NovelToon NovelToon
Pewaris Itu Suamiku

Pewaris Itu Suamiku

Status: tamat
Genre:Istri ideal / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni / Percintaan Konglomerat / Suami ideal / Tamat
Popularitas:35.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Hernn Khrnsa

2 tahun merajut pernikahan, Nadira merasa pernikahan mereka tak memiliki arti apa-apa selain hubungan timbal balik. Semuanya berawal dari kesedihan yang tak kunjung usai, pasca orang tercinta mereka meninggal dunia.

Tak ingin terkungkung dalam kesedihan yang sama terus-menerus, Nadira hanya bisa menyibukkan diri dengan penelitian disertasinya sambil mengurusi perusahaan yang baru dirintisnya. Hal yang sama juga dilakukan Arsen, pria itu terus sibuk bekerja dan mengurusi bisnisnya yang kian banyak.

Mereka selalu merasa kosong satu sama lain. Hingga suatu kali, seseorang datang dan mencoba mengisi kekosongan itu. Menyadari bahwa hubungan pernikahannya mulai renggang, Nadira mencoba memperbaiki segalanya.

Tetapi, bagaimana cara keduanya menemukan titik temu dan kembali memupuk cinta pada pernikahan mereka yang mulai rapuh itu? Akankah Nadira mampu merengkuh kembali seorang Arsenio Sang Pewaris?

Baca kisahnya hanya di Pewaris Itu Suamiku
[Sequel Cinta Sejati Sang Pewaris]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PIS 21 — Pertemuan Tak Terduga

"Selamat Pagi, Bu."

Sapaan-sapaan selamat pagi terus ia dapati saat kakinya menginjak lantai koridor utama. Senyum tak henti-hentinya mengembang di bibirnya yang ranum.

Nadira balik menyapa hangat para karyawannya di Ghauthiah Boutique. Isu tentang kebakaran itu tak bisa membuatnya tetap diam di rumah.

Setelah melalui perdebatan yang alot, akhirnya Arsen secara terpaksa mengijinkan Nadira untuk pergi ke kantor. Dan di sinilah ia berada, di ruangannya sendiri. Ketukan di pintu dan ponselnya berbunyi bersamaan.

Nadira lebih dulu mengangkat panggilan dari Arsen sebelum membuka pintu. Pria itu pasti menelepon karena khawatir. Nadira menjawab bahwa ia baik-baik saja dan sudah berada di ruangannya.

"Selamat Pagi, Bu." May muncul dibalik pintu dan tersenyum ramah. Nadira mengangguk dan memintanya masuk. Selama beberapa saat, May menunggu sampai Nadira menyelesaikan panggilannya.

"Ingat pesanku, ya, Sayang? Jangan pergi ke luar sendirian, oke?" pesan Arsen sebelum menutup panggilan, Nadira mengangguk-angguk paham lalu menutup panggilan tersebut dalam satu kali klik.

"Ya, May. Selamat pagi, bagaimana kabarmu? Ada berita apa yang kamu bawa?" tanya Nadira berbasa-basi lalu duduk di kursinya. May mendekatinya dan memberinya sebuah berkas berisi rancangan design dari Ny. Anya tempo lalu.

"Ah, aku baru ingat soal ini," kata Nadira sambil membuka berkas itu dan melihat contoh rancangan yang diberikan sang designer baru mereka.

"Menurutmu, May. Rancangan mana yang paling cocok untuk project kita?" tanya Nadira pada May, asistennya.

May mendekat ke meja dan sedikit membungkuk guna melihat contoh gambar rancangan yang dimaksud Nadira. "Menurut saya, yang ini dan yang ini paling cocok, Bu," katanya sambil menunjuk sebuah gambar.

Nadira tampak mengangguk, "Tetapi, untuk rancangan tersebut, saya rasa Bu Nadira harus mendiskusikannya lebih lanjut dengan Ny. Anya secara langsung," kata May yang membuat alis Nadira sedikit terangkat ke atas.

"Kenapa begitu, May? Apakah menurutmu rancangan pilihanku kurang tepat?" tanya Nadira dengan nada kurang suka.

May tersenyum kemudian menggeleng, "Bukan, bukan seperti itu, Bu. Maksud saya, saya kurang ahli untuk menilai. Apalagi Ibu kan hendak menentukan pilihan untuk project besar ini. Sebaiknya berdiskusi langsung dengan designer ahli," terang May.

Nadira tampak mengangguk kecil, "Uhm, benar juga. Baiklah, kalau begitu, tolong kamu buatkan janji temu untukku, ya, May," pintanya kemudian yang diangguki oleh May. Setelahnya, May meminta ijin keluar guna menghubungi sang asisten designer terkenal itu.

Lima belas menit kemudian, May kembali dengan wajah yang berbinar. "Kabar baik, Bu!" serunya. Nadira yang semula fokus pada layar tab-nya sedikit berjingkat.

"May, pelan-pelan, kamu membuatku terkejut."

"Maaf, Bu. Saya terlalu senang. Baru saja saya menghubungi asisten Ny. Anya, beliau bilang Ny. Anya sedang luang siang ini. Jika kita ingin menemuinya, kita bisa datang ke Kafe La Grande pukul satu siang," jelas May dengan menggebu.

Nadira jadi turut bahagia sampai tak sadar memukul meja secara pelan. "Sungguh? Itu kabar yang sangat bagus! Segera siapkan mobil dan yang lainnya, ya, May."

Tetapi lain hal dengan Nadira yang tampak bersemangat, May justru tampak gugup. "Err, soal itu, Bu ... " katanya tertahan.

"Kenapa, May? Ada masalah? Katakan!"

"Bu-bukan masalah, Bu. Tapi ... siang ini saya dan bagian security harus mengajukan laporan ulang ke kepolisian, juga harus turut memantau jalannya investigasi terkait kebakaran gudang kita tempo lalu," kata May memberi alasan.

"Oh, soal itu, ya. Kalau begitu jadinya, kamu harus urus masalah ini, May. Tak perlu mengikutiku, aku bisa sendiri," ujar Nadira tersenyum dan memaklumi kesibukan May sebagai asistennya yang tentu saja sudah kewajibannya menggantikan posisi Nadira dalam menyelesaikan masalah.

"Tapi, Bu, saya dapat amanah dari Presdir--"

"Sudah, tak apa-apa, kamu jangan khawatir, lagipula hanya sebentar dan jaraknya juga dekat dengan kantor, kok. Kamu gak perlu cemas, oke?" ucap Nadira seraya memasukkan ponselnya ke dalam handy bag, bersiap untuk pergi.

Meski cemas, May hanya bisa mengangguk dan mengikuti perintah atasannya itu sambil berharap semoga tak ada sesuatu yang terjadi pada istri presdirnya itu.

Sedangkan di lain tempat, Arsen tampak gusar. Ia bahkan tak fokus dengan penjelasan yang diberikan Galen.

"Tuan?" tegur Galen saat mendapati kerutan halus di kening atasannya itu. Arsen seketika menoleh menatap Galen yang penuh tanda tanya.

Arsen berdeham pelan, "Ehm, ya, Galen. Tadi ... apa yang kau bicarakan?" tanyanya. Lalu, Galen kembali menjelaskan rencana mereka untuk menyelidiki tempat terduga pelaku kebakaran gudang tempo lalu.

Arsen mengangguk-angguk mendengarkan, kemudian, ia beranjak dari duduknya. "Kalau begitu, kita berangkat sekarang!" serunya sambil membenarkan pakaiannya. Kemudian, Arsen melangkahkan kakinya ke luar gedung Harrington Group.

Panas menyengat menyambutnya begitu pria tinggi tegap itu menapakkan kakinya di luar. Dengan diikuti Galen dan empat orang bodyguard khusus yang sengaja Arsen bawa untuk membantunya di tempat penyergapan. Mereka melaju menuju sebuah tempat terasing tak jauh dari kota.

***

Di Kafe La Grande, Nadira baru saja menyelesaikan diskusinya dengan Ny. Anya. Keduanya sangat puas karena berhasil menemukan sebuah kesepakatan final. Kafe pun mulai sepi pengunjung sehingga Nadira memilih untuk kembali ke kantor. Saat ia hendak melangkahkan kaki, secara tak sengaja ia menabrak seseorang.

"Ma-maaf! Saya tak sengaja! Sekali lagi, maaf ya!" katanya cepat seraya menunduk malu.

Seseorang itu tersenyum dan menatap Nadira intens. "Tidak apa-apa, Nadira."

Suara itu, aku seperti mengenalnya.

Demi memastikan praduganya, Nadira cepat-cepat mendongak. Dan, selama beberapa saat, tatapan mereka bertemu. Tatapan mengerjap Nadira bertemu dengan tatapan intens Bara. Selama beberapa detik itu pula Nadira membeku tak percaya. Tubuhnya menegang seketika, kedua matanya berkedip beberapa kali.

"Bara?!" panggilnya seakan tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Saat Bara tersenyum, Nadira secara refleks mundur ke belakang beberapa langkah hingga tanpa sengaja belakang tubuhnya menabrak meja. Sedang Bara makin mendekat, mengikis jarak secara sengaja.

Nadira tercekat, napasnya tiba-tiba tersengal. Kepalanya terasa sakit, kilasan saat Bara menyiksanya melintas di kepalanya begitu saja. Ia palingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, berharap ada yang membantunya. Namun nihil, Kafe seketika sepi, padahal tadi masih ada pramusaji yang berjaga.

"Jangan, jangan mendekat! Kubilang jangan mendekat Bara!" interupsinya kuat. Bahkan saat teriakannya memekak telinga, Bara tetap melangkah mendekat dengan seringai di bibirnya.

"Kenapa kamu takut, Nadira? Aku tak akan rela menyakitimu seperti dulu."

Kata-kata yang lolos dari bibir Bara itu justru membuat Nadira kian ketakutan. Tanpa ijin, air mata begitu mudah meluncur ke pipinya.

"Kumohon Bara, jangan! Jangan! Aaaah!"

***

Hallo, My dearest readers!

Apa kabar? Semoga tetap dalam keadaan sehat dan bahagia, ya.

Maaf banget kalau lama update, huhu. Author lagi banyak kesibukan akhir-akhir ini. 😣

Selamat Membaca ~

Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Jujur saja, Author suka loh baca-baca komentarmu.

Oh, ya, jangan lupa juga klik "minta update" di bawah setelah baca, ya. Kirim gift dan rate cerita ini juga boleh banget, lho. Author akan sangat menghargai apapun dukunganmu, hihi.

With Love,

— HK

1
Dini
udah aja smpe d sini??
ˢ⍣⃟ₛ StiNGraY⚓
super syekali pernyataan Arsen ini
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Harusnya langsung samperin suamimu Nad😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Apa nanti bertemu Nadira 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Mereka belum dikasih anak lg ya 😌
🔵♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
awas...ibu hamil cepat sensitif loh /Facepalm/
🔵♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
secangkir /Coffee/ meluncurr
🔵♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
hamil 😲😲
🔵♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
but money can't buy time 😭🤧
🔵♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
mau dong 5 M...🤣🤣
Essy Kehi🦋
baru awal baca belum mengerti alurnya....
😈 Menghilang 👿
hahaha Miss Author kamu cerdas 👍🌹😊
😈 Menghilang 👿
oh Nadira kamu istri yang bijak for you 💐😊
😈 Menghilang 👿
Ouh.. makin irii genesn men hati ini,

Semoga saja kalian bertahan sampai tua
😈 Menghilang 👿
🤧🤧 jomblo mah bisa apa hanya berharap semoga aye terlahir menjadi anak mereka, papa mama im coming
😈 Menghilang 👿
Wow Arsen peka, semoga kepekaan mu tak menimbulkan salah paham ke depannya 😁
ⰼ⃞☪ 🍾⃝ͩ𝐕ɪᷞᴠͧɪᷠᴇᷧ ᴀɴɪssᴀ⭐
Kisah yang indah, ringan. Penyampaian pesan dalam kisah Nadira dan Arsen pas menurutku. Good Job Author👍👍 selalu semangat.
😈 Menghilang 👿
Mengerti rasa Nadira hanya bisa bermonolog sendiri daripada bertanya tapi tak ada jawaban 😓

semoga bisa menemukan jawaban dari rasa sesak itu Nadira 🌹🌹
ⰼ⃞☪ 🍾⃝ͩ𝐕ɪᷞᴠͧɪᷠᴇᷧ ᴀɴɪssᴀ⭐
Kehadiran anak akan selalu dinantikan dan didambah, terlebih untuk pasangan yang lama menikah. Tak ayal cibiran, gunjingan, bahkan hinaan secara terang-terangan akan menjadi sebuah titik prustasi khususnya seorang istri. Sikap sabar dan saling menerima adalah kunci yang tepat. Semoga Nadira dan Arsen berhasil sepulang dari Paris.
ⰼ⃞☪ 🍾⃝ͩ𝐕ɪᷞᴠͧɪᷠᴇᷧ ᴀɴɪssᴀ⭐
suka-suka kau lah kak yg penting aku baca dan puas dengan karyamu🤭🤭🤭semangat menelusup ke cela biar tambah dramatis💃💃💃💃👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!