Ketika Laura mendapatkan surat cinta, dia dengan tekad bulat akan menyusuri jejak sang pengagum!
....
Laura ingin rasanya memiliki seorang pacar, seperti remaja di sekitarnya. Sayangnya, orang-orang selalu menghindar, ketika bersitatap dengannya. Jadi, surat cinta itu membawanya pada ambisi yang kuat! Mampukah Laura menemukan si pengagum dan mendapatkan akhir bahagia yang ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Macet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Pupus
Pupus
Semenjak kejadian kemarin di kafe, aku selalu duduk merenung di kursi samping jendela rumah. Ibu berulang kali menegur, tetapi kuabaikan, hatiku masih sakit terhadap fakta yang kuketahui.
Setelah melihat adegan yang membuat hatiku sakit, aku memilih untuk pergi dari sana. Siapa sangka Yuna yang terlihat baik selama ini adalah musuh dalam selimut. Rupanya Mutia adalah mantan Wafi dan Wafi tidak sebaik yang kukira. Hubungan pertemanan kami sudah patut dipertanyakan.
Setelah beberapa saat termenung, aku meraih tas. Melirik sekilas pada Ibu yang tampak sendu, Ibu sudah tahu tentang fakta itu dan begitu kesal pada Wafi yang sudah mengecewakanku.
"Aku pergi, Bu." pamitku pada Ibu kemudian keluar dari rumah, menuju ke halte bus di seberang sana dan dusuk diam sembari menanti bus.
"Harimu terlihat tidak baik-baik saja," kata Zen yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelahku. Aku mendengus kesal dan memberi jarak, dia kembali mendekatkan diri dan membuatku pasrah.
"Untuk apa memikirkan laki-laki itu? Seharusnya kamu bersyukur karena mengetahui sifat buruknya sebelum menerima ajakannya untuk jadian." lanjut Zen. Kulirik dia sesaat, kenapa matanya tidak lepas memandangku?
"Ya, ya... terserah kau saja, kau yang paling mwngerti soal berpacaran!" kataku ketus. Sudah berapa banyak pacar yang dimilik oleh lelaki ini? Tampanya sudah seperti bad boy, aku sedikit tidak yakin dia tidak punya pacar.
"Apa itu pacaran? Apakah itu menyenangka, bermanfaat? Apakah itu dapat menjamin masa depanku lebih baik?" tanyanya dengan senyum sinis. Aku mendelik tidak suka dan memutar bola mata, malas sekali berbicara dengan laki-laki sok polos yang aslinya play boy kelas kakap.
"Berapa banyak mantanmu?" tanyaku. Dia menggeleng. "Katakan saja yang sejujurnya, apa sesusah itu?!"
"Aku tidak pernah berpacaran!" tukas Zen. Munafik sekali kau menjadi laki-laki. Aku memilih diam dan membuka gawaiku. Aku memilih percaya jika aku tidak akan menua daripada mendengarkan perkataan buaya seperti Zen. Tampangnya juga memadai bukan?
Kutampar pipiku pelan, bisa-bisanya aku tanpa sadar memuji laki-laki ini? Walaupun sebenarnya dia memang tampan.
Beberapa saat kemudian, bus berhenti di depan kami, aku terlebih dahulu masuk dan diikuti Zen. Pasti motornya rusak atau mengalami kendala lain sehingga dia terpaksa menaiki bus. Aku memberikan senyuman sinis, anak mama memang beda.
"Jangan tersenyum, kesannya menjadi horor!" celetuknya dan memberi kami jarak. Tatapannya tidak luput dariku, sialnya tatapan itu seperti aku adalah bahaya yang kapan saja dapat mencelakainya.
"Terserah!"
Aku melanjutkan aktifitasku di sosial media tanpa melirik pada Zen. Jika kulirik, bisa saja dia terlalu percaya diri dan menganggap hal tersebut kode bahwa aku suka padanya. Amit-amit.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan si pengagum rahasiamu itu?" kata Zen setelah beberapa saat hening. Aku menghentikan aktifitas dan memusatkan atensi ke depan. Benar juga, apa aku masih dapat percaya pada Wafi? Bisa saja sia berbohong untuk menipuku.
"Mungkin saja surat itu memang darinya. Sejak awal kan, dia ingin membuatku merasa nyaman dengannya dan bisa dengan mudah menjebakku dalam perangkapnya. Dasar paly boy kelas amatir, buktinya dengan cepat aku membenci Waf," ujarku. Memang benar, muncul manipulasi emosi yang membuatku membencinya. "Aku tidak lagi peduli dengan surat cinta itu. Persetan, itu semua hanyalah kebohongan!"
Zen tidak lagi membahas, wajahnya menjadi murung dan itu membuatku bingung. Apakah ada sesuatu hal yang kukatakan, menyinggungnya?
°°°
Aku, Cindy dan Mutia sedang makan di kantin saat jam istirahat. Suasana menjadi canggung karena aku yang bergabung pada dua perempuan ini, padahal sebelumnya kami tidak seakrab itu. Bahkan aku pernah menjambak rambut Cindy dan mendapat tatapan permusuhan dari Mutia. Rasanya aneh jika kami berada di satu meja yang sama.
"Bagaimana rasanya dikhianati? Sakit? Oh tentu tidak, rasanya seperti Anda mendapatkan kekuatan super yang membawa pengalaman baru," kata Cindy bercanda. Jika tidak, kupastikan mulutnya akan tertutup rapat karena mitos yang disebarnya.
"Makan saja makananmu, tidak perlu membuka percakapan yang tidak berguna!" tukas Mutia kemudian memutar bola matanya malas. Seketika aku menunduk kesal, tidak ada ekspresi lain yang bisa ditunjukkan olehnya? Seperti tidak punya gairah hidup saja.
Aku mendadak ingin menjulid. "Dulu ada orang yang begitu akrab pada Yuna, kenapa sekarang tidak lagi ditemani?" sindirku dan langsung saja Mutia menatapku tajam. Aku jadi takut dengan tatapannya dan memilih diam.
"Jangan berkata seperti itu," kata Cindy sambil tertawa. "Dia yang dulu tidak tahu sifat asli perempuan itu. Bahkan sempat memusuhimu karena rumor yang beredar. Tetapi karena kebaikanku, aku memberitahunya banyak hal, sehingga Mutia membuka mata dan berpikir dengan jernih sehingga mau membantuku membuka kedok si baik hati Yuna.
Aku mengangguk mengerti. "Jadi sekarang masih benci aku tidak?" tanyaku penasaran.
"Tentu saja, level kebencianku meningkat setiap kali melihat wajahmu." tukas Mutia tanpa rasa bersalah. Kupastikan raut wajahku sudah sangat jelek, moodku juga jadi tidak baik.
"Jangan dengarkan dia! Apa yang dikatakan oleh Mutia adalah sebaliknya, dia ini tipikal perempuan tsundere. Dia itu baik kok!" kata Cindy meyakinkan kemudian merangkul pundak Mutia, sehingga raut wajah perempuan itu semakin jelek. Tetapi aku dapat melihat rona merah di pipinya, sudah pasti dia malu!
"Benar-benar tsundere!" seruku kemudian menyantap makananku dengan khidmat. Kapan terakhir kali aku makan dengan perasaan tenang?
Kursi kosong di sebelahku kini terisi, Mutia dan Cindy langsung terdiam dan menatap tajam ke sampingku. Tak luput dari itu, aku sangat kesal pada Wafi yang bisa-bisanya menampakkan wajahnya lagi.
"Laura..." katanya dengan lirih. Aku menatap ke arah lain, asalkan tidak bersitatap padanya.
"Lihat aku Laura," kata Wafi dengan lancang menarik pundakku untuk menghadap padanya. Aku tepis tangannya dan menatap dua perempuan lain, mereka tampak tidak peduli kemudian melanjutkan menyantap makanannya.
"Apa?" kataku ketus. "Jika kau hanya ingin membahas kejadian semalam, lebih baik pergi dan jangan temui aku lagi."
"Tetapi, semua yang kau lihat tidak benar adanya. Kau tahu kan aku ikut kelas teater? Aku hanya sedang berlatih Laura, dan kedua perempuan ini datang dan menyebar fitnah!" kata Wafi kemudian menunjuk-nunjuk Mutia dan Cindy.
"Aku tidak bodoh untuk membedakan mana sandiwara dan kejadian yang asli. Tatapan kalian membuktikan kalian, sayang ya?" ledekku. Wafi diam dan memandangku sendu, tanpa izin dia meraih kedua telapak tangan dan menyatukannya di depan dadanya.
"Aku tidak berbohong, yang kucinta hanya kau!"
"Uhuk!" Aku menoleh pada Cindy yang berusaha meraih cangkir dan menuangkan air di dalamnya. Dalam sekali teguk dia menghabiskan minumannya dan menatap dengan minat pada kami, dia sampai bertopang dagu.
"Kata-kata yang familiar. Awas! Jangan sampai termakan omongannya. Buaya yang satu ini sudah pasti dilepaskan dari kebun binatang," kata Cindy dengan ejekan. "Aku juga pernah mendengarnya semasa kami masih pacaran. Saat itu hatiku berbunga-bunga, tetapi sekarang aku malah ingin muntah."
Kutatap kembali Wafi yang kini mengeraskan rahangnya, aku melepas tanganku secara perlahan dan mengaduk mie yang belum habis kusantap. "Sudahlah, lupakan saja perkataanmu saat itu! Yuna di seberang sana sudah seperti perempuan yang cemburu, jangan sampai dia mengatakan putus."
Yuna memang benar ada di kantin kok, kami tidak sengaja bersitatap dari balik punggung Wafi.
Wafi terkesiap dan memandang pada Yuna, dia menatap dalam perempuan itu hingga Yuna berlalu pergi. Sudah pasti sangat kesal.
"Kenapa harus diusir sih? Kan dia bisa bergabung dengan kita di sini!" celetuk Cindy. Perempuan ini tampaknya sangat nekat mencari masalah.
"Lihat kan? Jika dia memang pacarku, sudah pasti Yuna akan mengamuk padamu. Kenyataannya dia acuh tak acuh, tetapi dapat kulihat dia kecewa padamu yang lebih percaya pada orang lain ketimbang teman sendiri." ujar Wafi. Tangannya bergetar dan dia membuang muka.
"Ya gimana ya, aku juga tidak bermaksud untuk membuatnya kecewa. Dia yang memulai masalah ini, harusnya dia bertanggung jawab sampai akhir." kataku. Tetapi sepertinya Wafi tidak kapok dan masih berusaha menjelaskan bahwa ini semua adalah salah paham.
Karena aku sudah muak dengan suaranya yang lantang dan membentak, aku menampar pipinya. Seketika itu juga, kantin menjadi senyap dan nafasku tersenggal-senggal, aku itu emosi.
"Dia bukan lagi temanku, begitu juga denganmu! Tolong intropeksi dirimu sebelum aku semakin membuatmu babak belur." katak7 tajam. Inah kekuatan tersembunyi dari seorang perempuan yang dilanda emosi. Dia bisa menjadi sangat garang, dan aku bangga dengan itu.
"Pipinya memerah lho!" celetuk Cindy dan langsung tertawa. Kini dapat kulihat senyumam di wajah Mutia, perempuan itu pasti senang karena aku sudah menampar mantannya.
"Kau jahat sekali!" pekik Yuna yang datang secara tiba-tiba. Dia menarik tangan Wafi dan menyembunyikan laki-laki itu di belakangnya. "Jika kau tidak ingin percaya, silahkan.Tetapi jangan menyakiti Wafi, dia itu laki-laki baik yang tidak akan kautemukan untuk kedua kalinya."
"Huh! Pasangan yang tidak tahu malu!" Para murid mulai bersorak untuk memyudutkan mereka berdua. Aku memutar bola mata malas, kenapa Yuna mendadak bodoh? Dia mempermalukan dirinya sendiri.
"Kalian semua buta?! Memangnya kenapa.kalau aku dan Wafi berpacaran? Salah? Kalian iri, setidaknya aku tidak membunuh orang lain sehingga kalian menyoraki diriku!" seru Yuna.
Aku menepuk jidat, tidak habis pikir kenapa Yuna membongkar hubungan mereka semudah itu? Wajah Wafi sudah gelap dan dia melirik ke arahku, tertangkap basah kan?
"Sudah-sudah, kenapa jadi ribut sih? Benar apa yang dikatakan oleh Yuna. Mereka tidak salah jika berpacaran, palingan manatan Wafi saja yang keberatan," kataku. "Selamat ya! Aku sebagai mantan temanmu merasa senang."
"Aku sebagai mantannya protes! Senang-senang saja jika dia berpacaran dengan Yuna. Perempuan tidak tahu malu harus bersama laki-laki tidak tahu malu!" seru Cindy dan langsung dipukul oleh Mutia.
"Makanya, jika kalian ingin melakukan pengkhianatan, pikirkan terlebih dahulu akibatnya. Lihat kan Yuna, senjata makan tuan? Kau dulu menfitnah dengan menyebar rumor yang tidak baik tentangku, sekarang kelakuanmu menyerang hingga membuatmu menangis." kataku berbisik di telinga Yuna. Hari ini aku terlalu bersemangat untuk membuat orang lain terpancing emosi, ya?