Azka yang biasanya duduk di bangku cadangan saat pertandingan basket, tiba-tiba ada yang merasuki tubuhnya dan memberinya kekuatan. Dia menjelma menjadi pemain basket profesional.
Raga Azka kini dikuasai oleh jiwa lain. Bagaimana jika jiwa itu adalah mantan dari mamanya yang telah meninggal dua puluh tahun lalu?
Masalah apa yang belum dia selesaikan di dunia ini hingga membuat jiwanya menetap di dunia? Apa dia memang diutus untuk menjaga Azka dan meraih impiannya melalui raga Azka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
"Makasih ya, Kak Ezra," kata Vania saat menghentikan motornya di depan rumahnya. "Mampir dulu, Kak."
Ezra menggelengkan kepalanya. "Kapan-kapan saja. Gue ada urusan." Kemudian Ezra melajukan motornya.
Vania kini turun dari motornya lalu masuk ke dalam rumahnya. Dia langsung duduk di sebelah Mamanya yang berada di ruang tengah. "Mama, aku habis jatuh," kata Vania sambil menunjuk luka di lututnya.
"Jatuh? Kok bisa? Azka mana?"
Vania menggelengkan kepalanya. "Kak Azka pergi sendiri. Katanya ada keperluan penting. Untung tadi ada Kak Ezra yang nolong aku."
"Masih sakit?" tanya Airin sambil mengusap sekitar luka di lutut putrinya.
"Sudah tidak kok, Ma. Hmm, Mama merasa tidak kalau Kak Azka itu berubah?" tanya Vania pada Mamanya. Dia tidak ingin menarik kesimpulan sendiri dan meminta pendapat Mamanya.
Airin terdiam beberapa saat. Ternyata bukan hanya dirinya yang merasakan perubahan pada Azka tapi juga Vania. "Mungkin karena habis kecelakaan Azka jadi berubah."
"Tapi Kak Azka gak amnesia. Kak Azka sudah gak mau nemenin aku, padahal dulu Kak Azka itu bela-belain antar aku kemanapun. Di sekolah juga begitu, yang ada dipikiran Kak Azka cuma basket. Mama tahu tidak kalau Kak Azka buat tim basket sendiri biar dia bisa jadi kapten basket?"
Airin menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak tahu dengan hal itu.
"Biasanya Kak Azka santai aja meskipun berada di bangku cadangan tapi ambisinya sekarang sangat besar. Kak Azka benar-benar ingin menaklukkan basket."
Airin mengernyitkan dahinya mendengar cerita Vania. Dia teringat kata-kata suaminya, jika tingkah laku Azka sekarang sangat mirip dengan Azka di masa lalunya. "Vania, nanti Mama coba bicara sama Azka biar dia bisa jagain kamu."
"Tidak perlu, Ma. Aku bisa jaga diri sendiri. Aku mau istirahat dulu ya, Ma." Kemudian Vania berdiri dan melangkahkan kakinya menuju anak tangga.
"Kalau lapar, cepat makan."
"Iya, Ma," sahut Vania yang sudah berada di lantai dua lalu masuk ke dalam kamarnya.
Airin semakin penasaran dengan Azka. Apa penyebab tingkah laku Azka berubah? Kemudian Airin berdiri dan menaiki tangga menuju lantai dua. Dia kini masuk ke dalam kamar Azka lalu duduk di dekat meja belajar Azka. Dia mencari buku pelajaran Azka, lalu membukanya. Dia terkejut dengan tulisan tangan Azka yang berbeda dari sebelumnya. Sekarang lebih rapi dan bagus.
"Ini kan tulisan tangan ...." Airin membalik buku itu dan tulisan itu benar-benar berbeda dari sebelumnya. "Gak mungkin! Azka gak mungkin kembali."
Kemudian dia membuka kardus yang berada di bawah meja belajar Azka. Dia melihat seragam basket dan mencari hand ban yang bertuliskan kapten itu tapi tidak ada. "Apa dipakai Azka?"
Airin kembali melipat seragam basket itu. Dia kini duduk bersandar di dekat meja belajar dan menatap tulisan Azka lagi.
Semua kenangan Azka di masa lalunya kini berputar di dalam otaknya. Hingga akhirnya Airin meneteskan air matanya saat mengingat perpisahan itu terjadi.
"Azka, kamu tidak mungkin kembali kan? Ini pasti hanya perasaanku saja. Iya, ini hanya perasaanku saja."
Airin sengaja menunggu Azka di kamar itu. Dia sangat penasaran, benarkah dia bukan Azka, putranya.
Beberapa saat kemudian Azka datang dan berdiri di ambang pintu saat melihat Airin sedang duduk di dekat meja belajarnya. "Mama ada apa? Maaf aku tadi mampir ke rumah Amira dulu," kata Azka. Dia kini meletakkan tasnya dan membuka jaketnya.
Airin kini menatap Azka. Perawakan putranya memang tidak jauh beda dengan Azka di masa lalunya. Wajah mereka juga sama-sama tampan tapi tatapan keduanya berbeda. Jika Azka, putranya, tatapan matanya sangat lembut dan polos. Tapi Azka, sahabat lamanya, lebih tegas dan penuh ambisi.
Airin berdiri setelah menyadari hal itu. Dia semakin mendekati Azka. "Azka, kenapa kamu tidak mengantar Vania dulu. Dia tadi habis jatuh."
Azka menatap Airin dan menautkan alisnya. Sepertinya dia akan dimarahi Airin karena tidak menjaga adiknya dengan baik. "Iya, aku tadi ada kepentingan lalu ke rumah Amira."
"Kepentingan apa sampai kamu membiarkan adik kamu pulang sendiri, kan Mama sudah bilang, awasi adik kamu dari belakang. Untung ada temannya yang menolong."
Azka menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Maaf." Dia memang melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang kakak. Ya, seharusnya dia mendahulukan adiknya bukan masalah Amira.
"Mama juga dengar kalau kamu mau bentuk tim basket sendiri agar kamu bisa menjadi kapten basket."
Azka hanya menganggukkan kepalanya. Tentu saja pasti Vania yang mengadukan semua pada Airin.
"Mama senang sekali dengan semangat kamu, tapi apa yang membuat kamu berambisi menjadi kapten basket?"
Azka terdiam. Dia kini duduk di tepi ranjangnya dan tidak berani menatap kedua mata Airin.
"Azka, dimana putraku?"
Mendengar pertanyaan itu, seketika Azka menatap Airin. "Maksud Mama apa?"
💞💞💞
Like dan komen ya...