Irene, sosok gadis biasa yang begitu mencintai teman satu sekolahnya yang bernama White. Bagi Irene, White adalah cinta pertamanya. Rumah kedua baginya, namun nyatanya rumah kedua yang dianggapnya dapat membuat hidupnya lebih baik, nyatanya sama seperti rumah pertamanya.
Irene selalu rindu akan rumahnya yang dulu pernah ia rasakan dengan begitu nyaman dan tentram. Namun akankah ia bisa kembali merasakan dan melepaskan rasa rindunya pada rumah yang diimpikannya selama ini? Ataukah, ia tidak akan selamanya dapat melepas kerinduannya pada rumah impiannya itu.
“Aku rindu rumah yang tentram dan damai. Tapi, apakah aku masih bisa merasakan rumah seperti itu? Rumah yang hanya ada di dalam mimpiku,” -Irene Sachiara-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Bibi Ane
Rasa rindu menyergap hati White tanpa pria itu sadari. Sedari selesai makan malam bersama kedua orang tuanya, pria itu selalu memikirkan Irene. Tubuhnya berada di rumah, namun hati dan pikirannya berada di gadis itu.
White mengendarai motornya setelah makan malam. Max hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang putra. Ia tahu kemana putranya itu akan pergi.
“White sudah berangkat?” tanya Clarissa.
“Sudah,” jawab Max.
Disinilah saat ini White berada, ia mematikan mesin motornya setelah tiba di depan halaman rumah kedua orang tua Irene. White segera turun dari motornya, dan berjalan masuk untuk mengetuk pintu rumah Irene.
Beberapa kali mengetuk dan mengucap salam, barulah pintu itu terbuka. Luciana yang memang berada di rumah mengernyitkan dahinya melihat kehadiran White. Wanita itu menelisik penampilan pria muda itu dari atas sampai bawah.
“Cari siapa?” tanya Luciana bernada ketus.
White tersenyum dan mengangguk pelan. Walau dalam hatinya bertanya-tanya siapa wanita yang ada di hadapannya itu.
“Maaf Tante, saya teman sekolahnya Irene. Apakah Irene ada di rumah?” jawab White seraya bertanya tanpa menyebutkan namanya.
Luciana melipat kedua tangannya didepan dada sambil bersandar pada kusen pintu.
“Irene nggak ada. Dia nggak tinggal disini,” jawab Luciana tak ramah.
White menundukkan kepalanya sejenak, dan kembali menatap wanita seusia mommy nya.
“Kalau saya boleh tahu, Irene tinggal dimana ya Tante?” tanya White dengan sangat hati-hati.
Luciana tersenyum miring dengan mengedikkan kedua bahunya. “Mana saya tahu. Lagipula saya juga tidak ingin tahu soal anak itu lagi. Mungkin saja anak itu sudah tinggal sama sugar Daddy nya,’’ celetuk Luciana yang asal bicara.
Jawaban Luciana tentu saja membuat White mengelikkan matanya. Dia cukup terkejut mendengar ucapan wanita yang ada di hadapannya itu. White masih belum tahu kalau wanita itu adalah ibu kandung dari Irene.
“Irene nggak mungkin seperti itu, Tante.”
White berujar tak percaya atas apa yang dikatakan oleh Luciana. White memang tidak tahu tentang kehidupan Irene selama mereka dekat. White hanya pernah sekali mengantarkan Irene sampai di rumahnya saja dan itu tidak sampai masuk ke dalam. Bahkan untuk berkenalan dengan kedua orang tua Irene saja, White baru kali ini bertemu dan bertatap muka dengan Ibu dari Irene.
Luciana tersenyum sinis, seakan meremehkan ucapan White.
“Terserah kamu saja. Yang jelas Irene tidak ada di rumah ini,” ketus Luciana.
“Lagipula saya sudah tidak ingin tahu soal anak itu lagi,” tambah Luciana yang kembali membuat White tercengang.
Melihat White terkejut dan diam, membuat Luciana menatap jengah pada pria muda itu.
“Jika nggak ada yang penting sebaiknya kamu pergi dari sini!” usir Luciana pada White.
White terperangah kembali mendengar Luciana tanpa basa-basi mengusir dirinya. White menganggukkan kembali dan berucap salam sebelum ia meninggalkan rumah itu.
“Permisi Tante, maaf sudah mengganggu waktunya!” jawab White.
Luciana hanya berdehem dan langsung berlalu begitu saja sebelum White berlalu dari sana.
White menatap bingung ke arah rumah Irene. Pria itu bingung dengan keberadaan Irene, dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada Irene dan kedua orang tuanya. Bagi White, Irene begitu penuh rahasia.
Disaat pria itu sedang melamun, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita paruh baya. Bibi ane mendekati White yang sedang melamun.
“Nak,” sapa bibi Ane.
White sedikit berjingkat, ia terkejut saat mendapati bibi Ane tiba-tiba sudah di dekatnya.
“I-iya, Nek.” ucap White yang masih dalam keterkejutannya.
Bibi Ane tersenyum. “Kamu pasti temannya Irene. Apa kamu mencarinya?” tanya Bibi Ane.
White segera mengangguk. “Iya, Nek. Saya teman sekolahnya Irene,” jawab White.
Bibi Ane tersenyum. “Panggil Bibi Ane saja. Kebetulan Bibi tinggal disana,” tunjuk bibi Ane ke arah rumah yang hanya beberapa langkah saja dari rumah Irene.
“Irene tidak tinggal disini semenjak dia dirawat di rumah sakit,” ujar Bibi Ane.
White terkejut mendengar ucapan Bibi Ane. "Dirawat?" tanyanya.
Bibi Ane mengangguk. "Iya, apakah kamu tidak tahu?" White pun menggeleng setelah mendapat pertanyaan tersebut.
Bibi Ane memilih mengajak White untuk mampir ke rumahnya. Karena menurutnya lebih baik membicarakan soal Irene dirumahnya saja. White yang merasa memang membutuhkan beberapa informasi tentang Irene pun, akhirnya menyetujui ajakan bibi Ane.
Setibanya di rumah bibi Ane, wanita itu membuatkan White teh hijau hangat.
“Seharusnya Bibi tidak perlu repot-repot begini,” ujar White saat menerima secangkir teh hijau pemberian bibi Ane.
Bibi Ane tersenyum manis. “Tidak perlu sungkan begitu. Kan Bibi yang mengajak kamu untuk mampir ke rumah. Kamu adalah tamu Bibi, jadi sepatutnya Bibi melayani tamu dengan ramah,” jawab bibi Ane.
“Terimakasih, Bi!” ucap White yang tersenyum simpul.
“Sama-sama. Ayo, silakan diminum!”
White pun sedikit menyeruput teh hangat itu. Begitupun juga dengan bibi Ane. White melirik sekilas pada bibi Ane sebelum meletakkan kembali cangkir tehnya.
“Siapa nama kamu, Nak?” tanya Bibi Ane membuka pembicaraan mereka berdua.
“Nama saya White, Bi.” jawabnya.
Bibi Ane tersenyum. “Nama yang bagus, orangnya juga tampan.” Puji bibi Ane.
“Terimakasih atas pujiannya, Bi!”
Keduanya pun tersenyum. White kembali melirik ke arah bibi Ane.
“Jadi, kalau boleh saya tahu apakah Bibi sangat mengenal Irene? Lalu kenapa Irene bisa sampai masuk ke rumah sakit?” White memulai pembicaraan diantara keduanya.
Bibi Ane mengangguk pelan, lalu menaruh cangkir yang sejak tadi digenggamnya. Wanita itu menghela nafasnya pelan sebelum ia memberitahukan siapa Irene.
“Irene itu gadis yang baik dan sangat penurut. Walau terkadang sikapnya agak sedikit ketus, namun dia gadis yang memiliki hati yang tulus. Siapapun yang tidak begitu mengenal Irene, pasti akan berpikir kalau dia gadis yang kuat. Bibi tidak tahu penyebab kenapa Irene bisa masuk ke rumah sakit. Ayahnya Irene hanya mengatakan kalau Irene kelelahan. Jadi, dia diharuskan untuk beristirahat,"
"Irene itu gadis yang tegar, namun hatinya rapuh. Sejak kecil ia dituntut untuk menjadi dewasa di usianya yang sangat muda. Sejak lahir dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Ibu kandungnya. Entah apa penyebabnya, Bibi pun tidak tahu. Yang Bibi tahu hanya Luciana sangat membenci Irene dan tidak menginginkan kehadirannya. Sejak kecil Irene selalu hidup mandiri, bahkan untuk jajan saja ia mencarinya dengan membantu Bibi berjualan.”
“Luciana selalu memperlakukan Irene tidak seperti anak kandungnya. Bahkan tidak segan-segan Luciana menyiksa Irene, jika gadis itu tidak menurut padanya.”
White terkejut mendapati fakta betapa sulitnya hidup Irene. Hatinya terasa terenyuh mendengar penuturan dari Bibi Ane. Tambah lagi Irene selalu mendapatkan perlakuan tidak baik dari sang ibu. Ada rasa menyesal karena sikapnya terhadap Irene yang tidak pernah peduli pada gadis itu.
Namun ada sesuatu yng mengganjal dihati White. Yaitu, kemana ayah Irene selama ini. Kenapa tidak membantu menjaga Irene dan memberikan apa yang seharusnya diberikan pada Irene.
“Maaf Bi, kalau saya boleh tahu kemana Ayahnya Irene?” tanya White dengan sangat hati-hati.
“Ada, bahkan Thomas sangat menyayangi Irene.” jawab wanita itu.
“Oh, nama ayahnya Irene adalah Thomas.” Gumam White dalam hatinya.
“Tapi, kenapa dia membiarkan Irene berjualan kue? Apakah ayahnya tidak … maaf Bi kalau saya lancang. Saya hanya ingin tahu, apakah Ayahnya Irene tidak bekerja? Sehingga Irene harus membantu Bibi berjualan hanya untuk uang jajan,”
Bibi ane tersenyum mendapati pertanyaan White. “Thomas bekerja, bahkan Luciana pun juga bekerja. Namun sayangnya Thomas jarang pulang ke rumah karena pekerjaannya yang selalu bolak balik ke luar kota. Jadi, dia tidak tahu kondisi Irene disini seperti apa. Karena terkadang Luciana bersikap lembut pada Irene ketika Thomas pulang,” jawab bibi Ane.
Dalam hati Ane, dia merutuki dirinya karena mengarang cerita di hadapan White. Ya, bibi Ane terpaksa berbohong pada White. Karena ia tidak ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya. Walau bibi Ane hanya seorang tetangga, namun bibi Ane adalah tetangga yang sangat dipercaya oleh Thomas dan Anita. Bahkan Thomas dan Anita selalu bersyukur dan selalu berterima kasih padanya karena selalu menjaga Irene saat mereka tak bisa mengawasi keadaan gadis itu.
Bibi Ane menoleh ke arah White dan menatapnya lekat.
“Nak, boleh Bibi minta sesuatu padamu?” tanya bibi Ane.
White sedikit menelan salivanya kasar. Lalu ia mengangguk pelan. “Selagi itu bisa aku berikan, insyaallah akan aku berikan, Bi. Tapi jangan terlalu mahal, karena saya belum bekerja,” jawab White.
Bibi Ane malah tertawa mendengar jawaban White. Membuat pria itu tercengang melihat bibi Ane menertawakannya.
“Hehe, salah ya, Bi?” tanya White seraya tersenyum.
“Iya, agak sedikit salah dalam pengertianmu. Bibi nggak minta apa-apa dari kamu, hanya Bibi ingin kamu selalu menjaga Irene. Bibi tahu kamu anak yang baik, jadi Bibi mohon untuk terus ada disisi Irene. Bibi sangat mengenal gadis itu. Irene tak sekuat seperti apa yang kita lihat, dia rapuh dan dia butuh seseorang tulus berada disisinya.” Lirih bibi Ane.
Hati White mencelos begitu mendengar permohonan bibi Ane. White menganggukkan kepalanya tanpa ia sadari.
“Iya, Bi. Insyaallah White akan menjaga Irene,”
Bibi Ane tersenyum mendengar ucapan White. Sementara White sendiri bingung dan merutuki dirinya yang berucap janji pada wanita paruh baya itu. White sendiri heran kenapa dirinya dapat berucap janji seperti itu. Padahal untuk bertemu dengan Irene saja ia tidak bisa, karena gadis itu sudah sangat membencinya.