. Di sana, di tengah hamparan rumput yang bersinar samar, terbentuklah cahaya berputar yang semakin membesar, membentuk pintu setinggi manusia yang memancarkan kekuatan yang terasa menenangkan sekaligus menakjubkan.
“Ini dia, Elara,” bisik Valerius, suaranya sedikit bergetar karena rasa haru dan khawatir. “Gerbang itu sudah terbuka. Jalan menuju duniamu sudah terbentang.”
Elara menatap cahaya itu dengan mata berkaca-kaca, lalu menoleh ke arah Valerius. Ia melangkah mendekat dan memeluknya erat, seolah ingin menanamkan perasaan itu dalam ingatan agar tidak hilang selama ia pergi.
“Saya akan pergi, tapi saya berjanji — selama gerbang masih terbuka, saya akan kembali. Hati saya ada di sini, dan Anda adalah alasannya,” ucapnya lirih namun penuh keyakinan.
Valerius membalas pelukan itu dengan kekuatan dan kelembutan, mencium ubun-ubunnya dan berbisik, “Aku akan menunggumu, tidak peduli berapa lama waktu terasa. Pulanglah, temukan apa yang kau cari, dan kembali padaku — aku akan selalu ada di tempat ini.”
Dengan satu tarikan napas panjang yang menenangkan hati, Elara melepaskan pelukan itu, tersenyum, lalu melangkah masuk ke dalam cahaya yang berputar itu. Dalam sekejap, wujudnya menghilang, meninggalkan Valerius sendirian di lembah yang mulai hening kembali, menunggu kedatangan orang yang dicintainya.